Prof. Utami: Strategi Tidak Akan Mengubah Organisasi Tanpa Konsistensi dalam Menjalankannya

Balikpapan, 25 Juni 2026 – Memasuki hari ketiga pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard (BSC), Universitas Mulia mulai bergerak dari tahap perumusan strategi menuju penyusunan arsitektur perencanaan yang akan menjadi panduan pengembangan institusi dalam jangka panjang. Jika hari pertama difokuskan pada analisis SWOT dan hari kedua pada penyusunan Balanced Scorecard (BSC), maka pada Kamis (25/6/2026) peserta mulai menerjemahkan hasil-hasil tersebut ke dalam dokumen perencanaan yang lebih operasional dan terintegrasi.

Pelatihan yang berlangsung sejak Selasa (23/6/2026) tersebut diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, dekan, wakil dekan, kepala biro, kepala bagian, kepala lembaga, kepala UPT, serta ketua program studi di lingkungan Universitas Mulia. Selama tiga hari terakhir, seluruh peserta terlibat dalam proses yang tidak hanya membahas arah pengembangan institusi, tetapi juga menyusun kerangka kerja yang menghubungkan visi universitas dengan program-program yang akan dijalankan di setiap unit.

Pada hari ketiga, suasana diskusi tampak semakin intens. Peserta bekerja dalam kelompok masing-masing untuk menyusun Long-Term Development Plan (LTDP) atau Rencana Pengembangan Jangka Panjang, Strategic Plan (Renstra) atau Rencana Strategis lima tahunan, serta menyelaraskan Key Performance Indicators (KPI) yang akan menjadi dasar penyusunan Annual Operational Plan (AOP) atau Rencana Kerja Tahunan.

Tahapan tersebut merupakan kelanjutan dari proses yang telah dimulai sejak hari pertama. Analisis SWOT yang memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Universitas Mulia menjadi dasar dalam merumuskan sasaran strategis melalui Balanced Scorecard. Selanjutnya, sasaran strategis tersebut diterjemahkan ke dalam LTDP, Renstra, KPI, hingga AOP agar dapat diimplementasikan melalui program dan anggaran yang dijalankan oleh setiap unit kerja.

Dengan demikian, strategi yang dirumuskan tidak berhenti sebagai konsep, melainkan memiliki jalur implementasi yang jelas dan dapat diukur pencapaiannya.

Di tengah proses tersebut, pemateri pelatihan, Prof. Dr. Christina Whidya Utami, M.M., CLC., CPM., mengingatkan bahwa tantangan terbesar organisasi sering kali bukan terletak pada kemampuan menyusun strategi, tetapi pada konsistensi dalam menjalankannya.

Menurut Prof. Utami, banyak institusi mampu menghasilkan analisis SWOT yang baik, Balanced Scorecard yang lengkap, serta dokumen perencanaan yang tersusun rapi. Namun tidak semuanya berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

“Faktor yang paling menentukan adalah kepemimpinan yang konsisten dan keteladanan dalam implementasi. Dokumen strategi hanya akan menjadi arsip apabila tidak diterjemahkan menjadi perilaku, keputusan, dan prioritas kerja sehari-hari,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Balanced Scorecard tidak boleh dipahami sebagai dokumen administratif semata. BSC harus menjadi alat manajemen yang digunakan secara rutin dalam proses perencanaan, penganggaran, monitoring, dan evaluasi kinerja organisasi.

Ketika strategi menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan, budaya kerja yang berorientasi pada kinerja dan pencapaian visi akan tumbuh secara alami di seluruh organisasi.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika Universitas Mulia memasuki tahap penyusunan LTDP, Renstra, KPI, dan AOP. Pada fase inilah arah pengembangan institusi mulai diterjemahkan menjadi target-target yang lebih konkret dan terukur.

Menurut Prof. Utami, salah satu penyebab utama kegagalan banyak perguruan tinggi adalah hilangnya konsistensi implementasi setelah dokumen perencanaan selesai disusun. Tidak sedikit institusi yang memiliki strategi yang baik, tetapi kehilangan fokus ketika menghadapi perubahan situasi, pergantian prioritas, atau lemahnya sistem pengendalian kinerja.

Selain itu, kesenjangan antara strategi yang tertulis dalam dokumen dengan indikator yang dijalankan di tingkat unit juga sering menjadi penyebab tidak tercapainya sasaran organisasi.

Karena itu, ia menilai penting bagi Universitas Mulia untuk membangun sistem monitoring yang disiplin, indikator yang terukur, serta evaluasi berkala berbasis data agar seluruh unit tetap bergerak menuju tujuan yang sama.

Selama mendampingi para pimpinan Universitas Mulia dalam tiga hari pelatihan, Prof. Utami melihat sejumlah modal penting yang dimiliki institusi untuk mewujudkan visi tahun 2045.

Ia menangkap adanya keterbukaan para pimpinan dalam melakukan evaluasi, keberanian membahas berbagai tantangan secara objektif, serta komitmen untuk membangun masa depan institusi secara bersama-sama. Menurutnya, hal tersebut merupakan fondasi yang tidak selalu dimiliki oleh setiap organisasi.

Selain itu, Universitas Mulia juga memiliki posisi strategis di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), identitas technopreneurship yang telah menjadi ciri khas institusi, serta sumber daya manusia yang memiliki energi dan optimisme tinggi untuk berkembang.

“Kombinasi inilah yang menjadi modal penting menuju visi 2045,” ungkapnya.

Prof. Utami meyakini bahwa apabila hasil Strategic Review Balanced Scorecard ini dijalankan secara konsisten dalam lima tahun ke depan, dampaknya akan dirasakan langsung oleh mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

Mahasiswa akan memperoleh layanan akademik yang semakin relevan dengan kebutuhan masa depan, kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta peluang yang lebih luas untuk berinovasi dan berwirausaha. Dosen akan mendapatkan sistem pengelolaan kinerja yang lebih jelas serta dukungan yang lebih kuat dalam pengembangan karier, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, masyarakat akan melihat Universitas Mulia semakin berperan sebagai pusat inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan mitra strategis pembangunan daerah maupun nasional, khususnya dalam konteks pengembangan Ibu Kota Nusantara.

Menjelang hari terakhir pelatihan pada Jumat (26/6/2026), seluruh unit dijadwalkan mempresentasikan hasil penyusunan Long-Term Development Plan (LTDP), Strategic Plan (Renstra), serta Key Performance Indicators (KPI) yang telah dirumuskan selama proses pelatihan. Presentasi tersebut akan menjadi tahap penting untuk memastikan keterhubungan antara visi universitas, sasaran strategis, indikator kinerja, dan implementasi program kerja di setiap unit.

Peserta pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard Universitas Mulia berfoto bersama pemateri, Prof. Dr. Christina Whidya Utami, M.M., CLC., CPM., saat sesi coffee break pada hari ketiga pelatihan, Kamis (25/6/2026).

Di akhir wawancara, Prof. Utami menyampaikan satu pesan yang menurutnya perlu dipegang oleh seluruh sivitas akademika Universitas Mulia.

“Jangan pernah memandang visi 2045 sebagai tujuan yang jauh. Visi besar hanya dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.”

Pesan tersebut seolah merangkum keseluruhan proses yang berlangsung selama tiga hari terakhir. Analisis SWOT, Balanced Scorecard, LTDP, Renstra, KPI, hingga AOP pada akhirnya hanyalah instrumen. Nilai sesungguhnya terletak pada kemampuan seluruh organisasi untuk menjalankannya secara konsisten.

Sebab masa depan sebuah universitas tidak ditentukan oleh banyaknya dokumen yang berhasil disusun, melainkan oleh kesungguhan seluruh sivitas akademika dalam mengubah strategi menjadi tindakan, dan tindakan menjadi hasil yang memberikan dampak nyata. (YMN)