Tag Archive for: LP3M

Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) tahun ini kembali menggelar Coaching Penulisan Buku secara daring bekerja sama dengan Penerbit Deepublish, Sabtu (19/11). Tampil sebagai narasumber Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM, penulis buku berpengalaman yang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Indonesia.

Coaching atau bimbingan penulisan buku ini diikuti dosen dari berbagai program studi dan dibuka langsung oleh Rektor Dr. Muhammad Rusli, M.T. Kepala LPPM Richki Hardi, S.T., M.Eng mengatakan bahwa sebelumnya pihaknya telah dua kali menggelar pelatihan penulisan buku bersama penerbit Andi Yogyakarta.

“Dan di tahun ketiga ini, tahun 2022, Kita sudah MoU dengan penerbit Deepublish, spesial dengan narasumber Dr. Miguna Astuti,” tutur Rickhi.

Menurutnya, Buku Ajar merupakan salah satu bentuk luaran dosen yang memiliki nilai Kum yang tinggi dalam jabatan fungsional dosen. “Dan buku ajar ini memiliki skor penelitian perguruan tinggi, akreditasi prodi, akreditasi Sinta, dan skor yang ada pada sistem Kemendikbud,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini diharapkan dosen semangat dan bersama-sama mencapai target perguruan tinggi. Dirinya mendorong setiap dosen setidaknya menghasilkan satu buah buku dalam setiap semester.

Peserta dan narasumber Coaching Penulisan Buku yang diselenggarakan LPPM Universitas Mulia bekerja sama dengan Penerbit Deepublish yogya, Sabtu (19/11). Foto: Tangkapan layar

Peserta dan narasumber Coaching Penulisan Buku yang diselenggarakan LPPM Universitas Mulia bekerja sama dengan Penerbit Deepublish Yogyakarta, Sabtu (19/11). Foto: Tangkapan layar

How to Publish menurut Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

How to Publish menurut Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

Rektor dalam sambutannya mengatakan bahwa Buku Ajar seyogyanya menjadi kewajiban bagi dosen pengampu mata kuliah.

“Di samping buku-buku yang sifatnya literal, Buku Ajar juga untuk memperkuat literatur tentang sebuah ilmu,” tutur Rektor.

Menurut Dr. Rusli, ada perbedaan antara buku literatur dengan buku ajar. “Buku Ajar itu, menurut saya, dibuat agar enak dibaca dan dipelajari mahasiswa,” tutur Dr. Rusli yang telah berpengalaman menerbitkan beberapa buku ini.

Tujuan pembuatan Buku Ajar, menurut Dr Rusli, adalah agar mahasiswa lebih cepat menerima materi kuliah atau proses transfer knowledge. “Sehingga nanti pada saat pengajaran tinggal lewat diktat atau menambahkan sisi-sisi ilmu yang lain yang belum tercakup di buku,” ungkapnya.

Dr. Rusli berbagi cerita terkait pengalamannya menerbitkan buku tentang pemrograman komputer. Menurutnya, dirinya terdorong menerbitkan buku mengingat telah sekian tahun berprofesi sebagai dosen dan memiliki keahlian di bidang pemrograman maupun di bidang pendidikan.

“Begitu buku pertama terbit, muncul ide-ide dari mata kuliah berikutnya, semangat begitu, artinya dari beberapa mata kuliah yang saya ajar, mulai dari PowerPoint, catatan, saya kumpulkan semua dan seleksi, jadilah buku ajar terbit,” ungkap Doktor di Bidang Pendidikan ini.

Dari beberapa kali menerbitkan buku, Rektor berharap masing-masing dosen dapat mengikutinya dengan menerbitkan minimal satu buah buku. “Yang penting jadi dulu satu buku,” harap Rektor.

Kalaupun saat ini belum mampu menulis sendiri, Rektor berharap dosen dapat menyusunnya dalam sebuah kelompok kerja dengan dosen lainnya.

Sementara itu, senada dengan Rektor, Dr. Astuti, begitu dirinya disapa, setuju dengan pengalaman Dr. Rusli ketika pertama kali dirinya menerbitkan buku.

“Dulu ketika saya menerbitkan buku sama seperti pengalaman Pak Rektor tidak sampai 100 halaman,” tutur Dr. Astuti. Meski demikian, dirinya mengingatkan akan ada batas minimum yang harus dipenuhi untuk menerbitkan sebuah buku saat ini.

Hanya saja, menurutnya, ketika saat perhitungan nilai Kum untuk kenaikan jabatan fungsional dosen, maka nilai Kum untuk buku tersebut tidak maksimal. “Tapi minimal kita sudah berkarya, dan intelektualitas kita sudah diabadikan dalam sebuah karya,” tuturnya memberi semangat peserta Coaching.

Dr. Astuti mengatakan, untuk menerbitkan sebuah buku cukup sederhana. “Yang penting idenya ada, niat menulis dan menerbitkan,” ujarnya.

Meski demikian, Dr. Astuti mengingatkan ketika masuk proses penerbitan, penulis hendaknya berhati-hati. “Dulu SDM sangat mudah, bahkan dulu saya menggunakan kampus saya itu sangat mudah. Sekarang sangat ketat,” ungkapnya.

Kedua, lanjutnya, untuk bisa diakui, beberapa penerbit menggunakan kriteria-kriteria yang berhubungan dengan jabatan fungsional. “Jadi apakah benar menurut RPS, apakah benar dipublikasikan disebarluaskan. Ya, link-nya itu dicari oleh reviewer Bapak/Ibu,” ungkapnya.

Dan untuk keperluan ISBN pun, juga terkait dengan luaran buku tersebut apakah diperjualbelikan atau tidak. “Kalau short-link diperjualbelikan itu belum ada, itu ISBN belum bisa keluar,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengingatkan tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk memasarkan ke publik. Hal ini menambah deretan pengalamannya untuk benar-benar selektif dalam memilih kontrak dengan penerbit .

Keuntungan buku yang berhasil diterbitkan dan dipasarkan ke publik berdampak pada Google Scholar dengan jumlah sitasi yang jelas.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh dosen agar ketika buku tersebut berhasil terbit agar dicantumkan pada RPS atau Rencana Pembelajaran Semester sebagai salah satu sumber bahan ajar.

(SA/Puskomjar)

Kepala LPPM Universitas Mulia Richki Hardi memberikan sosialisasi SINTA di PSDKU Samarinda Rabu (21/9).Foto Istimewa

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia selesai menggelar Sosialisasi Sinkronisasi dan Pemutakhiran Data SINTA serta Sosialisasi Publikasi dan Jurnal Ilmiah di Lingkungan Universitas Mulia. Sosialisasi berakhir di Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Samarinda, Rabu (21/9).

Sekretaris LPPM Nariza Wanti Wulan Sari, S.Si., M.Si mengatakan sosialisasi digelar dalam bentuk Road Show, diawali dari Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) pada Sabtu (17/9) yang lalu. Kemudian dilanjutkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Senin (19/9), Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Selasa (20/9).

Nariza mengatakan, sosialisasi tersebut berdasarkan surat dari Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemdikbudristek RI nomor 0789/E5.5/AL.04/2022 tanggal 22 Agustus 2022 tentang Perpanjangan Batas Waktu Pemutakhiran Data pada SINTA, dengan beberapa pertimbangan dan kondisi terkait proses pemutakhiran data terakhir.

Sebagaimana diketahui, SINTA atau jurnal SINTA merupakan kepanjangan dari Science and Technology Index. SINTA adalah sebuah laman atau portal ilmiah daring yang dikelola oleh Kemdikbudristek dan menyajikan daftar jurnal nasional terakreditasi.

SINTA menjadi sebuah basis data atau pusat data jurnal nasional terakreditasi. Dengan demikian, SINTA dapat dijadikan tujuan bagi pencari referensi berbentuk jurnal nasional dengan kualitas yang sudah diakui oleh Kemdikbudristek RI.

Kepala LPPM Universitas Mulia Richki Hardi memberikan sosialisasi SINTA di Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Sabtu (17/9).Foto Istimewa

Kepala LPPM Universitas Mulia Richki Hardi memberikan sosialisasi SINTA di Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Sabtu (17/9).Foto Istimewa

Kepala LPPM Universitas Mulia Richki Hardi memberikan sosialisasi SINTA di Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Selasa (20/9).Foto Istimewa

Kepala LPPM Universitas Mulia Richki Hardi memberikan sosialisasi SINTA di Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Selasa (20/9).Foto Istimewa

Menurut Nariza, SINTA juga digunakan untuk klasterisasi perguruan tinggi berbasis kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta rekrutmen reviewer penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Kepala LPPM Richki Hardi, S.T., M.Eng mengatakan bahwa terkait sinkronisasi dan pemutakhiran data SINTA, Kemdikbudristek meminta verifikator yang ada di setiap perguruan tinggi melakukan tugasnya memantau dosennya untuk terus melakukan sinkronisasi setiap sepekan sekali.

Dosen juga diingatkan untuk menyimpan data semua komponen pembelajaran, penelitian, pengabdian, publikasi nasional dan internasional, pembimbingan, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) hingga jurnal pada SINTA terbaru saat ini.

Pada sosialisasi tersebut, respons masing-masing dosen cukup antusias. Nariza mengatakan, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan terkait sosialisasi sinkronisasi SINTA.

“Dengan diadakannya sosialisasi ini diharapkan bagi dosen-dosen Universitas Mulia yang telah memiliki SINTA untuk memperbarui dan sinkronisasi datanya. Dan bagi dosen yang belum memiliki akun diharap segera melakukan pendaftaran SINTA secara mandiri,” pungkas Nariza.

(SA/Puskomjar)

Fitur dan Fungsi SINTA 3
1. Manual Book - Author
Fitur My SINTA - Sam FCH
6. Panduan Garuda ID
7. Panduan Publon ID
Monitoring dan Evaluasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Internal Universitas Mulia DIPA 2021 dengan asesor Zaini, S.Pd., M.Pd. Wakil Ketua Bidang Akademik STITEK Bontang, Jumat (10/12). Foto: PSI

UM – Lembaga Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggara (DIPA) tahun 2021, Rabu (8/12) dan Jumat (10/12). Monev diselenggarakan daring Zoom dengan narasumber Zaini, S.Pd., M.Pd. dari STITEK Bontang.

Monev Pengabdian Masyarakat diikuti 13 judul baik pengusul tunggal maupun kelompok. Sedangkan Penelitian diikuti 15 judul, baik penulis tunggal maupun kelompok. Monev berlangsung selama dua jam, mulai pukul 13.15 Wita sampai dengan pukul  16.15 Wita.

Usai menjalankan Monev, Zaini menilai dan memberikan masukan terkait apa yang telah dipaparkan masing-masing dosen. Ia mengatakan bahwa ketika melaksanakan pengabdian masyarakat maupun penelitian, dosen hendaknya juga melibatkan mahasiswa.

Pasalnya, keterlibatan mahasiswa memiliki dampak yang cukup baik bagi peningkatan akreditasi program studi maupun lembaga atau institusi.

“Untuk membantu akreditasi program studi maupun institusi adalah melibatkan mahasiswa dalam penelitian,” tutur Zaini, Wakil Ketua Bidang Akademik STITEK Bontang ini. Menurutnya, salah satu hal yang menyebabkan mahasiswa butuh waktu lama untuk menyelesaikan studi adalah kesulitan menyelesaikan tugas akhirnya.

“Siapa tahu nanti mahasiswa dilibatkan dalam penelitian dosen akan meningkatkan mahasiswa lulus tepat waktu maupun bisa mengurangi potensi drop-out,” ungkapnya. Hal ini membawa pengaruh bagi prodi saat melakukan akreditasi.

Monitoring dan Evaluasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Internal Universitas Mulia DIPA 2021 dengan asesor Zaini, S.Pd., M.Pd. Wakil Ketua Bidang Akademik STITEK Bontang, Jumat (10/12). Foto: PSI

Monitoring dan Evaluasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Internal Universitas Mulia DIPA 2021 dengan asesor Zaini, S.Pd., M.Pd. Wakil Ketua Bidang Akademik STITEK Bontang, Jumat (10/12). Foto: PSI

Selain itu, Zaini memberikan masukan bahwa dosen perlu juga memikirkan luaran yang berdampak besar, yakni terbit pada jurnal terakreditasi atau jurnal Internasional yang ter-indeks. Menurutnya, hal ini memiliki kontribusi yang cukup signifikan bagi perguruan tinggi maupun pada jabatan fungsional dosen tersebut.

Zaini memberikan perhatian pada jabatan fungsional agar mendorong agar dosen bersemangat untuk meningkatkan jabatan fungsional lektor kepala hingga guru besar. “Bapak Ibu, silakan untuk bersemangat mengajukan fungsionalnya,” tuturnya.

Ia mengatakan, berdasarkan pengalamannya ada salah satu dosen yang sudah 11 tahun masih memiliki jabatan fungsional Asisten Ahli 100. “Alhamdulillah, kami dorong sehingga bisa naik jabatan fungsional Lektor 300,” tuturnya.

Terkait dengan paparan Monev masing-masing dosen, Zaini melihat dari beberapa penelitian yang memiliki potensi menjadi ‘Brand’ keunggulan bagi Universitas Mulia. “Nah itu juga bisa mendorong calon mahasiswa untuk bergabung dengan Universitas Mulia,” ungkapnya.

Meski demikian, dirinya melihat penelitian dosen Universitas Mulia juga memiliki potensi menjadi penelitian multiyear. “Artinya, Bapak Ibu tidak perlu berpikir untuk mengembangkan penelitian yang lain, tapi fokus saja pada bagian-bagian itu dan dikembangkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. menyambut hangat masukan Zaini yang dinilainya cukup banyak. “Beberapa masukan sebenarnya ada yang sudah Kami terima, tapi ada yang belum Kami tahu juga. Alhamdulillah, terima kasih Pak Zaini, mudah-mudahan ke depan Kita bisa lebih baik lagi,” tutup Richki Hardi.

(SA/PSI)

Pembukaan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti). Senin, 2 Agustus 2021.

UM – Universitas Mulia bekerjasama dengan Universitas Mulawarman menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTi yang diikuti puluhan dosen dari beberapa perguruan tinggi. Pelatihan digelar daring dengan aplikasi Zoom Meeting selama 5 hari yang dibuka hari ini, Senin (2/8).

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang pada kesempatan ini diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. mengatakan bahwa Rektor mengucapkan terima kasih atas terlaksananya kegiatan di tengah suasana pandemi dengan baik. “Mudah-mudahan pelatihan ini berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang sesuai dengan yang diharapkan,” tuturnya.

Pada kesempatan ini, Yusuf Wibisono menekankan tujuan diselenggarakannya pelatihan adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. “Jadi kalau kualitas keilmuan, kami percaya semua dosen telah memiliki, minimal telah menyelesaikan pendidikan S2, tetapi belum tentu mampu atau memiliki kualitas dalam pengajaran,” tuturnya.

Dalam pelatihan ini, lanjutnya, peserta akan belajar banyak tentang bagaimana mempersiapkan pengajaran dengan baik. “Hal-hal kecil yang bisa kita bayangkan adalah ketika mengajar belum tentu mempersiapkan dengan baik dalam 16 kali pertemuan, dimana kita merangkai bahan-bahan pengajaran itu menjadi satu kesatuan, bagaimana itu kemudian disampaikan kepada mahasiswa,” tuturnya.

Kepala Lembaga Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengawali laporan kegiatan sebelum acara dimulai. “Pelatihan ini diikuti 35 orang dari Universitas Mulia dan 15 orang dari beberapa perguruan tinggi lain,” tutur Rickhi.

Seperti dikatakan sebelumnya, Pelatihan Pekerti ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan wawasan tentang prinsip-prinsip pedagogik dan metodologi serta keteramplan mengajar dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar dan hasil belajar mahasiswa.

Pembukaan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti). Senin, 2 Agustus 2021.

Pembukaan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti). Senin, 2 Agustus 2021.

Pelatihan Pekerti oleh Prof. Lambang Subagiyo. Senin, 2 Agustus 2021.

Pelatihan Pekerti oleh Prof. Lambang Subagiyo. Senin, 2 Agustus 2021.

Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si, Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Mulawarman dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan ini bukan sekadar menjelaskan bagaimana menjalankan pendidikan dan pengajaran dengan pedagogi. “Anak-anak bisa didorong belajar untuk mampu menggunakan teknologi informasi, mampu menentukan langkah dan sikapnya sehingga kita perlukan pedagogi,” tuturnya.

Menurutnya, mahasiswa saat ini sudah bisa menentukan arahnya, bekerjasama, dan mampu belajar dengan mandiri dengan sesama temannya untuk meningkatkan kompetensinya. “Sehingga bisa kita kondisikan sistem pembelajarannya, yang biasa kita sebut andragogi,” tutur Prof. Lambang.

Meski demikian, Prof. Lambang mengingatkan agar dosen harus bisa menyiapkan pembelajaran pada masa saat ini yang biasanya menggunakan sibergogi. “Karena sudah masuk era Internet. Jadi pedagogi dan andragogi saja tidak cukup. Oleh karena itu nanti akan disampaikan bagaimana menyiapkan pembelajaran daring, menyiapkan instrumen daring,” tuturnya.

Ia berharap, pelatihan ini bisa menghasilkan dosen-dosen yang bisa berkompetisi sesuai dengan kebutuhan zaman. “Kurikulum sudah berubah, tentu kita juga sudah mampu menyiapkan kurikulum yang mampu bersaing dan menghadirkan kompetensi yang dibutuhkan, yang biasanya kita sebut kurikulum Outcome Based Education atau OBE,” ujarnya.

Ia menambahkan, hal yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kemampuan mahasiswa agar memiliki kemampuan 6C, yaitu Creativity, Collaboration, Communication, Critical Thinking, Computational Logic, and Compassion.

Pada akhirnya, Prof. Lambang berharap usai mengikuti pelatihan Pekerti ini adalah yang pertama dosen memiliki kompetensi yang baik dalam menyusun instruksional. “Yang kedua, memahami ilmu dalam aspek pembelajaran. Kemudian mampu melaksanakan pembelajaran di kelas, baik secara daring maupun luring,” tuturnya. Selanjutnya, tambahnya, dosen dapat membuktikan keahliannya tersebut dengan dibuktikan dengan sertifikat.

Sementara itu, ketika ditanya media ini, dosen PSDKU Samarinda Univeristas Mulia, Tina Tri Wulansari, M.Kom. mengatakan bahwa motivasi mengikuti pelatihan Pekerti ini adalah ingin mendapatkan ilmu dan berusaha memberikan kualitas sesuai kaidah yang benar dalam pengajaran di kampus.

“Harapannya agar dapat mengimplementasikan keilmuan yang didapat dalam pelatihan ini, mendapat dukungan dalam pelaksanaanya serta tercapai tujuan pembelajaran yaitu menjadikan mahasiswa tidak hanya knowing saja, tetapi juga doing,” tutur Bu Tina, begitu biasa dipanggil mahasiswanya.

Begitu pula yang dikatakan salah satu dosen favorit Prodi Pendidikan PAUD Univeristas Mulia Baldwine Honest Gunarto, M.Pd. “Motivasi saya mengikuti pelatihan ini agar bisa meningkatkan kompetensi profesional sebagai dosen dan kaprodi sehingga bisa meninjau kembali kurikulum yang sudah berjalan agar dapat dikembangkan menjadi lebih baik berbasis Outcome Based Education,” ungkap Baldwine Honest.

Dengan begitu, ia berharap dapat meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan dan pengajaran terutama pada Program Studi Pendidikan PAUD yang dipimpinnya.

(SA/PSI)

Peserta Sosialisasi Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakan Pendanaan Tahun 2021 LP3M Universitas Mulia, Senin (22/3).

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) membuka kesempatan bagi seluruh dosen di lingkungan Universitas Mulia untuk mengajukan proposal pendanaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Proposal harus sudah diterima LP3M dalam pekan ini. Hal ini disampaikan dalam sosialisasi yang digelar daring, Senin (22/3) pekan lalu.

Kepala LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa tahun ini Program Kerja LP3M berbeda dibanding tahun sebelumnya. “Tahun 2021 ini pengajuan proposal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) dengan DIPA LP3M hanya dibuka satu gelombang saja, yakni pada 29 Maret 2021 sampai dengan 2 Mei 2021,” tutur Richki Hardi.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, Universitas Mulia mendorong seluruh dosen untuk aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Anggaran yang disediakan berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 sebesar 98.5 juta, yang bersumber dari Universitas Mulia. Dana ini disediakan berdasarkan kuota yang tersedia untuk 22 proposal Penelitian dan 25 proposal Pengabdian pada Masyarakat.

Proposal yang diterima akan mendapatkan bantuan pendanaan sesuai dengan klaster penelitian berdasarkan jabatan fungsional, yakni Tenaga Pengajar atau belum memiliki jabatan fungsional, Asisten Ahli, dan Lektor.

“Untuk lektor, luaran yang diharapkan minimal prosiding internasional terindeks Scopus, syukur lebih dari itu. Untuk Asisten Ahli minimal Jurnal atau Prosiding Nasional terindeks Sinta 6 sampai dengan Sinta 2, lebih baik lagi Prosiding Internasional terindeks Scopus. Sedangkan Tenaga Pengajar luaran yang diharapkan minimal Jurnal atau Prosiding Nasional,” tutur Richki.

Peserta Sosialisasi Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Pendanaan Tahun 2021 LP3M Universitas Mulia, Senin (22/3).

Peserta Sosialisasi Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Pendanaan Tahun 2021 LP3M Universitas Mulia, Senin (22/3).

Untuk mendorong dosen meningkatkan publikasi, Richki menawarkan bantuan dana yang lebih besar jika luaran publikasi melebihi standar dibanding jika dengan luaran standar.

Misalnya, seorang dosen yang berada di klaster Asisten Ahli menghasilkan luaran standar Jurnal atau Prosiding Nasional, maka akan mendapatkan tambahan bantuan pendanaan apabila luaran yang dihasilkan melebihi standar, misalnya, Prosiding Internasional terindeks Scopus. Begitu pula untuk klaster lainnya.

Berikutnya seluruh dosen yang akan memasukkan Proposal Penelitian maupun Abdimas tahun 2021 ini agar memperhatikan tanggal penting dan sistematika proposal penelitian dan proposal abdimas sesuai standar LP3M UM. (SA/PSI)

Tanggal penting Penelitian dan Abdimas Tahun 2021. Sumber: LP3M

Tanggal penting Penelitian dan Abdimas Tahun 2021. Sumber: LP3M

Jadwal Seminar Universitas Mulia Tahun 2021. Sumber: LP3M

Jadwal Seminar Universitas Mulia Tahun 2021. Sumber: LP3M

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggelar Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat untuk dosen dengan dana hibah DIPA LP3M periode II tahun 2020 yang digelar secara daring Zoom, Senin (16/11) siang.

Seminar yang digelar internal ini diikuti khusus dosen Universitas Mulia dan proposalnya telah dinyatakan diterima oleh LP3M. Menurut Kepala LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa pemberian hibah oleh Universitas Mulia bertujuan untuk memotivasi para dosen mempersiapkan diri mengikuti hibah pendanaan yang lebih besar lagi, seperti hibah Penelitian Dasar dan atau Penelitian Fundamental dari Ditjen Dikti.

“Harapan kami, dosen-dosen dapat meningkatkan publikasi penelitiannya baik di jurnal tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Richki Hardi.

Menurutnya, sebuah penelitian bukan hanya sekadar dilakukan, dibuat laporannya kemudian disimpan. “Tetapi juga harus dipublikasikan dalam bentuk jurnal-jurnal atau prosiding sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian yang kita lakukan,” tambahnya.

Pada pelaksanaan seminar proposal tahap II ini diikuti 21 orang peserta, baik dari Kampus Utama di Balikpapan maupun PSDKU Samarinda. Rinciannya, delapan orang mempresentasikan proposal penelitian dan 13 orang mengusulkan proposal pengabdian masyarakat. Bertindak sebagai reviewer Gunawan, S.T., M.T. dan Nariza Wanti Wulan Sari, M.Si. dari Samarinda sebagai moderator.

Usai seminar proposal, peserta akan melakukan penandatanganan kontrak dan pencairan dana hibah sebesar 80% dari total pendanaan. Setelah itu, LP3M akan melakukan pengawasan atau monitoring dan evaluasi untuk memantau kemajuan penelitian masing-masing pengusul.

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Menurut informasi, seminar hasil, baik penelitian maupun pengabdian pada masyarakat akan dilaksanakan bulan Desember 2020 dan penyusunan laporan penelitian. Setelah laporan diserahkan dengan lembar pengesahan telah ditandatangani, selanjutnya akan diberikan sisa pendanaan 20%.

Sementara itu, dalam seminar ini masing-masing dosen mengajukan usulan penelitian dan saling bertukar pikiran, ide, maupun gagasan. Lazimnya sebuah seminar proposal skripsi mahasiswa, masing-masing peserta juga mengajukan beberapa pertanyaan, kritikan, atau masukan. Seperti yang dilakukan Subur Anugerah, salah satu dosen dari Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer ini mengajukan judul dengan topik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Action Research.

Ia memaparkan, penelitiannya didasari atas pengalamannya mengasuh mata kuliah pemrograman komputer pada Semester Ganjil 2019/2020 yang lalu. “Pengamatan dilakukan sebelum adanya wabah Covid-19 di beberapa kelas pemrograman yang saya asuh. Nah, setelah saya periksa hasil pekerjaan mereka, saya menemukan banyak mahasiswa melakukan plagiasi kode program, jawaban kode program mereka memiliki kemiripan dengan jawaban mahasiswa yang lain, bahkan sama persis,” ungkapnya.

Ia merasa kesulitan untuk membuktikan kepada mahasiswa yang tidak mengaku melakukan plagiasi. “Seringkali mereka komplain dan datang ke saya sambil menanyakan mengapa mendapat nilai rendah. Jika satu atau dua orang yang datang tentu tidak masalah, saya masih bisa melayani mereka dengan bukti yang ada, tapi akan menjadi masalah apabila banyak yang komplain,” tuturnya.

Masalah tersebut, menurutnya, menunjukkan proses pembelajaran kurang berhasil. “Nah, bagaimana agar pembelajaran terkait pemrograman ini bisa diikuti oleh masing-masing mahasiswa, karena setiap mahasiswa memiliki kemampuan menyerap materi kuliah dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang sekali menyimak kuliah tetapi cepat menyerap dan mengerti, ada juga yang lambat sekali,” terangnya.

Dari penelitian tindakan kelas tersebut, ia memaparkan aplikasi atau sistem yang ia buat untuk membantu mengatasi pembelajaran di kelas tampaknya cukup berhasil. “Ya, masih perlu diteliti lagi dampak pemanfaatan sistem yang dibuat ini, terutama pada proses pembelajaran khusus terkait belajar pemrograman. Apalagi sekarang ini wabah Covid-19 memaksa proses pembelajaran banyak dilakukan daring dan semangat Merdeka Belajar sedang menjadi tren, ini butuh penelitian lagi soal dampaknya,” pungkasnya. (SA/PSI)