Balikpapan, 8 Mei 2026 —Penghargaan Gender Champion dari DP3A Kalimantan Timur menempatkan Sukmawati bukan semata sebagai penerima apresiasi, tetapi sebagai representasi bagaimana kompetensi manajerial yang dibangun melalui proses akademik dapat dikonversi menjadi mekanisme penyelesaian persoalan sosial. Sebagai mahasiswi Program Studi Manajemen kelas eksekutif Universitas Mulia, capaian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat berfungsi sebagai basis perancangan sistem pemberdayaan yang menjawab isu lingkungan dan relasi gender secara simultan.

Dalam praktiknya, Sukmawati tidak menempatkan proses akademik sebagai akumulasi teori semata. Perkuliahan justru menjadi perangkat konseptual untuk membaca persoalan sosial secara lebih sistematis, termasuk dalam merancang pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Balikpapan.

Sukmawati menerima piagam Gender Champion sebagai pengakuan atas formulasi gerakan pengelolaan sampah dan pemberdayaan perempuan berbasis masyarakat.

“Menjalani perkuliahan di kelas eksekutif Manajemen Universitas Mulia telah merubah cara pandang saya dalam melihat gerakan sosial. Di sini, saya belajar bahwa niat baik saja tidak cukup, gerakan lingkungan harus dikelola dengan manajemen strategis yang matang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tercermin dari bagaimana ia menerapkan analisis SWOT terhadap potensi lokal dan tantangan lingkungan di sekitarnya. Sampah tidak lagi dibaca semata sebagai residu rumah tangga, tetapi sebagai variabel strategis dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berdampak pada penguatan kapasitas perempuan.

Kerangka akademik itu kemudian dioperasionalkan melalui pengembangan Bank Sampah dan program Jelita Emas. Keduanya tidak berhenti pada aktivitas ekologis, melainkan dirancang sebagai sistem sosial-ekonomi yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan kemandirian finansial perempuan berbasis komunitas.

Bagi Sukmawati, Universitas Mulia menyediakan ruang pembelajaran yang mempertemukan teori manajemen dengan dinamika pengambilan keputusan di lapangan.

“Universitas Mulia bukan sekadar tempat mengejar gelar, melainkan laboratorium kepemimpinan,” katanya.

Melalui perspektif tersebut, pendidikan tinggi berfungsi sebagai medium penguatan kapasitas kepemimpinan, terutama dalam mengorganisir sumber daya manusia, membangun tata kelola program, dan menyusun keputusan berbasis data di tengah kompleksitas persoalan masyarakat.

Dalam program Jelita Emas, pendekatan manajemen perubahan diterapkan dengan menempatkan psikologi sosial masyarakat sebagai elemen utama. Sukmawati merancang sistem administrasi yang memastikan setiap proses pemilahan sampah memiliki konversi ekonomi yang presisi, sehingga aktivitas domestik perempuan dapat bergeser menjadi instrumen produktivitas ekonomi keluarga.

Model ini menunjukkan bahwa disiplin manajemen, ketika diterapkan secara kontekstual, tidak hanya relevan untuk korporasi atau bisnis formal, tetapi juga efektif sebagai perangkat rekonstruksi sosial berbasis komunitas.

“Dalam program Jelita Emas, saya menerapkan pendekatan manajemen perubahan dengan menyentuh sisi psikologi sosial masyarakat,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menghasilkan transformasi yang lebih substansial daripada sekadar pengurangan volume sampah. Ia membangun perubahan paradigma—bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi fondasi bagi distribusi nilai ekonomi, ketahanan keluarga, dan reposisi perempuan dalam pembangunan sosial.

Penghargaan Gender Champion yang diraih Sukmawati pada akhirnya juga merepresentasikan dimensi yang lebih luas: bagaimana mahasiswa Universitas Mulia mampu menempatkan keilmuan sebagai respons terhadap problem nyata.

Sukmawati menunjukkan piagam Gender Champion yang merepresentasikan kiprah akademik dan praktik sosialnya dalam membangun model pemberdayaan lingkungan berkelanjutan.

“Penghargaan Gender Champion ini adalah bukti bahwa mahasiswa Universitas Mulia bukan sekadar penonton perubahan, melainkan aktor utama transformasi,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Universitas Mulia terlihat melalui kapasitas mahasiswanya dalam menerjemahkan disiplin akademik menjadi solusi sosial. Capaian Sukmawati memperlihatkan bahwa kurikulum, pengalaman belajar, dan keberanian praksis dapat beririsan dalam bentuk inovasi yang relevan bagi masyarakat.

Di tengah orientasi pendidikan tinggi yang kerap diukur melalui indeks akademik semata, Sukmawati menawarkan perspektif berbeda mengenai makna keberhasilan mahasiswa.

“Gelar sarjana memang sebuah target, namun kebermanfaatan adalah sebuah tujuan.”

Pernyataan ini menghadirkan kritik sekaligus refleksi bahwa pendidikan tidak cukup berhenti pada sertifikasi formal. Relevansi pendidikan tinggi justru diuji ketika pengetahuan mampu bekerja di tengah persoalan konkret masyarakat, membangun sistem, dan menghasilkan perubahan yang dapat diukur.

Melalui formulasi tersebut, Sukmawati memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk memproduksi dampak sosial. Ketika teori bertemu keberanian implementasi, ruang akademik dapat berkembang menjadi pusat produksi solusi—dan pada titik itulah universitas menunjukkan signifikansinya yang paling strategis. (YMN)

Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.

Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.

“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.

Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.

“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.

Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.

Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.

“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.

Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.

“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.

Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.

Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.

“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.

“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.

Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.

Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.

“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.

Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026Ketika sebagian atlet datang ke arena dengan persiapan penuh, Giva Andini Ramadani justru melangkah ke Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I dengan sisa waktu yang nyaris tak ideal. Mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia itu sempat menghadapi kondisi fisik yang menurun akibat sakit, kadar hemoglobin yang rendah, serta dehidrasi parah hanya beberapa hari sebelum pertandingan nasional digelar di BSCC Dome Balikpapan, 24–26 April 2026.

Situasi tersebut membuat persiapannya terpangkas drastis. Dengan waktu efektif sekitar lima hari menjelang tampil di kategori seni tunggal, Giva harus menata ulang kesiapan fisik sekaligus mental dalam tempo singkat. Kondisi itu bukan hanya menguji teknik, tetapi juga ketahanan psikologisnya sebagai atlet.

Di tengah keterbatasan tersebut, Giva memilih bertahan pada disiplin. Dukungan keluarga dan rekan terdekat menjadi fondasi penting yang membantunya bangkit dari rasa takut sekaligus keraguan. Ia memaksa dirinya mengejar ritme latihan, memulihkan kepercayaan diri, lalu memasuki arena dengan satu keputusan penting: tetap tampil maksimal meski persiapan jauh dari sempurna.

Giva Andini Ramadani menampilkan presisi gerak dan penguasaan teknik saat membawakan seni tunggal pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I di BSCC Dome Balikpapan.

Keputusan itu berbuah hasil. Giva berhasil meraih Juara 3 Putri kategori seni tunggal, capaian yang tidak sekadar menempatkannya di podium nasional, tetapi juga menegaskan daya juang mahasiswa Universitas Mulia dalam menghadapi tekanan kompetisi.

Bagi Giva, pencapaian tersebut tidak berhenti pada medali. Ia memandang prestasi sebagai akumulasi dari proses panjang yang menuntut konsistensi, keberanian menghadapi situasi sulit, serta kemampuan mengenali batas diri. Pengalaman itu mempertemukannya dengan pelajaran yang lebih substansial: bagaimana seseorang tetap bergerak ketika kondisi tidak berpihak.

Di ruang akademik, Giva menempuh studi akuntansi yang identik dengan ketelitian, logika, dan tanggung jawab. Di arena pencak silat, ia ditempa oleh disiplin fisik, fokus, dan kekuatan mental. Alih-alih bertabrakan, keduanya justru membentuk pola hidup yang saling menguatkan. Pengelolaan waktu yang ketat menjadi kunci agar tuntutan akademik dan latihan dapat berjalan beriringan.

Persinggungan antara dunia akademik dan olahraga inilah yang menghadirkan potret mahasiswa dengan kapasitas lebih utuh—bukan hanya cakap secara intelektual, tetapi juga tangguh secara karakter. Dalam diri Giva, prestasi olahraga tidak berdiri sebagai aktivitas tambahan, melainkan ruang pembentukan diri yang memperkuat kesiapan menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Partisipasinya dalam kejuaraan nasional juga membawa dimensi yang lebih luas. Pencak silat, sebagai warisan budaya bangsa, tidak semata dipahami sebagai kompetisi fisik, tetapi sebagai medium pembelajaran nilai—disiplin, rasa hormat, pengendalian diri, dan sportivitas. Giva memaknai keikutsertaannya sebagai bagian dari peran generasi muda kampus dalam menjaga warisan budaya melalui praktik nyata.

Fokus, keseimbangan, dan keteguhan tercermin dalam kuda-kuda yang diperagakan Giva Andini Ramadani saat tampil membawa semangat Universitas Mulia di arena nasional.

Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang prestasi mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya bertumbuh di ranah akademik, tetapi juga menjangkau panggung-panggung kompetitif nasional yang menuntut integritas, daya tahan, dan karakter. Dari arena seni tunggal Balikpapan Open I, Giva membawa pulang lebih dari sekadar juara—ia membawa narasi tentang ketekunan yang diuji oleh keterbatasan, lalu dijawab dengan keberanian. (YMN)

Selamat kepada 8 dosen Universitas Mulia yang berhasil lolos pendanaan Program BIMA 2026—capaian yang merefleksikan ketajaman perumusan masalah, kekuatan metodologis, dan relevansi riset terhadap kebutuhan nyata di tingkat lokal maupun nasional.

Balikpapan, 10 April 2026—Sebanyak delapan dosen Universitas Mulia dinyatakan lolos pendanaan Program BIMA 2026, skema hibah nasional yang dikenal dengan proses seleksi ketat. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan mencakup dosen yang baru pertama kali memperoleh hibah.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa proposal yang lolos tidak hanya dinilai dari kelengkapan administratif, tetapi juga dari relevansinya terhadap kebutuhan nyata.

“Setiap usulan harus memberikan dampak, baik untuk kebutuhan nasional maupun lokal. Proposal yang lolos menunjukkan relevansi itu,” ujarnya.

Program BIMA merupakan salah satu instrumen pendanaan riset dan pengabdian dari pemerintah pusat yang menekankan pada kualitas substansi, kebaruan, serta kontribusi terhadap penyelesaian persoalan di masyarakat. Setiap proposal melalui tahapan seleksi berlapis sebelum ditetapkan sebagai penerima pendanaan.

Berangkat dari Masalah Riil

Menurut Mada, arah proposal yang diajukan dosen Universitas Mulia mulai bergerak ke pendekatan berbasis dampak. Penelitian dan pengabdian tidak lagi berhenti pada luaran akademik, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan.

“Setiap penelitian maupun pengabdian harus berangkat dari masalah riil di lingkungan. Karena itu, usulan yang didanai berpotensi memberikan manfaat, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Timur,” katanya.

Pendekatan ini tercermin dari ragam bidang yang diusulkan, mulai dari kesehatan, teknologi, hingga sosial kemasyarakatan, yang seluruhnya beririsan dengan kebutuhan lokal.

Kekuatan Riset Masih Berproses

Meski demikian, Universitas Mulia belum sepenuhnya mengerucut pada satu bidang unggulan riset. Mada menyebut, pola kekuatan tersebut masih dalam tahap pembentukan seiring meningkatnya jumlah penelitian berbasis dampak.

“Belum terpolarisasi secara jelas, tetapi semakin banyak penelitian berdampak akan membentuk peta keunggulan kampus,” ujarnya.

Persiapan dan Tantangan

Di balik peningkatan jumlah penerima hibah, terdapat tantangan yang masih dihadapi dosen, terutama dalam hal konsistensi meneliti dan pengembangan proposal.

LPPM, kata Mada, berupaya memperkuat pendampingan, termasuk mendorong persiapan lebih awal. Hal ini menjadi penting mengingat jadwal pengusulan pada tahun sebelumnya relatif lebih cepat dari biasanya.

“Ini menjadi catatan bagi kami untuk memfasilitasi persiapan lebih dini, agar kualitas proposal bisa terus meningkat,” katanya.

Daftar Penerima Hibah

Dosen Universitas Mulia yang lolos pendanaan penelitian Program BIMA 2026 antara lain:

  • Budiarsih, Ph.D
  • Apt. Indah Woro Utami, S.Farm., M.Farm.
  • Rijal Fadilah, S.Kom.
  • Rahmat Saudi Al Fathir AS, S.Kom., M.Kom.
  • Apt. Murtiyana Sari, S.Farm., M.Clin.
  • Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP
  • Dr. H. Sudarmo, SH, MM UM
  • Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc.

Dari Pendanaan ke Dampak

Peningkatan jumlah penerima hibah menjadi indikator awal, namun keberhasilan sesungguhnya akan diukur dari luaran yang dihasilkan. Universitas Mulia menargetkan setiap penelitian dan pengabdian yang didanai tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan keterlibatan dosen pemula dalam skema ini, kampus juga mulai memperluas basis peneliti aktif, sekaligus memperkuat ekosistem riset yang lebih berkelanjutan. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Maret 2026—Pelaksanaan peringatan Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam pada 18 Februari 2026 turut diisi dengan Lomba Poster Digital tingkat nasional yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fekon. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui mekanisme pengumpulan dan seleksi karya berbasis online, sehingga memungkinkan partisipasi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Kompetisi tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi intelektual generasi muda melalui media visual digital. Poster dipahami sebagai medium argumentasi visual—bukan semata produk estetika—yang memuat gagasan, kritik sosial, serta refleksi kebangsaan sesuai tema Milad ke-79 HMI. Pendekatan ini menempatkan desain sebagai instrumen komunikasi publik yang bertanggung jawab dan berbasis gagasan.

Sebanyak 22 peserta ambil bagian dalam ajang ini, berasal dari berbagai perguruan tinggi lintas provinsi dan lintas pulau. Partisipasi tercatat dari Universitas Jember, UIN Salatiga, Universitas Syiah Kuala, serta sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur seperti Universitas Mulawarman, Universitas Kutai Kartanegara, dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Komposisi peserta ini menunjukkan bahwa kompetisi memiliki daya jangkau nasional dengan tingkat persaingan yang terbuka.

Poster karya mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia yang meraih Juara 2 pada Lomba Poster Digital Milad HMI ke-79 tingkat nasional (18 Februari 2026).

Proses lomba dimulai dari tahap pendaftaran dan pengunggahan karya sesuai tema yang ditetapkan panitia. Setiap karya dinilai berdasarkan empat parameter utama: orisinalitas ide, ketajaman pesan, kesesuaian dengan tema, serta kualitas visual dan teknis desain. Mekanisme seleksi dilakukan secara bertahap hingga ditetapkan tiga karya terbaik.

Berdasarkan pengumuman resmi panitia, Juara 1 diraih oleh Gilang Permana Aditya dari Politeknik Negeri Balikpapan, Juara 2 diraih oleh Apriliani Wijaya dari Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia Balikpapan, dan Juara 3 diraih oleh Muhammad Naufal Maulana dari Universitas Balikpapan.

Raihan Juara 2 oleh mahasiswa Universitas Mulia dipandang sebagai representasi capaian akademik institusi dalam membangun kompetensi yang tidak hanya teknis, tetapi juga reflektif. Karya yang dihasilkan dinilai mampu menerjemahkan gagasan ke dalam komposisi visual yang terstruktur dan komunikatif, sekaligus relevan dengan konteks Milad HMI ke-79.

Bagi Universitas Mulia, partisipasi dalam ajang nasional semacam ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menekankan integrasi antara penguasaan teknologi, kemampuan analisis sosial, dan keberanian menyampaikan ide di ruang publik. Capaian ini memperkuat posisi institusi dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkompetisi serta terlibat dalam diskursus kebangsaan melalui pendekatan akademik dan kreatif. (YMN)

 

 

Pagi yang Tertata, Sidang Senat Terbuka Dimulai dengan Persiapan Matang

Balikpapan, 18 Desember 2025 — Kamis pagi, 18 Desember 2025, Balikpapan menyambut hari dengan suasana yang tenang dan bersahabat. Cahaya matahari telah meninggi, namun belum menyengat, seolah memberi ruang bagi sebuah peristiwa akademik yang tak hanya dirancang rapi, tetapi juga dimaknai dengan kesungguhan. Di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, denyut persiapan telah terasa sejak pagi.

Alih-alih hiruk-pikuk, yang tampak adalah keteraturan. Panitia bergerak dalam ritme yang senyap namun pasti—menyelaraskan tata ruang, memastikan setiap kursi dan meja berada pada posisi yang semestinya, merapikan detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian, namun menentukan wibawa sebuah sidang senat terbuka. Sentuhan estetika sederhana, seperti vas bunga dan penataan ruang penerima tamu, memperkuat kesan bahwa perhelatan ini diperlakukan sebagai ruang kehormatan akademik.

Seluruh tamu undangan berdiri menyambut masuknya Senat Universitas Mulia ke ruang Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025 di Ballroom Cheng Hoo.

Perlahan, ruang ballroom terisi. Dosen dan tenaga kependidikan Universitas Mulia hadir dengan sikap tenang, saling menyapa dalam percakapan singkat yang mencerminkan kebersamaan institusional. Kehadiran para tamu dari berbagai instansi eksternal—pemerintahan, lembaga negara, mitra industri, hingga perguruan tinggi—menambah bobot peristiwa ini sebagai momentum bersama, melampaui batas internal kampus.

Ketika waktu menunjukkan pukul 09.00 WITA, Ballroom Cheng Hoo telah terisi penuh. Suasana yang tercipta bukan semata formalitas, melainkan pertemuan antara disiplin akademik dan kegembiraan kolektif dalam memperingati Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025.

Master of Ceremony membuka rangkaian acara dengan menyapa para tamu kehormatan, di antaranya Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si.; jajaran Senat; pimpinan Yayasan Airlangga; perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur; Badan Otorita IKN; unsur TNI–Polri; lembaga peradilan; perbankan; DPR RI; mitra industri; serta sivitas akademika Universitas Mulia. Dengan khidmat, Sidang Senat Terbuka pun dinyatakan resmi dimulai.

Tari Nondoi, tarian selamat datang khas Dayak Bahau Paser Kalimantan Timur, dipersembahkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Gayatri Universitas Mulia sebagai simbol penghormatan dan keterbukaan kepada para tamu.

Tradisi Akademik, Budaya Lokal, dan Spirit Penyambutan

Prosesi masuk Senat Universitas Mulia, Rektor, dan jajaran pimpinan diiringi lantunan Gaudeamus Igitur. Lagu klasik akademik tersebut menghadirkan suasana reflektif—mengikat tradisi intelektual global dengan konteks lokal perguruan tinggi yang tengah bertumbuh. Ia menjadi penanda bahwa perayaan ini berakar pada nilai-nilai keilmuan yang dijaga lintas generasi.

Pandangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur disampaikan melalui sambutan Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat, drh. Arif Murdiatno.

Nuansa penyambutan kemudian diperkaya melalui penampilan Tari Nondoi, tarian selamat datang khas Dayak Bahau Paser Kalimantan Timur yang dipersembahkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Gayatri Universitas Mulia. Gerakannya yang lembut dan terukur menyiratkan penghormatan, keterbukaan, serta filosofi harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan—sebuah pesan simbolik tentang posisi perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Sidang Senat Terbuka secara resmi dibuka oleh Ketua Senat Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., dan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Drs. Achmad Prijanto. Ruang ballroom sejenak hening, menandai bahwa rangkaian akademik ini tidak hanya dimulai dengan ketertiban prosedural, tetapi juga kesadaran spiritual.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoA) antara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur dengan sejumlah fakultas dan unit di Universitas Mulia sebagai penguatan kolaborasi riset terapan dan pengabdian masyarakat.

Momen kebangsaan kemudian hadir melalui lagu Indonesia Raya, disusul Hymne Balikpapan dan Mars Universitas Mulia. Tiga identitas—nasional, kedaerahan, dan institusional—bertemu dalam satu tarikan nafas, menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai bagian dari denyut pembangunan daerah dan negara.

Pemutaran video profil Universitas Mulia menghadirkan kilas balik perjalanan institusi, capaian tridarma perguruan tinggi, serta arah pengembangan kampus technopreneur yang berpijak pada kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan regional.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. menegaskan bahwa usia tujuh tahun merupakan fase konsolidasi strategis. Pada titik ini, penguatan mutu akademik, perluasan kolaborasi, dan kesiapan institusi dalam merespons dinamika Kalimantan Timur—termasuk kehadiran Ibu Kota Nusantara—menjadi agenda yang tidak terpisahkan.

Orasi ilmiah disampaikan oleh perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., yang mengulas pengembangan infrastruktur kota cerdas menuju Ibu Kota Nusantara sebagai pusat pemerintahan digital.

Arah Institusi, Kebijakan Pendidikan, dan Kerja Sama Strategis

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menempatkan Universitas Mulia dalam dua bingkai besar. Pertama, sebagai instrumen kebijakan publik yang memperluas akses pendidikan tinggi melalui dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kedua, sebagai institusi yang tengah diarahkan menuju global technopreneur campus 2045—sebuah visi yang menautkan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E. menekankan bahwa tujuh tahun perjalanan Universitas Mulia adalah fase krusial dalam memperkokoh fondasi kelembagaan. Yayasan, menurutnya, berkomitmen mendorong transformasi pendidikan yang adaptif melalui pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan pembelajaran virtual sebagai keniscayaan masa depan.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan plakat Universitas Mulia kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur sebagai simbol penguatan sinergi kelembagaan.

Pandangan pemerintah daerah disampaikan melalui sambutan Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat, drh. Arif Murdiatno. Ia menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan sumber daya manusia—tidak hanya menyiapkan lulusan siap kerja, tetapi juga melahirkan inovator dan technopreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satria Darma, menyerahkan cendera mata kepada perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi strategis.

Komitmen tersebut dipertegas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur dengan sejumlah fakultas dan unit di Universitas Mulia. Kerja sama ini menjadi pijakan penguatan riset terapan dan pengabdian masyarakat yang selaras dengan kebutuhan daerah.

Dari Riset Terapan hingga Peneguhan Arah Institusi

Dimensi keilmuan Universitas Mulia tercermin dalam paparan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M. Ia mempresentasikan hasil riset pengolahan limbah pesisir menjadi bahan baku farmasi melalui pendekatan green farmakoekonomi. Limbah sisik dan tulang ikan yang sebelumnya terabaikan berhasil diolah menjadi kolagen, kitosan, dan albumin—produk bernilai ekonomi tinggi yang membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., memaparkan hasil riset pengolahan limbah pesisir menjadi bahan baku farmasi melalui pendekatan green farmakoekonomi dalam rangkaian Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.

Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan cendera mata kepada para tamu kehormatan serta pembagian buku Kelangkaan Air Bersih di Balikpapan, hasil kajian Balikpapan Water Forum. Publikasi ini mencerminkan komitmen Universitas Mulia dalam mendorong diskursus publik berbasis riset dan kebijakan.

H. Rizal Effendy menyerahkan buku Kelangkaan Air Bersih di Balikpapan, hasil kajian Balikpapan Water Forum, kepada Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh drh. Arif Murdiatno sebagai kontribusi akademik dalam diskursus kebijakan publik.

Orasi ilmiah disampaikan oleh perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., yang mengulas pengembangan infrastruktur kota cerdas menuju Ibu Kota Nusantara sebagai pusat pemerintahan digital. Paparannya menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem kota cerdas berbasis teknologi dan data.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga menyerahkan potongan pertama tumpeng kepada Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satria Darma, sebagai simbol rasa syukur atas Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.

Sidang Senat Terbuka ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, dilanjutkan dengan penganugerahan Penghargaan Universitas Mulia 2025. Apresiasi ini diberikan kepada sivitas akademika berprestasi sebagai pengakuan atas dedikasi dan kinerja institusional. Fakultas Humaniora dan Kesehatan meraih penghargaan Fakultas dengan Kerja Sama Terbaik dengan delapan kerja sama sepanjang 2025. Program Studi PGPAUD S1 dinobatkan sebagai Program Studi dengan Audit Mutu Internal Terbaik dengan capaian 83,54 persen. Program Studi Sistem Informasi PSDKU Samarinda menerima penghargaan atas pemanfaatan Lentera terbaik. Penghargaan Dosen Terbaik dianugerahkan kepada Agus Widianto, S.Kom., M.Kom., sementara penghargaan Tenaga Kependidikan Terbaik diberikan kepada Aslina Dua Beda, S.Ak.

Ketua Program Studi PGPAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, M.Pd., berpose bersama dosen dan tenaga kependidikan PGPAUD usai menerima Penghargaan Universitas Mulia 2025 sebagai Program Studi dengan Audit Mutu Internal Terbaik, dengan capaian 83,54 persen.

Pada usia tujuh tahun, Universitas Mulia menandai perjalanannya bukan sekadar melalui seremoni, melainkan melalui refleksi akademik, penguatan kolaborasi, dan peneguhan peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan daerah dan nasional. (YMN)

Balikpapan, 16 Desember 2025 — Universitas Mulia meraih Juara II dalam Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter (Championship Perguruan Tinggi Terintegrasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah/CBP Rupiah) yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Rabu, 11 Desember 2025.

Capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulia dengan Program CBP Rupiah, sebuah gerakan nasional yang diinisiasi Bank Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah sekaligus simbol kedaulatan negara.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., mewakili Universitas Mulia, menerima penghargaan Juara II Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter (Championship Perguruan Tinggi Terintegrasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah/CBP Rupiah) yang diserahkan oleh pejabat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan, Rabu (11/12/2025).

Melalui KKN berbasis CBP Rupiah, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif mengenalkan nilai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat di lokasi KKN. Program ini dirancang tidak hanya sebagai edukasi literasi keuangan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan sikap kebangsaan dan tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah seorang dosen pembimbing KKN Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Bank Indonesia melalui Program CBP Rupiah memberikan ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. “Melalui KKN ini, mahasiswa tidak hanya menyampaikan edukasi tentang penggunaan Rupiah yang baik dan bijak, tetapi juga belajar menanamkan nilai kebangsaan serta literasi keuangan secara langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pelaksanaan program tersebut terintegrasi dengan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, melibatkan perguruan tinggi se-Balikpapan serta seluruh kelurahan di enam kecamatan. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mengedukasi masyarakat agar menggunakan Rupiah secara tepat, bijak, dan bertanggung jawab.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i (tengah) didampingi Ketua Panitia KKN Universitas Mulia Tahun 2025 Dr. Pudjiati, S.E., M.M. (kanan) dan Dosen Pembimbing KKN Universitas Mulia Tahun 2025 Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kiri) pada kegiatan penyerahan penghargaan Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter CBP Rupiah oleh Bank Indonesia Balikpapan.

Penghargaan Juara II yang diterima Universitas Mulia merupakan bentuk apresiasi Bank Indonesia terhadap kontribusi akademisi, mahasiswa, dan mitra daerah dalam mendukung penguatan literasi Rupiah melalui pendekatan pengabdian kepada masyarakat yang terstruktur dan kolaboratif. (YMN)

 

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)

Balikpapan, 30 September 2025 – Universitas Mulia kini semakin memperkuat langkahnya dalam membangun budaya mutu dan tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas. Sebanyak 16 dosen resmi dinyatakan lulus sebagai Auditor Mutu Internal (AMI) setelah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari pada 10–11 September 2025 dan menempuh serangkaian uji sertifikasi yang mencakup uji kompetensi teknis dan psikotest khusus auditor.

Pelatihan ini menjadi bagian penting dari strategi universitas dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penjaminan mutu. Selama proses pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan menyeluruh mulai dari pemahaman regulasi dan standar mutu pendidikan tinggi, teknik audit dan penyusunan laporan, hingga simulasi audit lapangan. Materi disampaikan oleh para praktisi dan narasumber berpengalaman di bidang penjaminan mutu perguruan tinggi, sehingga peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan audit di lingkungan universitas.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan momentum penting bagi Universitas Mulia dalam memperkuat komitmen terhadap mutu tridharma perguruan tinggi. “Fokus kita bukan pada skor individu, tetapi pada kenyataan bahwa sekarang Universitas Mulia memiliki 16 auditor bersertifikat yang siap bekerja memastikan mutu tridharma berjalan sesuai standar,” ujarnya. Ia menambahkan, keberadaan para auditor baru ini akan memperkuat pelaksanaan audit di seluruh fakultas, program studi, dan unit kerja, sekaligus memastikan bahwa hasil audit dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dan perencanaan perbaikan berkelanjutan.

Lebih jauh, Wibisono menjelaskan bahwa keberadaan auditor internal merupakan salah satu elemen vital dalam penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi. SPMI merupakan instrumen utama untuk memastikan seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berjalan sesuai standar nasional dan visi institusi. Implementasinya dilakukan melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, audit mutu internal menempati posisi strategis pada tahap Evaluasi, yaitu memeriksa sejauh mana standar telah diterapkan secara efektif dan konsisten.

“Evaluasi yang objektif tidak dapat dilakukan oleh pimpinan unitnya sendiri. Di sinilah peran auditor dari unit lain menjadi penting untuk memastikan proses evaluasi berlangsung secara independen, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terang Wibisono.

Meski demikian, pelaksanaan AMI di perguruan tinggi tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan sikap positif di setiap unit kerja terhadap kehadiran auditor. Menurut Wibisono, paradigma berpikir tentang audit harus bergeser dari kesan pengawasan yang menakutkan menjadi kemitraan yang konstruktif. “Auditor tidak datang untuk mencari kesalahan, tetapi membantu unit kerja melihat sejauh mana standar telah diterapkan dan di mana peluang perbaikannya. Audit seharusnya disambut sebagai upaya kolaboratif dalam memperkuat kualitas institusi,” ujarnya.

Wibisono juga menekankan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menjadi auditor. Integritas, sikap profesional, dan sensitivitas terhadap konteks kerja menjadi faktor yang tidak kalah penting. Seorang auditor dituntut tidak bersikap arogan atau menghakimi, namun tetap tegas, objektif, dan berpegang pada fakta. “Peran normatif auditor adalah memastikan bahwa seluruh standar yang telah ditetapkan benar-benar dilaksanakan. Namun pada saat yang sama, auditor juga perlu memiliki kepekaan untuk melihat peluang perbaikan dalam semangat continuous improvement,” tegasnya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat berdiskusi pada sesi tanya jawab dalam pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa jika auditor menemukan bahwa suatu standar terlalu mudah dicapai, hal itu dapat menjadi indikasi perlunya peningkatan standar tersebut agar proses pelaksanaan tridharma maupun layanan institusi terus terdorong ke arah yang lebih baik. “Proses perbaikan ini tidak boleh berhenti. Justru harus terus berlanjut agar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu institusi secara menyeluruh,” tambahnya.

Kehadiran 16 auditor baru ini tidak hanya menjadi capaian administratif, tetapi juga langkah strategis yang menguatkan fondasi tata kelola Universitas Mulia. Hal ini semakin relevan mengingat pada tahun 2026, universitas akan memasuki fase transformasi menjadi Research and Innovation University, setelah sebelumnya berfokus pada peran sebagai Teaching University. Perubahan orientasi ini menuntut standar mutu yang lebih tinggi, pengelolaan yang lebih sistematis, dan budaya perbaikan berkelanjutan di seluruh lini organisasi.

“Para auditor ini akan menjadi bagian dari ekosistem mutu yang memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, terus diperbarui, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah langkah awal yang penting untuk membawa Universitas Mulia ke level yang lebih tinggi,” pungkas Wibisono. (YMN)