Balikpapan, 25 November 2025— Fakultas Hukum Universitas Mulia menyelenggarakan seminar bertajuk “Crimes Against Minors” pada Hari Senin, 24 November 2025 yang dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) bersama Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Balikpapan. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo ini menghadirkan narasumber dari Polresta Balikpapan, Kejaksaan Negeri Balikpapan, serta Bapas Balikpapan. Seminar diikuti oleh ratusan siswa SMP, SMA dan SMK sebagai bentuk perluasan edukasi hukum sejak dini.

Kaprodi Hukum Universitas Mulia, M. Asyharuddin, S.H., M.H., menyampaikan sambutan pembuka sekaligus menegaskan urgensi edukasi dan kewaspadaan hukum bagi generasi muda pada Seminar “Crimes Against Minors” di Ballroom Cheng Hoo.

Ketua Program Studi Hukum Universitas Mulia, M. Asyharuddin, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema seminar berangkat dari kepekaan mahasiswa terhadap fenomena kejahatan terhadap anak yang kian mengemuka. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang pertukaran pengetahuan antara peserta dan narasumber dari lembaga penegak hukum. Asyharuddin turut mengapresiasi kinerja panitia mahasiswa yang mempersiapkan kegiatan selama satu bulan dan berhasil menggandeng berbagai instansi strategis.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., memberikan sambutan yang menekankan komitmen fakultas dalam memperkuat kolaborasi bersama lembaga penegak hukum untuk penguatan perlindungan anak di era digital.

Dekannya, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., memberikan perspektif yang lebih luas mengenai posisi kegiatan ini dalam konteks pengabdian institusi. Ia menegaskan bahwa Fakultas Hukum menaruh perhatian serius untuk memastikan kegiatan akademik memiliki dampak nyata di masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, seminar ini menjadi bentuk komitmen kampus dalam memperkenalkan nilai-nilai kesadaran hukum secara sistematis kepada pelajar, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dengan lembaga hukum negara. Ia juga menyoroti keterlibatan mahasiswa semester awal sebagai panitia inti sebagai representasi kesiapan akademik dan profesional di Fakultas Hukum.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom., mewakili Rektor Universitas Mulia dalam sambutan yang mengapresiasi sinergi akademisi dan aparat penegak hukum sebagai upaya meningkatkan literasi hukum pelajar.

Sementara itu, sambutan Rektor Universitas Mulia yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom., menekankan relevansi akademisi sebagai mediator penyebaran informasi dan edukasi hukum yang konstruktif di masyarakat. Mengangkat contoh kasus penculikan anak yang sempat menjadi sorotan nasional, ia mengajak peserta seminar untuk memahami urgensi penegakan hukum dan kehati-hatian terhadap kejahatan terhadap anak di era digital. Sumardi juga menegaskan kesiapan Universitas Mulia sebagai ruang kolaborasi bagi aparat penegak hukum dalam menyampaikan literasi hukum kepada publik.

Penandatanganan MOA sebagai Wujud Komitmen Bersama

Momentum akademik ini dilanjutkan dengan penandatanganan MOA antara Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Bapas Kelas I Balikpapan. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., dan Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Imam Siswoyo. MOA ditujukan untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan hukum, riset, dan program pengabdian kepada masyarakat, khususnya yang berfokus pada perlindungan anak dan pembinaan remaja.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Hukum Universitas Mulia berkomitmen memperluas integrasi antara teori dan praktik hukum di lingkungan akademik, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan edukasi, penyuluhan, dan penelitian terkait perlindungan anak dengan melibatkan lembaga penegak hukum.

Penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) antara Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Balikpapan, dilakukan oleh Dekan Fakultas Hukum, Budiarsi, dan Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Imam Siswoyo, sebagai langkah strategis memperkuat kerja sama edukasi dan layanan hukum.

Penegasan Peran Kampus sebagai Agen Edukasi Hukum

Seminar “Crimes Against Minors” dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat kesadaran hukum masyarakat, terutama generasi muda yang rentan bersinggungan dengan isu kriminalitas digital dan sosial. Kolaborasi akademik dan aparat penegak hukum ini diharapkan mampu melahirkan pola edukasi berkelanjutan demi memperkuat perlindungan terhadap anak sekaligus menanamkan kepribadian hukum yang berkarakter bagi pelajar sebagai calon penerus bangsa. (YMN)

Balikpapan, 23 November 2025— Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir UM menjalankan serangkaian pembaruan akademik yang dirancang untuk selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Pembaruan tersebut mencakup reviu kurikulum secara berkala di seluruh program studi dengan mengacu pada standar nasional, OBE, KKNI, SKKNI, serta tren industri mutakhir, khususnya pada technopreneurship, teknologi informasi, dan bidang keilmuan terkait. Muatan praktis diperkuat melalui studi kasus riil, project-based learning, literasi digital, dan kewirausahaan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep teoretis, tetapi terbiasa menyelesaikan persoalan nyata di lapangan. Kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, asosiasi profesi, dan lembaga pemerintah dilibatkan dalam penyusunan kurikulum, penyelenggaraan kuliah tamu, hingga pembimbingan magang.

Para dekan dan kaprodi Universitas Mulia berdiri menyanyikan Mars UM pada pembukaan Asesmen Lapangan BAN-PT, Jumat 21 November 2025, bertempat di Ballroom Cheng Hoo.

Untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan kompetensi masa kini, UM mengembangkan ekosistem pembelajaran yang memadukan perkuliahan tatap muka, pembelajaran daring melalui Learning Management System, dan platform kolaborasi digital. Dosen didorong untuk memperbarui materi ajar secara berkelanjutan dan memanfaatkan perangkat digital dalam perkuliahan. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin melalui tracer study, umpan balik mahasiswa, rapat akademik, dan mekanisme penjaminan mutu internal agar penyesuaian pembelajaran dapat segera dilakukan saat terdapat perubahan kebutuhan industri.

Bidang penelitian juga dipaparkan sebagai bagian dari penguatan akademik di Universitas Mulia. Penelitian dosen dan mahasiswa diarahkan untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pemecahan masalah masyarakat. Tema riset banyak berkaitan dengan transformasi digital, technopreneurship, kesehatan, lingkungan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Hasil penelitian didorong untuk tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dihilirisasi menjadi produk, prototipe, model pelayanan, atau rekomendasi kebijakan. Mahasiswa dilibatkan melalui tugas akhir berbasis riset, program kreativitas, dan kegiatan pengabdian, sehingga budaya ilmiah tumbuh sejak awal masa studi.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan dokumen kepada tim asesor BAN-PT: Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. (Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. (Universitas Islam Bandung), dan Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia). Prosesi berlangsung dengan didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.; Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.; dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sumardi, S.Kom., M.Kom.

Menurut Wisnu, capaian akademik Universitas Mulia dalam lima tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang cukup baik. Struktur kurikulum berbasis learning outcome berjalan semakin sistematis, penggunaan platform digital dalam proses akademik semakin mapan, dan sistem penjaminan mutu semakin terbangun. Produktivitas publikasi ilmiah dosen meningkat, kegiatan pengabdian masyarakat berbasis keilmuan bertambah, dan prestasi mahasiswa di berbagai bidang turut memperkuat citra akademik Universitas Mulia.

Dalam penjelasannya kepada asesor akreditasi institusi, atmosfer akademik UM digambarkan sebagai ekosistem yang kolaboratif, inklusif, dan berorientasi mutu. Proses pembelajaran berlangsung melalui dialog akademik antara dosen dan mahasiswa, kelas dirancang interaktif melalui diskusi, presentasi, dan proyek kelompok, serta didukung oleh infrastruktur pembelajaran yang memadai. Kegiatan ilmiah seperti seminar, kuliah tamu, workshop, dan komunitas belajar mahasiswa turut berperan dalam membentuk dinamika akademik tersebut. Keseluruhan proses diperkuat oleh tata kelola yang transparan dan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Pasca asesmen akreditasi institusi, Wisnu menegaskan rencana penguatan akademik Universitas Mulia pada bidang technopreneurship, pembelajaran, dan riset terapan. Fokus pengembangan diarahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi bereputasi, pendaftaran kekayaan intelektual, serta perluasan jejaring kolaborasi nasional dan internasional. Di sisi pembelajaran, pengayaan model project-based learning, kolaborasi industri, serta peningkatan kapasitas dosen dalam pedagogi digital menjadi prioritas. Melalui langkah tersebut, reputasi akademik dan riset Universitas Mulia ditargetkan semakin kuat dan diakui secara luas oleh masyarakat serta para pemangku kepentingan. (YMN)

 

Balikpapan, 23 November 2025 — Pelaksanaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia selama 20–22 November 2025 menghadirkan tiga asesor BAN-PT: Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. (Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. (Universitas Islam Bandung), dan Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia). Kehadiran para pakar nasional tersebut menempatkan proses visitasi bukan hanya sebagai penilaian formal, tetapi sebagai ruang evaluasi strategis arah pengembangan Universitas Mulia dalam beberapa tahun ke depan.

Tampak dari sebelah kiri: Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung sakti Pribadi, S.H., M.H.; Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si.; serta para asesor BAN-PT — Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. (Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. (Universitas Islam Bandung), dan Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia) — berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia pada pembukaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan bahwa akreditasi institusi menjadi milestone penting dalam perjalanan transformasi perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa akreditasi bukan semata penilaian dokumen, melainkan cermin objektif yang memperlihatkan konsistensi penyelenggaraan perguruan tinggi berbasis technopreneurship dan pelaksanaan fase Teaching University yang kini sedang dijalankan. Melalui proses ini, kata Rektor, seluruh unsur kampus dapat melihat secara jernih apa yang telah berjalan baik dan apa yang perlu disempurnakan sebagai agenda perbaikan berikutnya.

Dalam paparannya kepada asesor, Rektor menekankan identitas Universitas Mulia sebagai kampus technopreneurship yang tumbuh di tengah ekosistem industri dan Ibu Kota Negara baru. Menurutnya, kedekatan kampus dengan dunia usaha dan dunia kerja bukan slogan, melainkan prinsip yang diwujudkan dalam kurikulum, proyek mahasiswa, dan pelaksanaan Tridharma. Ia menegaskan bahwa lulusan UM dipersiapkan tidak hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang melalui penguasaan teknologi dan jiwa kewirausahaan.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung sakti Pribadi, S.H., M.H. dan Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. tampak memanjatkan doa dengan khusyuk sebelum dimulainya asesmen lapangan Akreditasi Institusi sebagai wujud harapan akan kelancaran dan kemudahan seluruh rangkaian kegiatan.

Terkait capaian lima tahun terakhir, Rektor menjelaskan bahwa penguatan tata kelola dan sistem penjaminan mutu berbasis data dan digital menjadi langkah paling signifikan. Universitas Mulia membangun dan menyempurnakan SPMI, AMI, dan kebijakan akademik yang mengikuti regulasi nasional, bersamaan dengan transformasi digital melalui penguatan sistem informasi dan layanan administrasi terpadu. Langkah tersebut berjalan paralel dengan peningkatan kapasitas SDM melalui studi lanjut, sertifikasi, pelatihan pedagogik, serta pembentukan budaya penelitian dan publikasi ilmiah di kalangan dosen.

Komitmen pengembangan institusi, menurutnya, tercermin dalam empat bentuk nyata:

  1. keberadaan roadmap pengembangan jangka panjang hingga 2045 dengan tahapan terukur,
  2. investasi berkelanjutan pada peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi profesional dosen serta tenaga kependidikan,
  3. kurikulum adaptif berbasis OBE yang memberi ruang pembelajaran kolaboratif, proyek nyata, dan penguatan karakter, serta
  4. perluasan jejaring kemitraan dengan industri, pemerintah, dan lembaga pendidikan nasional maupun internasional untuk memperkuat daya saing global.

Rektor menilai bahwa akreditasi institusi berperan sebagai bentuk pengakuan eksternal bahwa proses dan hasil penyelenggaraan pendidikan di Universitas Mulia telah melewati standar mutu tertentu. Bagi publik dan dunia industri, status akreditasi yang baik menjadi sinyal kredibilitas sistem pendidikan, sehingga memperkuat peluang kerja sama, magang, penelitian terapan, rekrutmen lulusan, dan kolaborasi strategis lainnya.

Rektor Universitas Mulia berdialog akademik dengan tim asesor BAN-PT, membahas implementasi technopreneurship, tata kelola mutu, dan arah pengembangan institusi dalam sesi asesmen lapangan.

Pada bagian akhir wawancara, Rektor menyampaikan harapan agar seluruh sivitas akademika semakin memiliki kesadaran bahwa mutu bukan tugas satu unit, melainkan tanggung jawab bersama. Ia menekankan pentingnya budaya kerja kolaboratif, disiplin, terbuka terhadap evaluasi, serta berbasis data. Dalam pembelajaran, Rektor berharap dosen semakin kreatif dan adaptif terhadap teknologi dengan tetap menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar. Untuk layanan mahasiswa, ia menginginkan layanan yang cepat, ramah, transparan, dan solutif sehingga kampus benar-benar dirasakan sebagai ruang belajar yang nyaman.

Menutup penjelasannya, Rektor menegaskan bahwa keberlanjutan mutu akan terus dijaga melalui siklus SPMI yang berjalan sistematis: menetapkan standar, melaksanakan, mengevaluasi, dan menindaklanjuti. Peran unit penjaminan mutu di semua level terus diperkuat, indikator kinerja diintegrasikan ke dalam perencanaan dan evaluasi tahunan, serta capaian mutu dipantau melalui sistem informasi. Ia juga menekankan pentingnya budaya refleksi melalui rapat kinerja, forum akademik, dan pemberian penghargaan bagi unit maupun individu yang menunjukkan komitmen mutu, sehingga akreditasi bukan menjadi proyek lima tahunan, tetapi menjadi cara kerja dan cara berpikir seluruh keluarga besar Universitas Mulia. (YMN)

Balikpapan, 23 November 2025 Pelaksanaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia selama tiga hari, 20–22 November 2025, ditutup dengan suasana haru sekaligus optimisme. Visitasi oleh tim asesor BAN-PT menjadi momentum penting bagi UM untuk menegaskan komitmen dan arah transformasi pendidikan tinggi di Kalimantan Timur.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan bahwa kehadiran asesor adalah momen yang sangat dinantikan setelah satu tahun mengajukan dokumen borang. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penantian itu bukan sekadar menunggu hasil akreditasi, tetapi menunggu masukan objektif untuk percepatan pengembangan institusi.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan sambutan pembuka visitasi Akreditasi Institusi BAN-PT.

“Satu tahun ini seperti menunggu seseorang yang dicintai. Kami sangat menunggu visitasi karena kami meyakini penilaian pihak luar jauh lebih objektif dibanding menilai diri sendiri. Dan ketika kami mendapat kabar kedatangan tiga pakar ini, benar-benar seperti pucuk dicinta ulam pun tiba,” ujar Prof. Ahsin.

Kedatangan tiga asesor BAN-PT pada visitasi tahun ini sekaligus menjadi kehormatan tersendiri bagi Universitas Mulia. Para pakar nasional tersebut—Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. dari Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. dari Universitas Islam Bandung, serta Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia—memberikan perspektif lintas-disiplin mulai dari tata kelola pendidikan, pengelolaan akademik dan keuangan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Interaksi sepanjang visitasi berlangsung hangat, kritis, dan konstruktif sehingga evaluasi yang diberikan tidak hanya terasa sebagai proses penilaian, tetapi sebagai dorongan strategis untuk mengakselerasi mutu Universitas Mulia dalam waktu yang lebih cepat.

Rektor kemudian menegaskan bahwa selama tujuh tahun perjalanan sebagai universitas, UM telah berupaya menyesuaikan seluruh tata kelola pendidikan dengan peraturan nasional dan standar BAN-PT—mulai dari penataan visi-misi, peningkatan mutu SDM, penjaminan mutu, peningkatan layanan akademik dan keuangan, hingga kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Ahsin menambahkan bahwa akreditasi bukan garis akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih maju.

“Kami berharap kritik dan saran asesor menjadi kompas bagi pengembangan UM ke depan. Apa yang belum tepat diperbaiki, apa yang kurang dilengkapi, sehingga mutu UM berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.

Yayasan: Perjalanan Panjang dan Rasa Syukur atas Kemajuan UM

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga Balikpapan, Dr. Agung Sakti Probadi, M.H., S.H., menggambarkan akreditasi sebagai “ujian terbuka yang membuka seluruh isi tubuh.” Ia memahami dinamika dan ketegangan yang dihadapi pimpinan universitas, namun menegaskan bahwa akreditasi menjadi instrumen penting untuk menguatkan kepercayaan publik.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga Balikpapan, Dr. Agung Sakti Probadi, M.H., S.H., memberikan sambutan dan dukungan penuh terhadap penguatan mutu dan pengembangan Universitas Mulia.

 

Dr. Agung kemudian menguraikan perjalanan panjang Yayasan sejak 1993 hingga berkembang menjadi Universitas Mulia pada 2019, beserta ekspansi yang dilakukan hingga hari ini.
“Sejak Prof. Ahsin bersedia memimpin Universitas Mulia, perkembangan sangat terasa. Dalam tahun ketiga kepemimpinan beliau kami sudah bisa mengakuisisi perguruan tinggi di Kolaka, membuka fakultas baru, dan insya Allah enam program studi sedang dalam proses pembukaan,” jelasnya.

Ia menutup sambutan dengan penegasan bahwa kerja keras dalam proses akreditasi bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dituai. Ia berharap Allah membalas seluruh ikhtiar itu dengan kemudahan dan keberkahan bagi pengembangan Universitas Mulia pada fase berikutnya.

Asesor BAN-PT: Kami Datang untuk Membantu, Bukan Menghakimi

Asesor BAN-PT, Prof. Dr. Ansar Suyuti, M.T., menegaskan bahwa kedatangan tim asesor bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memotret kondisi objektif dan membuka ruang dialog perbaikan.

“Kami datang sebagai juru potret. Tugas kami bukan memeriksa, tetapi membantu Bapak/Ibu mendapatkan hasil yang optimum. Kalau ada sesuatu yang sudah berubah menjadi lebih baik, itu juga harus diakui,” ucapnya.

Asesor BAN-PT, Prof. Dr. Ansar Suyuti, M.T., memberikan arahan pada sesi pembukaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia, dengan penekanan pada upaya berkelanjutan peningkatan mutu pendidikan tinggi.

Prof. Ansar juga menyoroti perubahan kebutuhan pendidikan akibat perkembangan teknologi dari era digital menuju era kuantum, serta pentingnya kesiapan perguruan tinggi menghadapi perubahan tersebut.
“Tugas seluruh pimpinan adalah memastikan UM menjadi tempat terbaik bagi masyarakat untuk menuntut ilmu. Tugas itu tidak ringan, tapi sangat mulia,” tegasnya.

Optimisme Pasca Akreditasi

Seluruh rangkaian visitasi ditutup dengan suasana penuh harapan. Bagi Universitas Mulia, akreditasi bukan sekadar evaluasi dokumen, tetapi proses refleksi kolektif mengenai masa depan institusi.

Dengan dukungan penuh Yayasan, pimpinan, sivitas akademika, dan alumni, UM menegaskan arah pengabdian pendidikannya: membangun Balikpapan sebagai fondasi, memperkuat Samarinda sebagai mitra strategis, memperluas Kolaka sebagai kawasan pertumbuhan baru, dan berkontribusi bagi Indonesia sebagai tujuan akhir. (YMN)

Penajam, 14 November 2025 — Upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi warga Kalimantan Timur kembali memperoleh dorongan penting. Tim Marketing, Branding dan Inovasi (MBI) Universitas Mulia melakukan sosialisasi Program Beasiswa Gratispol di Kantor Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kamis (13/11), dengan melibatkan 19 Lurah dan 4 Kepala Desa dari seluruh wilayah Kecamatan Penajam.

Kegiatan ini menghadirkan Drs. Tatang Sertyawan dan Dr. Siti Rahmayuni sebagai pemapar utama. Mereka membahas dua isu sentral: rincian beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan penjelasan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang Khusus November–Desember 2025. Dalam paparannya, Tatang menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar penyampaian informasi administratif.

“Program ini bukan sekadar bantuan biaya kuliah, tetapi pintu untuk mengubah arah masa depan SDM di Penajam. Kami ingin perangkat desa mendapatkan pemahaman yang utuh sehingga mereka dapat menyampaikan informasi secara tepat kepada warganya,” ujarnya.

Dalam pertemuan yang dipimpin Sekretaris Camat Penajam, Peri Tangdirerung, S.H., pihak kecamatan menyampaikan apresiasi atas inisiatif Universitas Mulia. Peri menilai sosialisasi Gratispol sangat relevan dengan kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Penajam. Ia menekankan agar para-Lurah dan Kepala Desa memanfaatkan sesi tanya jawab untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada warganya benar-benar tepat sasaran.

Tim MBI Universitas Mulia berdiskusi bersama perangkat desa dalam sesi dialog sosialisasi Program Gratispol di Kantor Kecamatan Penajam. Forum ini menjadi ruang tanya jawab untuk memastikan informasi beasiswa tersampaikan secara tepat kepada warga.

Peri juga menyoroti bahwa program Gelombang Khusus dari Universitas Mulia menawarkan pembiayaan yang sangat meringankan, hanya sebesar Rp 2,3 juta tanpa uang gedung dan tanpa biaya SKS, sehingga menjadi peluang yang realistis bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Penjelasan rinci di tingkat kelurahan dan desa diharapkan dapat mengurangi keraguan masyarakat terkait proses pendaftaran maupun mekanisme beasiswa.

Di forum tersebut, Tim MBI memaparkan bahwa keterlibatan Universitas Mulia dalam sosialisasi Gratispol tidak berhenti sebagai aktivitas promosi kampus, melainkan bagian dari peran strategis lembaga pendidikan tinggi: mendukung kebijakan publik, memperkuat pemerataan pendidikan, sekaligus mengambil posisi aktif dalam pembangunan SDM Kalimantan Timur.

Pendekatan sosialisasi yang digunakan—termasuk kerja sama dengan Ketua RT dan dialog langsung dengan perangkat kelurahan—dipilih agar informasi beasiswa tidak berhenti pada tataran formal. Strategi ini dirancang untuk memastikan program benar-benar dapat diakses oleh warga yang membutuhkan, terutama mereka yang selama ini menghadapi hambatan informasi atau keraguan terkait mekanisme pendaftaran.

Diskusi yang berlangsung hampir dua jam itu menunjukkan antusiasme tinggi dari para-Lurah dan Kepala Desa. Mereka secara terbuka menyampaikan bahwa kebutuhan peningkatan kualitas SDM di wilayah Penajam semakin mendesak, dan program seperti Gratispol membuka peluang baru bagi lulusan SMA/SMK yang ingin melanjutkan pendidikan.

Selain sesi paparan, Tim MBI juga menyerahkan spanduk informasi Gratispol dan PMB Gelombang Khusus kepada seluruh Lurah dan Kepala Desa untuk dipasang di masing-masing wilayah. Spanduk ini diharapkan menjadi titik awal penyebaran informasi lanjutan hingga tingkat keluarga.

Salah satu peserta dari daerah pesisir menyampaikan bahwa informasi seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. “Selama ini banyak anak muda ingin kuliah, tetapi prosesnya terasa rumit atau mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Sosialisasi langsung seperti ini jauh lebih meyakinkan,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan diskusi kelompok kecil, di mana perangkat desa dan Tim UM duduk satu meja membahas tindak lanjut berupa pendampingan informasi dan pemetaan calon penerima beasiswa di tiap kelurahan dan desa.

Perwakilan Tim MBI Universitas Mulia menyerahkan spanduk informasi Gratispol dan PMB Gelombang Khusus kepada para Lurah dan Kepala Desa se-Kecamatan Penajam sebagai bahan sosialisasi lanjutan di wilayah masing-masing.

Di bagian akhir pertemuan, Ketua Rombongan MBI, Drs. Tatang Setyawan, kembali menegaskan bahwa Program PMB Gelombang Khusus ini hanya berlaku pada periode pendaftaran November hingga Desember 2025, sehingga perangkat desa diharapkan segera melakukan sosialisasi lanjutan agar calon pendaftar tidak melewati batas waktu tersebut.

Universitas Mulia melalui Tim MBI mengambil langkah operasional yang terukur dan berbasis kebutuhan lapangan: masuk langsung ke struktur pemerintahan desa, kelurahan, hingga RT—titik-titik di mana informasi pendidikan kerap terputus. Pendekatan ini memastikan sosialisasi Gratispol tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi benar-benar membuka akses kuliah bagi warga Kaltim dari berbagai latar sosial, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memiliki keunggulan akses informasi. (YMN)

 

Balikpapan, 13 November 2025 — Universitas Mulia mengembangkan pembelajaran berbasis proyek yang menautkan antara pengetahuan akademik, nilai kebangsaan, etika agama, dan tanggung jawab ekologis. Melalui Aksi Hijau Mahasiswa dan Masyarakat di kawasan Margomulyo, mahasiswa menerjemahkan teori Pancasila, Kewarganegaraan, Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Indonesia menjadi tindakan nyata merawat lingkungan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 2025, hibah yang diperoleh Universitas Mulia dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Diktisaintek Berdampak). Program ini dirancang untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti di ruang kelas, melainkan tumbuh di tengah masyarakat melalui kolaborasi dan aksi sosial yang berdampak langsung.

Dalam kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA Kamis pagi ini, mahasiswa bersama warga Kelurahan Margomulyo membersihkan kawasan hutan bakau dan menanam ratusan bibit mangrove. Selain menjadi praktik kepedulian terhadap alam, kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran lintas mata kuliah yang menumbuhkan kesadaran ekologis, sosial, dan spiritual secara terpadu.

Lisda Hani Gustina, S.Ag., M.Pd. (berjilbab merah) selaku dosen MKWK Pendidikan Agama Islam, bersama Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (berbatik cokelat) selaku Kabag Kerjasama Universitas Mulia, memimpin mahasiswa membersihkan area hutan mangrove Margomulyo sebelum kegiatan penanaman dimulai.

Menanam Nilai, Bukan Sekadar Bibit

Aksi penghijauan di Margomulyo memiliki makna lebih dari sekadar menanam pohon. Mahasiswa belajar memahami dimensi ekologis dan sosial dari penghijauan—mulai dari mitigasi banjir dan abrasi, peningkatan kualitas udara dan air, hingga keseimbangan ekosistem pesisir. Melalui pembelajaran ini, mereka diajak mengaitkan urgensi lingkungan dengan nilai-nilai Sila Kedua dan Sila Kelima Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila tidak hanya diajarkan sebagai teori normatif, tetapi dihidupkan melalui pengalaman langsung yang membentuk kesadaran kolektif akan tanggung jawab sosial dan keadilan ekologis.

Pesan Moral Menjaga Alam sebagai Amanah

Kegiatan ini juga menanamkan nilai spiritual yang berakar pada Sila Pertama, Kedua, dan Kelima, sekaligus mencerminkan adab dalam ajaran agama. Mahasiswa diajak menafsirkan makna tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh — penjaga dan pemelihara bumi. Dari sana tumbuh empati lintas generasi dan semangat keberlanjutan, bahwa setiap tindakan hari ini memiliki dampak bagi kehidupan masa depan.

Nilai religius yang terinternalisasi ini memperkuat moral ekologis mahasiswa: menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah dan rasa syukur atas ciptaan Tuhan.

Mahasiswa Universitas Mulia menanam bibit mangrove di area berlumpur Margomulyo. Meski becek dan licin, mereka tetap antusias berkontribusi menjaga ekosistem pesisir.

Kolaborasi yang Mempersatukan

Kehadiran warga Margomulyo dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan musyawarah masih hidup di masyarakat. Mahasiswa dan warga berkolaborasi dalam perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan, berbagi peran, dan membuat keputusan bersama secara mufakat.

Praktik sosial ini mencerminkan nilai Sila Ketiga dan Sila Keempat, yakni persatuan Indonesia serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Melalui kolaborasi semacam ini, pembelajaran di kampus menemukan bentuk paling nyatanya: membangun jejaring sosial yang memperkuat persatuan dan kepedulian bersama.

Kontribusi Nyata Mahasiswa untuk Lingkungan Lestari

Dari kegiatan Aksi Hijau ini, mahasiswa tidak hanya menanam bibit bakau, tetapi juga merancang tindak lanjut untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Rencana aksi yang dirumuskan mencakup penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pembuatan kompos dan eco-enzyme, pengelolaan bank sampah, hingga program monitoring pertumbuhan mangrove.

Mahasiswa juga dilatih untuk mengkomunikasikan pesan lingkungan secara persuasif melalui tulisan, poster, dan kampanye digital. Setiap rencana aksi dibuat terukur—mulai dari target pertumbuhan bibit, volume sampah yang dikurangi, hingga keterlibatan masyarakat setempat. Dengan pendekatan ini, mahasiswa belajar bahwa perubahan lingkungan memerlukan strategi, kolaborasi, dan komitmen yang berkelanjutan.

Foto bersama mahasiswa, dosen, dan masyarakat sesaat sebelum penanaman bibit mangrove dimulai. Aksi ini menjadi simbol kolaborasi antara kampus dan warga dalam mewujudkan lingkungan yang hijau dan lestari.

Pendidikan yang Berakar dan Berdampak

Melalui hibah MKWK 2025 ini, Universitas Mulia menegaskan arah pendidikan yang berakar pada nilai, bertumbuh dalam aksi, dan berdampak bagi masyarakat. Pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diwujudkan dalam karya yang menghidupkan nilai Pancasila dan etika keagamaan di dunia nyata.

Aksi hijau di Margomulyo menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar untuk menjadi cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli. Mereka belajar menanam pohon—dan sekaligus menanam nilai-nilai yang akan menumbuhkan kehidupan yang lebih adil, beradab, dan lestari bagi semua. (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Memperingati Hari Pahlawan, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menegaskan bahwa kepahlawanan masa kini tidak lagi diukur dengan senjata atau seragam, melainkan dengan integritas dan keberanian moral dalam ilmu pengetahuan.

Menurutnya, nilai yang perlu dihidupkan di lingkungan akademik adalah keteladanan integritas — jujur, disiplin, berani mengambil sikap berbasis data, serta gotong royong lintas disiplin. “Itulah energi moral yang menghidupkan etos ilmiah, memperkuat kepercayaan publik, dan melahirkan karya yang bermakna,” ujarnya.

Prof. Ahsin menilai bahwa pahlawan masa kini bukanlah figur tunggal, melainkan ekosistem. “Para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra yang mengubah masalah nyata menjadi solusi teruji — dari kelas, laboratorium, hingga masyarakat — merekalah pahlawan yang sejati,” ungkapnya. Bagi beliau, kepahlawanan lahir dari integritas, kolaborasi, dan keberanian bereksperimen di tengah dinamika zaman.

Ia menggambarkan universitas sebagai arena kepahlawanan intelektual, tempat gagasan diuji, data diperdebatkan, dan etika dijaga. “Kita merayakan kebenaran melalui riset bermutu, pembelajaran kritis, dan pengabdian yang berdampak. Bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan standar, evidensi, dan akuntabilitas,” tegasnya.

Menjawab bagaimana Universitas Mulia menanamkan semangat tersebut, Prof. Ahsin menjelaskan sejumlah langkah sistemik yang telah dijalankan.
“Kami menanamkan literasi data, etika digital, dan skeptisisme metodologis melalui kurikulum OBE berbasis proyek, mata kuliah literasi informasi, tugas fact-checking, rubrik integritas akademik, serta pembiasaan rujukan primer dan reproduksibilitas hasil,” paparnya.

Dalam pandangannya, perjuangan setara dengan pahlawan hari ini adalah upaya memerdekakan pikiran dari hoaks, meningkatkan mutu riset dan pembelajaran, serta melayani masyarakat dengan teknologi tepat guna. “Itu termasuk membangun inovasi yang menyejahterakan — melalui publikasi, hak kekayaan intelektual, dan prototipe yang diadopsi industri,” jelasnya.

Bagi Prof. Ahsin, Hari Pahlawan juga menjadi refleksi pribadi tentang amanah kepemimpinan. “Maknanya adalah berani benar, adil, dan konsisten. Saya terinspirasi oleh Bung Hatta yang rasional, etis, dan visioner. Kepemimpinan harus berbasis data, dialog, dan tanggung jawab publik demi kemajuan Universitas Mulia,” tuturnya.

Menutup wawancara, Prof. Ahsin menyampaikan pesannya bagi generasi muda Universitas Mulia:
“Jadilah generasi yang cerdas, tangguh, dan rendah hati. Rawat rasa ingin tahu, jaga integritas, kolaborasi tanpa sekat, dan gunakan ilmu untuk melayani. Ukurlah diri dengan dampak, bukan sekadar gelar.” (YMN)

Balikpapan, 3 November 2025 – Universitas Mulia menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) tahun 2025 pada Kamis hingga Jumat, 30–31 November 2025, bertempat di Ballroom Cheng Hoo, Balikpapan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WITA, diikuti seluruh pimpinan universitas, fakultas, dan unit kerja.

Rakor kali ini menegaskan arah baru menuju tahapan Research and Innovation dalam visi jangka panjang Universitas Mulia 2026–2045. Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyebut kegiatan ini sebagai forum konsolidasi strategi untuk menyamakan visi lintas unit sekaligus memperkuat budaya riset dan inovasi di lingkungan kampus.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan sambutan pembukaan Rakor 2025, menegaskan arah baru menuju Research and Innovation.

“Rakor tahun ini adalah forum konsolidasi strategi untuk menyamakan visi 2026–2045, terutama memasuki tahapan ke-2, 2026–2030 yaitu tahapan Research and Innovation. Rakor ini diharapkan dapat menguatkan budaya riset–inovasi dan menyiapkan orkestrasi kolaborasi lintas unit dan infrastruktur menghasilkan dampak nyata bagi mahasiswa, masyarakat, dan daya saing Universitas Mulia,” ujar Prof. Ahsin.

Tema yang diangkat tahun ini, “Membangun Sinergi SDM, Teknologi, dan Inovasi untuk Mewujudkan Research dan Innovation,” dipilih secara khusus untuk menegaskan bahwa tiga pilar tersebut merupakan mesin nilai tambah universitas.

Tim Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) memaparkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) capaian kinerja dan rencana strategis bidang akademik dan inovasi digital.

“SDM unggul menggerakkan proses, teknologi mempercepat eksekusi, inovasi menghadirkan diferensiasi. Di tengah disrupsi AI, Universitas Mulia bukan hanya adaptif, tetapi proaktif: mengubah pengetahuan menjadi solusi, riset menjadi prototipe, dan prototipe menjadi dampak sosial ekonomi yang terukur,” jelasnya.

Dalam pesannya kepada seluruh peserta Rakor, Prof. Ahsin menegaskan pentingnya disiplin dan orientasi hasil.

“Saya menitip pesan: kerjakan hal yang benar, dengan cara yang tepat, dan tuntas. Jadikan data sebagai kompas, kolaborasi sebagai budaya, dan kedisiplinan eksekusi sebagai kebiasaan. Fokus pada luaran: publikasi bereputasi, paten atau prototipe, pembelajaran bermutu, serta layanan mahasiswa yang agile. Bergerak cepat namun akuntabel; berinovasi tanpa meninggalkan integritas. Target kita jelas: Universitas Mulia yang berdaya saing, relevan bagi industri dan masyarakat, serta diakui karena kinerja riset dan inovasinya.”

Tim Fakultas Hukum mempresentasikan LPJ serta arah penguatan riset hukum dan kolaborasi interdisipliner pada Rakor 2025 Universitas Mulia.

Prof. Ahsin menjelaskan bahwa dalam konteks pendidikan tinggi, SDM adalah penggerak, teknologi adalah pengungkit, dan inovasi adalah hasil. Menurutnya, dosen dan tenaga kependidikan yang melek data dan berjejaring memanfaatkan platform digital seperti LMS, repository, laboratorium terpadu, dan AI tools akan mempercepat riset, pembelajaran, serta layanan. “Ketika proses berbasis data dan kolaborasi lintas disiplin berjalan, inovasi lahir lebih konsisten dan daya saing Universitas Mulia meningkat secara berkelanjutan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti tantangan utama dalam membangun budaya riset dan inovasi, mulai dari keterbatasan waktu riset dosen karena beban administratif, kompetensi metodologis yang belum merata, hingga akses terhadap pendanaan dan kolaborasi industri. “Infrastruktur laboratorium dan data masih perlu ditingkatkan, demikian pula tata kelola luaran seperti Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan prototipe hasil riset agar dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Tim Lembaga Penjaminan Mutu, Pengembangan Pembelajaran, dan Penelitian (LPMPP) menyampaikan LPJ serta evaluasi capaian mutu akademik dan kinerja riset universitas.

Untuk mengatasi hal tersebut, strategi pengembangan sumber daya manusia diarahkan melalui peningkatan kompetensi di bidang teknologi, data, dan metodologi riset. Program peningkatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan, sertifikasi, hibah internal, pendampingan penulisan ilmiah, serta magang industri. “Kami memperkuat ekosistem pembelajaran digital, memberikan ruang riset dalam beban kerja dosen, dan membangun komunitas akademik yang saling belajar. Tujuannya agar adaptasi terhadap teknologi dan budaya riset menjadi bagian dari kebiasaan, bukan sekadar program sementara,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, telah menata ekosistem riset dan inovasi melalui penguatan LPPM, tata kelola SPMI–PPEPP, integrasi platform Lentera (LMS) dengan repositori karya ilmiah, kebijakan insentif berbasis luaran, serta pengembangan laboratorium tematik di bidang komputasi dan AI, jaringan dan keamanan, serta desain dan multimedia. Tahun berjalan, universitas juga melengkapi SOP etika dan kelayakan, manajemen data riset, serta dashboard kinerja (IKU) agar produktivitas dapat dimonitor secara real-time dan akuntabel.

Tim Inkubator Bisnis Universitas Mulia memaparkan LPJ pengembangan kewirausahaan kampus dan program inovasi berbasis mahasiswa.

Berbagai program penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa juga digulirkan. “Kami jalankan hibah internal bertingkat, klinik penulisan dan metodologi rutin, mentoring oleh peneliti berpengalaman, serta skema release time bagi dosen dengan target publikasi atau HKI. Mahasiswa didorong melalui skema Riset Tugas Akhir berbasis proyek industri dan masyarakat, kompetisi inovasi, serta program asisten peneliti. Semua ditopang insentif luaran, kolaborasi lintas prodi, dan kontrak kinerja yang terukur,” jelas Prof. Ahsin.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas unit dan fakultas menjadi kunci lahirnya inovasi. “Inovasi lahir dari gabungan keahlian. Prodi dan fakultas menyumbang domain knowledge, LPPM mengorkestrasi tata kelola dan pendanaan, BAAK dan SI menyediakan data serta infrastruktur digital, sementara perpustakaan dan repositori mengelola pengetahuan. Skema tim lintas disiplin mempercepat proses, menekan duplikasi, dan meningkatkan peluang pendanaan kompetitif,” paparnya.

Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis bersama Fakultas Humaniora dan Kesehatan bergantian menyampaikan LPJ serta pesan kolaboratif untuk memperkuat sinergi lintas bidang.

Selain memperkuat sinergi internal, Universitas Mulia juga memperluas jejaring eksternal. “UM memperluas kerja sama dengan industri, pemerintah daerah dan otorita IKN, serta lembaga riset seperti BRIN dan LLDikti untuk pendanaan, fasilitas, dan publikasi bersama. Mekanisme yang kami pakai meliputi payung MoU–PKS, riset terkontrak, co-supervision, dan skema matching fund agar hasil riset cepat diimplementasikan,” ungkapnya.

Menutup wawancara, Prof. Ahsin menegaskan arah langkah Universitas Mulia ke depan:
“Tahun ini kita tegakkan disiplin eksekusi dan budaya kolaborasi; tahun depan kita loncat lebih tinggi dengan riset berdampak, pembelajaran OBE–PBL yang relevan, serta inovasi yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat. Kita menutup tahun ini dengan capaian terukur, dan membuka tahun depan dengan tekad: setiap program menghasilkan dampak, setiap langkah mendekatkan kita pada visi 2045. Maju bersama, unggul bersama, dan tetap rendah hati melayani.” (YMN)

Balikpapan, 30 Oktober 2025 — Tiga dosen Universitas Mulia turun langsung mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu untuk memperkuat kemampuan mereka dalam pemasaran digital. Sekitar lima puluh pelaku usaha mengikuti pelatihan yang dikemas interaktif, memadukan praktik langsung dengan pendampingan mahasiswa di lapangan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen lintas disiplin: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Ketiganya berperan membantu pelaku usaha memahami strategi pemasaran berbasis teknologi, sekaligus memberi pendampingan dalam mengelola media sosial, marketplace, dan konten promosi produk.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan pelaku UMKM di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Rabu (29/10

Menurut Dr. Linda Fauziyah Ariyani, sebagian besar pelaku UMKM di Gunung Sari Ulu belum memiliki bekal pengelolaan usaha yang memadai dan masih terbatas dalam penggunaan teknologi.

“Sebagian besar pelaku UMKM belum mengoptimalkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. Mereka perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan terkait pengelolaan usaha di era digital,” jelasnya.

Dari hasil pendampingan, hampir seluruh peserta sebenarnya telah memiliki akun media sosial, namun pemanfaatannya masih sebatas untuk hiburan. Melalui pelatihan ini, peserta belajar menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan usaha — mulai dari membangun citra produk, membuat konten video marketing, hingga memahami algoritma promosi di marketplace, Instagram, dan TikTok.

Para peserta menilai pelatihan kali ini berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya karena disajikan dengan praktik langsung dan disertai kisah-kisah inspiratif yang membuat suasana belajar lebih hidup.

Pelatihan juga menekankan pendekatan praktis melalui Value Proposition Canvas, sebuah metode yang membantu peserta mengenali kebutuhan konsumen dan menilai keunggulan produk mereka.

“Peserta belajar mengenali masalah konsumen dan menjawabnya melalui inovasi produk, varian, kemasan, layanan, bahkan cara pemasaran. Model ini membuat mereka lebih mudah memahami posisi dan potensi usahanya,” ujar Dr. Linda.

Selama pelatihan, tim dosen menemukan beragam potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui strategi digital.

Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm. memaparkan strategi branding produk dan pentingnya kemasan menarik bagi pelaku UMKM.

“Ada produk kriya seperti buket bunga dan berbagai jenis makanan yang jika direbranding akan jauh lebih menarik. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil membangun mereknya selama pelatihan. Bahkan ada peserta berusia 72 tahun yang masih bersemangat belajar promosi digital,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif membantu peserta membuat akun media sosial dan melatih mereka menggunakan platform digital untuk memasarkan produk.

“Mahasiswa sangat senang dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka belajar langsung bagaimana menerapkan teori komunikasi digital untuk membantu masyarakat,” tutur Dr. Linda.

Pelatihan juga difasilitasi dengan pembuatan QRIS bekerja sama dengan Bank Mandiri. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil memiliki sistem pembayaran digital yang memudahkan transaksi.

“Digitalisasi keuangan penting karena memudahkan pengelolaan keuangan dan memberi kenyamanan bagi konsumen. QRIS kini menjadi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha kecil,” katanya.

Salah seorang mahasiswi Universitas Mulia mendampingi peserta dalam praktik digital marketing, termasuk pembuatan konten promosi untuk media sosial.

Dr. Linda berharap pelaku UMKM yang telah mengikuti pelatihan dapat terus mengembangkan keterampilan digital mereka secara berkelanjutan.

“Saya berharap para pelaku usaha tetap konsisten berproduksi dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program serupa sebagai bagian dari tanggung jawab institusi terhadap masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif mitra. Ke depan, saya berharap Universitas Mulia dapat menginisiasi program serupa dengan dukungan yang lebih luas, sebagai wujud kontribusi kampus terhadap penguatan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, Universitas Mulia menegaskan perannya sebagai kampus yang aktif dan berorientasi pada solusi, menghadirkan dosen dan mahasiswa yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal di era digital. (YMN)

 

Balikpapan, 30 Oktober 2025 – Program Studi Farmasi Universitas Mulia mempertegas perannya sebagai bagian dari institusi yang aktif membangun kesadaran kesehatan masyarakat melalui kegiatan Kuliah Umum Pencegahan Kanker, Rabu (29/10) di Ballroom Cheng Hoo.
Kegiatan ini menjadi hasil kolaborasi antara Universitas Mulia dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan serta tiga perguruan tinggi mitra — Universitas Balikpapan, Politeknik Nusantara, dan Politeknik Borneo Medistra — yang diikuti oleh 215 peserta. Melalui forum ini, Universitas Mulia tidak hanya memperkaya wawasan akademik mahasiswa, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi lintas lembaga dalam bidang kesehatan dan pengabdian kepada masyarakat.

dr. Maurits Marpaung, Sp.P(K) saat memaparkan materi dengan fokus pada aspek pulmonologi serta pengaruh faktor lingkungan terhadap risiko kanker.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Program Studi Farmasi Universitas Mulia, Citta Widya Sari, S.Farm., M.Farm., Apt., menjelaskan bahwa pemilihan topik Pencegahan Kanker memiliki relevansi langsung dengan kurikulum pembelajaran di bidang farmasi, khususnya mata kuliah Farmakoterapi. Ia menuturkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan akademik terhadap kampanye edukasi kesehatan yang selama ini dijalankan oleh YKI Cabang Balikpapan.

“Mahasiswa farmasi perlu memahami aspek promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Kuliah umum ini menjadi salah satu sarana pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif,” ujarnya.

Lebih lanjut, Citta menekankan bahwa mahasiswa farmasi memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi kesehatan, terutama melalui kegiatan pembelajaran berbasis masyarakat. Hal tersebut telah terintegrasi dalam mata kuliah Farmasi Kesehatan Masyarakat dan Pharmaceutical Care Internship yang menggunakan pendekatan Problem Based Learning. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat layanan dasar kesehatan serta melakukan sosialisasi terkait pencegahan penyakit. Ia menambahkan, tindak lanjut dari kuliah umum ini akan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran semester berikutnya agar pemahaman mahasiswa terhadap pencegahan kanker dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

Dosen Program Studi Farmasi Universitas Mulia bersama Kaprodi Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc., mengajak peserta melakukan sesi ice breaking melalui senam poco-poco di sela kegiatan kuliah umum, menciptakan suasana interaktif dan menyegarkan di tengah kegiatan akademik.

Kegiatan kuliah umum ini sekaligus memperluas ruang interaksi akademik antara Universitas Mulia dan lembaga mitra dalam isu kesehatan masyarakat. Melalui jejaring kolaborasi lintas perguruan tinggi bersama YKI Cabang Balikpapan, universitas berupaya menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap pentingnya pencegahan penyakit melalui ilmu pengetahuan yang teruji dan pendekatan yang humanis. Inisiatif semacam ini memperlihatkan bagaimana Universitas Mulia memosisikan pendidikan tinggi bukan sekadar proses belajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai wahana aktualisasi nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial sivitas akademika. (YMN)