Belajar Coding Bukan Soal Menghafal Sintaks, Tetapi Melatih Cara Berpikir
Balikpapan 11 Juni 2026 – Ketika kata “programmer” disebut, banyak orang langsung membayangkan sosok yang mahir matematika, dikelilingi layar penuh kode, dan mampu membuat aplikasi canggih dalam waktu singkat. Gambaran itu sering kali membuat sebagian pelajar merasa dunia pemrograman terlalu rumit untuk dijangkau.
Pandangan tersebut justru ingin dipatahkan dalam pelatihan “Start Your Coding with Python” yang menjadi bagian dari GENCODE 2026, kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.
Bagi pemateri, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, tantangan terbesar saat seseorang mulai belajar coding bukan terletak pada sulitnya bahasa pemrograman, melainkan pada ketakutan untuk melakukan kesalahan.
“Banyak pemula berpikir programmer harus langsung bisa membuat program yang sempurna. Padahal coding adalah proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan belajar kembali,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa Python dipilih sebagai pintu masuk bagi peserta yang baru mengenal dunia pemrograman. Dibandingkan banyak bahasa pemrograman lain yang memiliki aturan penulisan lebih kompleks, Python dikenal memiliki sintaks yang sederhana dan mudah dipahami.
Menurut Tri, kesederhanaan itu memungkinkan peserta memusatkan perhatian pada hal yang lebih mendasar, yaitu memahami logika di balik sebuah program.
Pilihan tersebut juga relevan dengan perkembangan industri teknologi saat ini. Python digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari kecerdasan buatan (AI), data science, pengembangan web, automasi, hingga keamanan siber. Dengan kata lain, bahasa yang dipelajari peserta hari itu bukan sekadar materi pelatihan, melainkan salah satu fondasi teknologi yang saat ini menggerakkan banyak inovasi digital di dunia.
Namun Tri menegaskan bahwa kemampuan teknis hanyalah sebagian kecil dari proses menjadi seorang programmer.
Menurutnya, banyak pemula terjebak pada upaya menghafal sintaks tanpa benar-benar memahami cara menyelesaikan masalah. Padahal, inti dari pemrograman bukan terletak pada seberapa banyak perintah yang dihafal, melainkan pada kemampuan memecah persoalan menjadi langkah-langkah yang logis dan terstruktur.
“Belajar sintaks hanya memahami cara menulis kode, sedangkan pola pikir programmer adalah kemampuan berpikir logis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah menjadi langkah-langkah kecil yang terstruktur,” jelasnya.
Karena itu, selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teori. Mereka langsung diajak menulis kode, menemukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali. Pendekatan berbasis praktik tersebut sengaja digunakan agar peserta mengalami sendiri proses belajar yang sesungguhnya.
Di dunia pemrograman, error sering kali dianggap sebagai bagian dari perjalanan, bukan kegagalan yang harus dihindari.
Pesan ini menjadi semakin relevan ketika perkembangan kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan baru: apakah programmer masih akan dibutuhkan ketika AI mampu menghasilkan kode secara otomatis?
Menurut Tri, pertanyaan tersebut berangkat dari pemahaman yang kurang utuh tentang bagaimana teknologi bekerja.
AI memang mampu membantu mempercepat proses pengembangan perangkat lunak. Namun teknologi tersebut tetap memerlukan manusia yang memahami kebutuhan pengguna, menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan yang tidak dapat dilakukan mesin secara mandiri.
“Justru di era AI, programmer yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan yang lebih besar. Bukan tergantikan, tetapi cara kerjanya menjadi lebih produktif dan strategis,” katanya.
Pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan dunia teknologi bukan tentang persaingan antara manusia dan mesin, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk memperluas kemampuannya.

Melihat antusiasme peserta selama pelatihan, Tri optimistis terhadap potensi generasi muda Balikpapan di bidang teknologi. Menurutnya, banyak peserta aktif bertanya, mencoba langsung praktik coding, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perkembangan teknologi modern.
Potensi tersebut, katanya, perlu terus dipupuk melalui ruang belajar, pendampingan, dan kesempatan praktik yang memadai.
Bagi peserta yang ingin menekuni dunia pemrograman, Tri memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Langkah pertama bukanlah membangun aplikasi besar atau menguasai teknologi yang rumit, melainkan memahami dasar logika pemrograman dan membiasakan diri untuk terus berlatih.
Ia menyarankan agar pelajar mulai dari proyek-proyek sederhana, seperti membuat kalkulator, aplikasi catatan, atau program kecil lainnya. Dari sana, kemampuan teknis akan berkembang seiring bertambahnya pengalaman.
Lebih jauh, ia menilai bahwa indikator terpenting seorang calon programmer bukanlah seberapa cepat memahami materi, melainkan seberapa kuat rasa ingin tahu yang dimiliki dan seberapa konsisten ia belajar ketika menghadapi kesulitan.
“Programmer hebat bukan selalu yang paling cepat memahami materi, tetapi yang mau terus mencoba dan belajar dari kesalahan,” ujarnya.
Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung hampir setiap hari, mungkin itulah pelajaran paling penting yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026. Bahwa belajar coding sesungguhnya bukan hanya belajar berbicara dengan komputer, melainkan belajar melatih cara berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat. (YMN)










