Kick-off Meeting Lentera LMS Airlangga, Senin (1/2). Foto: Zoom Meeting

UM – Memasuki Era Industri 4.0, Masyarakat 5.0, hingga Pandemik Covid-19, Universitas Mulia membentuk tim pengembang Learning Management System atau LMS untuk persiapan dan perencanaan pembelajaran daring ke depan. Termasuk di antaranya menggandeng pakar Teknologi Pendidikan untuk memberikan saran dan masukan pengembangan LMS semakin baik. Pertemuan awal dibuka secara daring mulai pada Senin (1/2) kemarin.

“Dalam rangka upaya kita meningkatkan kualitas pembelajaran di masa pandemi Covid-19 serta menghadapi tantangan pendidikan di masa depan, hari ini kita gelar pertemuan daring untuk membahas rencana pengembangan LMS yang kita sebut LENTERA atau LMS Airlangga. Agenda kita kali ini adalah Kick off Meeting sebagai tanda dimulainya pengembangan LENTERA,” tutur Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Ketua Tim Pengembangan LENTERA yang juga Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia.

Menurut Pak Wibi, pada pertemuan pertama ini pihaknya sengaja mengundang seorang pakar di bidang Teknologi Pendidikan dari Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali. Dia adalah Dr. Muhammad Rusli, M.T. dari Surabaya Jawa Timur. Pak Rusli, demikian media ini menyapa, berbagi pengalaman mengembangkan dan mengelola Online Learning. Pertemuan yang dibuka tepat pukul 10.00 WITA ini diikuti lebih dari 50 peserta dari 52 titik, baik dari Balikpapan, Samarinda, dan Denpasar Bali.

Paparan tips Membangun Online Learning Dr. Muhammad Rusli, M.T. dari STMIK STIKOM Bali, Senin (1/2). Foto: Tangkapan layar slide

Paparan Tips Membangun Online Learning Dr. Muhammad Rusli, M.T. dari STMIK STIKOM Bali, Senin (1/2). Foto: Tangkapan layar slide

“Saya ingin menggarisbawahi, ketika kita ingin membangun Online Learning, hal utama yang harus kita persiapkan adalah konten. Apakah kita sudah siap menyediakan konten pembelajaran yang akan dikelola dalam Online Learning nanti,” tutur Pak Rusli saat pertama memberikan masukan.

Dari pengalamannya mengelola Online Learning, ia menyarankan agar dibentuk tim khusus yang menangani pengembangan konten pembelajaran. Mengingat banyaknya pekerjaan, tim ini tidak melakukan pekerjaan lain selain tugasnya. “Pengalaman saya mengelola Online Learning, Content Developer ini saat itu hanya satu orang. Nah, orang ini kualahan ketika banyak masuk materi-materi pembelajaran yang diberikan oleh dosen-dosen senior. Maunya dosen senior ini inginnya beres saja,” tuturnya.

Begitu juga ketika memberikan materi pembelajaran, Pak Rusli memberikan tips bagaimana dosen sebaiknya memberikan materi pembelajaran secara daring. Hal ini tentu saja berbeda jika dosen melakukannya pada saat tatap muka di kelas. Dalam pembelajaran daring ada perkuliahan yang disebut singkron (Synchronous) maupun asingkron (Asynchronous).

“Nah, ini saya punya contoh bagaimana menerapkan Online Learning. Ini contoh struktur modulnya Bapak/Ibu. Di Minggu pertama, kita sampaikan dengan tatap muka dengan materi seputar orientasi pembelajaran sebelum perkuliahan dimulai,” tuturnya saat memaparkan.

“Baru ketika masuk Minggu kedua, kita berikan materi dengan pengantar lewat Multimedia Interaktif. Durasinya jangan terlalu lama, cukup 10 menit. Baru kemudian diikuti video 5 menit saja,” tuturnya. Ia menyarankan sebaiknya materi video tidak lebih dari 40 menit.

Menurutnya, video dengan durasi pendek bertujuan untuk memberikan ransangan kepada siswa agar timbul rasa keingintahuannya sehingga bergerak untuk mencari materi atau pengetahuan lebih dalam.

“Tapi ingat, setiap kali selesai tatap muka harus diikuti dengan kuis untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi pembelajaran dipahami,” tuturnya.

Di akhir perkuliahan, Ia mengingatkan agar siswa mempresentasikan hasil dari proyek kelompok dalam Seminar Online. “Temuan kunci dikompilasikan ke dalam peta pikiran dan pembahasan rekapitulasi diadakan pada topik yang lain,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Yani, S.Kom., M.T.I. memaparkan hasil observasinya pada dua perguruan tinggi yang dijadikan referensi pengembangan LENTERA. Dua perguruan tinggi tersebut dinilai cukup mapan dalam pelaksanaan pembelajaran daring.

Meski demikian, menurut Pak Wibi, hasil paparan masing-masing narasumber maupun masukan dosen pada pertemuan tersebut menjadi masukan maupun pembelajaran yang sangat berarti. “Mungkin hari ini tim yang dibentuk fokus untuk pengembangan LMS, ke depan kita mungkin bentuk tim untuk pengembangan konten,” pungkasnya. (SA/PSI)