Tag Archive for: Literasi Kesehatan

Balikpapan, 3 Desember 2025—Universitas Mulia menjadi salah satu dari 11 perguruan tinggi di Balikpapan yang menjadi lokasi Aksi Simpatik Hari AIDS Sedunia bertema “Bersama Wujudkan Indonesia Tanpa AIDS 2030, Mulai dari Kampus”. Kegiatan yang meliputi sosialisasi pencegahan HIV dan skrining TB ini menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, termasuk dr. I Dewa Gede Dony Lesmana, yang memaparkan situasi epidemiologi terkini dan tantangan edukasi di kelompok usia mahasiswa.

dr. I Dewa Gede Dony Lesmana narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

Dalam penjelasannya, dr. Dony menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis yang tidak dapat diabaikan dalam upaya menekan penularan HIV. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, usia 15–24 tahun menyumbang 23% dari seluruh kasus positif HIV di Balikpapan, yaitu 61 kasus. Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata kerentanan usia remaja.
“Jika kita berbicara tentang pencegahan, maka kelompok usia inilah yang harus ditemui. Mereka bergerak cepat, dinamis, dan risikonya meningkat ketika lingkungan sosialnya kurang terawasi,” ujar dr. Dony.

Panitia dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, pimpinan Universitas Mulia, dan para peserta berfoto bersama seusai pelaksanaan Aksi Simpatik Hari AIDS Sedunia.

Temuan lokal tersebut sejalan dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, yang menunjukkan bahwa tingkat literasi HIV komprehensif di kalangan remaja nasional baru mencapai 14,1%. Menurut dr. Dony, rendahnya literasi ini memiliki implikasi langsung terhadap perilaku dan pengambilan keputusan. “Pengetahuan dasar mereka masih sangat terbatas. Ketidaktahuan inilah yang membuat intervensi edukasi di kampus menjadi bukan sekadar program pendukung, tetapi kebutuhan mendesak,” jelasnya.

Walaupun Balikpapan belum memiliki survei lokal mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap HIV dan TB, Dinas Kesehatan menggunakan capaian nasional tersebut sebagai pijakan. Selain pertimbangan epidemiologis, dr. Dony menekankan faktor psikososial sebagai penyebab tingginya risiko. “Remaja memiliki kecenderungan untuk mencoba hal baru. Tekanan pergaulan dan rasa ingin tahu sering kali lebih dominan dibanding pertimbangan kesehatan. Faktor ini harus dipahami sebagai dasar perancangan edukasi,” tambahnya.

Dalam kegiatan yang menyasar 11 kampus, Dinas Kesehatan menetapkan dua indikator keberhasilan jangka pendek. Pertama, peningkatan pemahaman peserta, diukur melalui perbandingan nilai pre-test dan post-test. Kedua, partisipasi mahasiswa dalam pemeriksaan HIV secara sukarela. Kedua indikator ini dinilai penting untuk melihat apakah intervensi berjalan efektif dan diterima oleh mahasiswa.

Suasana pemaparan materi dalam roadshow Pencegahan dan Pengendalian HIV serta skrining TB oleh tim Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

 

Untuk strategi jangka panjang, dr. Dony menilai bahwa kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti pada momentum Hari AIDS Sedunia. “Edukasi harus berkesinambungan, tidak berhenti setelah acara berakhir. Yang lebih penting lagi, kampus perlu terhubung dengan jejaring layanan HIV sehingga setiap kasus dapat ditangani secara komprehensif,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah rekomendasi bagi institusi perguruan tinggi. Sosialisasi perlu digelar secara berkala, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan unit kemahasiswaan. Selain itu, kampus dapat mempertimbangkan pembentukan Satgas HIV, dengan dosen tertentu dilatih menjadi konselor. “Kampus adalah lingkungan pendidikan. Jika kita ingin pencegahan berjalan efektif, maka harus ada struktur internal yang bisa bekerja secara mandiri dan terkoordinasi,” tegas dr. Dony.

Kegiatan di Universitas Mulia ini menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat kesadaran, mengurangi stigma, dan mendorong deteksi dini di kalangan mahasiswa. Dengan beban epidemi yang semakin bergerak ke kelompok usia muda, integrasi antara institusi pendidikan dan otoritas kesehatan menjadi langkah strategis yang perlu diperluas dan dipertahankan. (YMN)

 

Balikpapan 30 Oktober 2025 – Sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat, Program Studi Farmasi Universitas Mulia berkolaborasi dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan menggelar Kuliah Umum Pencegahan Kanker di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (29/10).

Kegiatan ini juga melibatkan tiga perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Balikpapan, Politeknik Nusantara, dan Politeknik Borneo Medistra, dengan total peserta mencapai 215 orang. Melalui kegiatan bersama ini, Universitas Mulia menegaskan peran aktifnya dalam memperkuat edukasi publik melalui kegiatan akademik yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Ketua YKI Cabang Balikpapan, drg. Dyah Muryani, MARS, memberikan sambutan pada seremonial pembukaan Kuliah Umum Pencegahan Kanker di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (29/10).

Kuliah umum menghadirkan tiga pemateri dengan latar keahlian berbeda, yaitu dr. Daniel Y.P., Sp.OG., MKed.Klin, dr. Martin Ayuningtyas Wulandari, M.Kes., Sp.GK, dan dr. Maurits Marpaung, Sp.P(K). Ketiganya memaparkan berbagai aspek pencegahan kanker, mulai dari pentingnya deteksi dini hingga peran gaya hidup sehat dalam mengurangi risiko penyakit.

Ketua YKI Cabang Balikpapan, drg. Dyah Muryani, MARS, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi strategi penting dalam memperluas jangkauan edukasi pencegahan kanker di kalangan muda.

“YKI Balikpapan ingin mengampanyekan pencegahan kanker secara dini kepada mahasiswa dan civitas akademika, khususnya di lingkungan Prodi Farmasi Universitas Mulia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat Balikpapan terhadap pentingnya deteksi dini kanker kini semakin meningkat.

“Masyarakat sudah semakin mengerti tentang pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan. Setiap tahun kami bekerja sama dengan puskesmas, klinik TNI dan Polri, serta organisasi wanita seperti PKK untuk melakukan pemeriksaan IVA test dan metode SADARI. Rata-rata hampir seribu sasaran kami jangkau setiap tahun,” jelasnya.

Para narasumber, pimpinan perguruan tinggi mitra, panitia, dan peserta berfoto bersama seusai seremonial pembukaan Kuliah Umum Pencegahan Kanker.

Melalui kegiatan bersama perguruan tinggi, YKI berharap pesan tentang pencegahan kanker dapat menjangkau kalangan muda secara lebih luas.

“Kami ingin pesan pencegahan kanker menjangkau generasi muda. Karena itu, kami aktif bekerja sama dengan perguruan tinggi dan kelompok pemuda untuk kegiatan penyuluhan serta deteksi dini menggunakan metode SADARI,” terangnya.

Dyah juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menyebarkan semangat hidup sehat kepada lingkungannya.

“Kami berharap mahasiswa yang mengikuti kuliah umum ini bisa menyebarkan kembali pesan pencegahan kanker kepada keluarga, teman, dan masyarakat, termasuk melalui media sosial mereka,” katanya.

Ia menutup dengan pesan reflektif agar generasi muda mampu menjadi teladan dalam menjalankan pola hidup sehat.

“Generasi muda diharapkan disiplin terhadap diri sendiri dan mengajak lingkungannya untuk hidup sehat — mulai dari pola makan, olahraga teratur, tidak merokok, serta aktif melakukan pencegahan kanker sedini mungkin,” pesan Dyah.

Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Balikpapan tampak antusias mengikuti Kuliah Umum Pencegahan Kanker yang digelar di Ballroom Cheng Hoo.

Kegiatan ini mencerminkan cara Universitas Mulia memaknai peran pendidikan tinggi bukan hanya sebatas ruang kuliah, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa. Bagi Universitas Mulia, kuliah umum ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa agar peka terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan YKI Balikpapan, universitas berupaya menanamkan kepedulian ilmiah dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas dengan realitas kehidupan, sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. (YMN)