Pos

UM– Sebagai upaya menggali potensi kreativitas mahasiswa dalam berinovasi, Program Studi S1 Manajemen Universitas Mulia menggelar Pelatihan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Jumat (27/11) malam.

Menghadirkan pemateri dosen Universitas Airlangga Surabaya yakni Wahyuni Triana, kegiatan itu mengusung tema “Berkarya, Inovasi, Kreativitas, Lajutkan Prestasi” dan dipusatkan di Hall Kampus Cheng Ho.

Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, acara itu diikuti sebanyak 100 mahasiswa S1 Manajemen. Tampak hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Mundzir serta Kaprodi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Linda Fauziyah Ariyani.

Linda Fauziyah menjelaskan, pelatihan PKM merupakan kegiatan yang rutin dilakukan, dan biasanya diikuti seluruh mahasiswa langsung di hall Cheng Ho. “Tapi karena situasi saat ini maka mahasiswa lainnya hanya mengikuti lewat zoom dan sosial media Instagram dan Youtube,” jelasnya.

Tujuan kegiatan ini katanya, untuk membekali mahasiswa agar mereka mengenal tentang program PKM. Dimana yang mengikuti langsung merupakan mahasiswa semester satu. “Jadi PKM ini merupakan hal yang baru bagi mereka, karena PKM hanya bisa ditemui di tingkat perguruan tinggi,” katanya.

Linda menuturkan, setiap tahun Universitas Mulia selalu meloloskan tim ke tingkat nasional. Dimana tahun 2019 ada tiga tim yang lolos dan tahun ini ada satu tim yang lolos. “Maka harapannya tahun depan akan lebih banyak lagi yang lolos,” harapnya.

“Padahal tahun ini kita masukan 72 proposal dari 80 kuota yang disiapkan untuk UM. Saingan kita sangat ketat sekali, dimana kampus lain mengumpulkan ratusan judul. Semoga tahun depan dengan kita memberikan pemahaman ini akan banyak muncul ide-ide kreatif dari mahasiswa yang bisa ikutan dalam PKM tahun depan,” tuturnya.

Dirinya menyebut, di Balikpapan mungkin kampus swasta yang setiap tahun lolos di tingkat nasional hanya Universitas Mulia.

Memang katanya, sebuah lomba bila menang merupakan sebuah bonus, namun tujuan utamanya adalah melatih kemampuan analisis mahasiswa membuat mahasiswa lebih kreatif lagi dan itu yang penting. “Jadi tidak sekedar kita lolos di tingkat nasional, tetapi bagaimana kemampuan nalar mereka bisa lebih baik lagi. Jadi PKM ini merupaka kegiatan penalaran, dan ini paling begengsi bagi mahasiwa, karena tidak sekedar ide saja, tetapi bagaimana mereka bisa mewujudkan ide itu dan menuliskannya dalam sebuah karya ilmiah,” katanya.

Ia menambahkan, tahun ini satu tim yang lolos PKM akan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (PIMNas). Dan kebetulan yang lolos adalah dari fakultas Ilmu Komputer.

Terkait dengan pemateri yakni Ibu Wahyuni, beliau ahlinya dalam program PKM. Apalagi di kampu Universitas Airlangga Surabaya sudah belasan yang lolos di nasional. “Harapannya ini bisa menginspirasi mahasiswa agar mereka lebih tertarik dan berperan serta dalam program PKM,” harap Linda.

Sementara itu, dalam sambutannya Mundzir mengatakan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memang getol mengikuti PKM. Dimana tahun lalu justru FEB pula yang memulai pembahasan dan menginisiasi kegiatan PKM di lingkungan Universitas Mulia.

“Bahkan tahun lalu juga berkat FEB yang menyampaikan bahwa PKM telah dibukan oleh Kemenristekdikti, langsung kita semua di seluruh program studi yang ada di UM secara bahu membahu membuat proposal PKM. Tidak tanggung tanggung, dari 80 kuota yang diberikan untuk UM, yang berhasil kita submit atau kirim ada 72 proposal. Walau dari total ini hanya satu yang lolos tahun ini,” katanya.

Sebelumnya, tambahnya, UM juga meloloskan tiga tim secara nasional dalam program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI). Dan satu produk yang dilirik pemerintah Balikpapan dalam hal ini Disporabudpar adalah yang dibuat oleh fakultas ekonomi, yakni donat budi ungu. Dan saat ini mereka sedang menyusun konsepnya apakah produk ini bisa dikembangkan dan menjadi produk khas mahasiswa UM

Dirinya berharap, dari pelatihan ini akan muncul kratifitas dalam bentuk inovasi produk yang bisa dikembangkan dan menjadi produk unggulan mahasiswa UM. “Karena disini juga kita sudah memiliki Inkubator Bisnis, sebuah wadah untuk mengembangkan produk yang diciptakan mahasiswa. Inkubator bisnis ini dapat membantu mematangkan sebuah produk inovasi agar bisa diperkenalkan ke masyarakat. Baik dari memasarkan, memberikan bantuan tentang pendanaan dan lainnya,” ujarnya.

“Intinya besar harapan kami melalui program PKM ini, akan muncul produk yang menjadi unggulan, yang bisa membuat kalian menjadi entrepreneur sesuai dengan tag line UM, yakni Global Technopreneurship Campus,” harapnya.

Dilain pihak, Wahyuni Triana mengatakan, memang masih panjang proses yang harus diikuti mahasiswa baru ini, namun dengan pelatihan ini mereka dapat memiliki gambaran bahwa menjadi mahasiswa itu sangat menyenangkan. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya saat di SMA/SMK memiliki banyak ide dan disinilah mereka memiliki jalan untuk mengembangkannya. Mungkin yang sebelumnya tidak tahu cara mengembangkan ide tersebut, namun dengan PKM ini mereka bisa mewujudkan ide-ide kreatif mereka. “Sangat mudah, karena ada wadahnya, dan bisa dibimbing oleh dosen. Salain itu juga bisa dibiayai,” katanya.

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan mereka, katanya, adalah belajar untuk menulis. “Dan saya yakin setelah mereka bisa menulis, rasa percaya diri mereka akan meningkat. Setelah itu mereka akan mulai tahu tahapannya, dan itu akan membentuk kebiasaan mereka yang sistematis dan logis,” ujarnya.

Jadi ide-ide mereka memang harus dikeluarkan, bagaimana caranya tentu semua itu akan dibimbing dan bahkan bisa di biayai. “Apalagi kita tau Universitas Mulia ini juga sudah tembus ke nasional. Dan tentu ini luar biasa, karena mereka tidak kalah dengan universitas negeri, seperti di Surabaya. Dan jangan mau kalah, karena banyak yang bisa di eksplor dari Kalimantan. Dan mahasiswa harus berani menujukkan itu, karena ini kesempatan bagi mahasiswa untuk eksplor dan menjadikan sebuah produk kreativitas yang baik. (mra)

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggelar Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat untuk dosen dengan dana hibah DIPA LP3M periode II tahun 2020 yang digelar secara daring Zoom, Senin (16/11) siang.

Seminar yang digelar internal ini diikuti khusus dosen Universitas Mulia dan proposalnya telah dinyatakan diterima oleh LP3M. Menurut Kepala LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa pemberian hibah oleh Universitas Mulia bertujuan untuk memotivasi para dosen mempersiapkan diri mengikuti hibah pendanaan yang lebih besar lagi, seperti hibah Penelitian Dasar dan atau Penelitian Fundamental dari Ditjen Dikti.

“Harapan kami, dosen-dosen dapat meningkatkan publikasi penelitiannya baik di jurnal tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Richki Hardi.

Menurutnya, sebuah penelitian bukan hanya sekadar dilakukan, dibuat laporannya kemudian disimpan. “Tetapi juga harus dipublikasikan dalam bentuk jurnal-jurnal atau prosiding sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian yang kita lakukan,” tambahnya.

Pada pelaksanaan seminar proposal tahap II ini diikuti 21 orang peserta, baik dari Kampus Utama di Balikpapan maupun PSDKU Samarinda. Rinciannya, delapan orang mempresentasikan proposal penelitian dan 13 orang mengusulkan proposal pengabdian masyarakat. Bertindak sebagai reviewer Gunawan, S.T., M.T. dan Nariza Wanti Wulan Sari, M.Si. dari Samarinda sebagai moderator.

Usai seminar proposal, peserta akan melakukan penandatanganan kontrak dan pencairan dana hibah sebesar 80% dari total pendanaan. Setelah itu, LP3M akan melakukan pengawasan atau monitoring dan evaluasi untuk memantau kemajuan penelitian masing-masing pengusul.

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Menurut informasi, seminar hasil, baik penelitian maupun pengabdian pada masyarakat akan dilaksanakan bulan Desember 2020 dan penyusunan laporan penelitian. Setelah laporan diserahkan dengan lembar pengesahan telah ditandatangani, selanjutnya akan diberikan sisa pendanaan 20%.

Sementara itu, dalam seminar ini masing-masing dosen mengajukan usulan penelitian dan saling bertukar pikiran, ide, maupun gagasan. Lazimnya sebuah seminar proposal skripsi mahasiswa, masing-masing peserta juga mengajukan beberapa pertanyaan, kritikan, atau masukan. Seperti yang dilakukan Subur Anugerah, salah satu dosen dari Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer ini mengajukan judul dengan topik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Action Research.

Ia memaparkan, penelitiannya didasari atas pengalamannya mengasuh mata kuliah pemrograman komputer pada Semester Ganjil 2019/2020 yang lalu. “Pengamatan dilakukan sebelum adanya wabah Covid-19 di beberapa kelas pemrograman yang saya asuh. Nah, setelah saya periksa hasil pekerjaan mereka, saya menemukan banyak mahasiswa melakukan plagiasi kode program, jawaban kode program mereka memiliki kemiripan dengan jawaban mahasiswa yang lain, bahkan sama persis,” ungkapnya.

Ia merasa kesulitan untuk membuktikan kepada mahasiswa yang tidak mengaku melakukan plagiasi. “Seringkali mereka komplain dan datang ke saya sambil menanyakan mengapa mendapat nilai rendah. Jika satu atau dua orang yang datang tentu tidak masalah, saya masih bisa melayani mereka dengan bukti yang ada, tapi akan menjadi masalah apabila banyak yang komplain,” tuturnya.

Masalah tersebut, menurutnya, menunjukkan proses pembelajaran kurang berhasil. “Nah, bagaimana agar pembelajaran terkait pemrograman ini bisa diikuti oleh masing-masing mahasiswa, karena setiap mahasiswa memiliki kemampuan menyerap materi kuliah dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang sekali menyimak kuliah tetapi cepat menyerap dan mengerti, ada juga yang lambat sekali,” terangnya.

Dari penelitian tindakan kelas tersebut, ia memaparkan aplikasi atau sistem yang ia buat untuk membantu mengatasi pembelajaran di kelas tampaknya cukup berhasil. “Ya, masih perlu diteliti lagi dampak pemanfaatan sistem yang dibuat ini, terutama pada proses pembelajaran khusus terkait belajar pemrograman. Apalagi sekarang ini wabah Covid-19 memaksa proses pembelajaran banyak dilakukan daring dan semangat Merdeka Belajar sedang menjadi tren, ini butuh penelitian lagi soal dampaknya,” pungkasnya. (SA/PSI)