Tag Archive for: berita kampus Universitas Mulia

Balikpapan, 4 Juni 2026 – Sebuah pertanyaan mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Fakultas Hukum Universitas Mulia yang digelar Kamis (4/6): bagaimana sebuah fakultas hukum yang masih bertumbuh dapat menembus batas-batas geografis dan membangun reputasi di tingkat nasional hingga internasional?

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan retorika. Sebaliknya, ia dibedah melalui diskusi panjang yang menghadirkan Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M., akademisi Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang berpengalaman mengelola program internasional dan berbagai kerja sama global.

Bagi Fakultas Hukum Universitas Mulia, tema “Menjadikan Fakultas Hukum Universitas Mulia Berdaya Saing Nasional dan Internasional” bukan sekadar jargon pengembangan institusi. Tema tersebut lahir dari kesadaran bahwa peta persaingan pendidikan tinggi telah berubah. Reputasi kampus tidak lagi dibangun hanya dari ruang kuliah, tetapi juga dari kualitas jejaring, produktivitas akademik, dan kemampuan beradaptasi dengan standar global.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., mengatakan bahwa fakultas yang dipimpinnya saat ini berada pada fase penting penguatan kualitas akademik dan tata kelola.

“Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, kami memandang bahwa fakultas hukum tidak cukup hanya unggul di tingkat lokal, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan standar nasional dan internasional,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman Fakultas Hukum Universitas Airlangga dalam mengelola program internasional menjadi referensi penting bagi Universitas Mulia untuk merumuskan langkah pengembangan di masa mendatang.

Meski mengakui masih banyak ruang untuk berkembang, Budiarsih melihat Fakultas Hukum Universitas Mulia memiliki modal yang tidak kecil. Semangat inovasi, dukungan institusi, serta komitmen dosen dan mahasiswa menjadi fondasi yang terus diperkuat.

Namun tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Perluasan jejaring akademik, peningkatan produktivitas penelitian, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan apabila fakultas ingin berdiri sejajar dengan institusi yang telah lebih dahulu memiliki reputasi nasional.

Karena itu, internasionalisasi menurutnya harus diwujudkan melalui langkah-langkah yang konkret dan terukur.

“Kami terus mendorong peningkatan kerja sama akademik, penguatan kompetensi bahasa asing, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan ilmiah internasional, serta pengembangan kurikulum yang responsif terhadap isu-isu global,” jelasnya.

Lebih jauh, Fakultas Hukum Universitas Mulia juga membuka peluang pengembangan program pertukaran akademik, kolaborasi penelitian, hingga kerja sama internasional lainnya yang memungkinkan mahasiswa dan dosen memperoleh pengalaman global secara langsung.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Menurutnya, FGD tersebut bukan hanya penting bagi Fakultas Hukum, melainkan juga bagi pengembangan universitas secara keseluruhan.

Ia menilai pemaparan Dr. Rosa memberikan perspektif bahwa keberhasilan membangun jejaring internasional tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh strategi, konsistensi, dan kemampuan membaca peluang.

“Perkembangan teknologi membuat kerja sama internasional menjadi lebih fleksibel karena tidak semua kegiatan harus dilakukan secara fisik. Banyak aktivitas akademik dapat dilaksanakan secara daring maupun hybrid,” ungkapnya.

Wibisono menilai langkah yang paling relevan untuk segera dilakukan adalah memperkuat peta jalan kerja sama pada tingkat fakultas dan program studi. Bentuknya dapat berupa kuliah tamu, visiting lecturer, penelitian bersama, publikasi kolaboratif, hingga pengembangan kurikulum.

Sementara itu, dosen Fakultas Hukum Universitas Mulia, Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP., melihat FGD tersebut sebagai ruang yang menghadirkan realitas dunia akademik yang lebih luas.

Menurutnya, kampus yang sedang berkembang tidak boleh merasa cukup dengan capaian yang sudah ada. Justru melalui forum seperti inilah peluang-peluang baru dapat ditemukan dan dikembangkan.

Ia menekankan bahwa dosen perlu menjadi pusat lahirnya networking akademik melalui penguatan kepakaran dan keterlibatan aktif dalam berbagai forum di luar kampus.

“Karena pada akhirnya kampuslah yang akan merasakan dampaknya, termasuk dalam penguatan kerja sama nasional dan internasional serta peningkatan kualitas institusi,” katanya.

FGD yang diikuti Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Dekan Fakultas Hukum, dan sembilan dosen Fakultas Hukum tersebut juga menghasilkan rencana tindak lanjut berupa sharing resources dengan mitra internasional Fakultas Hukum Universitas Airlangga, salah satunya melalui penyelenggaraan kuliah umum metodologi penelitian.

Bagi Fakultas Hukum Universitas Mulia, perjalanan menuju daya saing internasional mungkin masih panjang. Namun dari ruang diskusi sederhana di White Campus, satu langkah penting telah dimulai: membangun kesadaran bahwa reputasi tidak lahir dari klaim, melainkan dari jejaring, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Mei 2026—Aroma rumput basah dan suara percakapan panitia mulai terasa berbeda ketika bulan Dzulhijjah tiba di lingkungan Universitas Mulia. Di balik aktivitas akademik yang padat, ada tradisi yang diam-diam terus tumbuh selama lebih dari satu dekade: qurban yang dibangun dari gotong royong dosen dan karyawan kampus.

Tahun ini menjadi penanda perjalanan ke-12 pelaksanaan qurban di lingkungan kampus tersebut. Bukan sekadar rutinitas tahunan, program ini perlahan menjelma menjadi ruang pertemuan antara nilai ibadah, solidaritas, dan kepedulian sosial.

Koordinator pelaksana qurban, Drs. Achmad Prijanto, menyebut bahwa sejak awal program ini tidak pernah dibangun hanya untuk menyembelih hewan qurban semata. Ada nilai yang ingin dirawat bersama.

“Menjalankan syariat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi tujuan utama. Qurban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus melatih keikhlasan dalam menyisihkan sebagian harta,” ujarnya.

Namun di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak kalangan, menjaga semangat kolektif bukan perkara mudah. Tidak semua dosen dan karyawan dapat langsung ikut serta. Karena itu, panitia memilih pendekatan yang sederhana tetapi efektif: menabung sedikit demi sedikit setiap bulan.

Bagi sebagian orang, skema itu mungkin terlihat biasa. Tetapi di lingkungan kampus, cara tersebut justru menjadi jembatan yang memungkinkan niat berqurban tetap hidup di tengah banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

Achmad menjelaskan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar kepercayaan peserta tetap terjaga dari tahun ke tahun. Panitia berusaha memastikan seluruh proses berjalan terbuka sehingga dosen dan karyawan merasa nyaman menitipkan amanah qurbannya.

Di sisi lain, qurban di lingkungan kampus ini juga membangun kultur kerja yang tidak banyak terlihat di ruang rapat atau administrasi akademik. Ada kebersamaan yang lahir dari proses menabung bersama, berdiskusi bersama, hingga mendistribusikan daging qurban secara langsung kepada masyarakat.

“Nilai-nilai qurban seperti kebersamaan, rela berkorban, dan disiplin ikut membentuk lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan profesional,” katanya.

Tahun ini, jumlah hewan qurban mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terdapat empat ekor hewan qurban, kini meningkat menjadi tujuh ekor atau naik sekitar 75 persen.

Menurut Achmad, peningkatan itu tidak lepas dari dukungan keluarga besar Yayasan Airlangga yang terus ikut menyuburkan kegiatan qurban di lingkungan kampus.

“Alhamdulillah, tiap tahun kami menargetkan minimal tiga ekor. Tahun ini meningkat dari empat menjadi tujuh ekor,” ungkapnya.

Tetapi denyut utama qurban kampus sesungguhnya terasa ketika proses distribusi dimulai. Daging qurban tidak berhenti di lingkungan internal kampus. Panitia turun langsung menyasar masyarakat sekitar kampus, petugas kebersihan Kota Balikpapan, hingga tiga panti asuhan.

Bagi warga sekitar, kehadiran qurban dari Universitas Mulia ternyata sudah menjadi sesuatu yang ditunggu setiap tahun. Bukan karena besarnya jumlah daging yang diterima, melainkan karena ada hubungan sosial yang terus dipelihara tanpa banyak publikasi berlebihan.

Achmad bahkan menegaskan bahwa program ini tidak dibangun untuk pencitraan institusi.

“Dampaknya dirasakan masyarakat dan itu yang paling penting. Daging qurban Universitas Mulia selalu ditunggu masyarakat dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Di tengah banyaknya program kampus yang berorientasi pada capaian akademik dan teknologi, qurban justru menghadirkan wajah lain perguruan tinggi: hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat di sekitarnya.

Bagi Universitas Mulia, qurban tampaknya bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antarmanusia tetap hangat di tengah dunia yang semakin sibuk dan individual. (YMN)