Balikpapan, 27 Agustus 2025 – Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Mulia menjadikan program Vocational School Graduate Academy (VSGA) sebagai bagian penting dari strategi akademik dalam memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dekan FIKOM, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa VSGA bukan sekadar pelatihan tambahan, tetapi diintegrasikan langsung dengan kurikulum agar manfaatnya lebih nyata bagi mahasiswa.

“Capaian pembelajaran di program studi kami dipetakan dengan unit-unit kompetensi VSGA yang berbasis SKKNI. Dengan begitu, mata kuliah seperti Jaringan Komputer, Pemrograman, Basis Data, Analisis Sistem, maupun Keamanan Informasi bisa langsung terhubung dengan standar sertifikasi,” jelas Djumhadi.

Melalui pemetaan ini, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan perkuliahan dengan teori dan praktikum, tetapi juga diarahkan untuk mendapatkan bukti kompetensi yang berlaku nasional. Sebagai contoh, mahasiswa yang menuntaskan mata kuliah Administrasi Jaringan dapat langsung mengikuti pelatihan dan uji sertifikasi Junior Network Administrator.

Menurut Djumhadi, strategi integrasi ini membawa beberapa keuntungan. Sertifikat resmi yang diperoleh mahasiswa memperkuat daya saing saat memasuki dunia kerja. Kurikulum juga menjadi lebih link and match dengan industri karena modul VSGA memang disusun berdasarkan kebutuhan sektor TIK. “Portofolio mahasiswa otomatis lebih kuat. Mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga bukti keterampilan yang diakui industri,” ujarnya.

Selain hard skill, VSGA juga menumbuhkan soft skill penting seperti komunikasi, problem solving, dan teamwork. Ujian sertifikasi menuntut kedisiplinan dan konsistensi, yang akhirnya memacu mahasiswa untuk memiliki standar kompetensi yang jelas. “Kegiatan ini mendorong spirit kompetitif mahasiswa. Mereka belajar menetapkan target, mengukur kemampuan, dan berjuang melewati standar nasional. Itu pengalaman berharga yang tidak mereka dapatkan hanya dari ujian kampus,” tambahnya.

Lebih jauh, kegiatan VSGA membuka kesempatan mahasiswa untuk berinteraksi dengan instruktur dari industri, asosiasi profesi, maupun lembaga sertifikasi. Menurut Djumhadi, jejaring profesional yang terbentuk dari proses ini menjadi modal penting bagi mahasiswa ketika mereka memasuki dunia kerja. “Relasi yang dibangun sejak masa kuliah bisa berlanjut menjadi peluang magang, kerja sama riset, hingga akses rekrutmen,” terangnya.

Dalam implementasinya, FIKOM juga menerapkan model praktikum berbasis modul VSGA, tugas proyek yang menghasilkan portofolio sesuai standar, serta rekognisi SKS bagi mahasiswa yang lulus sertifikasi. Dengan cara ini, sertifikat tidak sekadar menjadi dokumen tambahan, tetapi diakui secara akademik.

Relevansi VSGA semakin terasa di tengah tuntutan revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Skema-skema seperti Junior Mobile Programmer, Data Management Staff, Junior Web Developer, hingga Digital Marketing dianggap selaras dengan kompetensi inti era digital. “VSGA tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat literasi digital mahasiswa. Mereka paham infrastruktur, mampu mengembangkan solusi digital, dan mengerti bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup,” papar Djumhadi.

Meski demikian, ia mengakui ada tantangan yang harus dihadapi mahasiswa. Kesiapan teknis perlu ditempa lewat praktikum intensif, kesiapan mental ditumbuhkan melalui kepercayaan diri dan disiplin, sementara dukungan institusi diwujudkan melalui fasilitas laboratorium, instruktur pendamping, dan pengakuan hasil sertifikasi dalam kurikulum. “Keberhasilan sertifikasi bukan hanya tanggung jawab mahasiswa, tetapi hasil dari sinergi antara usaha mereka dan dukungan kampus,” tegasnya.

Ke depan, FIKOM Universitas Mulia merancang langkah yang lebih sistematis. Rencana jangka panjang mencakup pemetaan jalur sertifikasi sejak awal kuliah, pembangunan Test Center di kampus yang terakreditasi, perluasan kerja sama dengan Kominfo, industri TIK, serta lembaga sertifikasi. Sertifikat yang diperoleh mahasiswa juga akan dikonversi ke dalam SKS agar benar-benar menjadi bagian dari capaian akademik.

“Budaya belajar berkelanjutan yang kami dorong akan membuat mahasiswa terbiasa meningkatkan kompetensinya seiring perkembangan teknologi. Dengan begitu, lulusan FIKOM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sertifikat kompetensi yang diakui nasional dan global,” pungkas Djumhadi.(YMN)

Wakil Rektor Wisnu Hera Pamungkas dan Kepala BPSDMP Kominfo Banjarmasin Syarifuddin foto bersama dengan sejumlah perwakilan perguruan tinggi Kalimantan Timur. Foto: Media Kreatif

UM – Universitas Mulia (UM) menorehkan prestasi gemilang dengan meraih tingkat kompetensi 100% dalam program Vocational School Graduate Academy (VSGA) yang merupakan bagian dari Digital Talent Scholarship (DTS) Tahun 2025, yang diselenggarakan pada Kamis (17/7) dan Jumat (18/7) yang lalu.

Hasil ini diumumkan oleh Kepala BPSDMP Kominfo Banjarmasin Syarifuddin, dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan VSGA Regional Kalimantan Timur, yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP KOMINFO) Banjarmasin, bertempat di Kampus Universitas Mulia, Selasa (26/8).

Berdasarkan data yang dipaparkan, seluruh 26 peserta dari Universitas Mulia yang mengikuti ujian sertifikasi dinyatakan kompeten. Capaian sempurna ini menempatkan Universitas Mulia sebagai salah satu mitra kampus dengan kinerja terbaik, melampaui rata-rata tingkat kompetensi regional Kalimantan Timur yang berada di angka 88%.

Adapun rincian capaian tersebut berasal dari dua skema sertifikasi, yaitu:

  1. Junior Cyber Security (Program Studi Teknologi Informasi): 21 dari 21 peserta dinyatakan kompeten.
  2. Associate Data Scientist (Program Studi Sistem Informasi): 5 dari 5 peserta dinyatakan kompeten.

Menanggapi hasil membanggakan ini, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Djumhadi, S.T., M.Kom., menyambut positif hasil monitoring dan evaluasi dari BPSDMP KOMINFO Banjarmasin. Ia menegaskan komitmen universitas untuk terus berbenah demi hasil yang lebih baik di masa depan.

Monitoring dan Evaluasi Kegiatan VSGA Regional Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP KOMINFO) Banjarmasin di Kampus Universitas Mulia, Selasa (26/8). Foto: Media Kreatif

Monitoring dan Evaluasi Kegiatan VSGA Regional Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP KOMINFO) Banjarmasin di Kampus Universitas Mulia, Selasa (26/8). Foto: Media Kreatif

Kepala BPSDMP Kominfo Banjarmasin Syarifuddin dan tim foto bersama Dekan Djumhadi, S.T., M.Kom dan Kaprodi SI Nasruddin S.Kom., M.Kom. dan Kaprodi TI Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom. Foto: Media Kreatif

Kepala BPSDMP Kominfo Banjarmasin Syarifuddin dan tim foto bersama Dekan Djumhadi, S.T., M.Kom dan Kaprodi S1 Sistem Informasi Nasruddin S.Kom., M.Kom. dan Kaprodi S1 Teknologi Informasi Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom. Foto: Media Kreatif

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian 100% ini. Ini adalah bukti keseriusan mahasiswa dan dosen dalam menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri digital,” ujar Djumhadi.

“Ke depan, dekan akan melakukan sejumlah persiapan dan perbaikan kinerja agar program sertifikasi VSGA dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Digital Talent Scholarship (DTS) mendatang semakin meningkat lebih baik lagi,” imbuhnya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi Fakultas Ilmu Komputer dalam mengintegrasikan materi perkuliahan dengan standar kompetensi nasional.

Ketua Program Studi Teknologi Informasi, Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom. mengatakan, partisipasi mahasiswa dalam program sertifikasi ini merupakan hasil dari keselarasan kurikulum.

“Untuk bisa ikut sertifikasi tersebut, yaitu mata kuliah dari prodi Teknologi Informasi yang kemudian diselaraskan dengan Unit Kompetensi Junior Cyber Security yang ditentukan Komdigi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga siap untuk diuji kompetensinya secara langsung,” jelas Agus.

Kegiatan monitoring dan evaluasi ini dihadiri oleh perwakilan dari enam perguruan tinggi mitra di Kalimantan Timur. Universitas Mulia tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mendapat kehormatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara.

Prestasi ini menegaskan komitmen Universitas Mulia dalam mencetak talenta digital yang kompeten dan siap bersaing di era industri 4.0, sejalan dengan program pemerintah untuk mengakselerasi transformasi digital nasional.

(SA/Kontributor)

Humas Universitas Mulia, 2 Agustus 2025 Rabu, 30 Juli 2025, bukan sekadar tanggal dalam kalender akademik Universitas Mulia. Di ruang Townhall Hotel Midtown Express, berlangsung diskusi yang mengguncang cara berpikir lama tentang pembelajaran di perguruan tinggi. Prof. Dr. Lambang Subagiyo hadir bukan hanya sebagai narasumber, tapi sebagai pembuka jalan: membawa pendekatan design thinking yang selama ini akrab di dunia startup, ke dalam ranah mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) seperti Pancasila, Kewarganegaraan, Agama, dan Bahasa Indonesia.

Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., bersama Pramudya Prima Insan Prayitno, S.Kom., M.Kom—keduanya dosen MKU—tengah menyusun ulang RPS dengan pendekatan integratif berbasis OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai bagian dari upaya transformasi pembelajaran di Universitas Mulia.

Alih-alih mengulang narasi lama tentang pentingnya pendidikan karakter, Prof. Lambang memulai dengan sebuah pertanyaan mengusik: “Mengapa mahasiswa bisa cerdas secara teknologi, tapi gamang secara moral dan kebangsaan?” Pertanyaan itu menghantar para dosen MKWK dan MKU pada satu kesadaran bersama—bahwa metode ceramah dan hafalan tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan era super smart society.

Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., tampak terlibat dalam diskusi intens bersama Prof. Dr. Lambang Subagiyo, membahas strategi integrasi pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking ke dalam dokumen RPS.

Dalam paparannya, Prof. Lambang tidak banyak menggunakan jargon. Ia bicara tentang mahasiswa yang kehilangan jati diri karena terlalu lama diajak duduk mendengarkan, tanpa pernah diminta menyelesaikan masalah nyata. Ia menyodorkan design thinking sebagai metode yang menuntut empati, mendorong kreasi, dan memancing keberanian untuk menawarkan solusi.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., terlihat tengah merefleksikan ulang pendekatan pembelajaran bisnis berbasis proyek dan solusi, dengan mengadopsi kerangka OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking.

“Kalau kita ingin mahasiswa punya nilai, maka mereka harus belajar dari persoalan yang bernilai,” tegasnya. “Bukan dari soal pilihan ganda, tapi dari isu di sekitar mereka: intoleransi, ujaran kebencian, etika digital, dan krisis moral publik.”

Lisda Agustia, S.Ag., M.Pd., mempresentasikan RPS Mata Kuliah Agama Islam yang telah diperbarui untuk mencerminkan pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran abad ke-21.

Materi beliau membuka cara pandang baru tentang bagaimana MKWK bisa menjadi ruang transformasi, bukan sekadar ruang transmisi pengetahuan. Dengan menekankan proses berpikir kreatif dan kolaboratif, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami Pancasila sebagai teks, tapi menerjemahkannya dalam aksi nyata—seperti merancang kampanye toleransi digital, membuat video edukasi tentang etika media sosial, atau menyusun solusi atas konflik sosial berbasis nilai-nilai kebangsaan.

Prof. Dr. Lambang Subagiyo terlihat bersemangat menyampaikan materi pada sesi pelatihan, sementara peserta tampak menyimak dengan antusias, mencerminkan suasana intelektual yang hidup dan penuh keterlibatan.

Design Thinking bukan satu-satunya alat yang ia tawarkan. Dalam sesi tersebut, Prof. Lambang juga menegaskan bahwa Outcome Based Education (OBE) adalah fondasi yang tak bisa diabaikan. OBE menuntut bukti nyata dari capaian pembelajaran, bukan sekadar nilai di akhir semester. Karena itu, pendekatan seperti PBL (problem-based learning) dan PjBL (project-based learning) harus diintegrasikan ke dalam MKWK agar mahasiswa tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mampu” dan “mau”.

Workshop ini bukan hanya sesi pelatihan teknis. Ia menjadi forum reflektif bagi para dosen yang selama ini berkutat di ruang-ruang kelas dengan bahan ajar klasik. Di akhir sesi, bukan hanya catatan yang dibawa pulang, tapi juga kegelisahan produktif: bagaimana mengajar dengan cara yang membentuk manusia, bukan hanya mengisi kepala.

Humas UM (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 Di tengah arus perubahan zaman dan tantangan era Revolusi Industri 4.0 serta Society 5.0, pendidikan tinggi dituntut menghadirkan pengalaman belajar yang lebih otentik, kritis, dan solutif. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Lambang Subagiyo dalam Workshop Implementasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam Integrasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang diselenggarakan Universitas Mulia pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall, Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Lisda Hermagustina, S.Ag., M.Pd., dosen MK Agama Islam, memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai dirigen dalam prosesi seremonial pembukaan Workshop OBE, PBL, dan Design Thinking.

Dalam sesi bertajuk “Implementasi Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), dan Case Method pada MKWK”, Prof. Lambang menekankan pentingnya transformasi pendekatan pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi proses pembentukan karakter berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).

“Belajar berenang tidak bisa hanya dari membaca buku. Demikian pula mahasiswa, mereka harus belajar langsung dari kasus nyata, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan proyek yang kontekstual,” ujar Prof. Lambang mengutip pemikiran John Dewey dan Whitehead sebagai dasar pendekatan learning by doing.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., bersama Drs. Suprijadi, M.Pd. Dosen Pengampu MK Pancasila, tampak khusyuk berdoa sebelum acara workshop dimulai sebagai bentuk harapan atas kelancaran kegiatan.

Menurutnya, pembelajaran melalui PBL, PjBL, dan Case Method sangat relevan diterapkan pada MKWK karena tidak hanya membentuk pengetahuan kognitif, tetapi juga sikap, kolaborasi, kreativitas, serta keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah kompleks.

Workshop ini dihadiri oleh dosen-dosen pengampu MKWK dan MKU Universitas Mulia dari berbagai program studi. Mereka diajak untuk menyusun kembali desain pembelajaran berdasarkan prinsip Outcome-Based Education (OBE), yang menempatkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai poros utama desain kurikulum.

Dari kiri ke kanan: Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Ketua Panitia Workshop Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., keynote speaker Prof. Dr. Lambang Subagiyo, dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., berpose bersama usai prosesi penyerahan cinderamata.

Lebih lanjut, Prof. Lambang memaparkan langkah-langkah konkret penerapan metode Project Based Learning dan Problem Based Learning, mulai dari merancang pertanyaan dasar, membentuk tim, menjalankan proyek, menyusun laporan, hingga merefleksikan pengalaman belajar.

“Dengan PjBL dan PBL, mahasiswa dilatih tidak hanya untuk tahu, tetapi untuk bisa berpikir, bertindak, dan mencipta. Ini adalah kompetensi utama di abad 21,” jelasnya.

Salah satu contoh implementasi yang diangkat adalah proyek pencegahan demam berdarah yang melibatkan mahasiswa sebagai pengambil data lapangan dan pencetus solusi berbasis nilai Pancasila. Pembelajaran seperti ini, menurut Prof. Lambang, akan membuat MKWK menjadi lebih bermakna dan berdampak langsung pada masyarakat.

Dari kiri: Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, dan Prof. Dr. Lambang Subagiyo menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam prosesi pembukaan Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam membekali dosen dengan pendekatan pedagogis modern yang menumbuhkan pembelajaran aktif, reflektif, dan berorientasi pada dunia nyata.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 — Di tengah derasnya arus digitalisasi global, kesenjangan literasi teknologi di tingkat dasar masih menjadi persoalan krusial. Berangkat dari kenyataan tersebut, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulia melaksanakan pelatihan dasar Microsoft Office dan desain grafis berbasis Canva kepada siswa kelas VI di SDN 003 Balikpapan Selatan. Alih-alih sekadar pengabdian formalitas, kegiatan ini menghadirkan pertemuan substansial antara kebutuhan lapangan dan pendekatan pendidikan berbasis problem nyata.

Dosen Pembimbing Lapangan M. Asyharuddin, S.H., M.H., memberikan arahan kepada mahasiswa Universitas Mulia sebelum pelaksanaan program KKN 2025 di Balikpapan Selatan.

Pelatihan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ketua kelompok KKN 18, Khusnul Hasanah, menyatakan bahwa tema sosialisasi melek teknologi dipilih sebagai respons terhadap minimnya akses langsung siswa SD terhadap perangkat digital yang selama ini hanya diperkenalkan secara teoritis. “Kami ingin mereka familiar menggunakan teknologi secara positif dan produktif, bukan hanya sebagai penonton pasif perkembangan zaman,” ujarnya.

Pendekatan Pedagogis yang Kontekstual

Kegiatan berlangsung dengan pendekatan pedagogis berbasis pengalaman—gabungan antara demonstrasi langsung, pendampingan individual, dan metode belajar sambil bermain. “Kami tidak hanya mengajar, tapi membangun suasana yang membuat anak-anak nyaman bereksperimen dan tidak takut mencoba,” tutur Khusnul.

Dua mahasiswi KKN UM 2025 berfoto bersama siswa SDN 003 Balikpapan Selatan di sela-sela sesi pelatihan literasi digital.

Respons siswa pun menunjukkan indikator keberhasilan yang menjanjikan. Selain antusias mengikuti setiap sesi, para siswa bahkan mencoba kembali di rumah dengan aplikasi yang telah mereka kenal, terutama Canva dan Microsoft Word. Guru di SDN 003 mengonfirmasi bahwa sebelumnya belum pernah ada pelatihan teknologi semacam ini di sekolah tersebut. “Dampaknya jelas terasa: anak-anak bukan hanya tertarik, tapi juga menunjukkan keberanian untuk mencoba hal baru,” kata salah satu guru.

Mahasiswi KKN bersama beberapa siswa menunjukkan hasil desain grafis yang dibuat menggunakan aplikasi Canva dalam sesi pelatihan kreatif.

Relevansi terhadap Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), M. Asyharuddin, S.H., M.H., menilai kegiatan ini sebagai contoh nyata penerapan prinsip Merdeka Belajar yang tidak berhenti pada jargon. Menurutnya, mahasiswa terlibat secara langsung dalam dinamika sosial masyarakat, mengalami pembelajaran kontekstual, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan serta empati dalam praktik. “Mereka belajar bukan dari modul, tapi dari kehidupan nyata—ini adalah proses pendidikan karakter yang otentik,” tegasnya.

Seorang mahasiswi KKN Universitas Mulia 2025 tengah membimbing siswa dalam memahami dasar-dasar literasi digital di ruang kelas.

Lebih dari itu, kegiatan ini dinilai relevan dalam membentuk dimensi Profil Pelajar Pancasila, terutama pada aspek kreativitas, bernalar kritis, dan kemampuan beradaptasi. Mahasiswa juga dituntut untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang sesuai dengan kapasitas kognitif anak-anak usia sekolah dasar.

Bukan Sekadar Pelatihan

Yang menarik, sekolah tempat kegiatan berlangsung menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti inisiatif ini melalui program kokurikuler dan pengenalan coding sebagai bagian dari kurikulum pendamping. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar intervensi temporer, melainkan berpotensi menjadi katalisator perubahan jangka panjang.

Para mahasiswi KKN antusias membimbing siswa SDN 003 Balikpapan Selatan dalam praktik desain grafis menggunakan Canva.

Khusnul sendiri menilai pengalaman ini sebagai proses pembelajaran dua arah. “Kami belajar bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak cepat tanggap terhadap teknologi. Yang penting bukan canggihnya materi, tapi relevansi dan kesiapan kami dalam membimbing,” ungkapnya.

Beberapa siswa berfoto bersama dua mahasiswi KKN Universitas Mulia usai mengikuti pelatihan teknologi di kelas.

Ketika mahasiswa universitas mampu menyentuh ekosistem pendidikan dasar secara substansial, maka pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi bertransformasi menjadi bentuk kepemimpinan transformatif. Dalam konteks ini, Canva dan Microsoft Word bukan lagi sekadar aplikasi—melainkan pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali peran mereka dalam dunia digital yang semakin kompleks.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 31 Juli 2025 “Kurikulum bukanlah sekadar template, tetapi sebuah konsep dinamis yang mengarahkan mahasiswa pada pencapaian peran profesionalnya di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.” Demikian penegasan Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., saat menjadi narasumber utama dalam Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang diselenggarakan Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Workshop ini dihadiri oleh dosen-dosen pengampu MKWK (Mata Kuliah Wajib kurikulum) dan MKU (Mata Kuliah Umum) Universitas Mulia, sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan penyelarasan pembelajaran dengan capaian pembelajaran lulusan berbasis Outcome-Based Education (OBE).

Dalam paparannya yang bertajuk “Teknik Menyusun RPS Berbasis OBE”, Prof. Lambang menekankan pentingnya membangun kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi pada pencapaian kompetensi lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“RPS itu bukan hanya formalitas. Ia harus berfungsi korektif, preventif, direktif, dan konstruktif. RPS memberi kepastian bahwa mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar sebagaimana yang telah dirancang,” jelas Guru Besar yang juga aktif dalam pengembangan kurikulum nasional tersebut.

Mengawali kegiatan dengan kekhidmatan, para peserta workshop mengangkat tangan dalam doa bersama—sebagai refleksi spiritual dan bentuk ikhtiar agar rangkaian pelatihan berlangsung lancar, bermakna, dan penuh keberkahan.

Menurutnya, desain kurikulum yang efektif dimulai dari perumusan peran lulusan di masyarakat, yang kemudian dijabarkan dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), diturunkan ke dalam mata kuliah dan bobot SKS, lalu diimplementasikan dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Ia juga menekankan bahwa pendekatan OBE bukan hanya menyangkut proses pengajaran (Outcome-Based Learning and Teaching/OBLT), tetapi juga pendekatan penilaian dan evaluasi (Outcome-Based Assessment and Evaluation/OBAE) yang berfokus pada penguasaan capaian pembelajaran oleh mahasiswa.

Ketua Panitia Workshop, Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., menyerahkan cinderamata kepada narasumber Prof. Dr. Lambang Subagiyo, disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., serta Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

“Materi yang kita sampaikan belum tentu bisa dikuasai semua mahasiswa, maka tugas dosen adalah merancang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mencapai CPL—dengan strategi, metode, dan evaluasi yang sesuai,” tegasnya.

Dengan pendekatan holistik berbasis OBE, dipadukan dengan Problem-Based Learning (PBL) dan Design Thinking, workshop ini menjadi langkah strategis Universitas Mulia dalam menciptakan proses pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berpusat pada mahasiswa.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 30 Juli 2025 Matakuliah Wajib Kurikulum (MKWK) tidak lagi hanya menjadi wahana penyampaian materi normatif, tetapi harus ditransformasi menjadi arena pendidikan karakter berbasis proyek dan kolaborasi. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., dalam sesi pembukaan workshop integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam MKWK yang digelar pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Dalam paparannya, Wisnu menekankan bahwa MKWK bukan sekadar keharusan administratif dalam kurikulum perguruan tinggi. Sebaliknya, ia adalah fondasi ideologis, etis, dan komunikatif yang harus ditanamkan dengan pendekatan yang relevan dengan konteks zaman. “Substansi kajian MKWK perlu dikembangkan oleh dosen, dengan menggali isu-isu kontemporer seperti kearifan lokal, radikalisme, kesadaran pajak, hingga kesetiaan pada ideologi bangsa,” tegasnya.

Seluruh peserta workshop berdiri menyanyikan Mars Universitas Mulia dalam suasana khidmat saat seremonial pembukaan kegiatan di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut, Wisnu menyampaikan bahwa Universitas Mulia telah menata ulang strategi pembelajaran melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan Project-Based Learning (PBL). Siklus OBE, menurutnya, mengharuskan penyesuaian materi, metode, asesmen, dan evaluasi berbasis capaian. PBL diposisikan bukan sekadar metode, melainkan filosofi pembelajaran yang menuntut keaktifan, orisinalitas, kolaborasi, dan refleksi mahasiswa.

“Mahasiswa tidak cukup diajarkan teori toleransi, tapi harus menciptakan proyek yang menyuarakan nilai toleransi itu dalam bentuk kreatif dan berdampak,” ujarnya. Ia mencontohkan produk pembelajaran seperti video refleksi, infografis nilai Pancasila, hingga kampanye media sosial tentang kebhinekaan sebagai bentuk konkret integrasi nilai dan proyek.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan materi pembuka yang memetakan arah kebijakan pengembangan MKWK di Universitas Mulia.

Selain MKWK yang terdiri dari matakuliah Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, Wisnu juga menekankan pentingnya penguatan pada Mata Kuliah Universitas seperti Pendidikan Anti Korupsi, Technopreneurship, Bahasa Inggris Bisnis, serta Kuliah Kerja Nyata dan Skripsi yang mendukung praktik nilai di lapangan.

Sesi doa bersama pembukaan workshop berlangsung dalam suasana tenang dan penuh kekhusyukan.

Tak kalah strategis, Wisnu memperkenalkan pentingnya literasi terhadap Generative Artificial Intelligence (GenAI) dalam ekosistem pendidikan tinggi. Menurutnya, GenAI dapat menjadi alat yang memberdayakan atau merusak, tergantung pada cara institusi dan individu mengelolanya. “Universitas harus memandu pemanfaatan GenAI secara etis dan bertanggung jawab, menjaga integritas akademik tanpa menutup peluang inovasi,” tandasnya.

Materi yang disampaikan Wakil Rektor Akademik dan Sistem Informasi ini menjadi landasan penting dalam diskusi-diskusi lanjutan para dosen pengampu MKWK selama workshop berlangsung. Mereka tidak hanya menyusun RPS atau RPL, tetapi juga ditantang untuk menyematkan nilai, menyusun skenario proyek, dan merancang asesmen yang kontekstual, kolaboratif, dan inklusif.

Humas UM (YMN)

 

“Sertifikasi di Universitas Mulia bukan program tambahan, tetapi bagian dari desain kurikulum. Mahasiswa dipersiapkan bukan hanya untuk lulus, melainkan untuk diuji dan diakui secara nasional, dan hasil sertifikasi akan kami tempatkan sebagai bukti sahih ketercapaian pembelajaran.”—Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi)

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., memberikan arahan dalam seremonial pembukaan Uji Materi Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses integrasi sertifikasi dalam pembelajaran.

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025 — Di Universitas Mulia, sertifikasi profesi tidak ditempatkan sebagai program pelengkap. Ia disusun dan ditanamkan sejak awal proses belajar, dirancang menyatu dalam sistem pembelajaran. Hal ini ditegaskan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

“Kami menyelaraskan materi kuliah, proyek tugas akhir, hingga praktik lapangan dengan skema-skema kompetensi yang dirancang dan diajukan ke BNSP,” ujarnya. “Artinya, mahasiswa tidak belajar hal yang terpisah dari dunia kerja—mereka justru belajar untuk bersertifikat.”

Menurut Wisnu, pendekatan ini dilakukan agar proses belajar di kampus tidak berhenti pada pemahaman teoretis semata, tetapi sejak awal diarahkan untuk menghasilkan kompetensi yang dapat diuji dan diakui secara formal. Sertifikasi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi jalur utama yang ditempuh mahasiswa dalam meraih pengakuan keterampilan kerja.

Langkah selanjutnya, Universitas Mulia sedang menyelaraskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) agar hasil asesmen dari skema LSP dapat digunakan sebagai tolok ukur kompetensi. “Kami sedang mengaitkan hasil uji skema langsung dengan CPL, terutama dalam aspek keterampilan khusus dan kesiapan kerja,” jelasnya. Ia menambahkan, “Dengan demikian, sertifikat bukan hanya bonus kelulusan, tetapi bagian dari pengakuan formal atas apa yang benar-benar telah dikuasai oleh mahasiswa selama studi.”

Pemerataan akses menjadi perhatian penting. Sertifikasi tidak hanya dilaksanakan di kampus utama Balikpapan. Wisnu mencontohkan keterlibatan mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi di Kampus Samarinda yang kini mengembangkan skema dan Materi Uji Kompetensi (MUK) mereka sendiri. “Mahasiswa di Samarinda juga menyiapkan skema yang akan diajukan ke BNSP dan digunakan untuk mensertifikasi mereka. Kami pastikan kesempatan ini merata,” ungkapnya.

Kalimantan yang kini berkembang sebagai kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) turut menjadi konteks penting dalam strategi sertifikasi Universitas Mulia. Wisnu menyebut bahwa lulusan bersertifikat harus mampu langsung bekerja dan menjawab kebutuhan yang tumbuh di wilayah ini.

“Kami melihat sertifikasi kompetensi sebagai salah satu kunci utama kesiapan SDM lokal menghadapi transformasi besar di kawasan Kalimantan dan IKN,” ucapnya. “Lulusan kami diposisikan sebagai talenta siap pakai—baik untuk industri, sektor pemerintahan, maupun kegiatan wirausaha yang berkembang.”

Untuk memastikan keselarasan antara skema sertifikasi dan kebutuhan nyata di lapangan, Universitas Mulia melalui LSP juga menjalin berbagai kolaborasi lintas sektor. Wisnu menyampaikan bahwa koordinasi dan kerja sama dengan industri, lembaga pendidikan, BUMN, dan instansi lain selalu dibuka agar skema yang disusun tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi benar-benar mencerminkan kebutuhan dunia kerja.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia menggelar uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai tahapan wajib dalam proses pengajuan penambahan skema sertifikasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengujian langsung atas validitas dan ketepatan materi uji yang dirancang untuk mengukur kemampuan nyata calon peserta sertifikasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (kanan), bersama Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom. (kiri), memantau langsung proses uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di lingkungan kampus.

“Uji coba ini kami perlakukan sebagai pengujian kritis terhadap isi materi. Apakah instrumen ini memang layak digunakan untuk menilai kompetensi secara objektif dan akurat? Itu yang kami uji,” ujar Kepala UPT LSP Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.

Seluruh materi uji dikembangkan dengan mengacu pada Skema Sertifikasi dan unit kompetensi yang sudah ditetapkan dalam standar nasional, yakni SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Tidak ada improvisasi di luar kerangka, sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kelulusan, tetapi legitimasi profesional atas kemampuan teknis dan sikap kerja peserta.

Irfan Ananda Pratama, S.A., M.A., melakukan monitoring pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses validasi skema sertifikasi.

Menurut penanggung jawab kegiatan, proses uji coba ini menjadi semacam stress test terhadap sistem evaluasi kompetensi yang disusun. Jika MUK yang diuji tidak mampu secara presisi membedakan antara peserta yang kompeten dan tidak kompeten, maka materi tersebut harus direvisi. “Kami tidak ingin menghasilkan materi yang kabur secara penilaian atau tidak sesuai kebutuhan lapangan kerja,” tegasnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan arah kebijakan Universitas Mulia dalam memosisikan sertifikasi sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Sertifikasi bukan ditempelkan di akhir proses, tetapi dirancang sejak awal sebagai capaian yang terukur dan berbasis standar. Ini menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mendidik, tetapi juga mengkalibrasi capaian mahasiswa dengan tolok ukur yang diakui secara nasional.

Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb., tampak membagikan soal kepada peserta dalam pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di Universitas Mulia.

Dengan menggelar uji coba MUK secara terbuka dan ketat, Universitas Mulia mengirimkan pesan jelas: sertifikasi kompetensi bukan program pelengkap, melainkan sistem yang dibangun secara sistematis, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Humas UM (YMN)

Foto bersama seluruh peserta dan pengajar usai pembukaan. Baris depan dari kanan, Wakil Rektor Wisnu Hera Pamungkas, asesor LSP TD Istia Budi, Perwakilan BPSDM Komdigi Banjarmasin Syarifuddin, asesor LSP TD Dedi Priansyah, dan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi. Foto: Media Kreatif

UM – Sejumlah mahasiswa Universitas Mulia berhasil membuktikan kompetensinya dengan meraih sertifikasi profesi Junior Cyber Security dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pencapaian ini diraih setelah mereka mengikuti Uji Kompetensi yang digelar di Laboratorium Fakultas Ilmu Komputer UM pada Kamis (17/7) dan Jumat (18/7), sebagai pelaksanaan dari program Vocational School Graduate Academy (VSGA) Digital Talent Scholarship.

Sertifikasi ini merupakan hasil kerjasama strategis antara Universitas Mulia dengan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Banjarmasin.

Program ini dirancang khusus untuk membekali mahasiswa dengan keahlian praktis yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini, terutama di bidang keamanan siber yang permintaannya terus meningkat.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa kegiatan sertifikasi ini bukan program insidental, melainkan bagian integral dari kurikulum. Hal ini menjadi komitmen Universitas Mulia memastikan setiap lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga sertifikat keahlian yang diakui secara nasional.

“Ini adalah wujud dari pemberdayaan bagi mahasiswa kami. Kami mendorong agar setiap mata kuliah yang memiliki skema sertifikasi BNSP, seperti Junior Cyber Security ini, diakhiri dengan uji kompetensi. Jadi, lulus dari mata kuliah, mahasiswa langsung punya bekal sertifikasi untuk masuk dunia kerja,” ujar Djumhadi.

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Proses Selektif Hasilkan Talenta Kompeten

Proses seleksi dan pelatihan berjalan ketat. Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., selaku pengajar dan tuan rumah acara, menjelaskan bahwa dari kuota 30 kursi yang tersedia, sebanyak 27 orang mendaftar.

Setelah melalui proses pelatihan, lanjut Agus, 21 orang mengikuti uji sertifikasi, dan 17 diantaranya dinyatakan kompeten, empat orang tidak hadir.

“Angka ini menunjukkan bahwa prosesnya tidak mudah, namun mahasiswa kami mampu membuktikan kualitasnya. Ini adalah bentuk pengayaan skill di luar perkuliahan reguler,” jelas Agus.

Sertifikasi dilaksanakan langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Teknologi Digital yang berlisensi BNSP.

Salah satu asesor, Istia Budi, S.T., M.M., yang juga merupakan dosen Universitas Mulia, menyatakan kebanggaannya.

“Secara umum, mahasiswa memiliki kompetensi Junior Cyber Security. Namun, masih banyak PR buat kampus dan mahasiswa untuk lebih percaya diri terhadap skills yang dimiliki serta banyak meng-explore kemampuannya,” katanya.

Istia Budi berharap, kampus lebih banyak menggelar kegiatan Cyber Security untuk meningkatkan minat mahasiswa. “Sebab, kebutuhan Dunia Industri lumayan tinggi,” tambahnya.

Mengenal Peluang di Balik Sertifikasi Junior Cyber Security

Program ini tidak hanya memberikan sertifikat, tetapi juga membuka wawasan dan peluang karir yang luas. Berikut adalah detail program yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengikuti sertifikasi skema ini.

Apa itu Junior Cyber Security?

Seorang Junior Cyber Security bertugas membantu melindungi sistem komputer, jaringan, dan data sebuah organisasi dari ancaman siber. Mereka adalah garda terdepan dalam mendeteksi dan mengelola serangan digital.

Kompetensi utama yang diuji antara lain menerapkan prinsip perlindungan dan keamanan informasi, mengelola log keamanan dan menerapkan kontrol akses, dan mengaplikasikan keamanan pada transaksi elektronik dan penggunaan internet.

Prospek karir lulusan dengan sertifikasi ini memiliki peluang besar untuk berkarir sebagai Cyber Security Administrator, Cyber Risk Specialist, Cyber Security Manager, bahkan hingga posisi strategis seperti Chief Information Officer (CIO).

Kegiatan ini menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang proaktif dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri. Dengan membekali mahasiswa sertifikasi profesi, Universitas Mulia berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, berdaya saing tinggi, dan siap kerja.

(SA/Kontributor)