Balikpapan, 25 Mei 2026—Di tengah perubahan pola rekrutmen kerja yang semakin dipengaruhi kemampuan adaptasi, komunikasi, dan penguasaan teknologi, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia menghadirkan seminar Smart Skill for Smart Career bekerja sama dengan HR Forum Balikpapan. Forum yang diikuti 110 mahasiswa itu membedah satu persoalan yang kerap luput dibicarakan di ruang kuliah: banyak lulusan memiliki nilai akademik baik, tetapi belum cukup siap menghadapi kultur, tekanan, dan ritme kerja industri yang terus berubah.

Seminar menghadirkan Wahyu Ratnasari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, bersama Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining dan Chairman HR Forum Balikpapan. Kehadiran praktisi HR dalam forum tersebut memberi mahasiswa kesempatan mendengar secara langsung bagaimana perusahaan membaca kualitas calon tenaga kerja, termasuk alasan mengapa banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak mampu menunjukkan sikap kerja dan kemampuan beradaptasi.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menilai persoalan utama mahasiswa hari ini bukan semata lemahnya penguasaan teori, melainkan ketidaksiapan menghadapi dinamika kerja yang menuntut respons cepat, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan.

“Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga siap bekerja, mampu belajar cepat, dan memiliki soft skill yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa masih kesulitan membangun kepercayaan diri, bekerja dalam tim, menyampaikan gagasan secara jelas, hingga menyelesaikan persoalan secara efektif. Padahal, ruang kerja modern bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme pembelajaran konvensional di kelas.

Ia juga menyinggung perubahan cara perusahaan menilai calon pekerja. Jika dahulu IPK sering menjadi perhatian utama, kini perusahaan lebih tertarik melihat karakter, etika kerja, disiplin, dan kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi maupun budaya kerja.

“Perusahaan percaya kemampuan teknis masih bisa dipelajari, tetapi attitude, kemauan belajar, dan kemampuan adaptasi jauh lebih sulit dibentuk,” jelasnya.

Karena itu, kerja sama dengan HR Forum Balikpapan tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda seminar tahunan. Prodi Manajemen ingin membuka jalur yang lebih dekat antara mahasiswa dan dunia industri, agar mahasiswa tidak hanya mengenal teori manajemen dari buku, tetapi juga memahami ekspektasi nyata perusahaan terhadap calon tenaga kerja muda.

Dalam sesi diskusi, isu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kerja menjadi salah satu topik yang paling banyak memancing perhatian peserta. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana masa depan profesi manajemen ketika pekerjaan administratif mulai digantikan sistem otomatis.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia berfoto bersama narasumber seminar Smart Skill for Smart Career, Wahyu Ratnasari, S.E., M.M. dan Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining sekaligus Chairman HR Forum Balikpapan, didampingi Ketua Prodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M., usai kegiatan seminar yang membahas kesiapan karier dan penguatan soft skill di era AI dan digitalisasi kerja.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Pudjiati menegaskan bahwa teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan alat yang harus dikuasai. Menurutnya, kemampuan yang akan tetap dibutuhkan industri adalah kemampuan berpikir kritis, membaca situasi, memimpin tim, berkomunikasi, dan mengambil keputusan di tengah perubahan.

Ia menjelaskan bahwa konsep smart skill bukan sekadar kecakapan menggunakan teknologi, tetapi perpaduan antara kompetensi akademik, literasi digital, kemampuan interpersonal, kreativitas, dan ketahanan menghadapi tekanan kerja.

“Mahasiswa dituntut menjadi pribadi yang fleksibel, kreatif, profesional, dan siap menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang,” katanya.

Suasana seminar berlangsung hidup ketika mahasiswa mulai mengaitkan materi dengan kegelisahan mereka menjelang dunia kerja. Pertanyaan tentang personal branding, pengalaman organisasi, strategi menghadapi wawancara kerja, hingga cara membangun networking muncul silih berganti sepanjang sesi diskusi.

Bagi Prodi Manajemen Universitas Mulia, antusiasme tersebut menunjukkan perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan karier mereka. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi juga ruang membangun kesiapan mental, keterampilan, dan jejaring profesional sejak dini.

Ke depan, Program Studi Manajemen berencana memperluas kolaborasi dengan HR Forum Balikpapan dan berbagai mitra industri melalui program pelatihan, mentoring karier, seminar lanjutan, hingga peluang magang mahasiswa. Langkah itu diarahkan agar lulusan tidak gagap ketika memasuki dunia kerja, sekaligus mampu membaca perubahan industri yang bergerak semakin cepat dari tahun ke tahun. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan, 17 April 2026 Universitas Mulia menggelar pelatihan bertajuk “Inovasi Pangan Lokal: Cara Cerdas Membuat Tepung Mocaf yang Sehat dan Ekonomis” di Aula Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 65 ibu-ibu PKK dan kader dari seluruh wilayah Kelurahan Karang Joang.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Siti Rahmayuni, S.E., M.M., C.FA., bersama Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dosen Farmasi Universitas Mulia yang sekaligus menjadi narasumber utama. Dari pihak kelurahan, Lurah Karang Joang, Ibu Maryana, S.K.H., turut hadir bersama perangkat desa.

Dalam pemaparannya, Wury Damayantie mengawali materi dengan menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat terhadap tepung terigu. Data konsumsi tepung terigu di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan angka yang signifikan, dengan penggunaan yang besar terutama pada sektor industri pangan olahan.

Ia kemudian mengarahkan perhatian peserta pada potensi singkong sebagai sumber pangan lokal yang melimpah. Produksi singkong nasional yang mencapai puluhan juta ton per tahun dinilai menjadi peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku alternatif dalam industri pangan berbasis karbohidrat.

Sebanyak 65 ibu-ibu PKK dan kader Kelurahan Karang Joang tampak fokus menyimak pemaparan materi pelatihan pembuatan tepung mocaf yang disampaikan oleh dosen Universitas Mulia di Aula Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, Kamis (16/4/2026).

Materi dilanjutkan dengan penjelasan teknis mengenai pembuatan tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Proses yang dipaparkan meliputi tahapan pengolahan singkong hingga fermentasi. Wury menjelaskan bahwa waktu fermentasi dapat bervariasi, mulai dari beberapa hari secara alami hingga lebih singkat dengan bantuan starter tertentu.

Selain proses produksi, peserta juga diperkenalkan pada karakteristik tepung mocaf. Tepung ini memiliki tekstur yang lebih halus, rasa yang netral, serta tidak mengandung gluten. Dalam penggunaannya, mocaf dapat menjadi alternatif pengganti tepung terigu untuk berbagai jenis olahan pangan.

Selama sesi berlangsung, peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar proses pembuatan, kualitas hasil, hingga kemungkinan pemanfaatan dalam kegiatan rumah tangga. Diskusi berlangsung interaktif, terutama ketika membahas praktik penggunaan tepung mocaf dalam berbagai produk makanan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Universitas Mulia dalam mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai pengolahan pangan lokal, tetapi juga keterampilan dasar yang dapat diterapkan secara langsung.

Dari sisi pemerintah kelurahan, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan.

Pelatihan ditutup dengan sesi diskusi lanjutan antara narasumber dan peserta, yang masih berlangsung secara informal setelah pemaparan materi selesai. (YMN)

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Business Coaching: Cooking Class with Sania pada Kamis, 12 Februari 2026, di Ballroom Cheng Hoo. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar kelas memasak, melainkan sebagai ruang pembelajaran terpadu yang menggabungkan keterampilan produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan digital dalam konteks kewirausahaan modern.

Peserta mengikuti sesi ice breaking sebagai pembuka kegiatan Business Coaching untuk membangun interaksi dan kerja sama sebelum memasuki materi inti.

Menghadirkan Coach Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Chef Sania, Hakasima Houseware, serta perwakilan Bank Mandiri, kegiatan ini mengangkat pendekatan praktik langsung (experiential learning) untuk memperkenalkan siklus usaha secara menyeluruh—dari proses produksi hingga tata kelola finansial.

Acara diawali dengan sesi ice breaking yang membangun dinamika kolaboratif antar peserta. Suasana kemudian beralih ke praktik pembuatan roti kopi dan serabi Solo. Pada tahap ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik baking, tetapi juga memahami standar kualitas produk dan efisiensi proses sebagai bagian dari manajemen usaha kuliner.

Chef Sania memperagakan teknik pembuatan adonan roti kopi dalam sesi praktik sebagai bagian dari pembelajaran produksi kuliner.

Pembahasan berlanjut pada aspek branding dan packaging produk. Peserta diajak melihat kemasan bukan sekadar pelindung, melainkan instrumen komunikasi nilai produk kepada konsumen. Sesi marketing digital memberikan gambaran tentang pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai saluran distribusi yang terukur.

Melengkapi rangkaian materi, Bank Mandiri memaparkan pengelolaan keuangan digital untuk usaha, termasuk pencatatan transaksi dan optimalisasi layanan perbankan guna mendukung keberlanjutan bisnis. Penekanan diberikan pada pentingnya literasi finansial sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang akuntabel.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menyampaikan materi penguatan kewirausahaan kepada peserta kegiatan.

Rezkika Ramadhani, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Saya dapat belajar membuat roti dengan teman-teman. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman, dan saya mendapatkan pengalaman baking yang sangat seru.”

Sementara itu, Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Linda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan kampus. “Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat komunitas wirausaha di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis Universitas Mulia menempatkan kewirausahaan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai kompetensi strategis yang memadukan kreativitas, manajemen, dan literasi keuangan dalam satu kesatuan praktik. (YMN)

 

Balikpapan, 31 Oktober 2025 — Universitas Mulia melaksanakan program pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Program ini berfokus pada penguatan literasi digital dan strategi pemasaran berbasis teknologi untuk memperluas jangkauan usaha lokal.

Kegiatan bertema “Kreatif, Kolaboratif, dan Kompetitif: Kunci UMKM Naik Kelas” ini dirancang untuk membantu pelaku usaha memahami cara memanfaatkan media digital dalam memperkenalkan produk dan memperluas pasar. Tim dosen yang terlibat terdiri dari Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Mereka bekerja bersama mahasiswa dalam proses pendampingan, sehingga kegiatan ini juga menjadi ruang penerapan pembelajaran berbasis proyek di luar kelas.

Para narasumber, Lurah Gunung Sari Ulu, Babinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat kelurahan berpose bersama peserta pelatihan dengan gaya simbol “UM, Mulia, dan Jaya” sebagai penanda semangat kolaborasi.

Dalam sesi pelatihan, Dr. Linda menjelaskan bahwa sebagian besar usaha kecil gagal bertahan melewati lima tahun pertama bukan karena kurang modal, melainkan karena pelaku usaha belum memahami arah pasar dan perubahan perilaku konsumen. Ia mengajak peserta untuk memulai strategi dari fondasi yang sederhana namun penting: mengenali produk, memahami konsumen, dan menyesuaikan cara komunikasi melalui media digital.

Peserta berlatih membuat video promosi, mengelola akun media sosial, serta menata etalase daring di marketplace dengan pendekatan visual yang lebih terarah. Metode praktik ini memungkinkan pelaku usaha mengamati langsung hasil dari strategi yang diterapkan dan menyesuaikannya dengan karakter produk masing-masing.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., mengambil swafoto di tengah suasana praktik peserta, saat sesi pembuatan konten promosi digital berlangsung.

Dosen dari bidang farmasi dan informatika turut memberikan materi pendukung berupa digitalisasi pencatatan keuangan dan sistem pembayaran daring. Langkah ini dimaksudkan agar pelaku usaha memiliki catatan transaksi yang rapi dan siap digunakan sebagai dasar perencanaan atau pengajuan modal usaha.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menautkan hasil pembelajaran dan penelitian kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan lintas bidang yang diterapkan memungkinkan proses akademik berjalan berdampingan dengan pemberdayaan sosial. Model seperti ini digunakan Universitas Mulia untuk menguji efektivitas pembelajaran berbasis praktik sekaligus menilai dampaknya terhadap masyarakat.

Mahasiswa yang terlibat berperan mendampingi peserta dalam tahap-tahap penerapan teknologi digital, seperti pengaturan konten promosi, analisis unggahan, dan evaluasi jangkauan media. Dengan cara ini, proses belajar mahasiswa menjadi relevan dengan kondisi nyata di lapangan, sementara pelaku UMKM memperoleh dukungan teknis yang sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Linda menyisipkan refleksi singkat yang memantik semangat peserta untuk terus bergerak maju.

“Bukan di mana kita berdiri, tapi ke arah mana kita menuju,” ujarnya.

Dr. Linda, yang merupakan peraih sejumlah beasiswa unggulan nasional — termasuk BUDI-DN LPDP dan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) — menutup sesinya dengan pesan reflektif:

“Bisnis akan selalu mengajarimu dua hal: kegagalannya memberi pelajaran hidup, keberhasilannya memberi kebahagiaan hidup.”

Lurah Gunung Sari Ulu menyampaikan sambutan pada pembukaan pelatihan pendampingan digital bagi pelaku UMKM, menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam pengembangan usaha lokal.

Ia juga menegaskan makna berproses dalam berwirausaha:

“Bisnis tidak hanya tentang laba, tetapi juga tentang kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.”

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Universitas Mulia menempatkan kerja akademik sebagai sarana penguatan kapasitas masyarakat. Melalui pendampingan yang berbasis pengetahuan dan praktik lapangan, kampus ini terus membangun hubungan yang produktif antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan sosial di wilayahnya. (YMN)

Balikpapan, 30 Oktober 2025 — Tiga dosen Universitas Mulia turun langsung mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu untuk memperkuat kemampuan mereka dalam pemasaran digital. Sekitar lima puluh pelaku usaha mengikuti pelatihan yang dikemas interaktif, memadukan praktik langsung dengan pendampingan mahasiswa di lapangan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen lintas disiplin: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Ketiganya berperan membantu pelaku usaha memahami strategi pemasaran berbasis teknologi, sekaligus memberi pendampingan dalam mengelola media sosial, marketplace, dan konten promosi produk.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan pelaku UMKM di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Rabu (29/10

Menurut Dr. Linda Fauziyah Ariyani, sebagian besar pelaku UMKM di Gunung Sari Ulu belum memiliki bekal pengelolaan usaha yang memadai dan masih terbatas dalam penggunaan teknologi.

“Sebagian besar pelaku UMKM belum mengoptimalkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. Mereka perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan terkait pengelolaan usaha di era digital,” jelasnya.

Dari hasil pendampingan, hampir seluruh peserta sebenarnya telah memiliki akun media sosial, namun pemanfaatannya masih sebatas untuk hiburan. Melalui pelatihan ini, peserta belajar menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan usaha — mulai dari membangun citra produk, membuat konten video marketing, hingga memahami algoritma promosi di marketplace, Instagram, dan TikTok.

Para peserta menilai pelatihan kali ini berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya karena disajikan dengan praktik langsung dan disertai kisah-kisah inspiratif yang membuat suasana belajar lebih hidup.

Pelatihan juga menekankan pendekatan praktis melalui Value Proposition Canvas, sebuah metode yang membantu peserta mengenali kebutuhan konsumen dan menilai keunggulan produk mereka.

“Peserta belajar mengenali masalah konsumen dan menjawabnya melalui inovasi produk, varian, kemasan, layanan, bahkan cara pemasaran. Model ini membuat mereka lebih mudah memahami posisi dan potensi usahanya,” ujar Dr. Linda.

Selama pelatihan, tim dosen menemukan beragam potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui strategi digital.

Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm. memaparkan strategi branding produk dan pentingnya kemasan menarik bagi pelaku UMKM.

“Ada produk kriya seperti buket bunga dan berbagai jenis makanan yang jika direbranding akan jauh lebih menarik. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil membangun mereknya selama pelatihan. Bahkan ada peserta berusia 72 tahun yang masih bersemangat belajar promosi digital,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif membantu peserta membuat akun media sosial dan melatih mereka menggunakan platform digital untuk memasarkan produk.

“Mahasiswa sangat senang dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka belajar langsung bagaimana menerapkan teori komunikasi digital untuk membantu masyarakat,” tutur Dr. Linda.

Pelatihan juga difasilitasi dengan pembuatan QRIS bekerja sama dengan Bank Mandiri. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil memiliki sistem pembayaran digital yang memudahkan transaksi.

“Digitalisasi keuangan penting karena memudahkan pengelolaan keuangan dan memberi kenyamanan bagi konsumen. QRIS kini menjadi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha kecil,” katanya.

Salah seorang mahasiswi Universitas Mulia mendampingi peserta dalam praktik digital marketing, termasuk pembuatan konten promosi untuk media sosial.

Dr. Linda berharap pelaku UMKM yang telah mengikuti pelatihan dapat terus mengembangkan keterampilan digital mereka secara berkelanjutan.

“Saya berharap para pelaku usaha tetap konsisten berproduksi dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program serupa sebagai bagian dari tanggung jawab institusi terhadap masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif mitra. Ke depan, saya berharap Universitas Mulia dapat menginisiasi program serupa dengan dukungan yang lebih luas, sebagai wujud kontribusi kampus terhadap penguatan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, Universitas Mulia menegaskan perannya sebagai kampus yang aktif dan berorientasi pada solusi, menghadirkan dosen dan mahasiswa yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal di era digital. (YMN)

 

Mahasiswa PG-PAUD UM Ciptakan Dongeng Digital: Gerakan Literasi dari Layar ke Hati

Balikpapan, 20 Oktober 2025 – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi pendidikan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia memilih jalannya sendiri: melestarikan budaya bercerita melalui teknologi. Melalui kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital, mereka menghidupkan kembali tradisi lisan dalam bentuk karya interaktif yang bisa diakses dari layar mana pun.

Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD, Nur Wahida, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan ini lahir bukan sekadar untuk memenuhi program kerja organisasi, tetapi sebagai respon terhadap perubahan besar dalam dunia pendidikan anak.

“Awalnya kegiatan ini merupakan program kerja HIMA periode 2024–2025, namun kami melihat tren pendidikan yang kini semakin kuat dengan konten digital. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan dongeng tradisional agar masuk dalam dunia digitalisasi,” ujarnya.

Tema “Membangun Kreativitas Guru AUD melalui Karya Buku Dongeng Digital yang Interaktif dan Edukatif” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi HIMA PG-PAUD, kreativitas guru bukan hanya kemampuan mencipta cerita, tetapi kemampuan menjembatani nilai-nilai budaya dengan teknologi yang akrab di tangan anak-anak.

Foto bersama usai workshop pembuatan buku dongeng digital di ruang eksekutif White Campus Universitas Mulia, Sabtu (19/10/2025).

“Tema ini menjadi bentuk harapan agar guru PAUD mampu menciptakan karya yang bisa digunakan dalam pembelajaran, yang tetap interaktif dan edukatif,” jelasnya.

Respons peserta pun melampaui ekspektasi. Mahasiswa mengaku antusias karena untuk pertama kalinya mereka menghasilkan karya digital yang bisa dibaca dan dibagikan secara luas.

“Workshop ini jadi pengalaman pertama bagi banyak mahasiswa. Mereka membuat karya asli, mempublikasikannya secara online, dan menyadari bahwa hasil kreativitas mereka bisa diakses oleh banyak orang,” katanya.

 Suasana workshop di Laboratorium A White Campus saat peserta antusias membuat buku dongeng digital interaktif sebagai hasil praktik pembelajaran.

Ketertarikan juga datang dari kalangan pendidik PAUD di luar kampus. Beberapa kepala sekolah dan Bunda PAUD Balikpapan Selatan turut hadir meninjau jalannya workshop.

“Dari kunjungan itu, beberapa kepala sekolah bahkan tertarik memasukkan karya mahasiswa ke galeri pustaka digital Bunda PAUD Balikpapan Selatan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu, setiap peserta wajib menulis dan merancang satu buku dongeng digital secara mandiri. Setiap naskah dibuat dari ide orisinal peserta dan dipublikasikan melalui platform FlipHTML5, agar bisa dibaca publik secara daring.

“Kami ingin setiap peserta benar-benar menulis cerita mereka sendiri, bukan menyalin. Semua karya dipublikasikan agar bisa menjadi bagian dari literasi digital anak,” jelasnya.

HIMA PG-PAUD juga berkolaborasi dengan narasumber profesional di bidang mendongeng dan pembuatan konten digital agar peserta dapat belajar langsung dari praktisi.

Ketua HIMA PGPAUD Universitas Mulia, Nur Wahida, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada narasumber pertama, Kak Eri, pendongeng Balikpapan yang inspiratif.

“Kami menyiapkan pemateri yang kompeten di setiap sesi agar peserta tidak hanya paham teori, tapi juga mampu menerapkannya dalam karya,” katanya.

Bagi pengurus HIMA, kegiatan ini menjadi laboratorium organisasi yang nyata — tempat belajar manajemen acara, kolaborasi eksternal, hingga kepemimpinan dalam dunia akademik.

“Pelajaran paling berharga bagi kami adalah bagaimana menyelenggarakan kegiatan secara sistematis dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Itu pengalaman penting,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, seluruh karya mahasiswa yang terkumpul akan dikurasi untuk diterbitkan dalam Galeri Pustaka Digital PG-PAUD Universitas Mulia, dan ke depan direncanakan memperoleh sertifikat HAKI sebagai bentuk penghargaan terhadap kreativitas mahasiswa.

“Kami berharap karya-karya ini bisa diseleksi dan mendapat HAKI, bahkan dicetak menjadi satu buku kumpulan dongeng. Itu bentuk nyata bahwa mahasiswa bisa menghasilkan karya yang bermakna,” pungkasnya.

Kak Eri menampilkan praktik mendongeng yang memukau dan interaktif di hadapan peserta workshop, memancing tawa dan imajinasi mahasiswa PGPAUD.

 

Melalui langkah sederhana namun visioner ini, mahasiswa PG-PAUD Universitas Mulia telah menegaskan satu hal: bahwa teknologi bukan lawan dari tradisi, melainkan ruang baru untuk membuat nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat disentuh oleh generasi yang tumbuh di depan layar. (YMN)

 

Balikpapan, 20 Oktober 2025– Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara anak belajar dan berinteraksi dengan dunia, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia mengambil langkah berani: menyiapkan calon guru yang tidak hanya piawai bercerita, tetapi juga mampu menghadirkan dongeng dalam bentuk digital yang interaktif dan bernilai lokal.

Kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD pada 18–19 Oktober 2025 di ruang Eksekutif dan Laboratorium A White Campus Universitas Mulia menjadi ruang eksplorasi bagi mahasiswa calon guru untuk berkreasi sekaligus meneguhkan peran baru mereka di tengah transformasi teknologi pendidikan.

Dari kiri: Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd.; Kaprodi PG-PAUD Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd.; Dekan FHK Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.; dan Erikariyani, S.E., M.M., pendongeng asal Balikpapan yang dikenal luas dengan nama Kak Eri, saat menghadiri pembukaan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital di White Campus Universitas Mulia, Sabtu (18/10).

Kaprodi PG-PAUD, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa HIMA PG-PAUD hadir bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan teknis, melainkan mengusung misi kebudayaan dan literasi digital yang lebih luas.

“Kami ingin mengajak mahasiswa sekaligus calon guru PAUD menjadi guru yang mampu melestarikan budaya Indonesia dan menciptakan konten lokal dalam format digital yang interaktif. Tanpa langkah ini, kita akan kehilangan generasi pembaca karena guru tidak mampu menawarkan cerita di ‘layar’—tempat anak-anak kini bernaung,” ujarnya.

Mahasiswa PG-PAUD tampak antusias mengikuti sesi praktik pembuatan buku dongeng digital di ruang Laboratorium A White Campus Universitas Mulia.

Menurut Bety, guru PAUD masa kini tidak lagi cukup hanya menjadi pencerita yang menuturkan kisah di depan kelas. Mereka harus naik peran menjadi kurator konten dan pendongeng digital (digital storyteller) yang mampu memadukan nilai-nilai budaya dengan medium teknologi yang akrab dengan dunia anak-anak.

“Guru bukan sekadar pencerita, tapi content curator dan digital storyteller. Ia harus mampu memilah aplikasi, meramu dongeng lisan nenek moyang menjadi file digital yang bisa diklik, dan tetap menjadi filter agar anak tidak hanya jadi konsumen pasif,” jelasnya.

Pendongeng Balikpapan Kak Eri berbagi pengalaman dan teknik mendongeng interaktif di era digital kepada peserta workshop.

Bety menekankan bahwa di tengah derasnya arus konten digital global, guru memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak tetap tumbuh dengan akar budaya sendiri. Buku dongeng digital yang diciptakan mahasiswa diharapkan menjadi jembatan antara nilai-nilai lokal dan dunia digital tempat anak belajar.

“Guru tetap menjadi jantung, hanya saja kini berdetak dalam ritme digital untuk menyesuaikan kebutuhan zaman. Melalui karya buku dongeng digital, guru dapat menghadirkan tontonan yang mendidik dan bermuatan pesan moral bagi generasi emas,” tambahnya.

Ketua HIMA PG-PAUD menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Kak Eri sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital.

Melalui kegiatan ini, Prodi PG-PAUD Universitas Mulia berupaya membangun ekosistem belajar yang menumbuhkan kreativitas digital berbasis budaya. Setiap karya yang lahir diharapkan bukan hanya menjadi produk akademik, tetapi juga kontribusi nyata untuk literasi anak usia dini Indonesia di era layar. (YMN)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan, 30 September 2025 – Universitas Mulia kini semakin memperkuat langkahnya dalam membangun budaya mutu dan tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas. Sebanyak 16 dosen resmi dinyatakan lulus sebagai Auditor Mutu Internal (AMI) setelah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari pada 10–11 September 2025 dan menempuh serangkaian uji sertifikasi yang mencakup uji kompetensi teknis dan psikotest khusus auditor.

Pelatihan ini menjadi bagian penting dari strategi universitas dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penjaminan mutu. Selama proses pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan menyeluruh mulai dari pemahaman regulasi dan standar mutu pendidikan tinggi, teknik audit dan penyusunan laporan, hingga simulasi audit lapangan. Materi disampaikan oleh para praktisi dan narasumber berpengalaman di bidang penjaminan mutu perguruan tinggi, sehingga peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan audit di lingkungan universitas.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan momentum penting bagi Universitas Mulia dalam memperkuat komitmen terhadap mutu tridharma perguruan tinggi. “Fokus kita bukan pada skor individu, tetapi pada kenyataan bahwa sekarang Universitas Mulia memiliki 16 auditor bersertifikat yang siap bekerja memastikan mutu tridharma berjalan sesuai standar,” ujarnya. Ia menambahkan, keberadaan para auditor baru ini akan memperkuat pelaksanaan audit di seluruh fakultas, program studi, dan unit kerja, sekaligus memastikan bahwa hasil audit dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dan perencanaan perbaikan berkelanjutan.

Lebih jauh, Wibisono menjelaskan bahwa keberadaan auditor internal merupakan salah satu elemen vital dalam penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi. SPMI merupakan instrumen utama untuk memastikan seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berjalan sesuai standar nasional dan visi institusi. Implementasinya dilakukan melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, audit mutu internal menempati posisi strategis pada tahap Evaluasi, yaitu memeriksa sejauh mana standar telah diterapkan secara efektif dan konsisten.

“Evaluasi yang objektif tidak dapat dilakukan oleh pimpinan unitnya sendiri. Di sinilah peran auditor dari unit lain menjadi penting untuk memastikan proses evaluasi berlangsung secara independen, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terang Wibisono.

Meski demikian, pelaksanaan AMI di perguruan tinggi tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan sikap positif di setiap unit kerja terhadap kehadiran auditor. Menurut Wibisono, paradigma berpikir tentang audit harus bergeser dari kesan pengawasan yang menakutkan menjadi kemitraan yang konstruktif. “Auditor tidak datang untuk mencari kesalahan, tetapi membantu unit kerja melihat sejauh mana standar telah diterapkan dan di mana peluang perbaikannya. Audit seharusnya disambut sebagai upaya kolaboratif dalam memperkuat kualitas institusi,” ujarnya.

Wibisono juga menekankan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menjadi auditor. Integritas, sikap profesional, dan sensitivitas terhadap konteks kerja menjadi faktor yang tidak kalah penting. Seorang auditor dituntut tidak bersikap arogan atau menghakimi, namun tetap tegas, objektif, dan berpegang pada fakta. “Peran normatif auditor adalah memastikan bahwa seluruh standar yang telah ditetapkan benar-benar dilaksanakan. Namun pada saat yang sama, auditor juga perlu memiliki kepekaan untuk melihat peluang perbaikan dalam semangat continuous improvement,” tegasnya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat berdiskusi pada sesi tanya jawab dalam pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa jika auditor menemukan bahwa suatu standar terlalu mudah dicapai, hal itu dapat menjadi indikasi perlunya peningkatan standar tersebut agar proses pelaksanaan tridharma maupun layanan institusi terus terdorong ke arah yang lebih baik. “Proses perbaikan ini tidak boleh berhenti. Justru harus terus berlanjut agar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu institusi secara menyeluruh,” tambahnya.

Kehadiran 16 auditor baru ini tidak hanya menjadi capaian administratif, tetapi juga langkah strategis yang menguatkan fondasi tata kelola Universitas Mulia. Hal ini semakin relevan mengingat pada tahun 2026, universitas akan memasuki fase transformasi menjadi Research and Innovation University, setelah sebelumnya berfokus pada peran sebagai Teaching University. Perubahan orientasi ini menuntut standar mutu yang lebih tinggi, pengelolaan yang lebih sistematis, dan budaya perbaikan berkelanjutan di seluruh lini organisasi.

“Para auditor ini akan menjadi bagian dari ekosistem mutu yang memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, terus diperbarui, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah langkah awal yang penting untuk membawa Universitas Mulia ke level yang lebih tinggi,” pungkas Wibisono. (YMN)