“Momentum 1 Muharram mengingatkan kita bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan, tetapi menghidupkan nilai Islam dalam sikap sehari-hari—sebuah hijrah dari apatis menjadi peduli, dari konsumtif menjadi produktif, dan dari egois menjadi kontributif.” Isa Rosita, S.Kom., M.Cs.

Humas Universitas Mulia, 28 Juni 2025 — Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Izzah Mahasiswa Universitas Mulia (UM) menggelar Tabligh Akbar bertema “Generasi Berhijrah: Dari Kebiasaan Buruk Menuju Keberkahan Hidup.” Kegiatan ini tak hanya menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun karakter mahasiswa berbasis nilai-nilai Islam.

Para jama’ah perempuan melakukan registrasi peserta Tabligh Akbar, disambut ramah oleh panitia akhwat pejuang dakwah LDK Al-Izzah.

Isa Rosita, S.Kom., M.Cs., selaku Dosen Pembina LDK Al-Izzah, menegaskan bahwa filosofi utama dalam membimbing mahasiswa adalah menempatkan kegiatan keagamaan bukan sekadar ritual, melainkan sarana pembentukan karakter.

Ketua LAZ Nurul Hayat Kota Balikpapan, Kang Adib, memberikan sambutan pada pembukaan Tabligh Akbar. Semoga Nurul Hayat semakin luas menebar manfaat dan terus berkolaborasi di jalan dakwah bersama Al-Izzah UM. Aamiin.

“Saya berusaha mengajak mahasiswa melihat program kerja mereka sebagai media belajar bertanggung jawab, memperkuat akhlak mulia, dan membangun ukhuwah. Dakwah bukan hanya menyampaikan, tetapi juga menghidupkan nilai Islam dalam sikap sehari-hari,” ujar Ibu Isa.

Ia mencontohkan, kolaborasi menjadi kunci dakwah yang berdampak. Tabligh Akbar kali ini turut melibatkan tiga lembaga sekaligus: DKM Masjid Jami’ Nurul Iman, LAZ Nurul Hayat Kota Balikpapan, dan Human Initiative. “Semakin banyak pihak yang diajak berkolaborasi, semakin luas jangkauan dakwahnya. Dakwah itu kerja bersama, amal jama’i,” tambahnya.

Para akhwat pejuang dakwah LDK Al-Izzah berpose bersama sesaat sebelum Tabligh Akbar 1 Muharram dimulai.

1 Muharram: Momentum Hijrah Mahasiswa

Dalam konteks pendidikan tinggi, Isa menekankan bahwa 1 Muharram harus dimaknai lebih dari sekadar penanggalan baru. “1 Muharram adalah simbol hijrah, bukan hanya secara geografis, tetapi juga spiritual dan moral. Di kampus, momentum ini relevan untuk mengajak mahasiswa hijrah dari apatis menjadi peduli, dari konsumtif menjadi produktif, dan dari egois menjadi kontributif,” terangnya.

Ketua LDK Al-Izzah Universitas Mulia menyampaikan sambutan sebagai Ketua Panitia Tabligh Akbar.

Tema yang diangkat, “Generasi Berhijrah,” menurutnya sejalan dengan visi membangun generasi muda kuat karakter dan tangguh secara intelektual.

Tantangan Dakwah di Era Digital

Meskipun demikian, Isa tak menutup mata terhadap tantangan dakwah di era digital yang penuh disrupsi nilai. Menurutnya, tantangan terberat adalah menjaga keseimbangan antara substansi dakwah dan penyajian yang relevan bagi generasi digital.

“Informasi sekarang cepat tapi seringkali dangkal. Kami berusaha agar dakwah tetap mendalam, solutif, tapi juga menarik. Tantangan lain adalah menjaga ukhuwah di tengah kecenderungan individualisme digital dan apatisme mahasiswa,” ungkapnya.

Strategi Agar Dakwah Merangkul Semua

Agar kegiatan spiritual tak hanya diminati oleh mahasiswa yang aktif rohani, strategi inklusif diterapkan melalui tema universal dan pendekatan kreatif. “Kami selalu mengangkat tema yang lintas disiplin atau isu sosial. Kegiatan dakwah juga kami kolaborasikan dengan media digital, sosial media, hingga teknologi interaktif agar lebih merangkul semua mahasiswa,” jelasnya.

Para aktivis dakwah dari Nurul Hayat turut hadir mendukung Tabligh Akbar di Masjid Nurul Iman.

Peran Strategis LDK

Lebih jauh, Ibu Isa melihat LDK berperan strategis dalam mendukung misi UM sebagai institusi pencetak intelektual beretika dan bermoral.

“LDK adalah ruang pembinaan karakter yang mendalam. Mahasiswa belajar kepekaan sosial, integritas, dan tanggung jawab moral. Ini sejalan dengan misi universitas: mencetak intelektual yang kompeten, berjiwa pemimpin, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Sinergi Berkelanjutan

Agar agenda dakwah kampus tak hanya insidental, Ibu Isa menekankan pentingnya sinergi pembina, kampus, dan mahasiswa. “Sinergi ideal terbentuk jika ada komunikasi terbuka dan dukungan struktural dari kampus. Pembina menjadi jembatan antara idealisme mahasiswa dan kebijakan kampus. Ketika visi kita sama, maka keberlanjutan bukan hal yang sulit dicapai,” pungkasnya.

Jamaah ikhwan dari kalangan mahasiswa, pengurus masjid, dan warga sekitar hadir memenuhi shaf Tabligh Akbar.

Kegiatan Tabligh Akbar 1 Muharram ini menjadi bukti nyata komitmen Al-Izzah UM, bersama mitra seperti LAZ Nurul Hayat, untuk menanamkan nilai hijrah dan semangat perubahan di hati generasi muda—bahwa dakwah bukan hanya panggung ceramah, tetapi panggilan hidup untuk berbuat nyata.

Humas UM (YMN)

“Kami ingin mahasiswa belajar tidak hanya dari buku, tapi dari peluh, kegigihan, dan dapur bisnis yang sesungguhnya.”  — Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 27 Juni 2025— Sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual dan penguatan ekosistem kewirausahaan kampus, mahasiswa Universitas Mulia melakukan kegiatan Business Visit ke salah satu jaringan kuliner nasional ternama, Waroeng Steak. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana interaktif dan inspiratif, mempertemukan mahasiswa dengan dunia usaha secara langsung dan nyata.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan Waroeng Steak sebagai destinasi bukan tanpa alasan. “Waroeng Steak adalah UMKM yang mampu bertahan lebih dari dua dekade. Saat ini telah menjadi grup perusahaan yang menaungi beberapa usaha dan memiliki lebih dari 120 cabang di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Mahasiswa Universitas Mulia saat mengikuti kegiatan Business Visit yang diselenggarakan oleh Inkubator Bisnis UM di Waroeng Steak. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual untuk mengasah kompetensi kewirausahaan secara langsung di dunia usaha.

Pembelajaran Kontekstual yang Mengasah Mental Wirausaha

Business visit ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM serta Manajemen Inovasi. Menurut Dr. Linda, kunjungan semacam ini menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna karena mahasiswa tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga bersentuhan langsung dengan realitas industri.

“Ini adalah bentuk experiential learning yang kami dorong. Selain sesi sharing bersama pelaku usaha, mahasiswa juga diajak berkeliling ke dapur produksi dan menjelajahi setiap sudut ruangan operasional di Waroeng Steak,” jelasnya.

Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan sejumlah kompetensi strategis, antara lain: kemampuan mengelola usaha, menciptakan inovasi, memahami budaya organisasi, serta ketahanan bisnis. Hal ini, menurut Dr. Linda, merupakan inti dari pembangunan karakter entrepreneur sejati.

Usai sesi diskusi serius, para mahasiswa tak melewatkan kesempatan untuk mencicipi steak dan aneka kudapan khas Waroeng Steak. Bukan hanya ilmunya yang diserap, tapi juga rasanya yang ‘diendapkan’. Belajar bisnis sambil kenyang: inilah kurikulum yang disukai semua orang!

Dari Observasi Menuju Aksi dan Inspirasi

Tidak hanya menjadi sarana observasi, business visit ini juga merupakan bagian dari metode penilaian pembelajaran berbasis studi kasus. “Kami menggunakan pendekatan analisis terhadap perusahaan-perusahaan nyata sebagai bagian dari evaluasi akademik. Hal ini memperkuat relevansi kurikulum dengan dunia usaha,” imbuhnya.

Mahasiswa yang mengikuti kunjungan ini menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak dari mereka aktif bertanya tentang strategi bisnis, inovasi produk, hingga pengelolaan sumber daya manusia. Bahkan, menurut Dr. Linda, kegiatan ini memberi dorongan nyata bagi mahasiswa yang telah memiliki usaha untuk mengembangkan bisnis mereka lebih jauh.

“Salah satu indikator keberhasilan kegiatan ini adalah munculnya motivasi baru dari mahasiswa untuk memulai atau mengembangkan usaha yang mereka miliki. Ini adalah bentuk learning outcome yang sangat nyata,” ujarnya.

Waroeng Steak sebagai Benchmark Bisnis

Dr. Linda menegaskan bahwa Waroeng Steak merupakan contoh nyata benchmark model bisnis yang relevan untuk startup mahasiswa. Ketangguhan bisnis yang telah bertahan lebih dari 20 tahun, khususnya di sektor kuliner yang sangat kompetitif, menjadi studi kasus yang sangat kaya.

“Tidak banyak UMKM di sektor kuliner yang mampu bertahan sejauh ini. Maka, kami ingin mahasiswa belajar langsung dari pelaku yang telah membuktikan resiliensinya dalam menghadapi tantangan pasar dan dinamika usaha,” katanya.

Foto bersama Manager Waroeng Steak dan Dr. Linda (tengah), Kepala Inkubator Bisnis UM, bersama para mahasiswa peserta business visit. Kolaborasi akademik dan industri yang hangat, inspiratif, dan (tentu saja) penuh cita rasa.

Menuju Kolaborasi Strategis dan Publikasi Akademik

Dalam jangka panjang, Dr. Linda menyebutkan bahwa Universitas Mulia sangat terbuka untuk menjalin kerja sama dengan Waroeng Steak, baik dalam bentuk program magang, mentoring, riset, maupun rekrutmen.

Selain itu, kegiatan seperti ini juga akan didokumentasikan sebagai bagian dari studi kasus lokal yang dapat digunakan dalam materi ajar maupun publikasi kampus. “Dengan publikasi, kita bisa memperkuat brand image Universitas Mulia sebagai kampus yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga relevan dalam praktik,” pungkasnya.

Pesan untuk Mahasiswa: Mulailah Usahamu, Sekarang!

Di akhir wawancara, Dr. Linda memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa. “Bisnis hari ini sangat terbuka di bidang apapun, apalagi dengan dukungan teknologi.

Siapapun bisa memulai, asal ada kemauan. Saya berharap akan muncul lebih banyak ide usaha kreatif dari mahasiswa Universitas Mulia,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan kewirausahaan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga soal mindset. “Kita ingin membangun mental wirausaha dalam diri mahasiswa. Itu yang akan menjadi bekal jangka panjang,” tutupnya.

Humas UM (YMN)

“Debat ini bukan ajang saling menjatuhkan, tapi ruang membangun gagasan dan menunjukkan integritas. Inilah proses lahirnya pemimpin muda yang siap merangkul, bukan memecah.”
Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 26 Juni 2025 – Suasana semangat dan antusiasme mewarnai gelaran debat Calon Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia, sebuah forum yang tidak hanya menjadi bagian dari tahapan Pemira, tetapi juga menjadi cermin hidupnya budaya demokrasi di lingkungan kampus.

Para pimpinan Universitas Mulia, dosen pembina kemahasiswaan, panitia Pemira, para calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, serta ratusan mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya pada seremonial pembukaan debat Presma.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menegaskan bahwa debat ini merupakan ajang strategis dalam membentuk karakter dan kapasitas kepemimpinan mahasiswa.

“Debat ini bukan sekadar formalitas, tetapi perwujudan konkret dari demokrasi kampus—tempat di mana gagasan diuji, visi diuji, dan integritas diperlihatkan,” ujarnya di hadapan para pimpinan universitas, dosen pembina kemahasiswaan, panitia Pemira, para calon presiden dan wakil presiden mahasiswa, serta ratusan mahasiswa yang hadir.

Menurut Rektor, forum debat semacam ini bukan hanya melatih keberanian berbicara, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur pendidikan tinggi seperti kebebasan berpendapat, penghargaan terhadap keberagaman pandangan, dan keberanian menyampaikan kebenaran secara santun. Hal ini sejalan dengan semangat Universitas Mulia yang mengusung technopreneurship dan keunggulan karakter sebagai pilar utama pembelajaran.

Ratusan mahasiswa Universitas Mulia dengan antusias mengikuti jalannya debat calon Presiden Mahasiswa di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Kepada para kandidat, Rektor menyampaikan pesan moral yang kuat agar debat dijadikan ajang membangun gagasan, bukan saling menjatuhkan.

“Gunakan kesempatan ini untuk membangun narasi kebaikan dan kolaborasi. Tunjukkan bahwa Anda siap memimpin dengan gagasan, bukan sekadar jargon,” tegasnya.

Tak kalah penting, Rektor juga mengajak seluruh mahasiswa untuk aktif terlibat dalam proses demokrasi kampus ini. Ia mendorong mahasiswa menjadi pemilih cerdas yang menilai calon berdasarkan visi, integritas, dan kesiapan memimpin. “Sebab kualitas BEM ke depan adalah cerminan dari pilihan kita hari ini,” tandasnya.

Para calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa berpose bersama usai sesi debat, menunjukkan semangat sportivitas dan kolaborasi.

Debat ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kepemimpinan mahasiswa yang kontekstual, membumi, dan relevan dengan tantangan zaman. Bagi Universitas Mulia, setiap forum seperti ini adalah bagian dari ruang tempa—menyiapkan generasi muda yang intelektual, berintegritas, dan siap bersaing di kancah global.

Kegiatan debat ditutup dengan semangat persatuan dan harapan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya, akan menjadi pemimpin yang mampu merangkul, membangun, dan memajukan mahasiswa Universitas Mulia secara kolektif.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 26 Juni 2025 — Debat calon Presiden Mahasiswa (Presma) yang digelar di Universitas Mulia tidak hanya menjadi ajang tahunan dalam rangkaian Pemilihan Raya (Pemira), tetapi telah menjelma menjadi ruang pembelajaran demokrasi substantif. Hal ini ditegaskan oleh Bapak Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni , yang dimintai keterangan dalam rangka penguatan perspektif akademik terhadap kegiatan tersebut.

Suasana khidmat saat berlangsungnya seremonial pembukaan rangkaian kegiatan Pemilihan Raya Presiden Mahasiswa Universitas Mulia.

“Debat calon presiden mahasiswa merupakan laboratorium demokrasi yang sangat berharga di perguruan tinggi. Ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembelajaran yang mengajarkan kompetisi gagasan, transparansi, dan akuntabilitas publik,” ujarnya.

Menguji Gagasan, Melatih Kepemimpinan Intelektual

Menurut Riski, kualitas debat juga menjadi refleksi langsung dari proses pendidikan yang dijalankan universitas. Saat para kandidat mampu menyampaikan visi yang terstruktur, menawarkan solusi berbasis data, dan merespons pertanyaan dengan kedalaman analisis, saat itulah nalar kritis dan kepemimpinan intelektual mahasiswa benar-benar diuji.

Para mahasiswa menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dengan penuh semangat pada pembukaan resmi debat calon Presiden Mahasiswa.

“Kepemimpinan intelektual tercermin dari kemampuan mengintegrasikan teori dengan praktik serta menghadirkan inovasi yang kontekstual,” imbuhnya.

Nilai-Nilai Demokrasi dan Ukuran Debat Berkualitas

Riski menekankan bahwa Pemira seharusnya menjadi wahana penanaman nilai-nilai utama: integritas, transparansi, inklusivitas, kolaborasi, serta orientasi terhadap kepentingan bersama. Ia juga menambahkan bahwa indikator debat berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan retorika, tetapi lebih pada kedalaman substansi, respons kritis, serta konsistensi antara visi dan program kerja.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat peningkatan dalam hal penguasaan data dan pendekatan berbasis bukti (evidence-based). Meski begitu, peningkatan keberanian dalam mengambil posisi yang benar walau tidak populer tetap menjadi catatan penting.

Lagu Mars Universitas Mulia menggema di ruang acara, dinyanyikan secara serempak sebagai bentuk kebanggaan dan semangat sivitas akademika.

Menata Format, Menembus Isu Nasional

Riski juga mengusulkan penyegaran pada format debat. Selain tanya jawab antar kandidat, penting untuk melibatkan audiens dan menguji kandidat dalam simulasi kasus nyata. Ia juga mendorong agar isu-isu yang diangkat melampaui urusan internal kampus, termasuk keterlibatan BEM dalam isu nasional dan global yang relevan dengan mahasiswa.

Para pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa berpose bersama menjelang pemilihan, siap mengadu gagasan dan visi untuk kepemimpinan mahasiswa.

Presma sebagai Representasi dan Mitra Kritis

Menanggapi posisi strategis Presiden Mahasiswa, ia menyatakan bahwa pemimpin mahasiswa harus mampu memainkan dua peran sekaligus: menjadi representasi mahasiswa dan menjadi mitra kritis institusi.

“Presma adalah tangan kanan untuk kepentingan birokrasi dan tangan kiri untuk kepentingan mahasiswa. Komunikasi terbuka dan berbasis data menjadi kunci sinergi yang sehat,” jelasnya.

Sejumlah mahasiswa berfoto bersama menjelang pelaksanaan Pemira, menandai partisipasi aktif mereka dalam pesta demokrasi kampus.

Menjawab Tantangan Era Digital

Dalam menghadapi tantangan era digital, calon pemimpin mahasiswa dituntut memiliki literasi digital yang tinggi dan kemampuan membangun dialog konstruktif di ruang maya. Debat juga menjadi sarana untuk melatih sensitivitas terhadap isu disinformasi dan polarisasi opini.

BEM sebagai Katalis Akademik dan Sosial

Lebih lanjut, Riski juga menekankan bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) harus menjadi katalis ekosistem akademik yang sehat. Ini mencakup mendorong budaya riset, menjembatani dunia industri, hingga melibatkan mahasiswa dalam kerja sosial yang bermakna.

“Demokrasi kampus jangan berhenti sebagai ritual administratif, tapi menjadi ruang pembelajaran sosial yang mengakar dan membangun,” katanya.

Menuju Pemira yang Substantif dan Rasional

Untuk menjauhkan Pemira dari jebakan politik identitas dan popularitas semu, pihak WR III menyiapkan mekanisme seleksi berbasis visi, rekam jejak akademik, serta kapasitas kepemimpinan nyata. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan 360 derajat.

Membentuk Pemimpin Masa Depan

Universitas Mulia tengah mengembangkan Leadership Development Pipeline, mencakup pelatihan, mentoring alumni, hingga pengiriman mahasiswa ke forum kepemimpinan nasional dan internasional. Tujuannya jelas: melahirkan pemimpin yang tidak hanya siap saat Pemira, tapi matang secara berkelanjutan.

Humas UM (YMN)

“Jadilah pelopor, bukan hanya peserta. Mahasiswa angkatan pertama adalah penulis bab pertama dalam sejarah program studi.”
— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 26 Juni 2025 – Universitas Mulia kembali mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan program akademiknya. Dua program studi baru, yakni S1 Teknik Sipil dan S1 Teknik Industri, resmi memperoleh akreditasi peringkat “Baik” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (LAM Teknik). Keputusan ini menjadi titik awal yang menjanjikan bagi dua prodi yang baru dibuka pada tahun akademik 2024/2025 ini.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan bahwa capaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju mutu unggul.

“Akreditasi sementara ini sebagai titik awal untuk melakukan penguatan berkelanjutan, baik dari sisi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pengembangan laboratorium, maupun peningkatan SDM dan kolaborasi industri,” terang beliau.

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar formalitas administratif, tetapi bagian dari siklus peningkatan mutu berkelanjutan (Continuous Quality Improvement/CQI), yang akan diarahkan melalui strategi jangka menengah dan panjang sesuai Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Tambahan (IKT) dari Kemendikbudristek.

Akreditasi “Baik”: Legalitas dan Awal Budaya Mutu

Menurut Rektor, akreditasi “Baik” bukan hanya menjadi syarat legal formal untuk menyelenggarakan perkuliahan dan menerbitkan ijazah, tetapi juga menjadi sinyal bahwa pondasi mutu telah ditanamkan secara tepat.

“Meskipun levelnya belum tinggi, capaian ini menjadi indikator bahwa pondasi yang dibangun sudah benar dan dapat dikembangkan lebih lanjut,” ujarnya.

Hal ini penting terutama dalam konteks pembentukan budaya mutu di level program studi, sebuah langkah strategis bagi kampus yang terus berkembang pesat.

Tantangan Prodi Baru: Dari Ketiadaan Lulusan hingga Sarana Teknik

Mendirikan program studi teknik tidak datang tanpa tantangan. Pak Rektor memaparkan dua hambatan besar yang dihadapi dalam proses akreditasi, yakni:

  1. Belum tersedianya data luaran tridharma secara penuh, seperti lulusan, publikasi ilmiah dosen, dan pengabdian masyarakat.

  2. Keterbatasan sarana dan prasarana teknik, seperti laboratorium, bengkel kerja, serta fasilitas uji material.

Namun, UM justru menjadikan keterbatasan ini sebagai ruang inovasi dan pengembangan yang terstruktur.

Rencana Penguatan: Dari Kurikulum hingga Kolaborasi Industri

Pasca-akreditasi, universitas telah menyusun delapan langkah strategis, yakni:

  1. Evaluasi diri pasca-akreditasi

  2. Integrasi dengan sistem penjaminan mutu internal (SPMI)

  3. Penyempurnaan kurikulum OBE

  4. Pengembangan metode pembelajaran berbasis proyek dan laboratorium

  5. Penguatan SDM dosen dan tenaga kependidikan

  6. Pengembangan sarana dan teknologi penunjang

  7. Kemitraan strategis dengan industri dan institusi lain

  8. Persiapan akreditasi lanjutan dengan dokumen LKPS dan LED berbasis data


Harapan untuk Dosen dan Mahasiswa: Menjadi Pelopor di Era Baru

Rektor memberikan pesan khusus kepada dosen dan mahasiswa angkatan pertama. Para dosen diminta membangun suasana belajar yang inspiratif dan relevan dengan perubahan teknologi serta menjunjung tinggi semangat technopreneurship.

“Prodi yang hebat bukan dibangun oleh fasilitas semata, tetapi oleh dosen yang gigih membangun mutu dan semangat belajar.”

Kepada mahasiswa baru, beliau berpesan:

“Jadilah pelopor dan peletak batu pertama dalam sejarah program studi ini. Pelajari ilmu teknik bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk membangun masa depan Indonesia yang berkelanjutan, tangguh, dan berdaya saing global.”

Menuju Masa Depan Teknik yang Relevan dan Adaptif

Dengan kombinasi semangat pionir, strategi akademik yang visioner, serta komitmen terhadap mutu, Universitas Mulia menunjukkan bahwa meskipun Prodi Teknik Sipil dan Teknik Industri baru dimulai, keduanya dibangun di atas fondasi yang kuat untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan pembangunan bangsa, terutama di Kalimantan dan Ibu Kota Nusantara.

Humas UM (YMN)


“KKN bukan sekadar tugas kurikulum, tetapi wahana nyata yang mempertemukan mahasiswa dengan kehidupan. Proses ini membentuk kepemimpinan, empati, dan kemanusiaan melalui pembelajaran berbasis pengalaman.”
— Dr. Pudjiati, S.E., M.M., Koordinator KKN UM 2025

Humas Universitas Mulia, 25 Juni 2025— Sebanyak 420 mahasiswa Universitas Mulia (UM) dari berbagai program studi akan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2025 yang tersebar di 6 kecamatan dan 24 kelurahan di seluruh wilayah Kota Balikpapan. Dalam kegiatan pembekalan yang digelar di Ballroom Cheng Hoo hari ini, Ibu Pudji sebagai koordinator KKN menyampaikan bahwa KKN bukan sekadar kewajiban kurikulum, tetapi merupakan wahana strategis dalam membentuk insan pembelajar yang utuh.

Para Dosen Pembimbing Lapangan bersama peserta KKN Universitas Mulia 2025 menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh semangat dalam seremonial pembukaan pembekalan KKN.

 

Para mahasiswa berasal dari Program Studi Akuntansi, Hukum, Informatika, Manajemen, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Farmasi. Mereka akan dibimbing oleh 21 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yang tidak hanya berperan sebagai pengawas tetapi juga fasilitator refleksi kritis mahasiswa selama proses KKN berlangsung.

Mahasiswa peserta KKN Universitas Mulia 2025 menyanyikan Mars Balikpapan dengan khidmat sebagai bentuk kecintaan terhadap daerah tempat pengabdian.

Pelaksanaan KKN akan dimulai pada 22 Juli hingga 25 Agustus 2025. Mahasiswa akan dilepas secara resmi pada 21 Juli dan langsung diterima oleh masing-masing kelurahan dengan pendampingan dari DPL. Berbeda dari pola konvensional, mayoritas mahasiswa tidak tinggal di lokasi KKN, mengingat sebagian besar dari mereka merupakan pekerja. Kegiatan akan dilakukan saat mereka hadir di lokasi sesuai dengan pembagian tugas dan strategi kelompok.

Sekretaris LPPM Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak.; Sekretaris Rektor Suhartati, S.E., M.Kom.; dan Ketua Branding Universitas Mulia, Tatang, turut hadir dalam seremonial pembukaan dan pelepasan KKN 2025.

Setiap kelompok KKN terdiri dari 20 mahasiswa lintas prodi. Tidak ada tema tunggal yang ditetapkan, melainkan diserahkan kepada masing-masing kelompok berdasarkan hasil orientasi dan kebutuhan spesifik di lokasi. Mitra kerja juga akan ditentukan langsung oleh mahasiswa sesuai potensi dan permasalahan di masyarakat.

“Jadilah solusi, bukan beban. Tawarkan program sederhana tapi relevan. Kecil tak mengapa, asal bermanfaat dan bisa dilanjutkan masyarakat.” — Dr. Pudjiati, S.E., M.M.

“Mahasiswa tidak hanya belajar untuk tahu, tapi untuk mampu dan menjadi. Di sinilah KKN menjadi instrumen nyata dalam mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pencapaian CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan),” tegas Ibu Pudji.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa KKN harus menjadi platform pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman.

“Perlu ada perubahan paradigma, dari pengabdian simbolik ke kolaborasi strategis. Dalam semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), KKN harus mempertemukan ilmu, aksi sosial, dan transformasi diri mahasiswa dalam kehidupan nyata masyarakat.”

DPL memiliki peran krusial dalam proses ini. Tidak hanya memantau, tetapi juga membimbing secara mendalam. Pemantauan dilakukan melalui laporan berkala dan grup WhatsApp, sementara evaluasi dilakukan berdasarkan progres kegiatan dan umpan balik dari masyarakat.

Dr. Pudji saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa Universitas Mulia peserta KKN 2025 dengan penuh inspirasi dan penekanan nilai-nilai transformatif.

Harapan besar dititipkan kepada para peserta KKN.

“Jadilah solusi, bukan beban. Hadirlah dengan niat tulus untuk membantu. Tawarkan program sederhana tapi relevan. Kecil tidak masalah, asalkan bermanfaat dan bisa dilanjutkan masyarakat setelah kalian pergi,” pesan Ibu Pudji menutup pembekalan.

Dengan semangat menjadi agen perubahan, mahasiswa UM diharapkan mampu membawa perubahan positif, baik bagi masyarakat yang mereka dampingi maupun bagi perkembangan diri mereka sendiri sebagai calon pemimpin masa depan yang berintegritas, berempati, dan solutif.

Humas UM (YMN)

“KKN adalah kristalisasi Tri Dharma—di sanalah pendidikan menemukan konteksnya, penelitian menemukan penerapannya, dan pengabdian menemukan maknanya.”
Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si

Humas Universitas Mulia, 24 Juni 2025 – Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., memberikan pembekalan inspiratif kepada ratusan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tajuk “Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dalam Pemberdayaan Masyarakat”. Dalam orasinya yang bernuansa akademik dan sarat nilai transformatif, Prof. Ahsin menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan panggilan strategis untuk mengubah realitas sosial masyarakat dari level akar rumput.

“KKN adalah jembatan antara teori dan realitas; antara ruang kuliah dan kehidupan nyata. Di sinilah mahasiswa diuji: bukan hanya pengetahuannya, tetapi keberpihakannya,” ujar beliau.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. M. Ahsin Rifa’i, M.Si., bersama jajaran pimpinan dan para peserta KKN berfoto bersama usai acara pembukaan Pembekalan KKN Tahun 2025.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. M. Ahsin Rifa’i, M.Si., bersama jajaran pimpinan dan para peserta KKN berfoto bersama usai acara pembukaan Pembekalan KKN Tahun 2025.

Potret Nyata Tantangan Masyarakat

Prof. Ahsin memulai dengan memaparkan berbagai tantangan struktural yang masih membelenggu masyarakat Indonesia: angka kemiskinan yang masih menyentuh 25,9 juta jiwa, prevalensi stunting 21,6% pada balita, hingga ketimpangan infrastruktur pendidikan dan sanitasi dasar.

“Realitas ini harus kita hadapi, bukan hanya dengan rasa iba, tetapi dengan strategi, inovasi, dan keterlibatan langsung,” tegasnya.

Para peserta KKN Universitas Mulia menjalankan program pengabdian di Kelurahan Manggar dengan penuh semangat dan kolaborasi bersama masyarakat setempat.

KKN: Arena Integratif Tri Dharma Perguruan Tinggi

Sejak diperkenalkan pada 1971, KKN telah menjadi bentuk pengabdian wajib bagi mahasiswa Indonesia. Prof. Ahsin menekankan bahwa KKN adalah implementasi konkret dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Mahasiswa bukan sekadar “tamu” di desa, melainkan subjek aktif yang menyatu dan bekerja bersama masyarakat. Mereka dituntut untuk hidup berdampingan, memahami konteks lokal, dan menjadi pemantik perubahan.

Mahasiswa sebagai Katalisator Perubahan Sosial

Dengan lebih dari 7 juta mahasiswa aktif di Indonesia, potensi kolektif mereka dinilai sangat besar untuk mentransformasi desa-desa menjadi pusat inovasi dan pemberdayaan. Mahasiswa, menurut Prof. Ahsin, membawa kekuatan pengetahuan, idealisme, kemampuan adaptif, serta semangat kolaboratif yang menjadi kunci penggerak perubahan.

Ia membagikan studi kasus inspiratif seperti program digitalisasi UMKM di Desa Suka Makmur yang berhasil meningkatkan omzet hingga 25%, dan pembangunan jamban komunal di Sleman yang menurunkan kasus diare balita hingga 40%.

Strategi Optimalisasi KKN: Survei, Sinergi, dan Solusi Nyata

Prof. Ahsin juga memaparkan berbagai strategi untuk meningkatkan efektivitas KKN: survei pra-penempatan, kolaborasi lintas sektor (termasuk LSM dan pemerintah), komunikasi yang membangun kepercayaan masyarakat, serta eksplorasi pendanaan eksternal yang bisa melipatgandakan dampak program.

“Keberhasilan program tidak hanya soal dana, tetapi terutama pada komunikasi dan empati. Mahasiswa harus hadir sebagai pendengar, bukan hanya penyuluh,” ujarnya.

Mengukuhkan Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Sebagai penutup, Prof. Ahsin menyerukan tiga seruan aksi:

  1. Bagi mahasiswa, manfaatkan KKN sebagai medan aktualisasi diri dan kontribusi nyata.

  2. Bagi universitas, perkuat peran institusi dalam memfasilitasi KKN sebagai pembelajaran kontekstual.

  3. Bagi pemerintah dan masyarakat, buka ruang kolaborasi dan sinergi yang berkelanjutan.

“KKN adalah investasi sosial jangka panjang. Dari situlah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang berempati, solutif, dan visioner,” tutupnya.

Humas UM (YMN)

“KKN bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi tentang merajut empati, membangun kolaborasi, dan menciptakan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.”
— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 24 Juni 2025 – Sebagai wujud komitmen terhadap implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa Tahun Akademik 2024/2025. Acara yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dengan sambutan penuh makna yang menegaskan urgensi peran mahasiswa sebagai agen pengabdian sosial.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sumardi, S.Kom., M.Kom., Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, dan Kaprodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M. berdiri di atas panggung saat menyanyikan Mars Universitas Mulia pada pembukaan kegiatan Pembekalan KKN Tahun Akademik 2024/2025.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa KKN bukan sekadar tugas akademik atau formalitas kelulusan, melainkan sebuah proses pembelajaran holistik yang mengasah kemampuan adaptasi, kepekaan sosial, dan kepemimpinan mahasiswa di tengah masyarakat.

“Saudara sekalian akan menjadi duta Universitas Mulia—mewakili nilai-nilai intelektual, integritas, dan inovasi yang kita tanamkan bersama selama perkuliahan,” tegas beliau.

Rektor menjabarkan bahwa pembekalan ini merupakan fase strategis untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai tugas, peran, etika, dan pendekatan sosial yang relevan. Ia mendorong peserta KKN untuk menyusun program kerja yang tidak hanya kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, namun juga memiliki keberlanjutan dampak setelah masa KKN berakhir.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. secara resmi membuka kegiatan Pembekalan KKN melalui pidato akademik yang menekankan pentingnya integritas, kolaborasi, dan kebermanfaatan sosial mahasiswa di masyarakat.

Dalam pidato akademiknya, Rektor menyampaikan tiga poin utama yang harus menjadi prinsip kerja mahasiswa selama menjalankan KKN:

  1. Integritas dan Etika Personal – Mahasiswa diminta menjaga nama baik pribadi, keluarga, dan universitas melalui sikap santun dalam berpakaian, bersikap, dan berinteraksi dengan masyarakat.

  2. Kolaborasi dan Partisipasi Aktif – Mahasiswa harus melibatkan masyarakat secara langsung dalam seluruh proses kegiatan, menjadikan mereka subjek, bukan objek dalam pembangunan sosial.

  3. Kreativitas dan Kebermanfaatan Program – Mahasiswa diimbau untuk merancang program-program inovatif yang meskipun sederhana, mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi komunitas setempat.

Tak lupa, Rektor juga memberi pesan kepada para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan tim LPPM untuk aktif memberikan pendampingan dan membuka ruang dialog dua arah yang mendorong terbentuknya inovasi sosial maupun penelitian terapan.

“Jadikan KKN ini bukan hanya sekadar catatan akademik, tetapi pengalaman hidup yang memperkaya perspektif, membentuk karakter, dan memantapkan komitmen Saudara sebagai insan akademik yang berpihak pada masyarakat,” ujar Prof. Ahsin menutup sambutannya.

Acara pembekalan KKN ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, Ketua LPPM, para Dosen Pembimbing Lapangan, serta panitia pelaksana dan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi yang akan diterjunkan ke sejumlah wilayah mitra.

Suasana kegiatan pembekalan KKN Universitas Mulia. Para peserta terlihat antusias menyimak materi sebagai bekal sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.

Dengan semangat integritas, kolaborasi, dan inovasi, Universitas Mulia kembali mengukuhkan peran strategisnya dalam mencetak generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Humas UM (YMN)

“Inovasi bukan momen jenius yang datang sekali. Ia adalah proses yang konsisten, rendah hati, dan penuh rasa ingin tahu. Kamu tak perlu jadi yang paling pintar—cukup jadi yang paling tangguh dan mudah beradaptasi.”
Sanjith M. Gowda, Manajer R&D

Humas Uni versitas Mulia, 21 Juni 2025 – Dalam lanjutan program Business Coaching yang diinisiasi oleh UPT Inkubator Bisnis Universitas Mulia, hadir narasumber istimewa dari India, Sanjith M. Gowda, seorang R&D Manager dari perusahaan listrik ternama di negaranya. Dalam sesi wawancara eksklusif dengan Tim Humas UM sebelum acara, Sanjith membagikan pandangannya yang tajam dan reflektif mengenai inovasi dan peran pentingnya dalam dunia bisnis masa kini.

Menurutnya, inovasi bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, tetapi bagaimana ide tersebut mampu menyelesaikan masalah nyata secara praktis dan bisa diterapkan dalam skala luas.

“Young entrepreneurs must shift from ‘cool idea’ thinking to ‘what problem am I truly solving?’” ujarnya, menekankan pentingnya empati dan ketekunan dalam berinovasi.

Saat ditanya tentang tahapan penting dalam mengubah ide menjadi produk siap pasar, ia menyebut lima tahap krusial: validasi masalah, desain konsep, uji prototipe, umpan balik pasar, dan rekayasa skalabilitas. Namun, ia menggarisbawahi satu kesalahan umum:

“Most innovators fail at underestimating iteration—they fall in love with version one and stop listening to the user.”

Berkarier di negara dengan populasi terbesar dan pasar yang sangat kompetitif, Sanjith menilai bahwa inovasi di India adalah soal bertahan hidup.

“Frugal innovation is a necessity, not a choice,” katanya. Dengan keterbatasan sumber daya dan ekspektasi tinggi, solusi yang bertahan adalah yang murah, andal, dan bisa disesuaikan.

Ia juga membagikan titik balik dalam kariernya saat timnya berhasil menghemat waktu dan biaya dengan mendesain ulang arsitektur modular untuk dua jenis kendaraan listrik yang berbeda. “That mindset shift was a game-changer,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia mengajak mahasiswa untuk memandang R&D sebagai jantung dari kelangsungan hidup bisnis, bukan sekadar bagian eksperimental. Di negara berkembang seperti Indonesia, inovasi yang berkelanjutan adalah satu-satunya cara untuk tetap relevan.

“R&D isn’t an expense—it’s an investment in survival.”

Berbagai kesalahan umum dalam pengembangan produk juga diungkapnya secara lugas—mulai dari over-engineering, mengabaikan kebutuhan nyata, hingga kurangnya pengujian dan ketidaksiapan produksi massal.

Sanjith juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang dan lintas budaya. “Some of the best solutions emerge when engineers talk to designers, marketers, even users from other countries.” Ia menyarankan mahasiswa untuk mengasah kemampuan mendengar, empati, dan kerja tim lintas latar belakang sejak dini.

Menutup wawancara, Sanjith menyampaikan pesan menyentuh untuk mahasiswa Indonesia:

“Don’t wait to be perfect—start small, fail fast, and listen harder. Innovation isn’t a lone genius moment. It’s a consistent, humble, curious process.”

Webinar ini menjadi panggung inspiratif bagi mahasiswa Universitas Mulia untuk tidak hanya menyerap wawasan global, tapi juga melatih keberanian, rasa ingin tahu, dan kemampuan adaptif—bekal utama dalam menaklukkan dunia inovasi masa depan.

Humas UM (YMN)

 

 

“Jika Indonesia ingin menjadi emas di 2045, maka mahasiswa harus menjadi bara yang menyalakan obor perubahan sejak sekarang.”— Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP

Humas Universitas Mulia, 18 Juni 2025 – Dalam Seminar Nasional yang menjadi bagian dari Kongres BEM Se-Kalimantan XII, Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur sekaligus Ketua Komisi X, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, menyampaikan gagasan strategis tentang pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai fondasi utama menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam paparannya yang berjudul “Membangun SDM Unggul Melalui Pendidikan”, Hetifah menekankan bahwa investasi terbaik bagi bangsa adalah membangun manusia yang berkarakter, adaptif, dan kontributif.

“Indonesia tidak akan sampai pada cita-cita Emas 2045 tanpa pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan merata. Mahasiswa hari ini harus menjadi aktor utama dalam transformasi itu,” ujar Hetifah di hadapan ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Kalimantan.

Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP berdialog dengan para peserta Kongres BEM Se-Kalimantan XII di Universitas Mulia. Dalam sesi ini, Hetifah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan keberanian mahasiswa menjadi katalis perubahan.

Tantangan Nyata Dunia Pendidikan

Hetifah memaparkan sejumlah tantangan besar yang masih membayangi dunia pendidikan di Indonesia, antara lain:

  • Kesenjangan kualitas antara daerah kota dan desa
  • Ketimpangan akses pendidikan
  • Minimnya literasi teknologi dan kepemimpinan partisipatif di kalangan muda

“Disparitas pendidikan ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal kompetensi tenaga pendidik, kurikulum yang belum kontekstual, serta budaya belajar yang belum merata,” tambahnya.

Mahasiswa Harus Jadi Katalis Perubahan

Dalam paparan visionernya, Hetifah mendorong mahasiswa untuk mengembangkan enam kompetensi utama:

  1. Problem solving kontekstual
  2. Kolaborasi lintas sektor
  3. Kewirausahaan sosial
  4. Literasi digital dan teknologi terapan
  5. Komunikasi dan kepemimpinan partisipatoris
  6. Adaptabilitas dan resiliensi sosial

Menurutnya, kompetensi-kompetensi ini bukan hanya penting untuk menghadapi dunia kerja, tapi juga untuk menjawab tantangan sosial di akar rumput.

Dengan penuh semangat, Hetifah menyampaikan materi bertajuk “Membangun SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045” dalam Seminar Nasional BEM Se-Kalimantan. Ia menyoroti urgensi pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Revisi UU Sisdiknas: Jalan Menuju Sistem Pendidikan Masa Depan

Hetifah juga menginformasikan bahwa saat ini Komisi X DPR RI tengah menyusun Revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). RUU ini diharapkan menjadi terobosan legislatif dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, fleksibel, dan tanggap terhadap kebutuhan zaman.

“RUU Sisdiknas ini bukan sekadar reformasi regulasi, tapi juga bentuk tanggung jawab negara untuk menyiapkan generasi emas yang kompetitif secara global,” ujarnya tegas.

Mahasiswa, DPR, dan Masa Depan Bangsa

Di akhir paparannya, Hetifah mengajak mahasiswa untuk menjalin sinergi strategis dengan para pemangku kebijakan.

“Perubahan tidak datang dari ruang tunggu. Mari bersama-sama, mahasiswa dan legislator, menyusun peta jalan menuju Indonesia yang inklusif, maju, dan berdaya,” tutup Hetifah yang juga aktif sebagai Ketua Umum KPPG dan anggota Majelis Wali Amanat UPI.

Humas UM (YMN)