Strategic Review BSC: Fakultas Teknik Universitas Mulia Menempatkan Fondasi Keilmuan sebagai Basis Inovasi dan Adaptasi Teknologi
Balikpapan, 24 Juni 2026– Di tengah pembahasan Strategic Review Balanced Scorecard Universitas Mulia, berbagai fakultas dan program studi menelaah kembali bagaimana visi Universitas Mulia 2045 dapat diterjemahkan ke dalam strategi yang relevan dengan perubahan zaman. Jika sebagian unit berbicara mengenai transformasi digital, technopreneurship, dan penguatan daya saing lulusan, Fakultas Teknik menghadirkan satu perspektif yang tidak kalah penting: kemajuan teknologi harus dibangun di atas fondasi keilmuan yang kuat.
Pandangan tersebut mengemuka ketika Fakultas Teknik meninjau kembali perannya dalam mendukung identitas Universitas Mulia sebagai perguruan tinggi berbasis technopreneurship. Bagi fakultas yang menaungi berbagai bidang rekayasa dan teknologi tersebut, tantangan masa depan bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan bahwa lulusan memiliki kemampuan memahami, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara tepat.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Mulia, Dr. Pascarianto Putra Bura, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa semangat technopreneurship yang menjadi ciri khas Universitas Mulia diterjemahkan melalui proses pembelajaran yang berorientasi pada praktik dan penyelesaian persoalan nyata.
Menurutnya, mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengalami sendiri proses merancang, menguji, mengevaluasi, hingga menyempurnakan sebuah solusi berdasarkan disiplin ilmu yang mereka pelajari.
“Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menghasilkan karya atau produk sesuai bidang keilmuannya melalui berbagai kegiatan berbasis proyek,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penerapan project-based learning yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di Fakultas Teknik.
Pada Program Studi Teknik Sipil misalnya, mahasiswa tidak langsung diperkenalkan pada perangkat lunak desain. Mereka terlebih dahulu mempelajari prinsip-prinsip dasar gambar teknik secara manual sebelum menggunakan teknologi Computer-Aided Design (CAD). Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa memahami logika dan konsep yang mendasari setiap proses perencanaan.
Prinsip yang sama juga terlihat pada berbagai kegiatan praktikum di lingkungan fakultas. Mahasiswa tidak hanya menghasilkan produk atau karya, tetapi juga melakukan pengujian, analisis, dan evaluasi terhadap hasil yang diperoleh. Melalui proses tersebut, mereka belajar memahami hubungan antara teori, data, dan keputusan yang diambil dalam sebuah pekerjaan profesional.
Ketika AI Menjadi Alat, Bukan Pengganti Kemampuan Berpikir
Salah satu isu yang banyak dibahas dalam Strategic Review Balanced Scorecard adalah bagaimana perguruan tinggi merespons perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang bergerak sangat cepat.
Bagi Fakultas Teknik, perkembangan tersebut membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam proses pendidikan.
Pascarianto menilai bahwa pembaruan kurikulum harus terus dilakukan agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Namun demikian, proses tersebut tidak boleh mengorbankan penguasaan dasar keilmuan yang menjadi fondasi profesi teknik.
Menurutnya, teknologi hanyalah alat yang membantu pekerjaan manusia, bukan pengganti kemampuan berpikir dan menganalisis.
Mahasiswa teknik tetap perlu memahami prinsip-prinsip dasar perencanaan, struktur, desain, maupun analisis sebelum menggunakan berbagai perangkat lunak dan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
“AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan analisis dan pemahaman dasar seorang insinyur,” jelasnya.
Pandangan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi otomatisasi dalam berbagai sektor industri. Dalam praktiknya, keputusan-keputusan penting tetap memerlukan pertimbangan profesional yang didasarkan pada pengalaman, logika, dan pemahaman terhadap kondisi lapangan.
Karena itu, Fakultas Teknik memandang bahwa penguasaan teknologi dan penguatan dasar keilmuan harus berjalan beriringan.
Selain pengembangan kurikulum, fakultas juga memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri melalui program magang, kuliah praktisi, penelitian terapan, dan berbagai proyek kolaboratif.
Melalui interaksi langsung dengan dunia kerja, mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan, kebutuhan, dan teknologi yang digunakan dalam praktik profesional.
Menyelaraskan Program Fakultas dengan Sasaran Strategis Universitas
Dalam berbagai sesi Strategic Review Balanced Scorecard, peserta diajak melihat bahwa setiap program kerja harus memiliki keterhubungan yang jelas dengan sasaran strategis universitas.
Bagi Fakultas Teknik, pendekatan tersebut menjadi kerangka penting dalam menyusun berbagai program akademik, penelitian, kerja sama, dan inovasi.
Pascarianto menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum, implementasi project-based learning, peningkatan mutu akademik, serta penguatan kemitraan industri merupakan bagian dari kontribusi fakultas terhadap pencapaian visi Universitas Mulia.
Di bidang penelitian, fakultas mendorong dosen dan mahasiswa menghasilkan karya yang tidak hanya memenuhi target akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Sementara itu, budaya inovasi terus dibangun melalui berbagai aktivitas yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pencarian solusi atas persoalan nyata.
Dalam perspektif Balanced Scorecard, pendekatan tersebut memungkinkan setiap program yang dijalankan memiliki kontribusi yang dapat diukur dan dievaluasi secara berkelanjutan.
IKN sebagai Laboratorium Nyata Pembelajaran dan Inovasi
Dalam pembahasan strategic review, pembangunan Ibu Kota Nusantara juga menjadi salah satu faktor eksternal yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap arah pengembangan Universitas Mulia.
Bagi Fakultas Teknik, keberadaan IKN menghadirkan peluang yang jauh lebih luas daripada sekadar kedekatan geografis.
Menurut Pascarianto, IKN dapat menjadi ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa dan dosen berinteraksi langsung dengan berbagai proyek pembangunan berskala besar.
Peluang tersebut mencakup bidang infrastruktur, teknologi digital, lingkungan, energi berkelanjutan, hingga berbagai sektor lain yang membutuhkan kontribusi keilmuan teknik.
Karena itu, Fakultas Teknik berupaya memperkuat kerja sama dengan pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan kawasan tersebut.
Program magang, penelitian terapan, serta proyek kolaboratif menjadi beberapa langkah yang dipandang dapat mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan proses pembelajaran di kampus.
Di sisi lain, Pascarianto juga mengingatkan bahwa pengembangan kapasitas institusi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sarana pendukung.
Menurutnya, laboratorium memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan berbasis praktik, penelitian, dan inovasi. Karena itu, penguatan fasilitas laboratorium menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan fakultas ke depan.
Pandangan tersebut menunjukkan bagaimana hasil Strategic Review Balanced Scorecard diterjemahkan hingga ke tingkat fakultas. Jika visi Universitas Mulia 2045 berbicara tentang perguruan tinggi berbasis technopreneurship yang berstandar internasional, maka Fakultas Teknik memaknainya melalui penguatan fondasi keilmuan, pemanfaatan teknologi secara bijaksana, kolaborasi dengan industri, dan keterlibatan aktif dalam berbagai peluang pembangunan yang hadir bersama Ibu Kota Nusantara.
Dengan demikian, transformasi yang sedang dibangun Universitas Mulia tidak semata-mata tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa setiap inovasi berdiri di atas pemahaman yang kuat terhadap ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat. (YMN)










