Strategic Review BSC: Potensi Pangan Kalimantan Timur Menjadi Titik Tumpu Pengembangan Prodi TPHP
Balikpapan, 23 Juni 2026– Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam Pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard Universitas Mulia adalah bahwa setiap unit kerja harus mampu menerjemahkan visi institusi ke dalam program yang memberikan dampak nyata. Bagi Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), pesan tersebut menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah pengembangan prodi dalam mendukung visi Universitas Mulia 2045.
Selama pelatihan yang berlangsung pada 23–26 Juni 2026, para peserta diajak meninjau kembali keterhubungan antara visi universitas, sasaran strategis, program kerja, hingga indikator kinerja yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan institusi di masa depan. Melalui pendekatan Balanced Scorecard, setiap fakultas, lembaga, biro, dan program studi didorong untuk memahami kontribusinya terhadap tujuan besar universitas.
Ketua Program Studi TPHP Universitas Mulia, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.M., menilai bahwa proses strategic review tersebut memberikan ruang refleksi bagi program studi untuk memastikan bahwa setiap aktivitas akademik yang dilakukan memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat, dunia industri, dan pembangunan daerah.
Menurutnya, Prodi TPHP memiliki posisi strategis dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu teknologi pangan, tetapi juga mampu mengembangkan potensi sumber daya lokal Kalimantan Timur menjadi produk yang bernilai tambah.
“Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian memiliki peran penting dalam menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang teknologi pangan khas daerah Kalimantan Timur,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Prodi TPHP saat ini menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis melalui kegiatan laboratorium, magang, penelitian, hingga kompetisi ilmiah.
Bagi Rafika, pembahasan mengenai strategi institusi dalam pelatihan Balanced Scorecard semakin memperkuat keyakinan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari proses pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana lulusan mampu memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan studi mereka.
Karena itu, pengembangan soft skills, kemampuan problem solving, kolaborasi, dan inovasi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran yang dijalankan di Prodi TPHP.
Dalam diskusi pelatihan, salah satu isu yang banyak dibahas adalah pentingnya membangun keunggulan yang membedakan institusi dari perguruan tinggi lain. Bagi Prodi TPHP, keunggulan tersebut diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pascapanen berbasis potensi lokal Kalimantan Timur.
Rafika menjelaskan bahwa mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi berbagai komoditas unggulan daerah, mulai dari pisang, singkong, hingga hasil laut yang melimpah di Kalimantan Timur. Komoditas tersebut tidak hanya dipelajari sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai sumber inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat yang dibangun dalam Strategic Review Balanced Scorecard, yaitu memastikan setiap program yang dijalankan memiliki dampak terhadap pembangunan daerah dan kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap mampu menciptakan identitas prodi yang kuat sebagai pusat pengembangan teknologi pascapanen dan hilirisasi pangan lokal yang berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” katanya.
Untuk memastikan strategi tersebut berjalan efektif, Prodi TPHP juga secara berkala melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Industri pangan, asosiasi profesi, akademisi, hingga praktisi dari sektor pemerintah dan swasta menjadi bagian dari proses penyempurnaan kurikulum.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi penting agar kompetensi lulusan tetap relevan dengan perkembangan dunia usaha dan industri. Selain penguasaan teknologi pangan, mahasiswa juga dibekali kemampuan kewirausahaan, mulai dari proses produksi yang aman hingga strategi pemasaran modern.
Model pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning juga terus diperkuat agar mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan nyata yang ditemukan di lapangan. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga lulusan yang mampu menciptakan solusi dan peluang usaha baru.
Dalam konteks Strategic Review Balanced Scorecard, Rafika menegaskan bahwa ukuran keberhasilan program studi tidak dapat disederhanakan pada jumlah mahasiswa atau tingkat kelulusan semata. Keberhasilan harus tercermin dari dampak yang dihasilkan.
“Inovasi yang lahir dari kampus, peningkatan publikasi ilmiah, serta kontribusi kepada masyarakat menjadi indikator penting yang harus terus diperkuat,” ungkapnya.
Pandangan tersebut selaras dengan semangat transformasi yang sedang dibangun Universitas Mulia melalui pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard. Setiap unit kerja didorong untuk tidak hanya berfokus pada aktivitas, tetapi juga pada hasil dan dampak yang mampu diberikan kepada pemangku kepentingan.
Bagi Prodi TPHP, arah tersebut diterjemahkan melalui komitmen untuk menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan potensi pangan lokal, mendorong hilirisasi produk daerah, serta menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan Kalimantan Timur.
Dengan demikian, strategic review yang dilakukan Universitas Mulia tidak berhenti sebagai proses penyusunan dokumen perencanaan. Ia menjadi titik temu antara visi institusi dan langkah nyata yang dilakukan oleh setiap unit kerja. Dari ruang pelatihan hingga laboratorium pangan, seluruh upaya tersebut bermuara pada tujuan yang sama: membangun Universitas Mulia yang unggul, adaptif, dan memberikan dampak bagi masyarakat menuju tahun 2045. (YMN)











