Mengangkat Potensi Akar Tanaman, Mahasiswa Farmasi Universitas Mulia Raih Juara Nasional PIFI 2026

,

Balikpapan, 18 Juni 2026 – Akar tanaman kerap tersembunyi di dalam tanah dan jarang mendapat perhatian dibandingkan bagian tumbuhan lainnya. Namun dari bagian yang sering terabaikan itulah Hanif Dwi Azizah menemukan sebuah gagasan yang membawanya meraih Juara 2 Lomba Poster kategori Sarjana (S1) pada Pekan Ilmiah Farmasi Indonesia (PIFI) 2026.

Melalui poster berjudul “Penyembuh dari Dalam Tanah”, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Mulia tersebut mengangkat pemanfaatan akar tanaman sebagai sumber kesehatan dan pengobatan tradisional. Karya itu menjelaskan fungsi akar bagi kehidupan tumbuhan, potensi berbagai jenis akar sebagai bahan herbal, hingga cara sederhana pengolahannya menjadi ramuan tradisional yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Hanif mengatakan tema tersebut dipilih karena masih banyak masyarakat yang memandang akar hanya sebagai bagian penunjang pertumbuhan tanaman. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis akar mengandung senyawa aktif yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan.

“Banyak akar tanaman yang memiliki kandungan bermanfaat dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Saya ingin mengenalkan kembali potensi tersebut sebagai sumber kesehatan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami menjadikan edukasi mengenai tanaman obat semakin relevan. Tidak hanya bagi masyarakat umum, informasi tersebut juga memiliki nilai penting bagi dunia kesehatan yang terus mengembangkan penelitian berbasis bahan alam untuk mendukung terapi berbagai penyakit.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi poster ilmiah yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Proses penyusunannya dimulai dari penelusuran jurnal ilmiah, buku, dan berbagai sumber terpercaya yang membahas fungsi akar serta manfaatnya bagi kesehatan.

Setelah data terkumpul, Hanif melakukan seleksi informasi agar materi yang disajikan tetap akurat sekaligus ringkas. Ia kemudian menyusun konsep visual dengan memadukan ilustrasi dan desain yang mampu menyampaikan pesan secara efektif kepada pembaca.

Meski tampak sederhana dalam bentuk akhirnya, proses di balik penyusunan poster memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Selama periode tersebut, Hanif tidak hanya mengumpulkan referensi dan menyusun materi, tetapi juga beberapa kali melakukan revisi bersama dosen pembimbing untuk memastikan isi poster sesuai dengan kaidah ilmiah.

Tantangan terbesar justru muncul ketika harus menyederhanakan informasi yang cukup kompleks menjadi materi yang singkat namun tetap bermakna.

“Informasinya cukup banyak. Tantangannya adalah memilih dan menyederhanakan materi agar tetap menarik, mudah dipahami, tetapi tidak mengurangi nilai ilmiahnya,” ungkapnya.

Di tengah kesibukan perkuliahan, ia juga harus mengatur waktu antara penyelesaian tugas akademik dan persiapan lomba. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya manajemen waktu dan konsistensi dalam berkarya.

Persaingan yang dihadapi pun tidak ringan. Lomba diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan karya-karya yang kreatif dan inovatif. Karena itu, Hanif mengaku tidak menyangka ketika namanya diumumkan sebagai peraih Juara 2 tingkat nasional.

“Saya merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Awalnya saya tidak menyangka bisa meraih Juara 2 karena banyak peserta yang memiliki karya yang bagus,” katanya.

Bagi Hanif, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan kompetisi. Pengalaman mengikuti lomba memperluas cara pandangnya terhadap dunia kefarmasian. Ia menyadari bahwa ilmu farmasi tidak berhenti di ruang kelas, melainkan dapat dikembangkan melalui penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketertarikan itu bahkan mendorongnya untuk membayangkan langkah lanjutan dari poster yang dibuat. Jika memiliki kesempatan, ia ingin meneliti lebih jauh kandungan senyawa aktif pada berbagai jenis akar yang berpotensi digunakan sebagai obat tradisional. Selain itu, ia juga bercita-cita mengembangkan program edukasi masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman obat yang aman dan berbasis bukti ilmiah.

Hanif menilai dukungan Universitas Mulia dan Program Studi Farmasi memiliki peran penting dalam perjalanan prestasinya. Bimbingan dosen, akses informasi kompetisi, serta dorongan untuk mengembangkan potensi diri menjadi faktor yang membuat mahasiswa berani menguji kemampuannya di tingkat nasional.

Tidak semua yang berharga terlihat di permukaan; sebagian tumbuh dan memberi manfaat dari dalam tanah. Gagasan itulah yang mengantarkan poster “Penyembuh dari Dalam Tanah” karya Hanif Dwi Azizah meraih Juara 2 tingkat nasional pada PIFI 2026.

Secara terpisah, Kaprodi Farmasi Universitas Mulia, Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc., menegaskan bahwa program studi selalu memberikan apresiasi terhadap capaian mahasiswa.

“Kami selalu berusaha mendorong serta memfasilitasi mahasiswa agar terus berkarya, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” ujarnya.

Menurutnya, kompetisi bukan hanya ruang untuk mengukur kemampuan, tetapi juga kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan yang lebih luas di luar kampus. Karena itu, ia berharap prestasi yang diraih Hanif dapat memicu keberanian mahasiswa lain untuk mencoba berbagai ajang kompetisi sesuai bidang dan minat masing-masing.

“Semoga akan selalu ada mahasiswa lain yang mau mencoba berkompetisi pada berbagai kesempatan sehingga mereka juga dapat memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih luas,” katanya.

Di balik trofi dan sertifikat yang diperoleh, ada pesan yang ingin ditinggalkan Hanif kepada sesama mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa langkah pertama sering kali lebih penting daripada menunggu kesiapan yang sempurna.

“Jangan takut untuk mencoba. Tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai mengikuti kompetisi. Kemenangan memang membanggakan, tetapi proses yang dilalui selama persiapan memberikan banyak pelajaran yang berharga untuk masa depan,” tutupnya. (YMN)