Di Tengah Perkembangan AI, Kaprodi Manajemen Universitas Mulia Tekankan Pentingnya Leadership bagi Mahasiswa

Balikpapan, 11 Juni 2026 Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, dan perubahan dunia kerja yang berlangsung nyaris tanpa jeda, satu pertanyaan mulai mengemuka: keterampilan apa yang akan tetap dibutuhkan manusia ketika teknologi mampu mengerjakan semakin banyak hal?

Bagi Dr. Pudjiati, Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, jawabannya tidak terletak pada kecakapan teknis semata. Ada kemampuan lain yang justru semakin bernilai ketika teknologi berkembang semakin canggih, yaitu kepemimpinan.

Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Leadership bertema “Leadership Menuju Profesional dan Entrepreneur” yang digelar Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Universitas Mulia di Ballroom Cheng Ho, Kamis (11/6/2026). Ratusan calon mahasiswa baru bersama masyarakat umum memenuhi ruangan untuk menyimak pemaparan yang disampaikan Dr. Pudjiati.

Menurutnya, banyak anak muda masih memahami kepemimpinan secara keliru. Kepemimpinan sering dipersepsikan sebagai posisi, jabatan, atau kekuasaan. Padahal, akar dari kepemimpinan justru tumbuh jauh sebelum seseorang memimpin orang lain.

“Kesalahan mendasar yang sering terjadi adalah menganggap pemimpin hanya tentang jabatan atau hasil akhir. Padahal kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, memiliki tanggung jawab, integritas, disiplin, dan mampu memberikan pengaruh positif bagi orang lain,” ujarnya.

Di tengah budaya media sosial yang sering menampilkan kesuksesan secara instan, pemahaman tersebut menjadi semakin relevan. Banyak orang ingin berada di garis depan, tetapi tidak semua siap menjalani proses panjang yang membentuk karakter seorang pemimpin.

Bagi Pudjiati, pemimpin sejati bukan diukur dari banyaknya pengikut yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menciptakan perubahan dan membantu orang lain berkembang.

Ketika AI Tidak Bisa Menggantikan Manusia

Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia bekerja. Banyak tugas administratif, analisis data, hingga pekerjaan kreatif kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi.

Namun, di balik kemajuan tersebut, Pudjiati melihat adanya ruang yang tetap menjadi domain manusia.

Teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, tetapi belum mampu menggantikan kemampuan membangun kepercayaan, mengelola hubungan antarmanusia, mengambil keputusan dalam situasi kompleks, maupun memberikan inspirasi kepada orang lain.

Karena itulah, menurutnya, kemampuan leadership justru semakin penting dimiliki mahasiswa.

“Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perubahan, berpikir kritis, bekerja sama, dan menjadi penggerak inovasi di tengah perkembangan teknologi,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan dunia kerja modern yang kini tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang mampu bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan baik, dan menghadapi perubahan secara cepat.

Antara Nilai Akademik dan Realitas Dunia Kerja

Pudjiati mengakui masih terdapat kesenjangan antara kompetensi akademik dan kompetensi kepemimpinan yang dimiliki sebagian lulusan perguruan tinggi.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang mencerminkan kemampuan seseorang memahami ilmu pengetahuan. Namun ketika memasuki dunia kerja, perusahaan juga menuntut kemampuan lain yang tidak selalu tercermin dalam angka-angka akademik.

Kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, bekerja sama, hingga menghadapi tekanan menjadi bagian dari kompetensi yang semakin diperhitungkan.

“Pendidikan tidak hanya perlu mencetak lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga membangun karakter, sikap profesional, dan jiwa kepemimpinan,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, kampus tidak boleh hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa belajar menghadapi tantangan nyata, memahami dinamika organisasi, serta mengembangkan karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan profesional.

Belajar dari Kegagalan

Dalam dunia bisnis maupun karier profesional, kegagalan hampir tidak pernah bisa dihindari. Namun justru pada titik itulah kualitas kepemimpinan diuji.

Pudjiati menilai ketangguhan atau resilience merupakan salah satu karakter terpenting yang harus dimiliki generasi muda.

Menurutnya, pemimpin yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.

Kemampuan mengevaluasi diri, belajar dari kesalahan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus mencari solusi menjadi modal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam jangka panjang.

“Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih matang dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Menyiapkan Pemimpin di Tengah Peluang IKN

Bagi Kalimantan Timur, perubahan besar sedang berlangsung. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka ruang ekonomi baru yang akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Pudjiati melihat momentum tersebut sebagai peluang strategis bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Manajemen Universitas Mulia.

Peluang tersebut hadir dalam berbagai sektor, mulai dari bisnis berbasis teknologi, ekonomi kreatif, pariwisata, jasa profesional, hingga pengembangan usaha yang berorientasi pada keberlanjutan.

Namun peluang hanya akan menjadi cerita bagi mereka yang tidak siap.

Karena itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan kemampuan manajemen, kepemimpinan, literasi digital, kreativitas, serta keberanian melihat peluang yang belum banyak dilirik orang lain.

“Mahasiswa harus mempersiapkan diri agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” katanya.

Integritas sebagai Fondasi

Di antara berbagai kompetensi yang dibutuhkan masa depan, Pudjiati menempatkan satu nilai di posisi paling mendasar: integritas.

Menurutnya, kemampuan dapat dipelajari, teknologi akan terus berubah, dan ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun tanpa integritas, seluruh kemampuan tersebut kehilangan pijakan.

Integritas menjadi fondasi yang memungkinkan seseorang dipercaya, bertanggung jawab atas keputusan yang diambil, dan tetap memegang prinsip ketika menghadapi tekanan.

Pesan itulah yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa Universitas Mulia.

“Jadikan masa kuliah sebagai proses untuk bertumbuh, bukan hanya mengejar nilai atau gelar. Bangun kompetensi, karakter, jaringan, dan pengalaman sebanyak mungkin,” pesannya.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri, berani menghadapi perubahan, dan tetap menjaga integritas ketika kesempatan datang menghampiri. (YMN)