Kurban Masjid As-Salam Dan Standar Baru Masjid Progresif
Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia
Balikpapan, 22 April 2026 — Di tengah maraknya masjid yang sibuk dengan pembangunan fisik megah namun minim aksi sosial, Masjid As-Salam justru tampil sebagai pengecualian. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah formal lima waktu, tetapi juga menjadi episentrum distribusi keadilan sosial melalui aksi konkret—membagikan hewan kurban ke masjid dan musholla yang kekurangan.
Program ini tidak sekadar amal tahunan, melainkan bentuk keberpihakan: pada masjid kecil, pada jamaah yang tidak mampu berkurban, pada musholla yang selama ini tertinggal dalam arus sentralisasi kegiatan keagamaan. Di sinilah Masjid As-Salam menunjukkan fungsinya sebagai masjid progresif, yang tidak hanya membangun menara, tetapi juga membangun sesama.
Para pengurus DKM As-Salam tampaknya mengerti betul, bahwa hakikat kurban bukan terletak pada berapa banyak sapi yang disembelih di halaman masjid sendiri, bukan pula pada ramai dan megahnya suasana penyembelihan. Kurban adalah tentang menjangkau mereka yang nyaris tak pernah mencicipi daging kurban di Hari Raya, yang sering luput dari radar kepedulian kita. Di sanalah mereka hadir—bukan sebagai pemberi semata, tetapi sebagai penghubung kasih sayang antar sesama, menjembatani kesenjangan yang kadang tak terlihat mata, namun terasa dalam hati yang peka.
Ironisnya, di kota-kota besar, masih banyak masjid besar berlomba menyembelih sebanyak mungkin hewan kurban—seringkali hanya untuk konsumsi lokal yang sebenarnya sudah berkecukupan. Sementara di gang-gang sempit, di pinggir kota, ada musholla-musholla yang bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan kurban. Di sinilah peran Masjid As-Salam menjadi signifikan dan menyentuh jantung problem struktural umat: kesenjangan distribusi keberkahan.
Masjid As-Salam tidak berhenti pada ritual dan keramaian seremonial. Mereka memilih untuk melangkah lebih jauh—melintasi batas-batas geografis dan sosial, menyusuri masjid-masjid kecil di pinggiran, musholla sederhana yang nyaris tak terdengar namanya, hingga ke sudut-sudut pelosok yang hanya dikenal oleh mereka yang peduli. Yang dibawa bukan sekadar daging kurban, tetapi harapan dan pengakuan: bahwa saudara-saudara kita di sana tidak dilupakan. Bahwa Idul Adha bukan milik segelintir, tapi milik semua. Melalui tindakan itu, Masjid As-Salam seakan berbisik dengan kasih, “Kami datang karena kami peduli. Anda bagian dari kami. Kebahagiaan hari raya ini pun hak Anda.”
Takmir Masjid As-Salam menyebut, program ini juga menjadi sarana pendidikan bagi jamaahnya sendiri. Bahwa nilai kurban tidak berhenti di bilah pisau, melainkan pada ketulusan untuk meniadakan batas-batas ego wilayah dan struktur masjid. Bahwa daging bukan hanya soal asupan, tetapi juga tentang pengakuan dan penghargaan atas keberadaan saudara seiman yang tersembunyi dari sorotan pusat kota.
Apakah model Masjid As-Salam ini bisa direplikasi? Bukan hanya bisa—harusnya menjadi keharusan moral. Bahkan lebih jauh, inilah seharusnya standar baru bagi masjid-masjid kita: tidak hanya megah dalam arsitektur dan penuh saat salat Jumat, tetapi juga hidup dalam nadi kepedulian sosial. Sebab fungsi sosial masjid sejatinya bukan sekadar wacana dalam kitab atau materi ceramah—ia baru sah disebut masjid umat ketika mampu menyambung yang lemah, bukan hanya memanjakan yang kuat. Ketika ada masjid yang merasa cukup hanya dengan ramai dan gemerlap di tengah kota, Masjid As-Salam justru memilih menengok yang sunyi dan tersisih. Dan di sanalah, ruh sejati Idul Adha dan makna masjid itu sendiri menemukan bentuk terbaiknya.
Kurban yang ideal bukan diukur dari berapa banyak hewan yang dipotong di satu lokasi, atau seberapa viral suasana penyembelihannya. Kurban yang sejati adalah yang manfaatnya menjangkau lebih luas—menemukan mereka yang selama ini hanya bisa menonton dari jauh, menanti dengan harap yang sering tak terjawab. Dalam hal ini, Masjid As-Salam memberi kita pelajaran penting: bahwa keadilan sosial umat tak selalu dimulai dari program besar, tetapi dari niat tulus untuk berbagi, dan keberanian untuk berpihak pada yang nyaris tak terdengar suaranya. Ironisnya, justru banyak masjid yang lebih sibuk mengelola citra dan keramaian, tetapi melupakan esensi: bahwa kurban adalah tentang siapa yang disantuni, bukan tentang siapa yang dipameri. (YMN)






Media Kreatif


