Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggandeng Penerbit Andi Yogyakarta menggelar Workshop Penulisan Buku Ajar untuk dosen. Workshop berlangsung daring Zoom Meeting diikuti 50 orang dosen, Rabu (22/12).

Ketua LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa workshop atau pelatihan Buku Ajar ini merupakan yang kedua setelah tahun 2020 lalu digelar dengan narasumber yang sama, Edi S Mulyanta dari Penerbit Andi.

“Ini adalah yang kedua lanjutan tahun kemarin karena permintaan cukup banyak berasal dari para Ibu Bapak dosen. Dengan pelatihan ini, Bapak Ibu memiliki kesempatan menulis Buku Ajar dengan penerbit yang baik,” tutur Richki Hardi.

Richki berharap, pelatihan ini memberikan tips dan trik serta strategi menyusun Buku Ajar sehingga diharapkan tahun 2022 mendatang sudah ada buku yang diterbitkan yang dibuat oleh para dosen Universitas Mulia.

“Kalau di organisasi guru itu ada satu guru satu buku. Nah, mudah-mudahan di sini juga ada satu dosen satu Buku Ajar,” tuturnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Edi Mulyanta mengatakan bahwa adanya perubahan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mendorong mahasiswa benar-benar merdeka untuk belajar. Merdeka Belajar memungkinkan mahasiswa memiliki banyak pilihan media belajar maupun guru.

Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

Sebagian Peserta Workshop Penulisan Buku Ajar yang digelar LP3M Universitas Mulia, Rabu (22/12). Foto: Tangkapan layar

Sebagian Peserta Workshop Penulisan Buku Ajar yang digelar LP3M Universitas Mulia, Rabu (22/12). Foto: Tangkapan layar

“Konsep pendidikan saat ini berubah dengan adanya kebijakan MBKM yang mengatur 80% pendidikan berasal dari internal kampus, sedangkan 20% sisanya berasal dari luar kampus. Nah, inilah peluang kesempatan kita sebagai dosen untuk mengambil peran profesional,” tutur Edi Mulyanta.

Pasalnya, menurut Edi, berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2021 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Disebutkan pula, dosen secara perseorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan untuk pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika.

Atas dasar itulah, Edi mengingatkan luaran Perguruan Tinggi salah satunya adalah berupa Buku seperti Buku Ajar, Buku Praktikum atau Buku Panduan selain produk lain seperti jurnal dan hasil Iptek.

“Tugas kami adalah tugas industri, tugas Bapak Ibu dosen adalah menyiapkan materi sebaik mungkin,” ungkap Edi.

Menurutnya, untuk mendorong daya ungkit kepangkatan dosen muda yang masih Asisten Ahli 150, misalnya, menulis buku mampu mengangkat nilai Kum sampai 60 apabila memiliki paten. Apabila hasil karya buku dosen makin banyak, maka mampu membawa jenjang kepangkatan Lektor Kepala.

Untuk memotivasi dosen menulis buku, Edi memberikan sedikit tips dan trik menulis Buku Ajar pada Perguruan Tinggi berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 75 tahun 2019 pelaksanaan UU no. 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

Bagi penerbit, Buku Ajar termasuk yang paling laku di pasar. “Buku Ajar market-nya besar. Jangan lupa Bapak Ibu singgung juga persoalan softskill, misalnya, bagaimana pada saat guru mengajar daring siswa bisa fokus memperhatikan guru,” ungkapnya.

Edi juga mendorong dosen untuk menulis yang ringan saja lebih dulu. “Tulislah buku yang simple saja supaya ada kepercayaan diri, tulis kulit-kulitnya saja,” ungkapnya.

Menurutnya, menyusun Buku Ajar lebih mudah menggunakan alur sesuai dengan urutan kurikulum pengambilan mata kuliah.

Untuk itu, dalam MBKM, penerbit akan mencari topik atau trend terkait digitalisasi dan luaran yang diharapkan dari MBKM.

Ia menerangkan bahwa MBKM terkait 6 C for HOTS, yaitu Communication, Collaboration, Compassion, Critical Thinking, Creative Thinking, Computation Logic, Adaptive, Flexible, Leadership, Reading Skill, Writing Skill, kemampuan bahasa Inggris dan Teknologi Informasi,”

Lalu, bagaimana memulainya membuat Buku Ajar? Edi memberikan langkah-langkah antara lain, pertama mengikuti Standar Penulisan berdasarkan PP no. 75 tahun 2019.

Kedua, terapkan lima tahapan untuk meningkatkan produktivitas dalam menulis dengan menggunakan rumus S-P-E-E-D, yaitu S berarti Select Topic, pilih topik yang hendak ditulis.

P berarti Prepare your facts atau menyiapkan fakta dan data. E pertama berarti Establish a Structure atau tentukan strukturnya. E kedua adalah Eliminate Distraction, yaitu menghilangkan gangguan. Dan D adalah Dash, Dash to the finish, segera diselesaikan.

“Tahun depan dari seluruh peserta ini diharapkan sudah terbit, minimal 2-3 buku. Trend-nya tentang digitalisasi,” pungkas Edi Mulyanta menantang peserta.

(SA/PSI)