Prof. Kaori Yoshida, Dr. Eng. Kyushu Institute of Technology Japan saat memaparkan presentasinya dalam KONIK5 secara daring, Sabtu (12/6). Foto: Tangkapan layar

UM – Dosen Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia menjadi salah satu peserta dari 10 orang yang meraih Best Presenter Award pada Konferensi Nasional Ilmu Komputer ke-5 (KONIK5). Konferensi diselenggarakan daring Zoom oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) dan Universitas Hasanuddin Makassar, Sabtu (12/6) yang lalu.

Konferensi dengan tema Percepatan MBKM Bidang TIK Melalui Kolaborasi Internasional dan Nasional ini menghadirkan dua narasumber Internasional, yakni Prof. Seungjin Choi dari Pohang University of Science and Technology (POSTECH) South Korea dan Prof. Kaori Yoshida, Dr. Eng. dari Kyushu Institute of Technology Japan. Sedangkan dua narasumber Nasional adalah Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MLS, Ph.D. selaku Ketua Umum APTIKOM Indonesia dan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., Mphil., MA. Rektor Universitas Pradita Jakarta.

Dalam presentasinya, Prof. Seungjin Choi memaparkan tentang Meta-Learning: Learning How to Learn. Prof. Seungjin memperkenalkan Meta-Learning merupakan paradigma baru Machine Learning. Sedangkan Prof. Kaori Yoshida menyajikan materi tentang Intelligence Systems and Emergent Design menggunakan Kansei Information Processing.

Apa itu Kansei? “It cannot translate into the proper English word, so we use the Japanese term Kansei,” tutur Prof. Kaori. “Kansei means user’s subjectivity, taste, emotion, affective state, and so on. Kansei is a kind of personal sense of value for each user. Kansei is significant to user-centric technology,” paparnya panjang lebar.

Prof. Zainal Arifin Hasibuan menyajikan topik tentang Kolaborasi Nasional dan Internasional untuk Percepatan Implementasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Ia mengulas tentang mengapa perguruan tinggi perlu berkolaborasi. Sedangkan Prof. Richardus Eko Indrajit memaparkan tentang Digital Transformation in Higher Education. Ia mengingatkan perguruan tinggi agar menyiapkan diri menghadapi trend yang mendisrupsi pendidikan tinggi di dunia.

Memasuki sesi paparan makalah, tercatat 158 pemakalah dikelompokkan ke dalam ruang-ruang presentasi dan diskusi. Masing-masing pemakalah mendapat waktu antara 10-15 menit untuk menyajikan makalahnya dan dipandu dua orang moderator.

Sebagaimana yang terjadi dalam sebuah seminar, masing-masing pemakalah mendapatkan pertanyaan, baik pertanyaan dari moderator maupun peserta lainnya. Suasana yang demikian membuat diskusi berjalan baik hingga presentasi berakhir lebih dari pukul 16.00 Wita.

Piagam Penghargaan Presenter Terbaik dalam KONIK5, Sabtu (12/6). Foto: Tangkapan layar

Piagam Penghargaan Presenter Terbaik dalam KONIK5, Sabtu (12/6). Foto: Tangkapan layar

Dosen Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Subur Anugerah, S.T., M.Eng. menjadi salah satu pemakalah dengan judul Integrasi LMS dengan Sistem Informasi Akademik untuk Mendukung Penelitian Tindakan Kelas Pembelajaran Daring. Ia terpilih sebagai salah satu Presenter Terbaik.

“Alhamdulillah ya, gak nyangka sama sekali karena ketika membuat makalah ini yang saya pikirkan adalah bagaimana supaya lebih efisien mengelola pembelajaran daring selama beberapa semester terakhir ini,” ungkap Subur Anugerah. Menurutnya, ketika membaca kembali buku-buku kuliahnya dulu, ia menemukan cara atau metode baru yang sebenarnya sudah cukup lama ditemukan oleh pakarnya.

“Ini menunjukkan kalau sebenarnya kita ini kurang banyak membaca, kurang banyak belajar,” katanya sambil tertawa. Menurutnya, prestasi ini merupakan yang kedua setelah tahun 2019 yang lalu mendapatkan Best Paper Award dalam sebuah Seminar Nasional Teknologi Informasi, Komputer dan Administrasi atau SEMINASTIKA yang diselenggarakan Universitas Mulia.

Terpisah, Ketua Panitia KONIK5 Dr. Eng. Armin Lawi, S.Si., M.Eng. dari Universitas Hasanuddin Makassar mengatakan bahwa makalah Best Presenter memiliki status yang sama dengan makalah yang lain dan berpeluang terpilih untuk masuk ke dalam jurnal terindeks Sinta.

Best Presenter merujuk pada personal penyaji, orangnya, yang dianggap mampu menjelaskan dengan baik materi makalahnya. Sedangkan Makalah Terpilih merujuk pada muatan isi naskah yang akan dianggap punya potensi publikasi lebih baik dibandingkan terbit di prosiding KONIK,” ungkap Armin Lawi.

Menurutnya, untuk memilih makalah terbaik membutuhkan waktu mengingat membutuhkan peer review sekira dua pekan atau lebih. “Kami masih berkomunikasi dengan pengelola jurnal nasional dan internasional. Saat ini ada dua naskah artikel yang sedang di-review oleh jurnal internasional terindeks Scopus, namun makalah tersebut bukan dari Best Presenter,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua LP3M Universitas Mulia Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa cukup surprise dengan prestasi tersebut. Ia mendorong agar selain dalam publikasi ilmiah, dosen juga diharap mampu menyajikan publikasi ilmiahnya dengan ringan agar lebih dikenal segala lapisan masyarakat.

“Saya bangga atas penghargaan yang diraih Pak Subur dan berharap membuka triknya. Ke depan saya berharap dosen-dosen kita berkiprah di luar kampus untuk meningkatkan kompetensi dan membuka wawasan lebih luas di bidang publikasi ilmiah,” pungkasnya.

(SA/PSI)