Hari Kedua UAS di Universitas Mulia, Mahasiswa Teknik Industri Pecahkan Kasus Sistem Otomasi pada Mata Kuliah Elektronika Industri
Balikpapan, 30 Juni 2026 – Lembar soal mulai dibagikan kepada mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Mulia yang mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Elektronika Industri di Gedung Teknik ruang D301, Selasa (30/6/2026). Pada hari kedua pelaksanaan UAS Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 tersebut, mahasiswa dihadapkan pada soal-soal yang menuntut kemampuan menganalisis sistem otomasi industri, bukan sekadar mengingat konsep elektronika.
Bagi mahasiswa Teknik Industri, Elektronika Industri menjadi salah satu mata kuliah yang mempertemukan teori dengan praktik. Pemahaman mengenai karakteristik komponen, rangkaian elektronika, hingga prinsip kerja sistem kendali menjadi fondasi sebelum mahasiswa mempelajari sistem produksi yang lebih kompleks.
Kaprodi Teknik Industri sekaligus dosen pengampu Mata Kuliah Elektronika Industri, Rizcky Gandarrityaz, S.T., M.T., mengatakan bahwa penyusunan soal UAS diarahkan untuk melihat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan konsep elektronika dengan permasalahan yang ditemui di dunia industri.
“Dalam UAS mata kuliah Elektronika Industri ini, soal-soal dirancang tidak hanya untuk menguji hafalan konsep, tetapi juga kemampuan mahasiswa dalam memahami fungsi komponen dan rangkaian dalam konteks sistem industri. Mahasiswa diarahkan untuk menganalisis bagaimana komponen-komponen elektronika bekerja sebagai satu kesatuan dalam sistem otomasi sederhana,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diminta membaca suatu persoalan, mengidentifikasi penyebab gangguan, kemudian menentukan solusi berdasarkan prinsip elektronika yang telah dipelajari. Pola evaluasi seperti ini, menurut Rizcky, lebih mampu menggambarkan kesiapan mahasiswa ketika berhadapan dengan sistem produksi modern dibandingkan sekadar mengingat definisi atau rumus.
Ia menjelaskan bahwa perubahan teknologi manufaktur mendorong proses pembelajaran ikut beradaptasi. Sistem produksi yang semakin terhubung, otomatis, dan berbasis data menuntut lulusan Teknik Industri memiliki kemampuan analitis dalam mengambil keputusan teknis.
“Melalui UAS, mahasiswa diuji untuk berpikir sebagai calon praktisi industri: membaca kasus, mengidentifikasi penyebab gangguan, memilih komponen atau sistem yang tepat, serta memahami dampaknya terhadap produktivitas, kualitas, keselamatan, dan downtime. Hal ini sejalan dengan kebutuhan Industri 4.0 yang membutuhkan sumber daya manusia adaptif terhadap perkembangan teknologi,” jelasnya.
Bagi Program Studi Teknik Industri, hasil UAS juga menjadi sumber informasi untuk membaca efektivitas proses pembelajaran. Capaian mahasiswa menunjukkan bagian materi yang telah dipahami dengan baik sekaligus mengidentifikasi kompetensi yang masih memerlukan penguatan.

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Mulia mengerjakan soal Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Elektronika Industri di Gedung Teknik ruang D301, Selasa (30/6), sebagai bagian dari evaluasi capaian pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.
“Hasil UAS tidak hanya kami lihat sebagai nilai akhir mahasiswa, tetapi juga sebagai umpan balik akademik bagi dosen dan program studi. Informasi tersebut kami gunakan untuk menyempurnakan metode pembelajaran, memperkaya studi kasus, dan memastikan kurikulum tetap relevan dengan kebutuhan industri,” katanya.
Rizcky berharap mahasiswa memanfaatkan UAS sebagai kesempatan mengukur kualitas pemahaman yang telah mereka bangun selama satu semester.
“Nilai memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mampu memahami konsep, berpikir logis, menganalisis masalah, dan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata di industri. Teknologi akan terus berubah. Karena itu, fondasi kompetensi harus dibangun sejak berada di bangku kuliah,” tutupnya. (YMN)










