Strategic Review BSC: Dari Pelaporan Keuangan ke Data Analytics, Arah Baru Prodi Akuntansi
Balikpapan, 23 Juni 2026 – Pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard Universitas Mulia menjadi ruang bagi setiap unit akademik untuk meninjau kembali bagaimana visi besar Universitas Mulia 2045 diterjemahkan menjadi strategi yang lebih terarah, terukur, dan berdampak.
Melalui pendekatan Balanced Scorecard, peserta tidak hanya membahas perencanaan institusi secara umum, tetapi juga diajak melihat bagaimana setiap fakultas dan program studi memiliki peran strategis dalam memastikan visi universitas diwujudkan melalui program akademik, pengembangan lulusan, inovasi pembelajaran, penelitian, serta kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Ketua Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia, Eko Edy Susanto, S.E., M.Ak., menilai bahwa pelatihan tersebut memberikan perspektif penting mengenai posisi program studi sebagai penggerak implementasi visi universitas di tingkat akademik.
Menurutnya, visi Universitas Mulia 2045 tidak boleh berhenti sebagai pernyataan strategis, tetapi harus diterjemahkan menjadi langkah nyata yang menyentuh mahasiswa, dosen, lulusan, dan masyarakat.
“Program studi memiliki peran yang sangat strategis sebagai unit akademik yang menerjemahkan visi besar Universitas Mulia 2045 ke dalam program nyata. Visi universitas harus diturunkan menjadi kurikulum, capaian pembelajaran, metode pembelajaran, riset, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, serta penguatan kompetensi lulusan,” ujarnya.
Dalam konteks Program Studi S1 Akuntansi, arah transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan kompetensi yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Eko menjelaskan bahwa visi berbasis technopreneurship diterjemahkan melalui pengembangan bidang akuntansi digital, sistem informasi akuntansi, perpajakan digital, audit berbasis teknologi, analisis data keuangan, hingga kewirausahaan berbasis teknologi.
Perubahan tersebut menjadi penting karena lulusan akuntansi masa kini tidak cukup hanya memahami proses pencatatan dan pelaporan keuangan. Mereka dituntut mampu memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan bisnis, organisasi, UMKM, dan industri.
Melalui perspektif Balanced Scorecard, Program Studi Akuntansi juga mulai melihat keberhasilan tidak hanya dari satu sisi akademik, tetapi melalui berbagai indikator yang saling terhubung.
Dari sisi mahasiswa dan lulusan, keberhasilan diukur melalui peningkatan kompetensi, daya saing, serta kesiapan memasuki dunia kerja. Dari sisi proses internal akademik, perhatian diarahkan pada penguatan kurikulum, Rencana Pembelajaran Semester (RPS), pembelajaran berbasis proyek, laboratorium, serta sistem evaluasi capaian pembelajaran.
Sementara dari perspektif pengembangan organisasi, peningkatan kompetensi dosen, produktivitas penelitian, publikasi, dan kolaborasi akademik menjadi bagian penting dalam mendukung kemajuan program studi.
“Dengan pendekatan Balanced Scorecard, setiap program strategis dapat memiliki dampak yang terukur. Program studi harus memastikan bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan benar-benar mendukung pencapaian visi besar universitas,” jelasnya.
Membangun Keunggulan Melalui Akuntansi Digital dan Technopreneurship
Salah satu poin penting dalam Strategic Review Balanced Scorecard adalah bagaimana setiap program studi mampu memiliki identitas keunggulan yang menjadi pembeda.
Menurut Eko, Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia perlu memperkuat positioning sebagai program studi akuntansi yang mengintegrasikan ilmu akuntansi dengan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Keunggulan tersebut diwujudkan melalui penguatan kompetensi mahasiswa pada bidang software akuntansi, e-Faktur, e-Bupot, Excel lanjutan, Power BI, analisis data, serta sistem informasi akuntansi.
Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga diarahkan memiliki profil lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri, seperti akuntan junior, staf pajak, auditor junior, analis keuangan, accounting system officer, konsultan UMKM, hingga technopreneur bidang keuangan.
“Program studi perlu memiliki distinctive value agar tidak hanya mengikuti perkembangan, tetapi mampu menjadi bagian dari keunggulan Universitas Mulia,” ungkapnya.
Untuk memperkuat daya saing tersebut, Program Studi Akuntansi juga mendorong peningkatan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, kantor konsultan pajak, kantor akuntan publik, UMKM, pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga berbagai mitra strategis lainnya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan kegiatan nyata seperti magang mahasiswa, kuliah praktisi, penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, sertifikasi kompetensi, hingga peluang rekrutmen lulusan.
Kurikulum Adaptif Menjawab Perubahan Dunia Kerja
Dalam pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard, salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah bagaimana perguruan tinggi mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak cepat.
Eko menjelaskan bahwa Program Studi Akuntansi secara berkelanjutan perlu melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari dosen, mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, praktisi, asosiasi profesi, hingga mitra industri.
Langkah tersebut dilakukan agar kurikulum tidak bersifat statis, tetapi mampu mengikuti perkembangan standar akuntansi, regulasi perpajakan, dan transformasi digital.
Selain pembaruan kurikulum, inovasi pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang relevan.
Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan berbasis kasus (case-based learning) terus diperkuat agar mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan nyata. Mahasiswa juga diarahkan untuk melakukan simulasi transaksi akuntansi, penyusunan laporan keuangan UMKM, simulasi perpajakan, audit sederhana, hingga pengembangan dashboard keuangan.
Pemanfaatan teknologi pembelajaran seperti learning management system, aplikasi akuntansi, spreadsheet lanjutan, data analytics, dan sistem informasi akuntansi juga menjadi bagian dari strategi peningkatan kompetensi mahasiswa.
Menurut Eko, kesiapan lulusan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori, tetapi juga kemampuan analisis, etika profesional, komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Mengukur Keberhasilan dari Dampak yang Dihasilkan
Hasil Strategic Review Balanced Scorecard juga mendorong perubahan cara pandang dalam mengukur keberhasilan program studi.
Menurut Eko, keberhasilan program studi tidak cukup hanya dilihat dari terselenggaranya kegiatan akademik setiap semester.
Program studi yang berkembang harus mampu menunjukkan capaian yang terukur dan memberikan dampak berkelanjutan.
Indikator tersebut mencakup kualitas lulusan, relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri, peningkatan kualitas pembelajaran, produktivitas dosen dan mahasiswa dalam penelitian, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga kekuatan kerja sama eksternal.
Selain itu, tata kelola mutu seperti pelaksanaan PPEPP, evaluasi RPS, analisis CPL dan CPMK, tracer study, survei kepuasan, serta tindak lanjut hasil evaluasi menjadi bagian penting dalam memastikan program studi terus melakukan perbaikan.
“Program studi yang berkembang adalah program studi yang mampu membaca data, mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan bagaimana Strategic Review Balanced Scorecard mulai diterjemahkan dari tingkat institusi hingga program studi. Jika pada tingkat universitas pelatihan ini menjadi langkah penyelarasan arah menuju Universitas Mulia 2045, maka pada tingkat Program Studi Akuntansi transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan akuntansi digital, inovasi pembelajaran, kolaborasi industri, dan pengembangan lulusan yang siap menghadapi masa depan.
Dengan demikian, pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard bukan sekadar proses penyusunan strategi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang bergerak bersama untuk menghadirkan Universitas Mulia yang unggul, adaptif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (YMN)











