Kartini di Ruang Bermain: Cara PG PAUD Universitas Mulia Menerjemahkan Nilai Kesetaraan Sejak Dini
Balikpapan, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini di Daycare Ananda Mulia Universitas Mulia berlangsung tanpa panggung seremoni yang kaku. Tidak ada sekadar parade busana atau sesi foto simbolik. Yang tampak justru proses belajar yang hidup—anak-anak bermain peran, bercerita, menyusun kolase, hingga menyuarakan pendapat mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Kegiatan ini digagas oleh guru Daycare Ananda Mulia yang berada di bawah Laboratorium (living lab) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia. Dalam kerangka ini, peringatan Hari Kartini tidak ditempatkan sebagai agenda tahunan semata, melainkan sebagai bagian dari praktik pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari pendekatan experiential learning yang dikembangkan di lingkungan prodi. Living lab, menurutnya, menjadi ruang temu antara konsep perkuliahan dengan realitas pengasuhan anak.
“Living lab atau Daycare Ananda Mulia menjadi jembatan antara konsep di kelas—seperti bermain sambil belajar, pengembangan karakter, hingga pendidikan berbasis kearifan lokal—dengan praktik sehari-hari di daycare. Ketika guru memaknai Kartini tidak hanya melalui pakaian adat, tetapi melalui aktivitas bermakna, di situlah prinsip developmentally appropriate practice benar-benar terjadi,” ujarnya.

Langkah-langkah kecil itu menyusuri catwalk sederhana di Daycare Ananda Mulia—bukan sekadar berjalan, tetapi belajar percaya diri sejak usia dini.
Dalam perspektif prodi, sosok Kartini tidak diposisikan semata sebagai simbol emansipasi, melainkan sebagai sumber nilai yang relevan bagi dunia anak. Nilai keberanian, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan pengalaman anak.
Anak-anak diajak memahami bahwa permainan tidak memiliki batasan gender. Anak laki-laki bebas bermain masak-masakan, sementara anak perempuan dapat berlari dan bermain bola. Melalui cerita bergambar dan interaksi sederhana, mereka belajar bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermain, berekspresi, dan bermimpi.
Pendekatan ini menjadi pembeda dibandingkan peringatan Hari Kartini yang bersifat seremonial. Di Daycare Ananda Mulia, setiap kegiatan dirancang melalui tahapan pedagogis yang jelas: pengenalan melalui cerita dan lagu, pelaksanaan melalui bermain peran dan berkarya, hingga refleksi melalui percakapan bersama anak.
Guru Daycare Ananda Mulia, Novi Nurdiana, S.Pd., menyebut bahwa setiap aktivitas memiliki capaian pembelajaran yang terukur. Anak tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi belajar mengekspresikan diri, melatih motorik halus, serta memahami konsep keadilan secara sederhana.

Dengan balutan blangkon dan busana adat Jawa hitam, si kecil tampil menggemaskan—mengenal budaya sejak usia satu tahun, dengan caranya sendiri.
Peran living lab tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Kepala Laboratorium PG PAUD, Merlina, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setiap kegiatan selalu diikuti dengan proses lesson learned yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru. Hasil refleksi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai praktik baik (best practice) yang dapat digunakan kembali dalam pembelajaran di kelas.
“Dokumentasi ini menjadi bahan ajar dalam mata kuliah seperti Bermain dan Permainan atau Strategi Pembelajaran PAUD. Bahkan bisa dikembangkan untuk tema lain seperti Hari Pahlawan atau Hari Ibu,” jelasnya.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam ekosistem ini. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi terlibat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi—mulai dari menyusun narasi cerita, merancang alat peraga, memandu kegiatan, hingga melakukan observasi perilaku anak.
“Living lab menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjadi guru yang reflektif. Mereka tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar memahami anak secara utuh,” kata Bety.
Dari sisi penguatan karakter, Kepala Sekolah Daycare Ananda Mulia, Ratna Pangalima, melihat bahwa nilai-nilai Kartini justru paling efektif ditanamkan melalui aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak belajar menyampaikan pendapat, menghargai teman, dan bekerja sama tanpa merasa sedang diajarkan.
“Di akhir kegiatan, ada anak yang berkata, ‘Hari ini aku bisa jalan seperti model pakai kebaya.’ Ada juga yang bilang ingin bermain masak-masakan lagi bersama temannya. Dari situ terlihat bahwa mereka menyerap pengalaman itu dengan cara mereka sendiri,” tuturnya.
Bagi prodi, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang evaluasi. Indikator yang digunakan tidak bersifat administratif, melainkan berangkat dari respons alami anak—mulai dari antusiasme, interaksi sosial, hingga cerita yang mereka bawa pulang ke rumah.
“Kalau anak pulang lalu bercerita ke orang tuanya bahwa ia ingin belajar seperti Kartini, itu indikator paling jujur bahwa pembelajaran berhasil,” ujar Bety.
Daycare Ananda Mulia sendiri telah mengantongi Izin Pendirian Nomor 421.2/92/DPMPTSP dan Izin Operasional Nomor 400.3/2711/DISDIKBUD, serta mulai berkembang sebagai rujukan praktik pendidikan anak usia dini berbasis kampus di tingkat lokal. Hal ini tercermin dari adanya permintaan studi tiru dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tengah mengembangkan daycare serupa.

Senyum percaya diri terpancar dari wajah anak-anak di perayaan Hari Kartini—cantik dalam ekspresi, bebas dalam berekspresi.
Di sisi lain, kekuatan utama Daycare Ananda Mulia tidak hanya terletak pada layanan pengasuhan, tetapi pada pendekatannya yang menjadikan setiap momentum pembelajaran—termasuk peringatan hari besar nasional—sebagai sarana pembentukan karakter anak. Setiap kegiatan didokumentasikan dan direfleksikan sebagai praktik baik (best practice) yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan ajar di lingkungan prodi. Guru-guru juga dibiasakan melakukan observasi perkembangan anak secara berkelanjutan, sehingga pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual.
Meski telah menjadi rujukan di tingkat lokal, pengembangan ke arah regional tengah disiapkan melalui penyusunan panduan kegiatan tematik, penguatan jejaring dengan lembaga PAUD, serta pembukaan ruang berbagi praktik bagi pendidik dari berbagai daerah.
Menutup pernyataannya, Bety menyampaikan refleksi yang melampaui konteks peringatan Hari Kartini itu sendiri. Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar membentuk peran sosial, tetapi membangun manusia seutuhnya.
“Kita tidak sedang membesarkan anak laki-laki atau perempuan. Kita sedang membesarkan generasi masa depan,” tutupnya. (YMN)










