Layanan Google for Education yang digunakan Universitas Mulia. Foto: Google

UM – Biro Pusat Sistem Informasi mengingatkan kepada seluruh pengguna akun layanan Google for Education Universitas Mulia agar berhati-hati dan responsive memahami teknologi informasi. Hal ini dikarenakan Google memberikan peraturan yang sangat ketat kepada pengguna untuk menghindari penyalahgunaan, Senin (2/11).

“Google memberikan peringatan ini sudah beberapa kali dan sudah kami informasikan kepada pengguna, terutama mahasiswa agar tidak menyalahgunakan akun students yang diberikan kepadanya,” tutur Subur Anugerah, S.T., M.Eng. selaku Kepala Biro PSI Universitas Mulia.

Ia menerangkan, bentuk penyalahgunaan akun tersebut adalah tidak digunakan sebagaimana mestinya.

“Ya, harusnya akun itu untuk mendukung kegiatan administrasi dan akademik saja, bukan untuk keperluan lain, misalnya, untuk keperluan bisnis, digunakan untuk taruhan game online, atau menyimpan berkas video, foto, musik, dan software yang melanggar hukum serta konten terlarang lainnya,” terangnya.

Ia khawatir, jika penyalahgunaan itu tidak diindahkan oleh pengguna, baik mahasiswa maupun dosen misalnya, maka Google akan memberikan peringatan melalui email mereka agar responsive melakukan tindakan pembersihan sendiri atau penghapusan konten yang melanggar tersebut.

“Biasanya kita beri waktu beberapa hari kepada yang bersangkutan untuk melakukan penghapusan atau pembersihan sendiri. Tetapi jika tetap tidak diindahkan, maka kami akan melakukan penangguhan dan penghapusan,” terangnya.

Layanan Google for Education yang digunakan Universitas Mulia. Foto: Google

Layanan Google for Education yang digunakan Universitas Mulia. Foto: Google

Google mengalihkan pengguna mengakses layanan yang ditangguhkan Google pada informasi ini. Foto: Google

Google mengalihkan pengguna mengakses layanan yang ditangguhkan Google pada informasi ini. Foto: Google

Menurutnya, PSI akan melakukan penangguhan sehingga pengguna tidak dapat mengakses layanan Google Education agar yang bersangkutan datang menghubungi Administrator untuk menyelesaikan masalahnya.

“Mereka harus menyelesaikan masalahnya. Kita akan beri surat pernyataan agar yang bersangkutan sepakat dan menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya di masa yang akan datang,” tuturnya.

Tetapi, apabila tidak juga ada respond dan tindakan berarti dari yang bersangkutan, maka PSI akan menangguhkan dan Google sendiri yang akan menangguhkan layanan kepada yang bersangkutan.

“Kalau sudah ditangguhkan oleh Google sendiri, ya kami angkat tangan tidak banyak bisa berbuat. Solusinya, selama ada itikad baik dan permohonan dari yang bersangkutan, maka dari sisi kami akan membuka layanan yang bisa dibuka dan masih tersedia saja, sedangkan layanan Google Drive yang ditangguhkan Google harus diurus sendiri oleh yang bersangkutan. Ini merepotkan sekali,” tuturnya.

Berdasarkan data yang diterimanya, pelapor biasanya tidak mengaku telah menyalahgunakan layanan Google Drive, misalnya, untuk menyimpan konten terlarang. “Ya, kebanyakan memang tidak mengaku dan merasa tidak tahu, tapi kami memiliki data aplikasi apa saja yang mereka gunakan dan terikat pada layanan Google Students miliknya,” terangnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar pengguna layanan Google Education Universitas Mulia harus betul-betul mengerti, memahami, dan bertanggung jawab menjaga akunnya masing-masing untuk digunakan sesuai peruntukannya, yakni kegiatan administrasi dan akademik atau untuk kegiatan belajar mengajar saja, bukan untuk selain itu.

“Bisa jadi pengguna terkena phising, atau pernah mengakses kemudian mendaftar dan login di aplikasi video atau konten terlarang, secara tidak sadar menggunakan akun students di smartphone mereka. Mereka harus hati-hati karena semua itu bisa dicegah jika pengguna mengerti dan memahami bagaimana memanfaatkan teknologi informasi secara baik, benar, dan bijaksana,” pungkasnya. (SA/PSI)