Tag Archive for: kerja sama kampus

Tana Paser, 10 Mei 2026 — Universitas Mulia membawa agenda pendidikan berbasis kebutuhan daerah ke ruang kebijakan Pemerintah Kabupaten Paser melalui audiensi bersama Wakil Bupati Paser H. Ikhwan Antasari, S.Sos., di ruang kerja Bupati Paser. Pertemuan ini membahas bagaimana pendidikan tinggi dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, struktur pembangunan daerah, dan arah penguatan sumber daya manusia Kabupaten Paser.

Dialog antara Pemerintah Kabupaten Paser dan Universitas Mulia berfokus pada sejumlah isu mendasar: perluasan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas SDM daerah, optimalisasi implementasi program pendidikan gratis, serta pengembangan model pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan wilayah hingga desa binaan.

Pemerintah Kabupaten Paser memaparkan bahwa pembangunan SDM menjadi salah satu poros utama kebijakan daerah, termasuk melalui program “Ayo Sekolah” dan target “1 Desa 1 Sarjana” yang menjangkau 139 desa dan 5 kelurahan. Bagi Universitas Mulia, arah ini menghadirkan ruang kerja akademik yang jelas: pendidikan tinggi perlu diterjemahkan menjadi sistem yang mampu membaca potensi wilayah, menyiapkan kompetensi spesifik, dan menghasilkan lulusan yang kembali memberi dampak pada daerah asalnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan orientasi Universitas Mulia yang menempatkan pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kapasitas sosial, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat. Kebutuhan kawasan pesisir, penguatan desa, tata kelola pemerintahan lokal, hingga pengembangan sektor produktif menjadi ruang di mana perguruan tinggi dapat bekerja lebih relevan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian.

Dalam pembahasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Paser juga mendorong keterlibatan Universitas Mulia dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis agar akses terhadap perguruan tinggi tidak terhambat persoalan ekonomi. Posisi ini menempatkan kampus bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi sebagai bagian dari mekanisme perluasan kesempatan sosial.

Pembahasan tidak berhenti pada mahasiswa. Penguatan kapasitas perangkat desa dan RT melalui pelatihan maupun pendidikan lanjutan turut menjadi perhatian. Bagi Universitas Mulia, konteks ini membuka ruang kontribusi yang lebih luas: kampus dapat berfungsi sebagai penyedia pengetahuan terapan bagi penguatan tata kelola masyarakat dari tingkat lokal.

Pertemuan ini juga membuka kemungkinan penyelenggaraan program perkuliahan di luar kampus utama, pendidikan yang terkoneksi dengan kebutuhan dunia kerja, serta skema kolaborasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil Kabupaten Paser. Dengan demikian, pendidikan tinggi ditempatkan sebagai bagian dari desain pembangunan, bukan sekadar layanan akademik.

Kehadiran jajaran Universitas Mulia yang terdiri atas Wakil Ketua MBI Drs. Tatang Setyawan, Koordinator Bidang Amrico Yuliasnarto, Anggota Bidang Branding Dr. Pudjiati, S.E., M.M., serta Anggota Bidang Inovasi Titin Yuliana menunjukkan keseriusan institusi dalam membaca kebutuhan daerah sebagai dasar pengembangan kolaborasi.

Melalui audiensi ini, Universitas Mulia tidak sekadar membangun relasi kelembagaan, tetapi menempatkan kapasitas akademiknya dalam percakapan yang lebih substansial: bagaimana pendidikan tinggi dapat disusun selaras dengan kebutuhan daerah, memperluas mobilitas sosial masyarakat, dan berkontribusi langsung pada pembentukan masa depan Kabupaten Paser. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia resmi menjalin kerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) oleh lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia.

Dalam kesempatan tersebut, para dekan di lingkungan Universitas Mulia juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Deddy Eduar Eka Saputra, guna memperkuat implementasi program pendidikan, pemberdayaan, dan pengabdian masyarakat di lingkungan pemasyarakatan.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Adapun lima fakultas yang turut menandatangani PKS meliputi Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Teknik.

Atas arahan Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., penjelasan terkait arah dan substansi kerja sama disampaikan oleh Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., selaku Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia berfoto bersama Jusmianti dan tim Balai Pemasyarakatan usai kegiatan penandatanganan kerja sama.

Wahyu menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memiliki urgensi strategis karena tantangan pembangunan sumber daya manusia saat ini tidak hanya berada pada ruang pendidikan formal, tetapi juga menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan reintegrasi sosial.

“Lembaga pemasyarakatan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan manusia agar mampu kembali produktif di tengah masyarakat. Kampus hadir bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang dapat mendukung peningkatan kualitas SDM, literasi, keterampilan, kesehatan mental, hingga penguatan program pemberdayaan warga binaan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, Universitas Mulia memandang lembaga pemasyarakatan bukan sekadar institusi hukum, melainkan ruang rehabilitasi sosial dan kemanusiaan yang memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai pendidikan tinggi modern.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H.,M.H., Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, S.E.,M.E., Kepala Bapas, dan jajaran berfoto bersama usai penandatanganan MoU.

“Pemasyarakatan memiliki fungsi rehabilitatif dan edukatif yang sangat relevan dengan nilai pendidikan. Kampus melihat warga binaan sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, memperoleh kesempatan kedua, dan dipersiapkan kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, Universitas Mulia berkomitmen agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni administratif semata. Implementasi program akan diarahkan pada kegiatan konkret, terukur, dan berkelanjutan yang menyentuh kebutuhan langsung di lingkungan pemasyarakatan.

Program tersebut meliputi pelatihan keterampilan, pendampingan psikososial, penelitian terapan, kuliah praktisi, penguatan literasi digital, literasi bantuan hukum, hingga berbagai bentuk pengabdian masyarakat berbasis problem solving.

“Setiap program akan memiliki target capaian dan evaluasi berkala, serta melibatkan dosen dan mahasiswa agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pemasyarakatan,” jelasnya.

Keterlibatan lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia juga diharapkan mampu menghadirkan pendekatan multidisipliner dalam mendukung penguatan sistem pemasyarakatan di Kalimantan Timur.

Fakultas Ilmu Komputer akan berkontribusi dalam penguatan literasi dan teknologi digital, Fakultas Hukum pada aspek bantuan hukum dan edukasi hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan melalui pendekatan psikososial dan kesehatan masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam pemberdayaan kewirausahaan, serta Fakultas Teknik melalui pengembangan keterampilan dan inovasi teknologi tepat guna.

Para dekan di lingkungan Universitas Mulia bersama jajaran pemasyarakatan berfoto bersama usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Lebih jauh, Wahyu menyebut kerja sama tersebut sangat relevan dengan implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam membangun pembelajaran kontekstual berbasis realitas sosial.

Mahasiswa nantinya berpeluang terlibat dalam program magang, penelitian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial-edukatif di lingkungan pemasyarakatan.

“Pengalaman tersebut penting untuk membentuk kompetensi profesional sekaligus sensitivitas sosial mahasiswa, sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki empati dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ungkapnya.

Universitas Mulia juga telah menyiapkan indikator keberhasilan kerja sama yang mencakup aspek akademik dan sosial, mulai dari jumlah program implementatif, keterlibatan dosen dan mahasiswa, luaran penelitian, hingga peningkatan kapasitas dan keterampilan warga binaan.

Di akhir keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi prinsip utama dalam seluruh pelaksanaan program kerja sama tersebut.

“Setiap program akan dirancang dengan prinsip inklusif, edukatif, dan humanis, sehingga kerja sama ini tidak hanya menghasilkan capaian administratif, tetapi juga memberikan dampak sosial yang bermakna bagi kehidupan manusia dan masyarakat secara luas,” tutupnya. (YMN)

Balikpapam, 6 Mei 2026— Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 1 BRILian Banking Associate Program (BBAP) bersama Bank BRI di Universitas Mulia memperlihatkan bagaimana fungsi kampus berkembang melampaui ruang kuliah. Melalui Career Development Center Universitas Mulia, agenda ini ditempatkan bukan sekadar sebagai pembukaan akses kerja, tetapi sebagai bagian dari rancangan institusional untuk mempertemukan kapasitas lulusan dengan kebutuhan sektor profesional yang terus bergerak.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa keterhubungan dengan industri dibangun melalui pendekatan yang lebih aktif, yakni membaca kebutuhan pasar tenaga kerja, memahami karakter mitra profesional, lalu menerjemahkannya ke dalam penguatan kesiapan mahasiswa dan alumni. Menurutnya, relasi dengan dunia kerja tidak diposisikan sebagai respons pasif terhadap lowongan, melainkan sebagai proses penyesuaian kompetensi yang dirancang lebih sadar sejak awal.

Karena itu, persiapan yang diberikan kepada alumni tidak berhenti pada distribusi informasi rekrutmen. Career Development Center Universitas Mulia menempatkan pembinaan, pendampingan, dan penguatan kesiapan personal sebagai bagian penting sebelum lulusan memasuki arena seleksi. Soft skill, daya adaptasi, pemahaman terhadap kultur profesional, hingga strategi menghadapi proses perekrutan menjadi elemen yang terus diasah agar alumni tidak datang sebagai pelamar biasa, tetapi sebagai kandidat yang memahami lanskap kerja yang akan mereka masuki.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Universitas Mulia berupaya menjaga relevansi pendidikan dengan realitas industri. Dunia perbankan, misalnya, tidak hanya menuntut kemampuan administratif, tetapi juga integritas, kecakapan interpersonal, dan kesiapan menghadapi ritme profesional yang kompetitif. Dalam konteks itulah, Career Development Center berperan sebagai simpul transisi—mengubah pengalaman akademik menjadi kesiapan kerja yang lebih terukur.

Pelaksanaan Walk-in Interview BRILian Banking Associate Program (BBAP) Bank BRI bersama Pusat Karir Universitas Mulia di Ruang Executive White Campus menjadi ruang temu antara kesiapan lulusan dan kebutuhan industri perbankan.

Dari pelaksanaan walk-in interview tersebut, sejumlah alumni diketahui melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Capaian ini menjadi indikator bahwa proses pembekalan yang dilakukan kampus memiliki keterhubungan dengan ekspektasi industri. Bagi Universitas Mulia, keberhasilan semacam itu bukan semata persoalan diterima bekerja, melainkan penanda bahwa lulusan mampu memasuki sistem seleksi eksternal dengan fondasi yang memadai.

Ke depan, Career Development Center Universitas Mulia memandang kolaborasi dengan Bank BRI sebagai hubungan strategis yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Orientasinya tidak berhenti pada penyelenggaraan wawancara kerja, tetapi diarahkan pada terbentuknya jalur konektivitas yang lebih kuat antara alumni dan kebutuhan industri, termasuk melalui pelatihan, pembekalan kompetensi, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan dinamika sektor profesional.

Langkah tersebut memperlihatkan arah yang semakin jelas: Universitas Mulia tidak hanya berfokus pada proses akademik di dalam kampus, tetapi juga pada bagaimana lulusan bergerak setelahnya. Di tengah persaingan tenaga kerja yang semakin selektif, kekuatan institusi tidak hanya diukur dari jumlah wisudawan, melainkan dari kemampuannya menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia profesional dengan kesiapan, pemahaman, dan posisi tawar yang lebih baik.

Melalui peran Career Development Center Universitas Mulia bagai representasi mutu institusi di hadapan dunia industri. (YMN)