Tag Archive for: Desain Komunikasi Visual

Balikpapan, 4 Mei 2026— Dalam lanskap industri kreatif yang terus bergerak dinamis, penguasaan desain tidak lagi berhenti pada kemampuan estetis semata, melainkan menuntut kedalaman konseptual dalam membangun identitas visual yang relevan, strategis, dan komunikatif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV) menggelar kuliah tamu bertajuk “Menghidupkan Ide Lewat Desain Brand” pada 28 April 2026 melalui platform Google Meet sebagai ruang akademik alternatif yang memperluas pembelajaran mahasiswa di luar struktur perkuliahan formal.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar institusional program studi dalam menghubungkan fondasi teoritis yang dipelajari di kelas dengan realitas profesional di sektor industri kreatif. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menelaah branding bukan sekadar sebagai produk visual, tetapi sebagai konstruksi identitas yang memadukan riset, strategi komunikasi, serta pemaknaan simbolik dalam setiap elemen desain.

Rangkaian kegiatan berlangsung sistematis melalui pembukaan, sambutan akademik program studi, pengantar materi, pemaparan substansi utama, diskusi interaktif, hingga sesi partisipatif yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara aktif. Format tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa DKV tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan satu arah, tetapi juga pada pembentukan daya analisis, kreativitas, dan keberanian intelektual dalam merespons tantangan profesi.

Fokus utama pembahasan menempatkan branding sebagai inti dari komunikasi visual modern. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa logo tidak dapat dipahami hanya sebagai elemen grafis yang menarik perhatian, melainkan sebagai medium representasi nilai dan narasi sebuah brand. “Logo bukan sekadar gambar yang terlihat keren, tetapi memiliki nyawa dan cerita di dalamnya,” menjadi salah satu gagasan penting yang menegaskan bahwa identitas visual harus mampu menghadirkan karakter, filosofi, serta pesan yang terbangun melalui komposisi warna, bentuk, dan tipografi secara utuh.

Perspektif tersebut memberikan landasan akademik yang penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa desain brand merupakan proses strategis yang berakar pada pemikiran kritis dan sensitivitas komunikasi. Dalam konteks ini, mahasiswa didorong untuk melihat karya desain bukan hanya sebagai hasil visual, tetapi sebagai instrumen komunikasi yang memiliki daya hidup, arah, dan posisi dalam membangun persepsi publik.

Pelaksanaan kuliah tamu ini juga merefleksikan komitmen HIMA DKV dalam memperkuat ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan industri. Organisasi kemahasiswaan tidak sekadar berfungsi sebagai wadah aktivitas mahasiswa, tetapi turut berperan sebagai katalisator akademik yang menghadirkan ruang temu antara pengetahuan kampus dan kebutuhan profesional.

Melalui kegiatan semacam ini, penguatan kapasitas mahasiswa DKV diarahkan pada kesiapan menghadapi industri kreatif dengan perspektif yang lebih komprehensif—bahwa desain adalah perpaduan antara kreativitas, strategi, dan kebermaknaan. Dengan demikian, kampus terus menegaskan posisinya sebagai ruang pengembangan intelektual yang tidak hanya menghasilkan desainer, tetapi juga konseptor visual yang mampu menerjemahkan ide menjadi identitas yang bernilai. (YMN)

 

Samarinda, 18 april 2026 — Sejumlah mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Mulia menghadiri kegiatan Industrial Visit & Study Program yang dirangkaikan dengan Illustration & Graphic Memoir Exhibition 2026 pada 18 April 2026 di kawasan Jl. Wahid H II, Komplek TVRI Graha Asri, Samarinda. Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas kreatif Samarinda Design Hub ini menjadi ruang temu antara praktik industri dan proses pembelajaran akademik yang tengah dijalani mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi indikator kinerja program studi, khususnya pada aspek kunjungan ke industri. Namun, aktivitas ini tidak berhenti pada pemenuhan target administratif. Mahasiswa berinteraksi langsung dengan karya ilustrasi, komik, dan graphic memoir yang mengangkat lanskap kota, dinamika sosial, hingga narasi personal kreator—membuka kesempatan untuk memahami bagaimana gagasan berkembang menjadi bahasa visual yang komunikatif.

Pendiri Samarinda Design Hub sekaligus kurator pameran, Ramadhan S. Pernyata, menyambut kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari pertemuan yang produktif antara dunia pendidikan dan komunitas kreatif. Ia menilai ruang pamer tidak hanya berfungsi sebagai tempat presentasi karya, tetapi juga sebagai medium belajar yang memperlihatkan proses kreatif secara terbuka—mulai dari perumusan ide, pengolahan cerita, hingga eksekusi visual.

Menelusuri satu per satu karya, mahasiswa DKV Universitas Mulia tidak hanya melihat visual, tetapi membaca cerita yang tersembunyi di balik setiap ilustrasi.

Bagi Kaprodi DKV Universitas Mulia, Assaidatul Husna, S.Sn., M.Sn., kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan upaya membawa mahasiswa berhadapan langsung dengan realitas kerja kreatif. Ia menyebutkan bahwa meskipun program studi DKV Universitas Mulia baru berjalan dua semester dengan satu angkatan, langkah ini menjadi upaya awal untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas industri kreatif di Kalimantan Timur.

Menurutnya, momentum ini selaras dengan mata kuliah yang sedang ditempuh mahasiswa, yakni Proses Kreatif dan Ilustrasi. Pameran tersebut dinilai relevan sebagai referensi visual dalam memahami bagaimana memori personal dan narasi lokal diolah menjadi karya yang memiliki kekuatan visual sekaligus kedalaman cerita. Melalui observasi langsung, mahasiswa didorong untuk mengasah sensitivitas estetika serta kemampuan visual storytelling, yang nantinya ditransformasikan menjadi output akademik yang lebih konkret.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap potensi identitas lokal. Dalam pandangannya, tema-tema yang berangkat dari konteks lokal tidak hanya memiliki nilai kultural, tetapi juga berpeluang menembus pasar global ketika dikemas secara profesional. Meski hingga saat ini belum terjalin kerja sama formal antara program studi dan Samarinda Design Hub, interaksi semacam ini dinilai sebagai tahap awal untuk mengukur kesiapan mahasiswa sebelum memasuki rangkaian Capstone Project.

“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mahasiswa mampu menerjemahkan hasil observasi lapangan menjadi konsep desain yang matang. Namun, melalui kurikulum yang adaptif dan berbasis designpreneur, kesenjangan tersebut perlahan dapat dijembatani,” ujarnya. Ia berharap pengalaman ini dapat langsung diolah mahasiswa menjadi portofolio awal, sehingga sejak dini mereka terbiasa memposisikan diri sebagai desainer yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Di hadapan sebuah karya, ruang menjadi sunyi—menyisakan dialog antara imajinasi, pengalaman, dan makna yang perlahan terbaca.

Dari sudut pandang mahasiswa, pengalaman ini juga menghadirkan kesan yang kuat. Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) DKV Universitas Mulia, Natanael Ferdinand, menilai pameran tersebut tidak hanya menghadirkan karya berkualitas, tetapi juga menunjukkan cara apresiasi terhadap seniman yang dikemas secara serius. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan postcard berbasis ilustrasi tangan para seniman yang telah dipindai dan dijadikan koleksi menjadi salah satu pendekatan menarik, sekaligus membuka ruang bagi pengunjung untuk turut berkontribusi melalui pembelian karya dengan harga terjangkau.

Ia juga mencermati penataan ruang pamer yang menyerupai galeri profesional, mulai dari area masuk hingga ruang utama yang dipenuhi cergam (cerita bergambar), lengkap dengan narasi dan pernyataan dari masing-masing kreator. Ragam bentuk karya—dari lembar ilustrasi hingga buku yang telah diterbitkan—memberikan perspektif baru bagi mahasiswa mengenai kemungkinan pengembangan karya ilustrasi ke dalam berbagai medium. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberi dorongan bagi mahasiswa untuk lebih serius dalam mengapresiasi sekaligus memproduksi karya ilustrasi.

Hal senada disampaikan oleh salah satu mahasiswa DKV, Ali Asykari. Ia menilai kehadiran dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang tidak hanya berkesan, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap dunia desain. Menurutnya, melihat langsung karya-karya desainer lokal membuka pemahaman bahwa ide kreatif dapat berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar, seperti kehidupan sehari-hari dan lingkungan sosial.

Ia juga menyoroti suasana pameran yang interaktif serta adanya kesempatan berdiskusi dengan para pelaku industri. Bagi mahasiswa, interaksi semacam ini menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan sekadar memahami teori di ruang kelas. “Kami tidak hanya melihat karya, tetapi juga memahami proses dan latar belakangnya. Itu yang membuat pengalaman ini terasa relevan dan bermanfaat,” ujarnya.

Setiap karya bukan sekadar gambar, melainkan potongan memori yang merekam Samarinda melalui garis, warna, dan cerita yang personal.

Melalui kegiatan ini, relasi antara dunia akademik dan komunitas kreatif tidak hanya terbangun sebagai kunjungan sesaat, tetapi sebagai proses belajar yang membuka kemungkinan dialog berkelanjutan. Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin dinamis, pengalaman semacam ini menjadi penting untuk memastikan bahwa pembelajaran desain tetap terhubung dengan praktik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan karya yang berpijak pada realitas sosial di sekitarnya. (YMN)

“Menghadapi disrupsi teknologi dan percepatan digitalisasi, Universitas Mulia menyiapkan prodi-prodi barunya agar tampil kompetitif di tingkat nasional melalui technopreneurship, kurikulum OBE-KKNI yang adaptif, serta literasi digital yang terintegrasi di setiap mata kuliah. Kami ingin lulusan tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga terlatih berinovasi, berwirausaha digital, dan berkolaborasi lintas sektor. Karena itu, jejaring dengan industri 4.0, inkubator bisnis, dan komunitas kreatif harus terus diperluas, membuka ruang magang, proyek nyata, hingga peluang startup mahasiswa. Ekosistem kampus digital, dosen yang melek teknologi, dan penguatan nilai lokal berbasis digital akan memastikan prodi-prodi baru Universitas Mulia relevan dan unggul di masa depan.”Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. (Rektor Universitas Mulia)

 

Humas Universitas Mulia, 17 Juli 2025 — Tahun akademik ini, Universitas Mulia menapaki fase baru dengan membuka empat program studi yang langsung diarahkan menanamkan fondasi mutu dan visi technopreneur. Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV) resmi dibuka sebagai jawaban kebutuhan kompetensi kontemporer.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyebut pembukaan prodi baru ini bukan sekadar perluasan administratif, melainkan langkah terukur yang menempatkan kualitas akademik sebagai pijakan utama.

“Strategi Universitas Mulia untuk menjaga kualitas akademik pada masa awal pembukaan program studi baru yang belum memiliki jejak alumni adalah memastikan rekrutmen dosen yang kompeten, menyusun kurikulum berbasis KKNI dan OBE yang relevan dengan kebutuhan industri, serta menerapkan sistem penjaminan mutu internal (SPMI) secara konsisten,” ujarnya, Kamis (17/7).

Di lantai kerja akademik kampus, pembekalan bagi para Kaprodi baru mulai dirancang sebagai ruang pembinaan yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Sementara, diskusi tentang kurikulum dilakukan lintas unit agar tidak hanya berhenti pada tataran formal, tetapi menyentuh aspek implementasi pembelajaran.

“Selain itu, kerja sama dengan mitra eksternal seperti industri dan perguruan tinggi lain dapat memperkuat pelaksanaan Tridharma,” jelasnya.

Menurutnya, jejaring eksternal menjadi bagian penting untuk mengimbangi fase awal prodi yang belum memiliki lulusan sebagai indikator kualitas.

Pada tahap awal, penyiapan dosen, materi ajar, sarana pembelajaran, serta promosi penerimaan mahasiswa menjadi fokus praktis. Namun universitas tidak berhenti di tataran target jangka pendek.

“Target jangka panjang mencakup pencapaian akreditasi Baik Sekali atau Unggul, pelacakan jejak lulusan yang terserap di dunia kerja, penguatan riset dan inovasi berbasis technopreneur, serta perluasan kerja sama dengan industri dan institusi internasional untuk meningkatkan rekognisi dan daya saing prodi,” terang Ahsin Rifai.

Dinamika kurikulum juga menuntut para Kaprodi baru agar tidak hanya memegang mandat administratif, tetapi terlibat aktif merumuskan strategi belajar yang adaptif. “UM perlu melakukan pembinaan terpadu melalui pelatihan intensif tentang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dan integrasi Kampus Berdampak,” katanya.

Pendekatan praktis berupa benchmarking ke perguruan tinggi mapan, forum asosiasi prodi, hingga diskusi bersama pengguna lulusan akan dilakukan agar pembaruan kurikulum tidak berhenti pada dokumen cetak.

Dalam lanskap disrupsi teknologi, Universitas Mulia mendorong setiap prodi baru berdiri dengan ekosistem technopreneur. “Universitas Mulia dapat memposisikan program studi barunya secara kompetitif di tingkat nasional dengan mengedepankan pendekatan technopreneurship, kurikulum adaptif berbasis OBE dan KKNI, serta integrasi literasi digital pada seluruh mata kuliah,” paparnya.

Kolaborasi lintas prodi juga menjadi salah satu instrumen yang diharapkan bisa mengokohkan ekosistem belajar. Rektor mencontohkan potensi integrasi di level pembelajaran praktis. “Peran sivitas akademika lintas prodi di Universitas Mulia sangat penting dalam membangun sinergi multidisipliner antara prodi baru dan prodi lama,” tegasnya.

Di ruang diskusi kampus, integrasi pengetahuan bukan lagi slogan. Dosen DKV dapat terlibat mendukung visualisasi rancangan proyek Teknik Sipil. Pengembangan efisiensi sistem produksi pada TPHP dapat dikonsolidasikan bersama Teknik Industri.

Melalui pembukaan empat prodi baru ini, Universitas Mulia merumuskan ulang strategi Tridharma Perguruan Tinggi agar lebih responsif, adaptif, dan kontekstual di tengah akselerasi teknologi. Di balik setiap lembar kurikulum, universitas menanamkan satu pondasi: technopreneur bukan hanya muatan materi, tetapi etos kerja dan pola pikir generasi yang disiapkan untuk menjemput peluang masa depan.

Humas UM (YMN)