Hari Pertama UAS di Universitas Mulia, Mahasiswa TPHP Diuji Menganalisis Fenomena Pangan melalui Biologi Dasar

Balikpapan, 29 Juni 2026 – Mengapa buah yang telah dipotong berubah menjadi kecokelatan? Bagaimana proses fermentasi menghasilkan yoghurt atau tempe? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari cara mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Pangan (TPHP) Universitas Mulia menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Biologi Dasar pada hari pertama pelaksanaan UAS hari ini, Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Berlangsung di Gedung Teknik ruang D203 pukul 08:00 wita, ujian dirancang untuk mengukur kemampuan mahasiswa menerapkan konsep biologi dalam menganalisis berbagai fenomena yang dijumpai pada proses pengolahan pangan.

Bagi mahasiswa TPHP, Biologi Dasar bukan sekadar mata kuliah pengantar. Mata kuliah ini menjadi fondasi yang membentuk cara berpikir ilmiah sebelum mereka mempelajari bidang yang lebih spesifik, seperti mikrobiologi pangan, keamanan pangan, hingga teknologi pengolahan pangan.

Kaprodi TPHP sekaligus dosen pengampu Mata Kuliah Biologi Dasar, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.M., menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami hubungan antara konsep biologi dengan berbagai proses yang mereka temui dalam industri pangan.

“Kompetensi yang ingin dibangun melalui Biologi Dasar adalah menjadi dasar berpikir mahasiswa dalam memahami proses pengolahan pangan dari sisi biologis. Misalnya, ketika mempelajari fermentasi, mahasiswa mengetahui bahwa proses pembuatan yoghurt melibatkan pertumbuhan bakteri. Dengan memahami konsep tersebut, mereka dapat menjelaskan mengapa suatu proses pengolahan pangan dapat terjadi,” ujarnya.

Menurut Rafika, penempatan mata kuliah ini pada semester awal bukan tanpa alasan. Selain memetakan pengetahuan dasar mahasiswa, Biologi Dasar menjadi pijakan untuk membangun pola pikir analitis yang akan terus digunakan pada mata kuliah-mata kuliah berikutnya.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam penyusunan soal UAS. Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak diarahkan untuk mengukur kemampuan menghafal istilah atau definisi semata, melainkan kemampuan mahasiswa menerapkan konsep biologi dalam menjelaskan persoalan nyata yang berkaitan dengan bahan pangan.

“Mahasiswa tidak hanya mengerjakan soal konseptual, tetapi juga dihadapkan pada studi kasus sederhana. Misalnya, mereka diminta menganalisis mengapa buah mengalami pencokelatan setelah dipotong, mengapa makanan dapat mengalami fermentasi, mengapa bahan pangan membusuk, atau bagaimana peran mikroorganisme dalam menghasilkan produk pangan,” jelasnya.

Model evaluasi tersebut selaras dengan metode pembelajaran yang telah diterapkan selama satu semester. Rafika mengungkapkan bahwa mahasiswa lebih banyak diberikan tugas yang mendorong mereka mengamati fenomena di sekitar, kemudian menggambarkan sekaligus menjelaskan proses biologis yang terjadi.

“Mahasiswa kami terbiasa menggambar dan menjelaskan proses reaksi biologis yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti fermentasi tape, tempe, yoghurt maupun proses pembusukan buah. Dengan cara itu, mereka belajar menghubungkan teori dengan kondisi nyata sehingga konsep biologi tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi menjadi dasar dalam mengambil keputusan pada proses produksi dan pengolahan pangan,” katanya.

Pendekatan pembelajaran tersebut, lanjut Rafika, memberikan perubahan positif terhadap proses belajar mahasiswa. Salah satu perkembangan yang paling terlihat adalah meningkatnya rasa ingin tahu mereka selama mengikuti perkuliahan.

“Melalui tugas-tugas tersebut, pembelajaran menjadi lebih menarik. Mahasiswa tidak hanya membaca teori, tetapi juga mengamati fenomena yang mereka temukan di sekitar. Dari situ terlihat bahwa pemahaman mereka semakin kuat karena mereka memahami alasan di balik setiap proses biologis yang terjadi,” tuturnya.

Mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Pangan (TPHP) Universitas Mulia mengikuti Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Biologi Dasar di bawah pengawasan Kaprodi TPHP sekaligus dosen pengampu, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.M., di Gedung Teknik ruang D203, Senin (29/6).

Pelaksanaan UAS juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan bagi program studi. Hasil yang diperoleh mahasiswa akan dianalisis untuk melihat sejauh mana penguasaan konsep dasar sebelum mereka memasuki mata kuliah yang lebih kompleks.

“Nilai Biologi Dasar menjadi salah satu indikator untuk melihat kesiapan mahasiswa sebelum mempelajari mata kuliah lanjutan, seperti mikrobiologi pangan, keamanan pangan, dan teknologi pengolahan pangan. Jadi, hasil UAS bukan hanya menjadi nilai akhir mahasiswa, tetapi juga bahan evaluasi kami dalam proses pembelajaran setiap semester,” jelas Rafika.

Salah seorang peserta UAS, M. Dava Riski P., mengaku bahwa proses pembelajaran selama satu semester membantunya memahami materi yang diujikan. Ia memanfaatkan penjelasan dosen di kelas, tugas-tugas perkuliahan, video pembelajaran, serta kisi-kisi yang diberikan sebagai bekal menghadapi ujian.

“Pengalaman belajar yang paling membantu saya adalah mengikuti penjelasan materi di kelas, mengerjakan tugas, menyimak video pembelajaran di YouTube, serta mempelajari kisi-kisi yang diberikan dosen. Semua itu sangat membantu saya memahami materi sebelum UAS,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa beberapa materi Biologi Dasar cukup menantang karena memerlukan pemahaman konsep yang mendalam. Namun, menurutnya, konsistensi belajar menjadi cara terbaik untuk mengatasi kesulitan tersebut.

“Tantangan terbesar saya adalah memahami beberapa materi yang cukup kompleks. Cara mengatasinya adalah terus belajar dan mengulang materi sampai benar-benar paham,” katanya.

Menutup pelaksanaan UAS hari pertama tersebut, Rafika berpesan agar mahasiswa memandang ujian sebagai sarana untuk mengukur perkembangan kompetensi, bukan semata-mata mengejar nilai.

“Jangan melihat UAS hanya sebagai nilai akhir. Jadikan UAS sebagai latihan untuk mengukur kesiapan diri. Pemahaman Biologi Dasar akan menjadi bekal penting ketika mahasiswa mempelajari proses pengolahan, fermentasi, pengendalian mutu, keamanan pangan, hingga menghadapi berbagai tantangan nyata di industri pangan,” pungkasnya. (YMN)