Fakultas Teknik Universitas Mulia Siapkan Program Pelatihan dan Teknologi Tepat Guna bagi Warga Binaan

Balikpapan, 5 Mei 2026– Universitas Mulia mulai menyiapkan sejumlah program pelatihan keterampilan dan pemberdayaan produktif bagi warga binaan melalui kerja sama antara Fakultas Teknik dan Deddy Eduar Eka Saputra selaku Kepala Bapas Kelas I Balikpapan.

Program tersebut menjadi bagian dari penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Teknik Universitas Mulia dan pihak pemasyarakatan dalam rangka penguatan pembinaan berbasis pendidikan dan keterampilan.

Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto Putra Bura, S.T., M.Eng. mengatakan kontribusi Fakultas Teknik akan dijalankan melalui tiga program studi, yakni Teknik Industri, Teknik Sipil, serta Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Menurutnya, masing-masing program studi memiliki ruang kontribusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat warga binaan.

“Teknik Industri dapat membantu dalam pelatihan manajemen kerja, kewirausahaan, dan peningkatan keterampilan produktif. Teknik Sipil dapat mendukung pelatihan keterampilan konstruksi dan perawatan fasilitas umum. Sementara Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian dapat memberikan pelatihan pengolahan pangan dan pemanfaatan hasil pertanian yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai peluang pengembangan teknologi tepat guna dan pelatihan keterampilan teknis di lingkungan pemasyarakatan cukup besar karena setiap warga binaan memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda.

Karena itu, Fakultas Teknik ingin menghadirkan program yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan yang berguna setelah menyelesaikan masa pembinaan.

“Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengembangkan ide, keterampilan, dan soft skill yang mereka miliki sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan sosial maupun kehidupan setelah masa pembinaan,” katanya.

Selain berfokus pada pembinaan warga binaan, kerja sama tersebut juga membuka ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Fakultas Teknik.

Pascarianto menyebut lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami persoalan sosial sekaligus menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus.

Mahasiswa nantinya dapat terlibat dalam praktikum lapangan, pendampingan program, hingga penyusunan solusi berbasis rekayasa sesuai bidang keilmuan masing-masing program studi.

“Mahasiswa dapat belajar langsung memahami kondisi masyarakat dan kebutuhan warga binaan melalui pelatihan keterampilan maupun pendampingan program sesuai bidangnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan teknologi dan infrastruktur memiliki peran penting dalam mendukung proses pembinaan karena dapat membantu warga binaan mengembangkan kemampuan produktif dan meningkatkan kesiapan sosial mereka.

Menurutnya, dukungan fasilitas, pelatihan, dan penerapan teknologi sederhana yang sesuai kebutuhan dapat membantu warga binaan menjadi lebih mandiri dan siap kembali ke tengah masyarakat.

Di akhir wawancara, Pascarianto berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat membuka ruang kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kemampuan teknis maupun soft skill warga binaan.

“Kami berharap program ini dapat membantu warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat, meningkatkan rasa percaya diri, serta lebih siap menghadapi kehidupan sosial dan dunia kerja setelah menyelesaikan masa pembinaan,” tutupnya. (YMN)