Pengurus Yayasan Airlangga bersama kepala devisi dan seluruh karyawan pria. Foto: Media Kreatif

UM – Universitas Mulia menjadi tuan rumah Halalbihalal yang digelar Yayasan Airlangga bersama seluruh karyawan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus Cheng Ho pada Senin (17/5) ini berlangsung sederhana dan cukup hikmat. Pasalnya, masing-masing karyawan datang dengan membawa makanan sendiri untuk kemudian ditukarkan dengan makanan karyawan yang lain.

“Kali ini agak berbeda. Belum pernah kita sekalipun Hahalbihalal membawa makanan dari rumah kemudian ditukarkan mengambil makanan dari teman yang lain, walaupun juga disiapkan tumpeng,” tutur Manager Pendidikan Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H.

Menurut Pak Agung, yang juga Rektor Universitas Mulia ini, dengan tukar menukar makanan antar karyawan dimaksudkan untuk mempererat jalinan silaturahmi, mengembangkan sikap dan kepedulian pada sesama yang sesuai dengan kultur budaya di Indonesia. Menurutnya, tidak ada Halalbihalal di luar negeri kecuali hanya ada di Indonesia.

“Mereka (di luar negeri) tidak mengenal Halalbihalal, hanya silaturahmi yang ada. Kemudian berkembang lagi kata mudik, orang Jawa mengatakan mudik itu muleh disik, tapi kalau orang Betawi bilang ‘udik’ atau kampung,” tuturnya.

Selaku Manager Pendidikan, Pak Agung berpesan terutama kepada guru dan dosen di lingkungan Yayasan Airlangga agar tidak terlalu fokus pada sekadar bekerja dan mengajar saja, tapi juga seharusnya memperhatikan kesulitan siswa maupun mahasiswa.

Menurut Pak Agung, saat ini penguasaan ilmu pengetahuan guru dan dosen kalah jika dibanding adanya teknologi informasi yang semakin canggih. “Siapa guru atau dosen yang paling hebat, kalah di sini (sambil menunjukkan Smartphone),” tuturnya. Ia mengatakan, segala informasi pengetahuan dapat langsung terjawab oleh teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Menurutnya, 80% pengetahuan dapat ditemukan di perangkat genggam tersebut. 50% keterampilan juga dapat ditemukan di perangkat teknologi informasi. “Tapi yang namanya Softskills, etika, perilaku itu dari bapak ibu guru dan dosen langsung,” tuturnya.

Sebagai lembaga pendidikan, Pak Agung berpesan kepada seluruh guru dan dosen agar tidak saja sekadar mengajar dan memberikan keterampilan saja, tapi juga diharapkan membekali siswa satu per satu agar mengetahui permasalahan anak didik dengan baik sehingga tetap semangat dan senang giat mencari ilmu.

Pengurus Yayasan Airlangga bersama kepala devisi dan seluruh karyawan pria. Foto: Media Kreatif

Pengurus Yayasan Airlangga bersama kepala devisi dan seluruh karyawan pria. Foto: Media Kreatif

Pengurus Yayasan Airlangga bersama kepala devisi dan seluruh karyawan wanita. Foto: Media Kreatif

Pengurus Yayasan Airlangga bersama kepala devisi dan seluruh karyawan wanita. Foto: Media Kreatif

Manager Pendidikan Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. bersama Ketua Yayasan Airlangga Ibu Hj. Mulia Hayati Deviantie dan Ibu Ririn Kusdiawaty. Foto: Media Kreatif

Manager Pendidikan Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. bersama Ketua Yayasan Airlangga Ibu Hj. Mulia Hayati Deviantie dan Ibu Ririn Kusdiawaty. Foto: Media Kreatif

Sesepuh Yayasan Airlangga H. Hasyim Machmud bersama istri. Foto: Media Kreatif

Sesepuh Yayasan Airlangga H. Hasyim Machmud bersama istri. Foto: Media Kreatif

Salah satu tumpeng nasi kuning dari SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan. Foto: Media Kreatif

Salah satu tumpeng nasi kuning dari SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan. Foto: Media Kreatif

Tampak hadir sesepuh Yayasan Airlangga H. Hasyim Machmud beserta istri, Ketua Yayasan Hj. Mulia Hayati Deviantie, Bendahara Yayasan Hj. Elly Amalia, Hj. Ririn Kusdiawaty, beserta seluruh karyawan yang berada di Yayasan Airlangga, di Kampus Utama Universitas Mulia Balikpapan, SMK Airlangga, SMK Kesehatan Airlangga, dan SMP Plus Airlangga.

Sementara itu, Richki Hardi, S.T., M.Eng. yang tengah menggantikan Ustadz Yamani, memberikan tausiyah terkait amaliyah pasca bulan Ramadan. “Ciri-ciri ahli surga adalah wajah yang elok, ceria, dan cerah. Yang kedua lisan yang fasih/lisan yang omongannya/janjinya bisa dipegang. Ketiga hati yang bersih. Dan keempat tangan yang senang menolong/memberi,” ujar Richki.

Begitu pula ciri ahli neraka, ia menyebut ada empat ciri seperti muka yang selalu masam cemberut, lisan yang keji atau kotor, hati yang keras, dan tangan yang pelit.

Berkaitan dengan ibadah di bulan Ramadan, Richki juga menyebut beberapa tanda diterimanya amal ibadah di bulan suci Ramadan antara lain semakin kuatnya iman seseorang sehingga takut untuk berbuat dosa. Jika sebelum bulan Ramadaan seseorang sering berbuat dosa, maka setelah melewati bulan Ramadan dirinya menjadi seseorang yang takut untuk berbuat dosa.

Kedua, adanya perubahan atau perbaikan ibadah dalam diri seseorang. Perubahan ini juga bisa terlihat oleh orang lain. Ketiga, seseorang akan kembali melanjutkan puasa di bulan lain selain Ramadan.

Keempat, seseorang akan kembali mengerjakan ibadah yang biasa dia lakukan di bulan Ramadan. Kelima, tidak membeda-bedakan bulan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya. Tidak menjadikan bulan Ramadan sebagai satu-satunya kesempatan untuk beramal baik dan menumpuk pahala. Sedangkan pada bulan-bulan lain selain bulan Ramadan malah justru lalai.

Keenam, selalu diberi kemudahan untuk berbuat baik. Dan ketujuh, menjadi pribadi lebih baik. Memiliki hatinya yang lebih lembut, tutur katanya selalu terjaga, dan menjadi lebih dermawan.

(SA/PSI)