UM – Kabar menggembirakan! Berdasarkan penilaian kinerja penelitian dan pengabdian masyarakat oleh Kementerian Ristek/BRIN, tahun ini Universitas Mulia masuk dalam kelompok atau klaster Madya. Kabar ini diterima Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Richki Hardi, S.T., M.Eng. langsung melalui pengelola Simlitabmas, Jumat (23/10) sore.

Simlitabmas adalah Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang saat ini dikelola Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN). Melalui Simlitambas, Ristek/BRIN melakukan penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi sejak tahun 2016 yang lalu berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi berdampak kepada kuota anggaran penelitian, pengelolaan dana desentralisasi sesuai dengan rencana induk penelitian masing-masing perguruan tinggi, peta kebutuhan program penguatan kapasitas per klaster, dan mekanisme pengelolaan penelitian.

Komponen yang dievaluasi meliputi sumberdaya penelitian (30%), manajemen penelitian (15%), luaran/output (50%), dan revenue generating (5%). Berdasarkan analisis terhadap data yang telah diverifikasi, Ristek/BRIN mengelompokkan perguruan tinggi yang masuk sesuai tingkat dalam kelompok perguruan tinggi Mandiri, Utama, Madya, dan kelompok Binaan.

Foto bersama Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. di depan Kampus Universitas Mulia. Foto: Biro Media Kreatif

Foto bersama Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. di depan Kampus Universitas Mulia. Foto: Biro Media Kreatif

“Sebelumnya saya mengajukan pada pengelola Simlitabmas karena klaster Universitas Mulia itu masih kosong, saya belum tahu apakah masuk binaan atau madya,” tutur Richki Hardi kepada media ini, Sabtu (24/10).

Berawal dari itulah, ia mengontak pengelola Simlitabmas untuk memastikan klaster perguruan tinggi Universitas Mulia. Menurutnya, klaster perguruan tinggi turut berpengaruh terhadap jumlah anggaran penelitian yang dapat dikelola.

Dari informasi pengelola Simlitabmas, diketahui Universitas Mulia merupakan merger atau gabungan dari tiga perguruan tinggi. “Dua perguruan tinggi klaster binaan, dan satu saat itu sudah masuk klaster madya,” tuturnya.

“Tidak lama kemudian, saya mendapat balasan tim IT Simlitabmas bahwa Universitas Mulia sudah di-update menjadi Madya dan kita diminta untuk segera memanfaatkan kesempatan ini,” tuturnya.

Ketika ditanya apa keuntungan dari naiknya klaster Madya, ia mengatakan Universitas Mulia akan mendapat kesempatan memilih kategori penelitian Desentralisasi untuk skim Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi.

“Meski ke depan skim Penelitian Dosen Pemula sudah tidak tersedia lagi, tapi kita mendapat kesempatan untuk memilih skim Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi,” ungkapnya.

Saat ini khusus dosen yang sudah memasukkan permohonan skim Penelitian Dosen Pemula agar terus menyelesaikan proposal di Simlitabmas. “Ristek/BRIN memberikan batas waktu sampai tanggal 29 Oktober 2020, untuk itu kami mengimbau agar dapat diselesaikan sehari sebelumnya mengingat tidak akan ada lagi perpanjangan waktu,” katanya.

Ke depan dosen-dosen Universitas Mulia didorong untuk mengumpulkan berkas persyaratan kepangkatan untuk menyelesaikan jabatan fungsional melalui Sistem Informasi Singkron LLDIKTI XI dan Sister Universitas Mulia.

“Untuk yang belum memiliki jabatan fungsional atau staf pengajar agar segera mengurus kepangkatan minimal Asisten Ahli, sedangkan yang Asisten Ahli agar meningkatkan minimal Lektor 200, karena itu menjadi syarat ke depan agar bisa mengajukan pendanaan penelitian melalui Simlitabmas,” tutupnya.(SA/PSI)

Update: Senin (26/10)
“Bapak Ibu, mohon maaf update terbaru dari pengelola SIMLITABMAS, usulan PDP sudah tidak tersedia lagi dalam sistem untuk kluster Madya, dan jika ada pengajuan PDP yang telah di approve, maka diminta untuk dibatalkan. Demikian informasi pagi ini,” kata Ketua LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng.