Tag Archive for: Kecerdasan Buatan

Judul: Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan
Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., dan Dr. Hadiratul Kudsiah
Editor: Dyah Ayu Noor Afifah
Desain Sampul: Syifa
Tata Letak Isi: Nara Apta
Ukuran: 14,8 x 21 cm | Halaman: xix + 480
Edisi: I (25 Juli 2025)
ISBN: 978-634-7174-77-2
Penerbit: Filosofi Indonesia Press, Yogyakarta

Laut sebagai Ruang Pengetahuan dan Data

Buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia membuka wacana baru tentang bagaimana laut tidak hanya dilihat sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan dan sumber data. Digarap oleh tiga penulis lintas bidang—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. (Rektor Universitas Mulia), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia), dan Dr. Hadiratul Kudsiah (Universitas Hasanuddin)—buku ini menggeser cara pandang konservasi dari kerja manual menjadi kerja berbasis algoritma, sensor, dan pembelajaran mesin.

Buku setebal hampir lima ratus halaman ini bukan kumpulan teori, melainkan kerangka kerja yang hidup: bagaimana ilmu kelautan, teknologi, dan kebijakan publik bisa disatukan dalam satu tujuan—menyelamatkan ekosistem laut dengan kecerdasan buatan.

Kerja Kolaboratif Lintas Disiplin

Kolaborasi tiga penulis dengan latar belakang berbeda menjadi kekuatan utama karya ini. Prof. Ahsin Rifa’i, dengan ketajaman akademiknya di bidang lingkungan dan teknologi, memetakan arah konseptual. Yusuf Wibisono menulis dengan detail teknis yang presisi, membumikan konsep AI dan big data ke dalam konteks ekosistem laut Indonesia. Sementara Dr. Hadiratul Kudsiah menghadirkan lapisan empiris dari sisi biologi kelautan dan kebijakan konservasi.

Hasilnya adalah teks yang tegas dan berimbang: sains tidak kehilangan kedalaman, dan teknologi tidak kehilangan arah moralnya.

Ekosistem Laut: Dari Biodiversitas ke Tantangan Kebijakan

Bab IV menjadi tulang punggung penjelasan ekologis. Keanekaragaman hayati laut, mulai dari terumbu karang hingga lamun dan mangrove, dipaparkan dengan pendekatan ilmiah yang ringkas dan faktual. Bab ini menegaskan bahwa laut Indonesia menyimpan modal biologis dan ekonomi yang luar biasa, namun rapuh akibat polusi, eksploitasi, dan lemahnya tata kelola.

Regulasi nasional dan internasional, serta peran masyarakat sipil, ditampilkan bukan sebagai daftar formal, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial yang menentukan keberhasilan konservasi.

Teknologi sebagai Instrumen Etika

Mulai Bab VI, pembaca diajak masuk ke wilayah yang jarang disentuh oleh literatur kelautan di Indonesia: penggunaan sensor, bioakustik, citra satelit, dan drone laut. Bagian ini menunjukkan bagaimana pengawasan laut dapat berpindah dari laporan manual ke sistem berbasis data waktu nyata.

Yusuf Wibisono menulis dengan pendekatan teknologis yang efisien namun tidak kering. Ia menekankan bahwa teknologi hanyalah instrumen—etika dan kesadaran ekologis manusia tetap menjadi pengendalinya.

Di titik ini, buku ini menolak glorifikasi teknologi. AI, sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Ahsin Rifa’i dalam salah satu kutipan, harus “ditempatkan untuk kemaslahatan laut, bukan untuk mempercepat eksploitasinya.”

AI dan Laut sebagai Subjek Analisis

Bab VII dan VIII merupakan bagian paling kuat dari keseluruhan buku. Di sinilah kecerdasan buatan diperlakukan bukan sekadar alat bantu, melainkan subjek analisis konservasi. Algoritma diposisikan sebagai entitas yang mampu belajar dari pola ekosistem laut—mendeteksi anomali suhu, perubahan arus, mikroplastik, hingga pergerakan populasi ikan.

Pendekatan ini menandai pergeseran besar dalam paradigma konservasi Indonesia: dari konservasi berbasis pengamatan lapangan menuju konservasi berbasis prediksi dan simulasi data.

Lebih jauh, buku ini membahas integrasi AI dengan kebijakan publik, pencegahan illegal fishing, dan pembangunan ekonomi biru yang etis. Semuanya dijabarkan tanpa jargon berlebihan, menjadikan konsep yang kompleks terasa dapat diakses.

Keadilan Digital dan Ketimpangan Akses

Penulis tidak menutup mata terhadap persoalan struktural. Bab IX membedah hambatan yang sering diabaikan: infrastruktur digital yang timpang antara wilayah pesisir dan pusat kota, kesenjangan sumber daya manusia, hingga dilema etis dalam pengumpulan dan pemanfaatan data laut.

Sikap reflektif ini membuat buku ini lebih dari sekadar dokumentasi ilmiah—ia menjadi cermin sosial dan politik ilmu pengetahuan. Buku ini menegaskan bahwa tanpa keadilan digital, inovasi teknologi hanya akan memperluas ketimpangan.

Kasus dan Pembelajaran Nyata

Bab X menampilkan studi kasus, baik dari Indonesia maupun negara lain. Dari proyek pemantauan terumbu karang di Raja Ampat Papua Barat hingga penerapan drone bawah laut di Norwegia, penulis menempatkan Indonesia dalam peta global inovasi konservasi.

Kelebihan bagian ini terletak pada keseimbangan antara optimisme dan realisme. Penulis tidak memuja keberhasilan, tetapi menimbangnya dengan kejujuran akademik: bahwa setiap teknologi membawa risiko, dan setiap kemajuan memerlukan kebijakan yang matang.

Penutup

Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia adalah peta intelektual tentang hubungan manusia, laut, dan teknologi. Ia menyatukan disiplin yang jarang bersinggungan dan melahirkan percakapan baru dalam dunia akademik Indonesia: bahwa laut bukan hanya ruang eksploitasi ekonomi, tetapi ruang moral, pengetahuan, dan inovasi.

Buku ini menegaskan bahwa konservasi laut masa depan tidak hanya bergantung pada niat baik manusia, melainkan pada kemampuan bangsa ini mengelola pengetahuan dan teknologi dengan nurani. (YMN)

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)