Memaknai Hari Kesaktian Pancasila Harus Berpikir Makro

Drs. Suprijadi M.Pd. (baju cokelat) saat mendamping Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas'ud, S.E., M.E. pada kegiatan penyerahan Penghargaan BKN Award Tahun 2021 di Kampus Cheng Ho Universitas Mulia, (20/9). Foto: Media Kreatif

UM – Hari Kesaktian Pancasila diperingati Bangsa Indonesia setiap tanggal 1 Oktober. Pada hari tersebut telah terjadi operasi penumpasan G30S/PKI di tahun 1965 yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno dan menggantikan ideologi Pancasila menjadi komunis.

Dalam tragedi yang gagal tersebut, Partai Komunis Indonesia (PKI) didukung Pasukan Cakrabirawa, yaitu pasukan yang seharusnya bertugas melindungi Presiden Soekarno. Pimpinan PKI diceritakan menghasut masyarakat untuk mendukung keberadaan PKI. Tujuh perwira tinggi militer bersama beberapa lainnya menjadi korban keganasan G30S/PKI.

Apa hikmah yang bisa dipetik sivitas Universitas Mulia dari peristiwa tersebut?

Drs. Suprijadi, M.Pd. dosen untuk mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Mulia ini memiliki pandangan yang menarik. “Memaknai Hari Kesaktian Pancasila, Bangsa Indonesia harus berpikir makro,” tutur dosen yang juga lulusan Lemhanas ini

Pak Pri, demikian media ini menyapa, mengatakan bahwa yang dimaksud berpikir makro adalah memaknai Pancasila Sakti tidak hanya ditandai dengan kegagalan usaha pemberontakan G30S/PKI yang ingin merubah ideologi Pancasila dengan ideologi komunis.

Drs. Suprijadi M.Pd. (baju cokelat) saat mendampingi Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas'ud, S.E., M.E. pada kegiatan penyerahan Penghargaan BKN Award Tahun 2021 di Kampus Cheng Ho Universitas Mulia, (20/9). Foto: Media Kreatif

Drs. Suprijadi M.Pd. (baju cokelat) saat mendampingi Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E. pada kegiatan penyerahan Penghargaan BKN Award Tahun 2021 di Kampus Cheng Ho Universitas Mulia, (20/9). Foto: Media Kreatif

“Tetapi Pancasila itu adalah ideologi perekat bangsa yang plural yang memiliki keanekaragaman dalam hal suku, budaya, agama, bahasa,” tuturnya.

Semua keanekaragaman tersebut, lanjutnya, dapat dirajut dipersatukan dengan Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila bisa dijadikan momen kebangkitan bangsa Indonesia untuk selalu meningkatkan rasa syukur dan nasionalisme serta memupuk tumbuhnya semangat membangun bangsa.

Ketika ditanya apa harapannya terhadap khususnya mahasiswa dan umumnya sivitas Universitas Mulia setiap kali Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Pak Pri mengingatkan agar selalu memandang Pancasila sebagai perekat bangsa, bukan sekadar ideologi semata.

“Harapannya, jangan memandang Pancasila sebelah mata hanya sekadar ideologi saja, tetapi pandanglah Pancasila sebagai lem perekat bangsa tanpa melihat perbedaan,” pungkasnya.

(SA/PSI)