Ketika Seorang Penjaga Masjid Dipanggil Pulang

,

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 22 Desember 2025— Hari ini, umat Islam kehilangan seorang penjaga masjid yang sejati. Bukan penjaga pintu, bukan penjaga bangunan—tetapi penjaga ruh masjid.

Berpulangnya Ustadz Muhammad Jazir, S.Pd. bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan sunyi bagi kita semua: bahwa hidup adalah amanah, dan masjid adalah ladang pengabdian.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa masjid tidak boleh berdiri megah sendiri namun sepi dari kepedulian. Bahwa masjid bukan tempat menyimpan uang, melainkan tempat menyalurkan harapan umat. Dengan keteladanan, bukan retorika, beliau menunjukkan bagaimana infak menjadi solusi, bukan angka laporan.

Kalimat beliau yang sederhana namun menghantam nurani, “Masjid tidak boleh kaya sementara jamaahnya miskin.”

Itu bukan slogan. Itu teguran bagi takmir, cambuk bagi pengurus, dan cermin bagi setiap DKM yang masih merasa aman dengan saldo, tetapi abai terhadap tangis jamaah.

Masjid Jogokariyan menjadi saksi bahwa masjid bisa hadir di saat rakyat lapar, bisa mengetuk pintu rumah jamaahnya, bisa memeluk anak muda, bisa menjadi rumah kedua bagi yang tak punya siapa-siapa.

Kini beliau telah kembali kepada Pemilik masjid yang sesungguhnya—Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Namun pertanyaannya bukan lagi tentang beliau. Pertanyaannya tentang kita. Apakah masjid yang kita urus sudah benar-benar hidup? Apakah DKM kita hanya sibuk rapat dan laporan, atau sungguh-sungguh turun melayani umat? Apakah mimbar kita hanya lantang berbicara, atau masjid kita juga hadir memberi solusi?

Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Balikpapan berfoto bersama almarhum KH. Muhammad Jazir dari Masjid Jogokariyan dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid Bersinar.

Wafatnya Ustadz Muhammad Jazir adalah amanah terakhir bagi para pengurus masjid:
jangan biarkan masjid kehilangan ruhnya. Jangan biarkan masjid jauh dari umatnya. Jangan biarkan masjid megah tetapi asing bagi jamaahnya.

Beliau mengajarkan bahwa dana masjid bukan sekadar untuk dihabiskan, melainkan untuk dihadirkan maknanya dalam kehidupan umat. Bahwa sebuah kegiatan, sekecil apa pun, menjadi sangat bernilai ketika mampu meringankan beban jamaah, menenangkan hati mereka, dan membuat masjid terasa dekat dan memeluk. Melalui teladan beliau, kita diajak untuk menata kembali niat—agar setiap program bukan sekadar berjalan, tetapi menghidupkan; bukan sekadar terlihat, tetapi terasa; bukan sekadar selesai, tetapi bermakna bagi jamaah yang kita layani.

Semoga Allah menerima seluruh amal jariyah beliau, melipatgandakan pahala dari setiap masjid yang tergerak karena teladannya, dan menjadikan kita—para pengurus DKM—sebagai penerus yang jujur, berani, dan amanah.

Karena sejatinya, takmir masjid bukan jabatan, tetapi jalan sunyi menuju akhirat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.