Balikpapan, 1 Januari 2026— Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, Rabu pagi, 31 Desember 2025, tidak hanya menjadi ruang berkumpul. Sejak pukul 08.00 WITA, ruang itu menjelma menjadi lanskap perjumpaan—antara refleksi dan perayaan, antara tawa dan kesadaran. Di sanalah Yayasan Airlangga, menutup tahun 2025 melalui kegiatan Refleksi Penerapan Budaya Kerja Profesional dan Humanis dalam Membangun Karier dan Kesejahteraan Sosial, sebuah forum evaluasi yang dirancang tidak kaku, namun tetap bermakna dan berjarak dari seremoni formal semata.

Pimpinan Yayasan Airlangga berpose bersama peserta Refleksi Akhir Tahun 2025, menandai kebersamaan lintas peran dalam suasana kreatif dan penuh keakraban.
Seluruh unit di bawah naungan Yayasan Airlangga hadir lengkap: SMP Plus Airlangga, SMK Airlangga, SMK TI Airlangga, SMK Kesehatan Airlangga, Universitas Mulia, PSDKU Universitas Mulia Samarinda, hingga jajaran rektorat, fakultas, tim media kreatif, serta tim Marketing Branding dan Inovasi. Kehadiran itu tidak hanya menandai keterpenuhan administrasi, melainkan memperlihatkan kesatuan kerja lintas jenjang pendidikan yang selama setahun terakhir bergerak dalam irama yang sama.

Dosen Universitas Mulia mengekspresikan imajinasi melalui kostum Dragon Ball dan abdi dalem Keraton Jawa, mencerminkan keberagaman ekspresi dalam ruang akademik.
Yang pertama menyapa mata justru bukan podium atau layar presentasi megatron, melainkan para peserta. Beragam kostum memenuhi ballroom: para guru senior yang bepakaian siswa SMEA, koboi lengkap dengan topi, tali laso, dan pistol mainan, tokoh Shaun the Sheep dan teman-temannya bersama gembalanya, jaksa, hakim, narapidana, busana tradisional perempuan Korea, hingga kostum perempuan Tiongkok ala Dragon Ball. Imajinasi dibiarkan tumbuh tanpa sekat jabatan. Kreativitas hadir tanpa perlu legitimasi struktural.

Karyawan dan guru SMK TI Airlangga Samarinda berpose dengan pakaian unik sebagai simbol semangat kolektif dan kebersamaan dalam refleksi akhir tahun.
Sebelum acara resmi dimulai, satu per satu peserta berfoto di depan megatron yang menampilkan judul kegiatan. Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., bahkan secara spontan mengundang para pemakai kostum unik untuk berpose bersama. Ruang tunggu berubah menjadi ruang percakapan; hierarki mencair dalam candaan ringan.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E., berpose bersama sang adik, Indah Sukmawati mengenakan busana Putri Kashmir , menghadirkan nuansa elegan dalam kebersamaan keluarga yayasan.
Acara kemudian dibuka oleh MC yang memanggil peserta untuk foto bersama keluarga besar Yayasan Airlangga, dipanggil per divisi. Untuk Universitas Mulia, pemanggilan dilakukan per fakultas, disusul rektorat, tim media kreatif, serta tim Marketing Branding dan Inovasi. Foto bersama itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan penegasan simbolik bahwa lembaga ini bergerak sebagai satu tubuh, dengan peran yang saling menopang.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., menyampaikan sambutan dengan mengenakan kopiah ulat doyo khas Kutai sebagai penanda identitas lokal.
Dalam sambutannya, Dr. Agung mengakui keterkejutannya atas respons peserta. “Ketika diberikan kesempatan untuk menampilkan hal-hal yang unik, hasilnya di luar dugaan. Ini menunjukkan kreativitas tim Yayasan Airlangga yang luar biasa,” ujarnya, disambut tepuk tangan panjang.
Ia lalu mengapresiasi Ketua Dewan Pembina Universitas Mulia, Drs. Satria Darma, yang tampil dengan seragam tentara, sorban Palestina, dan kacamata hitam. Dengan gaya santai, Dr. Agung bahkan meminjamkan senapan mainan dari peserta berkostum koboi, seketika memancing gelak tawa dan tepuk tangan hadirin. Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E., juga mendapat komentar hangat—busana yang dikenakannya disebut menyerupai putri Kashmir.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E., menyampaikan sambutan reflektif dengan balutan busana Putri Kashmir di akhir tahun 2025.
Candaan terus mengalir: tentang koboi yang seolah menambatkan kuda di luar gedung, domba yang mungkin masih merumput di taman kampus, hingga kehati-hatian bercanda karena “hadir jaksa dan hakim” yang bisa saja mengadili. Humor hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bahasa kebersamaan.
Di tengah keceriaan itu, Dr. Agung menyelipkan candaan yang menyita perhatian hadirin. Ia menyebut adanya “peserta terjauh” yang hadir, yakni Bapak Muhammad Yani, yang disebutnya datang dari Melayu, Selangor. Ruangan sontak dipenuhi tawa. Candaan itu lahir dari busana yang dikenakan—menyerupai seorang Pangeran Melayu Selangor—padahal sejatinya beliau adalah dosen PSDKU Universitas Mulia Samarinda. Momen tersebut menjadi penanda bahwa ruang refleksi ini memberi tempat bagi keakraban, tanpa menanggalkan rasa hormat.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satri Darma, menyampaikan sambutan dengan balutan seragam tentara dan sorban sebagai simbol refleksi, imajinasi, dan nilai kebangsaan.
Namun, tepat setelah tawa mereda, suasana perlahan berubah.
Dengan nada yang lebih tenang, Dr. Agung mengajak hadirin kembali pada makna refleksi. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh karyawan di bawah naungan Yayasan Airlangga—mereka yang bekerja dalam sunyi, menghidupkan sekolah dan kampus dengan dedikasi yang sering kali tak tercatat dalam laporan tahunan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas hal-hal yang belum optimal sepanjang 2025.
“Cahaya itu sudah mulai terlihat bersinar,” ucapnya, sembari mengingatkan bahwa harapan tetap tumbuh meski bangsa ini sedang diuji oleh bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Kalimat itu tidak diucapkan lantang, tetapi cukup untuk membuat ruangan kembali hening. Sebab setiap orang di sana memahami bahwa institusi ini berdiri bukan hanya oleh kebijakan, melainkan oleh manusia-manusia yang setia menjaganya.

Perwakilan FEB Universitas Mulia berpose mengenakan kostum domba dan gembala, menghadirkan pesan kebersamaan dan kepemimpinan dalam balutan kreativitas.
Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, dalam sambutannya mengaku terkejut sekaligus bangga atas kemeriahan dan keunikan refleksi tahun ini. Ia bahkan mewacanakan kegiatan serupa sebagai agenda tahunan, lengkap dengan lomba kostum unik. Di balik candaan tentang pakaian Kaipang dan Yasir Arafat, ia mengajak seluruh keluarga besar yayasan untuk bersyukur dan menengok kembali perjalanan setahun terakhir. “Prestasi-prestasi yang ditampilkan dalam Rakor dan Raker menunjukkan bahwa kita tidak berjalan sendiri. Tidak ada yang tertinggal. Kita maju bersama,” ujarnya.
Refleksi semakin menemukan kedalaman ketika Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satri Darma, menyampaikan sambutan. Ia mengisahkan seragam tentara yang dikenakannya—dibeli saat perjalanan ke Hainan dan baru pertama kali digunakan—serta keffiyeh hadiah umrah dari putranya. Ia kemudian mengutip Albert Einstein: Imagination is more important than knowledge.

Pemotongan tumpeng menjadi penanda syukur dan penutup rangkaian Refleksi Akhir Tahun Yayasan Airlangga 2025.
Menurutnya, ilmu pengetahuan berangkat dari imajinasi, dan hari itu ia menyaksikan langsung bagaimana imajinasi hidup di tengah keluarga besar Yayasan Airlangga. “Ini tahun yang baik. Kita berdoa agar 2026 jauh lebih baik,” tuturnya.
Puncak refleksi emosional hadir saat diputar Kaleidoskop 2025 Yayasan Airlangga, disusul film Memorable dengan narasi yang disampaikan langsung oleh Dr. Agung. Ruangan yang sejak pagi dipenuhi tawa mendadak senyap. Layar menampilkan wajah-wajah yang telah mendahului, namun jasanya tertanam kuat dalam fondasi yayasan: almarhum Ayahanda Hasyim Mahmud dan Ibunda Hafsah Ismail, keluarga yayasan lainnya, serta para dosen, guru, tenaga kependidikan, dan karyawan yang telah berpulang.
Pada momen itu, refleksi tidak lagi berbicara tentang capaian atau target. Ia menjelma menjadi pengakuan sunyi bahwa pendidikan adalah kerja panjang lintas generasi. Ada yang memulai, ada yang melanjutkan, dan ada yang menyempurnakan—sering kali tanpa sempat menyaksikan hasil akhirnya. Beberapa mata tampak berkaca-kaca. Beberapa kepala tertunduk. Tidak ada tepuk tangan, karena rasa hormat tidak selalu membutuhkan suara.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E., menyerahkan penghargaan Website Terbaik kepada Tim Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Ketua Yayasan Airlangga, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, dilanjutkan dengan pembagian hadiah Lomba Dies Natalis Yayasan Airlangga serta penghargaan Yayasan Airlangga 2025.
Menutup 2025, Yayasan Airlangga tidak sekadar mengganti angka kalender. Ia merawat ingatan, meneguhkan nilai, dan mengikat kembali komitmen bersama—melangkah ke 2026 dengan kesadaran bahwa profesionalisme hanya akan bermakna jika berjalan seiring dengan kemanusiaan, dan bahwa cahaya yang disebut pagi itu adalah nyala sinar kolektif yang harus dijaga bersama. (YMN)












































