Tag Archive for: remaja masjid

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 8 Februari 2026—Di banyak sudut Kota Balikpapan, kubah-kubah masjid menjulang anggun, pengeras suara lantang mengumandangkan adzan lima kali sehari, dan spanduk peringatan hari besar Islam berganti saban musim hijriah. Namun di balik semarak itu, sebuah pertanyaan mendesak mengetuk nurani kita: apakah masjid sungguh telah menjadi pusat kehidupan umat, ataukah hanya sesekali menjadi panggung seremonial keagamaan?

Fakta yang patut direnungkan bersama menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) masih menempatkan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) sebagai poros utama aktivitas kelembagaan. Bahkan, secara struktural, dibentuk seksi khusus untuk mengurusi perayaan-perayaan tersebut. Tidak ada yang keliru dengan PHBI—ia adalah bagian dari syiar, ruang edukasi publik, sekaligus perekat sosial. Namun persoalan muncul ketika syiar direduksi menjadi seremoni, ketika kalender kegiatan masjid nyaris berhenti di lima momentum besar: Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra Mi‘raj, Ramadhan–Idul Fitri, serta Idul Adha.

Di luar hari-hari itu, masjid kembali lengang. Rapat pengurus jarang digelar—kadang tak lebih dari lima kali setahun—seakan roda organisasi hanya berputar ketika ada spanduk yang harus dicetak dan penceramah yang harus diundang. Padahal dalam teori manajemen organisasi nirlaba berbasis komunitas, intensitas pertemuan pengelola adalah indikator vital dari kesehatan institusi. Rapat bukan sekadar forum administratif, melainkan ruang lahirnya visi, evaluasi, inovasi, dan keberanian untuk berubah.

Masjid, dalam sejarah Islam klasik, tidak pernah sesempit itu. Ia adalah pusat pendidikan, rumah musyawarah, ruang advokasi sosial, sentra ekonomi umat, dan kawah candradimuka kepemimpinan generasi muda. Di Madinah, Rasulullah ﷺ menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat membentuk peradaban. Dari lantainya yang sederhana lahir strategi sosial, solidaritas ekonomi, dan kader-kader umat yang tangguh secara spiritual sekaligus sosial.

Pertanyaannya kini: mengapa kita mereduksi warisan agung itu menjadi sebatas panggung perayaan tahunan?

Lebih menggetarkan lagi, alokasi dana masjid sering kali terkuras untuk kebutuhan seremonial: dekorasi, konsumsi, honor penceramah, dan panggung acara. Semua itu sah dan dibutuhkan. Tetapi menjadi ironi ketika hampir tidak tersisa anggaran—dan lebih penting lagi, gagasan—untuk program pembinaan pemuda masjid, pelatihan keterampilan hidup, kelas kepemimpinan, penguatan ekonomi jamaah, atau pendampingan keluarga yang terjerat kesulitan.

Di sudut saf belakang, mungkin ada ayah yang menunduk karena kehilangan pekerjaan. Di teras masjid, barangkali ada remaja yang mencari makna hidup tetapi tidak menemukan ruang dialog. Di perumahan sekitar, mungkin ada janda yang berjuang sendiri membiayai sekolah anaknya. Pertanyaannya kembali menghantam hati kita: apakah masjid telah hadir untuk mereka—atau hanya ramai ketika hari raya tiba?

Krisis ini bukan sekadar soal program; ia adalah krisis orientasi. Masjid yang hidup bukan diukur dari meriahnya panggung PHBI, melainkan dari ramainya shaf shalat berjamaah di hari biasa, dari wajah-wajah pemuda yang betah berdiskusi selepas Isya, dari jamaah yang merasakan bahwa masjid adalah tempat pulang—bukan hanya tempat singgah.

Pemuda, khususnya, tidak bisa dirangkul hanya dengan undangan menghadiri tabligh akbar setahun sekali. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi, mentoring, pelatihan digital, kewirausahaan, diskusi intelektual, dan proyek sosial nyata. Tanpa itu, masjid akan terus menua bersama pengurusnya, sementara generasi penerus tumbuh di luar pagar spiritual yang seharusnya menaungi mereka.

Tulisan ini bukan gugatan dari luar, melainkan jeritan cinta dari dalam. Sebab mengkritik masjid dengan kejujuran adalah bentuk kesetiaan tertinggi terhadapnya. Kita tidak sedang kekurangan bangunan megah; kita kekurangan keberanian untuk mentransformasikan masjid menjadi pusat pemberdayaan umat.

Barangkali sudah saatnya DKM di Balikpapan—dan di kota-kota lain—berani melakukan pergeseran paradigma: dari event organizer keagamaan menjadi arsitek peradaban lokal. Dari pengelola agenda tahunan menjadi perancang masa depan jamaahnya.

Mari bertanya dengan jujur pada diri sendiri: berapa kali kita duduk bersama tahun ini untuk memikirkan bagaimana shalat berjamaah Subuh bisa penuh? Berapa jam kita habiskan untuk mendesain program kaderisasi pemuda? Berapa rupiah yang dialokasikan untuk mengangkat ekonomi jamaah yang terpuruk?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat dada kita sesak, mungkin itulah tanda bahwa hati kita masih hidup.

Masjid tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai menata acara; ia membutuhkan penjaga ruh, perancang perubahan, dan pemimpin yang rela begadang memikirkan umatnya. Sebab suatu hari kelak, bukan spanduk PHBI yang akan ditanya di hadapan Allah, melainkan: apa yang telah kita lakukan agar rumah-Ku ini benar-benar memakmurkan hamba-hamba-Ku?

Dan semoga, dari kegelisahan ini, lahir keberanian baru—keberanian untuk menghidupkan masjid bukan hanya pada hari raya, tetapi pada setiap hari kehidupan. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 29 Januari 2026 — Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Api konflik menyala di berbagai penjuru, sementara kepekaan nurani manusia justru terasa kian menipis. Ukraina luluh lantak oleh perang berkepanjangan. Palestina, khususnya Gaza, terus menanggung penderitaan akibat penjajahan dan agresi yang belum berkesudahan. Ketegangan antara kekuatan besar dunia—baik di Timur maupun Barat—terus meningkat, dengan saling unjuk kekuatan militer, ekonomi, dan pengaruh geopolitik.

Di level global, kita makin sering menyaksikan dunia bergerak bukan oleh suara keadilan, melainkan oleh siapa yang paling kuat dan berpengaruh. Sanksi ekonomi, veto politik, dan dominasi narasi internasional sering kali berujung pada penderitaan rakyat sipil, sementara mekanisme keadilan global tampak tumpul. Konflik-konflik ini tidak selalu lahir dari kebetulan, melainkan dari kepentingan strategis, sumber daya alam, dan perebutan pengaruh yang dibungkus dengan bahasa diplomasi.

Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, karena kamu akan disentuh api (neraka).”
(QS. Hud: 113)

Namun persoalannya bukan hanya tentang mereka yang berbuat zalim. Pertanyaan yang lebih dekat adalah: di manakah posisi kita ketika kezaliman itu terjadi?

Remaja Masjid: Kita Ada di Mana?

Sebagai pendidik, kegelisahan ini bukan sekadar lahir dari membaca berita atau mengikuti dinamika global, tetapi dari perjumpaan sehari-hari dengan generasi muda itu sendiri. Di ruang kelas, di lingkungan masjid, dan dalam percakapan-percakapan sederhana, terlihat jelas betapa banyak potensi yang besar namun perlahan kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak cerdas, melainkan karena hati mereka jarang diajak berhenti, merenung, dan bertanya: untuk apa hidup ini dijalani dan kepada siapa ia akan kembali. Kegelisahan inilah yang semakin terasa getir ketika dunia di sekitar kita justru dipenuhi luka dan darah.

Di saat dunia berdarah, banyak remaja Muslim tenggelam dalam dunia kecilnya sendiri. Jari-jari lebih sibuk menggulir media sosial daripada membuka mushaf. Malam-malam habis untuk game dan hiburan, tetapi berat untuk bangun tahajud. Hati mudah hancur karena cinta yang kandas, tetapi tidak bergetar saat melihat Gaza dibombardir. Air mata tumpah karena ditolak cinta, namun kering saat saudara seiman dikubur massal.

Masjid—yang seharusnya menjadi pusat pembinaan dan peradaban pemuda—tak jarang terasa lengang. Kajian dianggap membosankan. Mengaji terasa melelahkan. Ilmu agama dipandang tidak menjanjikan masa depan. Padahal, tanpa iman dan ilmu yang dirawat, masa depan seperti apa yang sedang dipersiapkan?

Krisis ini bukan semata akibat kesibukan fisik, melainkan karena hati yang kehilangan arah dan tujuan. Remaja mudah terseret arus budaya instan dan hedonistik yang mengakibatkan:

  • kehilangan makna hidup yang sejati;
  • lalai dalam menjaga iman, sehingga ibadah rutin menjadi disepelekan atau terlupakan;
  • meninggalkan masjid bukan karena sibuk, tetapi karena hati tidak lagi menemukan rasa damai di dalamnya.

Allah ﷻ berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dalam mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini bukan sekedar peringatan bagi akal, tetapi mengguncang apa yang kita rasakan: apakah hati kita masih hidup dan takut kepada Allah, atau telah mengeras oleh kelalaian.

Antara Greenland dan Hati yang Membeku

Mengapa Greenland penting? Karena ia menjadi simbol zaman ini. Tanah yang jauh, dingin, dan sepi kini diperebutkan demi sumber daya dan posisi strategis. Dunia rela bertengkar demi es dan mineral, tetapi tidak peduli pada darah anak-anak di Gaza. Inilah dunia yang kehilangan nurani.

Dan lebih berbahaya lagi, ketika hati remaja Muslim ikut membeku—dingin dari kepedulian, beku dari kesadaran, mati rasa terhadap penderitaan umat.

Saatnya Remaja Masjid Bangkit

Remaja masjid bukan sekadar pengisi shaf shalat. Kalian adalah generasi yang kelak akan memikul Islam di tengah dunia yang semakin bising oleh kebatilan. Jika hari ini lalai, esok agama ini akan dipikul oleh siapa? Bangkit bukan harus dengan senjata, tetapi dengan kesungguhan. Dengan shalat yang dijaga. Dengan ilmu yang dicari. Dengan Al-Qur’an yang dibaca dan dipahami. Dengan masjid yang dihidupkan, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sepanjang hidup.

Karena di tengah gelapnya dunia oleh ketidakadilan global, Allah tetap menjaga cahaya-Nya:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya.”
(QS. Ash-Shaff: 8)

Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: jika bukan remaja masjid hari ini, siapa lagi? Agama ini tidak akan runtuh oleh musuh, tetapi oleh kelalaian para pewarisnya sendiri. Apakah kita akan menjadi penjaga cahaya itu, atau justru orang yang lalai hingga cahaya itu redup dari hidup kita sendiri?