Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Balikpapan, 29 Januari 2026 — Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Api konflik menyala di berbagai penjuru, sementara kepekaan nurani manusia justru terasa kian menipis. Ukraina luluh lantak oleh perang berkepanjangan. Palestina, khususnya Gaza, terus menanggung penderitaan akibat penjajahan dan agresi yang belum berkesudahan. Ketegangan antara kekuatan besar dunia—baik di Timur maupun Barat—terus meningkat, dengan saling unjuk kekuatan militer, ekonomi, dan pengaruh geopolitik.
Di level global, kita makin sering menyaksikan dunia bergerak bukan oleh suara keadilan, melainkan oleh siapa yang paling kuat dan berpengaruh. Sanksi ekonomi, veto politik, dan dominasi narasi internasional sering kali berujung pada penderitaan rakyat sipil, sementara mekanisme keadilan global tampak tumpul. Konflik-konflik ini tidak selalu lahir dari kebetulan, melainkan dari kepentingan strategis, sumber daya alam, dan perebutan pengaruh yang dibungkus dengan bahasa diplomasi.
Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, karena kamu akan disentuh api (neraka).”
(QS. Hud: 113)
Namun persoalannya bukan hanya tentang mereka yang berbuat zalim. Pertanyaan yang lebih dekat adalah: di manakah posisi kita ketika kezaliman itu terjadi?
Remaja Masjid: Kita Ada di Mana?
Sebagai pendidik, kegelisahan ini bukan sekadar lahir dari membaca berita atau mengikuti dinamika global, tetapi dari perjumpaan sehari-hari dengan generasi muda itu sendiri. Di ruang kelas, di lingkungan masjid, dan dalam percakapan-percakapan sederhana, terlihat jelas betapa banyak potensi yang besar namun perlahan kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak cerdas, melainkan karena hati mereka jarang diajak berhenti, merenung, dan bertanya: untuk apa hidup ini dijalani dan kepada siapa ia akan kembali. Kegelisahan inilah yang semakin terasa getir ketika dunia di sekitar kita justru dipenuhi luka dan darah.
Di saat dunia berdarah, banyak remaja Muslim tenggelam dalam dunia kecilnya sendiri. Jari-jari lebih sibuk menggulir media sosial daripada membuka mushaf. Malam-malam habis untuk game dan hiburan, tetapi berat untuk bangun tahajud. Hati mudah hancur karena cinta yang kandas, tetapi tidak bergetar saat melihat Gaza dibombardir. Air mata tumpah karena ditolak cinta, namun kering saat saudara seiman dikubur massal.
Masjid—yang seharusnya menjadi pusat pembinaan dan peradaban pemuda—tak jarang terasa lengang. Kajian dianggap membosankan. Mengaji terasa melelahkan. Ilmu agama dipandang tidak menjanjikan masa depan. Padahal, tanpa iman dan ilmu yang dirawat, masa depan seperti apa yang sedang dipersiapkan?
Krisis ini bukan semata akibat kesibukan fisik, melainkan karena hati yang kehilangan arah dan tujuan. Remaja mudah terseret arus budaya instan dan hedonistik yang mengakibatkan:
- kehilangan makna hidup yang sejati;
- lalai dalam menjaga iman, sehingga ibadah rutin menjadi disepelekan atau terlupakan;
- meninggalkan masjid bukan karena sibuk, tetapi karena hati tidak lagi menemukan rasa damai di dalamnya.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dalam mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini bukan sekedar peringatan bagi akal, tetapi mengguncang apa yang kita rasakan: apakah hati kita masih hidup dan takut kepada Allah, atau telah mengeras oleh kelalaian.
Antara Greenland dan Hati yang Membeku
Mengapa Greenland penting? Karena ia menjadi simbol zaman ini. Tanah yang jauh, dingin, dan sepi kini diperebutkan demi sumber daya dan posisi strategis. Dunia rela bertengkar demi es dan mineral, tetapi tidak peduli pada darah anak-anak di Gaza. Inilah dunia yang kehilangan nurani.
Dan lebih berbahaya lagi, ketika hati remaja Muslim ikut membeku—dingin dari kepedulian, beku dari kesadaran, mati rasa terhadap penderitaan umat.
Saatnya Remaja Masjid Bangkit
Remaja masjid bukan sekadar pengisi shaf shalat. Kalian adalah generasi yang kelak akan memikul Islam di tengah dunia yang semakin bising oleh kebatilan. Jika hari ini lalai, esok agama ini akan dipikul oleh siapa? Bangkit bukan harus dengan senjata, tetapi dengan kesungguhan. Dengan shalat yang dijaga. Dengan ilmu yang dicari. Dengan Al-Qur’an yang dibaca dan dipahami. Dengan masjid yang dihidupkan, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sepanjang hidup.
Karena di tengah gelapnya dunia oleh ketidakadilan global, Allah tetap menjaga cahaya-Nya:
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya.”
(QS. Ash-Shaff: 8)
Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: jika bukan remaja masjid hari ini, siapa lagi? Agama ini tidak akan runtuh oleh musuh, tetapi oleh kelalaian para pewarisnya sendiri. Apakah kita akan menjadi penjaga cahaya itu, atau justru orang yang lalai hingga cahaya itu redup dari hidup kita sendiri?

