Menang Melawan Keterbatasan, Mahasiswi Akuntansi Universitas Mulia Raih Podium Nasional di Balikpapan Open I
Balikpapan, 6 Mei 2026—Ketika sebagian atlet datang ke arena dengan persiapan penuh, Giva Andini Ramadani justru melangkah ke Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I dengan sisa waktu yang nyaris tak ideal. Mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia itu sempat menghadapi kondisi fisik yang menurun akibat sakit, kadar hemoglobin yang rendah, serta dehidrasi parah hanya beberapa hari sebelum pertandingan nasional digelar di BSCC Dome Balikpapan, 24–26 April 2026.
Situasi tersebut membuat persiapannya terpangkas drastis. Dengan waktu efektif sekitar lima hari menjelang tampil di kategori seni tunggal, Giva harus menata ulang kesiapan fisik sekaligus mental dalam tempo singkat. Kondisi itu bukan hanya menguji teknik, tetapi juga ketahanan psikologisnya sebagai atlet.
Di tengah keterbatasan tersebut, Giva memilih bertahan pada disiplin. Dukungan keluarga dan rekan terdekat menjadi fondasi penting yang membantunya bangkit dari rasa takut sekaligus keraguan. Ia memaksa dirinya mengejar ritme latihan, memulihkan kepercayaan diri, lalu memasuki arena dengan satu keputusan penting: tetap tampil maksimal meski persiapan jauh dari sempurna.

Giva Andini Ramadani menampilkan presisi gerak dan penguasaan teknik saat membawakan seni tunggal pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I di BSCC Dome Balikpapan.
Keputusan itu berbuah hasil. Giva berhasil meraih Juara 3 Putri kategori seni tunggal, capaian yang tidak sekadar menempatkannya di podium nasional, tetapi juga menegaskan daya juang mahasiswa Universitas Mulia dalam menghadapi tekanan kompetisi.
Bagi Giva, pencapaian tersebut tidak berhenti pada medali. Ia memandang prestasi sebagai akumulasi dari proses panjang yang menuntut konsistensi, keberanian menghadapi situasi sulit, serta kemampuan mengenali batas diri. Pengalaman itu mempertemukannya dengan pelajaran yang lebih substansial: bagaimana seseorang tetap bergerak ketika kondisi tidak berpihak.
Di ruang akademik, Giva menempuh studi akuntansi yang identik dengan ketelitian, logika, dan tanggung jawab. Di arena pencak silat, ia ditempa oleh disiplin fisik, fokus, dan kekuatan mental. Alih-alih bertabrakan, keduanya justru membentuk pola hidup yang saling menguatkan. Pengelolaan waktu yang ketat menjadi kunci agar tuntutan akademik dan latihan dapat berjalan beriringan.
Persinggungan antara dunia akademik dan olahraga inilah yang menghadirkan potret mahasiswa dengan kapasitas lebih utuh—bukan hanya cakap secara intelektual, tetapi juga tangguh secara karakter. Dalam diri Giva, prestasi olahraga tidak berdiri sebagai aktivitas tambahan, melainkan ruang pembentukan diri yang memperkuat kesiapan menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Partisipasinya dalam kejuaraan nasional juga membawa dimensi yang lebih luas. Pencak silat, sebagai warisan budaya bangsa, tidak semata dipahami sebagai kompetisi fisik, tetapi sebagai medium pembelajaran nilai—disiplin, rasa hormat, pengendalian diri, dan sportivitas. Giva memaknai keikutsertaannya sebagai bagian dari peran generasi muda kampus dalam menjaga warisan budaya melalui praktik nyata.

Fokus, keseimbangan, dan keteguhan tercermin dalam kuda-kuda yang diperagakan Giva Andini Ramadani saat tampil membawa semangat Universitas Mulia di arena nasional.
Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang prestasi mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya bertumbuh di ranah akademik, tetapi juga menjangkau panggung-panggung kompetitif nasional yang menuntut integritas, daya tahan, dan karakter. Dari arena seni tunggal Balikpapan Open I, Giva membawa pulang lebih dari sekadar juara—ia membawa narasi tentang ketekunan yang diuji oleh keterbatasan, lalu dijawab dengan keberanian. (YMN)











