Jangan Biarkan Ramadhan Datang Bersama Perpecahan

,

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 17 Februari 2026—Malam ini, umat Islam di Indonesia kembali menanti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian saudara kita mungkin sudah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab, sebagian lagi menunggu keputusan resmi pemerintah setelah laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan. Setiap tahun suasana ini berulang, dan setiap tahun pula pertanyaan yang sama muncul: mengapa awal Ramadhan bisa berbeda?

Perbedaan itu bukan lahir dari ego, bukan pula dari keinginan untuk menyelisihi. Ia berakar pada cara membaca langit. Secara astronomi, awal bulan hijriah ditandai dengan kemunculan hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Prosesnya dimulai dengan ijtima’ atau konjungsi, ketika matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit. Namun pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat. Ia baru saja “lahir” dan masih sangat dekat dengan matahari. Untuk bisa tampak sebagai hilal, bulan harus bergerak menjauh, memiliki jarak sudut tertentu dari matahari, dan cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sinilah letak persoalannya. Secara matematis, posisi bulan bisa dihitung dengan sangat presisi. Kita bisa mengetahui dengan akurat kapan konjungsi terjadi, berapa derajat ketinggian bulan saat magrib, dan berapa jarak sudutnya dari matahari. Metode ini disebut hisab, dan digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Prinsip yang dipakai adalah wujudul hilal: jika saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk, walau sangat tipis, maka bulan baru dianggap telah masuk. Ini adalah pendekatan ilmiah yang konsisten dan dapat diprediksi jauh hari.

Namun ada pendekatan lain yang juga ilmiah. Hilal bukan hanya soal angka, tetapi juga soal visibilitas. Ia dipengaruhi oleh ketebalan cahaya senja, kelembaban udara, polusi, dan kemampuan optik manusia maupun teleskop. Karena itu, dalam sidang isbat pemerintah bersama para ulama dan pakar astronomi mempertimbangkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur rukyat). Pendekatan ini juga digunakan oleh ormas seperti Nahdlatul Ulama. Jika secara hitungan bulan memang sudah ada, tetapi secara ilmiah hampir mustahil terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Perbedaannya bukan pada sainsnya, melainkan pada batas minimal yang dianggap cukup untuk menetapkan awal bulan.

Dari sisi fikih, perbedaan ini sama sekali bukan hal baru. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.” Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanbali memahami hadis ini secara literal: rukyat menjadi dasar utama. Namun sebagian ulama lain seperti Taqi al-Din al-Subki membuka ruang penggunaan hisab ketika telah mencapai tingkat kepastian ilmiah. Artinya, sejak berabad-abad lalu para ulama telah berbeda pendapat dalam bingkai ijtihad, bukan dalam bingkai permusuhan.

Di sinilah kita perlu menundukkan hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kaidah yang menenteramkan: “Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala.” Betapa indahnya agama ini. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran. Yang menghitung dengan ilmu astronomi mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Yang menunggu rukyat dan keputusan sidang isbat pun mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Semua berjalan di atas kaidah ilmiah dan syar’i. Tidak ada yang rugi.

Yang sungguh merugi bukanlah mereka yang berbeda dalam menentukan satu hari, melainkan mereka yang membiarkan perbedaan itu membelah hati. Betapa menyedihkan jika hilal yang begitu tipis justru melahirkan prasangka yang tebal. Betapa pilu jika Ramadhan yang datang membawa ampunan dan rahmat malah disambut dengan kecurigaan dan caci maki. Bulan sabit itu hadir dengan kelembutan cahaya, namun jangan sampai cahaya yang lembut itu berubah menjadi api yang menghanguskan ukhuwah. Padahal Allah telah menjanjikan pahala bagi setiap ijtihad yang tulus. Tidak ada yang sia-sia dalam upaya mencari kebenaran. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala. Semua bernilai di sisi-Nya. Yang menjadi musibah bukanlah perbedaan metode, tetapi ketika hati memilih untuk merobek persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Malam ini sidang isbat akan dilaksanakan. Sebagian mungkin telah mantap dengan keyakinannya, sebagian lainnya menanti keputusan resmi dengan harap dan doa. Namun apa pun hasilnya, semoga yang kita jaga bukan hanya angka pada kalender, melainkan keutuhan jiwa sebagai satu umat. Mungkin kita berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Kita tetap membaca ayat-ayat yang sama. Kita tetap memohon ampunan kepada Tuhan yang sama dengan air mata yang sama. Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk bersatu dalam metode, melainkan bersatu dalam iman. Di situlah rahmat Islam memancar—memberi ruang bagi ilmu untuk berpikir, bagi ijtihad untuk bekerja, dan bagi perbedaan untuk hidup tanpa harus melahirkan kebencian. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian hati, maka jangan biarkan ia datang ketika hati masih menyimpan bara. Biarlah hilal berbeda satu malam, tetapi jangan biarkan kita berjarak seumur hidup.

Jika kita memulai Ramadhan dengan hati yang lapang, maka satu hari perbedaan tidak akan mengurangi pahala sedikit pun. Namun jika kita memulai dengan kemarahan dan kesombongan, kita bisa kehilangan keberkahan yang jauh lebih besar. Biarlah para ahli berijtihad dengan ilmu mereka, dan biarlah kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lembut. Sebab pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berpuasa, tetapi seberapa bersih jiwa kita ketika menyambutnya.