Milad Nahdlatul Ulama: Meneguhkan Peran Masjid sebagai Pusat Khidmat Umat

,

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 30 Januari 2026—Tanggal  31 Januari selalu memiliki makna istimewa bagi warga Nahdlatul Ulama. Di hari itulah, pada tahun 1926, NU lahir sebagai ikhtiar para ulama—dipimpin Hadratus Syaik Hasyim Asy’ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri— menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah sekaligus merawat harmoni sosial bangsa. Hampir satu abad kemudian, denyut perjuangan itu terus hidup—salah satunya melalui masjid-masjid yang menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pelayanan umat.

Bagi para pengurus masjid, Milad NU bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum muhasabah: sejauh mana masjid telah berfungsi bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, dan pengabdian sosial. Di tangan takmir, imam, khatib, dan relawan masjidlah nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i‘tidal (adil) diwujudkan dalam praktik nyata.

NU sejak awal memandang masjid sebagai jantung kehidupan umat. Dari mimbar masjid, dakwah yang sejuk disuarakan. Dari serambi masjid, anak-anak belajar mengaji. Dari halaman masjid, solidaritas sosial digerakkan—menggalang bantuan, merawat fakir miskin, dan menguatkan yang lemah. Semua itu adalah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang terus diperjuangkan NU hingga hari ini.

Peringatan Milad NU menjadi ajakan kepada seluruh pengurus masjid untuk memperbarui niat khidmat. Mengelola masjid bukan semata soal administrasi atau fisik bangunan, melainkan amanah peradaban: menumbuhkan generasi berilmu, beradab, dan cinta tanah air. Di era digital dan tantangan sosial yang kian kompleks, masjid juga dituntut adaptif—menjadi pusat literasi keislaman, ruang dialog, serta benteng dari paham ekstrem dan perpecahan.

Melalui Milad NU, para pengurus masjid diajak meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga nilai, perawat tradisi ulama, dan penggerak persatuan umat. Dari masjidlah semangat kebangsaan dipupuk, dari masjid pula kedamaian sosial dirawat.

Semoga peringatan Milad Nahdlatul Ulama ini menjadi penguat langkah seluruh pengurus masjid untuk terus berkhidmat dengan ikhlas, istiqamah, dan penuh kebijaksanaan—menghidupkan masjid, memuliakan jamaah, serta menjaga Indonesia tetap rukun dalam bingkai Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.