Kultum Ramadan 1447 H Universitas Mulia Ditutup, Zakat Fitrah Tegaskan Dimensi Sosial Ibadah

,

Balikpapan, 17 Maret 2026 — Rangkaian Program Kultum Ramadan 1447 H yang diinisiasi Unit Kerja Sumber Daya Universitas Mulia resmi berakhir pada Selasa, 17 Maret 2026. Sejak dimulai pada 24 Februari 2026, program ini tidak sekadar menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi menjelma sebagai ruang pembinaan spiritual yang terstruktur di tengah ritme kerja civitas akademika.

Penutupan kultum menghadirkan materi tentang zakat fitrah—sebuah tema yang tidak hanya relevan secara fikih, tetapi juga sarat makna sosial. Pembahasan ini menegaskan bahwa puncak Ramadan tidak berhenti pada pengendalian diri melalui puasa, melainkan berlanjut pada penyempurnaan ibadah melalui kepedulian terhadap sesama.

Pelaksanaan kultum yang berlangsung setiap dua hari sekali, pukul 10.30 hingga 11.30 WITA, menunjukkan upaya serius institusi dalam merawat dimensi spiritual tanpa mengganggu produktivitas kerja. Pola ini menjadi adaptasi dari program “Jumat Berkah” yang secara konsisten dijalankan di luar Ramadan. Selama bulan suci, format tersebut ditransformasikan menjadi Kultum Ramadan dengan intensitas yang lebih tinggi dan materi yang lebih tematik.

Dalam suasana penutupan yang berlangsung khidmat, panitia turut membagikan paket parsel kepada peserta dan para pengisi materi. Lebih dari sekadar bentuk apresiasi, momentum ini memperlihatkan adanya relasi yang hangat dan setara antara penyelenggara dan partisipan—sebuah aspek yang kerap luput dalam kegiatan seremonial.

Kepala HRD Universitas Mulia, Drs. Achmad Prijanto, menegaskan bahwa program ini dirancang dengan orientasi yang jelas. Ia menyebutkan bahwa Kultum Ramadan menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas ibadah dosen dan tenaga kependidikan, sekaligus memperluas pemahaman keagamaan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang refleksi di lingkungan kerja agar Ramadan tidak berlalu secara administratif, tetapi meninggalkan jejak kesadaran spiritual. “Melalui kegiatan ini, kita ingin mendorong sivitas akademika untuk semakin dekat kepada Allah SWT, menggapai keberkahan dan magfirah-Nya, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian jiwa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tujuan yang tidak kalah penting adalah menjaga keberlanjutan nilai-nilai ibadah setelah Ramadan berakhir. Konsistensi inilah yang menjadi indikator keberhasilan pembinaan spiritual, bukan sekadar intensitas kegiatan selama bulan suci.

Di sisi lain, interaksi yang terbangun selama kultum turut memperkuat ukhuwah islamiah di lingkungan kampus. Pertemuan rutin yang menghadirkan berbagai latar belakang unit kerja ini menciptakan ruang dialog yang cair, sekaligus mempererat solidaritas antarpegawai.

Berakhirnya Kultum Ramadan 1447 H bukanlah titik akhir, melainkan transisi menuju keberlanjutan program pembinaan melalui “Jumat Berkah” yang akan kembali dijalankan. Dengan demikian, nilai-nilai yang ditanamkan selama Ramadan diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman temporer, tetapi bertransformasi menjadi budaya kerja yang berlandaskan spiritualitas.

Program ini memperlihatkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berperan dalam pengembangan intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter dan kedalaman spiritual sumber daya manusianya. Di titik inilah, Kultum Ramadan menemukan relevansinya—bukan sekadar kegiatan, melainkan proses pembentukan makna. (YMN)