Pos

Penyemprotan desinfektan di Front Office Universitas Mulia, Kamis (7/1). Foto: Istimewa

UM – Lonjakan jumlah kasus positif Covid-19 pasca liburan di beberapa daerah di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Masyarakat yang memilih liburan ke luar rumah saat libur Natal dan Tahun Baru diimbau Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mengurangi mobilitas selama 5-10 hari setelah berlibur di awal tahun 2021. Imbauan ini untuk mengantisipasi lonjakan kasus pasca aktivitas liburan, Selasa (29/12/2020) yang lalu.

“Saya imbau, kalau kita (setelah berlibur) sama-sama bisa mengurangi derajat infeksi (dengan) mengurangi mobilitas selama 10 hari pertama di awal tahun 2021, itu akan sangat membantu untuk rekan-rekan kesehatan yang ada di rumah sakit,” tutur Menkes Budi Sadikin di Istana Kepresidenan, 29 Desember 2020 yang lalu.

Guna menindaklanjuti imbauan ini, Yayasan Airlangga menerbitkan Surat Edaran No. 01/Int/Mnj.Pend-YA/I/2021 tanggal 4 Januari 2021 perihal Wajib Isolasi Mandiri yang ditandatangani Manajer Pendidikan Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H.

Isi surat edaran menyebutkan bahwa dalam rangka menjaga dan atau mengembalikan kondisi fisik/kesehatan Guru, Dosen, dan Karyawan di Lingkungan Yayasan Airlangga Pasca Libur ke luar Kota Balikpapan agar melakukan isolasi mandiri. “Perlu untuk sementara waktu melakukan isolasi mandiri selama 3-6 hari sesuai dengan kondisi masing-masing,” tutur Pak Agung, yang juga Rektor Universitas Mulia ini.

Selama isolasi mandiri tersebut, Guru, Dosen, dan Karyawan bekerja di rumah dengan status Work from Home (WFH). Karyawan juga diwajibkan menyerahkan hasil Rapid Test Antigen terakhir ke Bagian Kepegawaian atau HRD saat tiba di Balikpapan maupun usai WFH.

Penyemprotan desinfektan di Laboratorium Komputer Gedung White Campus Universitas Mulia, Kamis (7/1). Foto: Istimewa

Penyemprotan desinfektan di Laboratorium Komputer Gedung White Campus Universitas Mulia, Kamis (7/1). Foto: Istimewa

Sementara itu, Tim Satgas Covid-19 Universitas Mulia mulai 6-7 Januari 2021 melakukan penyemprotan desinfektan di beberapa area gedung Universitas Mulia, baik gedung Airlangga Training Center yang berada di Jalan KP Tendean Gunung Pasir maupun Kampus Utama Jalan Letjen Zaini Azhar Maulani Damai Bahagia Balikpapan.

Tampak beberapa area yang disemprot desinfektan antara lain seluruh ruang kelas, ruang kerja, laboratorium komputer, Front-Office hingga kantin maupun area yang menjadi titik kumpul banyak orang.

Ketua Tim Gugus Covid-19 Drs. H Akhmad Priyanto berharap upaya yang dilakukannya ini untuk memberikan perlindungan bagi seluruh sivitas Universitas Mulia. “Semoga kita tetap terlindungi,” pungkasnya. (SA/PSI)

Rektor UM Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. sedang tes indera penciuman, Senin (7/12). Foto: PSI

UM – Sejumlah kasus positif Covid-19 yang menimpa petugas KPPS atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara menjelang Pilkada menunjukkan kekhawatiran sejumlah pihak. Dikutip dari media, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Balikpapan melaporkan sebanyak 10 orang petugas KPPS terkonfirmasi positif. Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. meminta kepada seluruh civitas academica untuk melakukan tes penciuman sebagai upaya pencegahan Covid-19 usai melaksanakan apel pagi, Senin (7/12).

“Saya minta seluruhnya mengikuti tes indera penciuman di pintu masuk, terus menuju ruang Front Office untuk tensi tekanan darah,” tutur Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H.

Dalam tes penciuman ini, petugas secara sederhana menguji aroma minyak tawon pada indera penciuman peserta agar menyebutkan nama minyak tersebut dengan mata tertutup. Apabila indera penciuman tidak mengenali aroma sama sekali, maka yang bersangkutan dipersilakan untuk istirahat, melakukan isolasi mandiri dan pemeriksaan lebih lanjut.

Rektor UM Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. sedang tes indera penciuman, Senin (7/12). Foto: PSI

Rektor UM Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. sedang tes indera penciuman, Senin (7/12). Foto: PSI

Dikutip dari hellosehat, melakukan tes kemampuan penciuman dianggap lebih efektif sebagai cara penapisan atau screening gejala awal Covid-19 dibanding tes suhu tubuh. Hampir semua tempat umum melakukan screening dengan mengukur suhu tubuh pengunjungnya dengan thermogun atau thermal scanner.

Pemeriksaan suhu tubuh bisa jadi sangat tidak efektif menunjukkan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak lantaran hanya mengukur suhu kulit. Selain itu, banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) atau demam bukan salah satu gejala awal yang timbul. Kebalikannya, orang yang demam belum tentu terjangkit Covid-19.

Berdasarkan data dari 4 juta orang, hilangnya kemampuan indera penciuman bau (anosmia) adalah gejala utama Covid-19 yang dialami.

Dikutip dari hellosehat, sekitar 65% orang dewasa yang positif Covid-19 melaporkan kehilangan kemampuan penciuman. Sebanyak 16% dari yang positif Covid-19 mengatakan bahwa kehilangan penciuman satu-satunya gejala yang mereka rasakan.

Selama infeksi Covid-19, kehilangan penciuman berlangsung sekitar tujuh hari dan seringkali lebih lama. Sementara gejala demam hanya berlangsung selama tiga hari untuk kebanyakan orang. Dalam banyak kasus gejala ini terjadi tanpa gejala lainnya seperti batuk atau demam.

Masih dari hellosehat, data menunjukkan bahwa hilangnya indra penciuman secara tiba-tiba adalah gejala awal Covid-19 yang lebih umum daripada demam di semua kelompok umur. Fakta ini yang membuat tes penciuman Covid-19 disebut sebagai prediktor yang jauh lebih baik.

Meskipun demikian, tes kemampuan penciuman dapat mengidentifikasi orang dengan Covid-19, tapi penyebab hilangnya penciuman pun sangat beragam, bisa karena flu biasa, hidung tersumbat, atau sinusitis. (SA/PSI)